
Wajah si kembar nampak gusar melihat ayah mereka belum mengatakan apapun.
"Ayahhh...! Apakah ayah sekarang sudah jadi pria tampan yang gagu? jawab ayah!"
Pinta Ciky setengah memaksa.
Delvin turun perlahan menapaki tiap anak tangga. Chiko hanya bisa menepuk jidatnya karena ayahnya terlalu lamban memberi informasi keputusan dari bunda mereka.
"Astaga! Ayah kelamaan, ayah!" Gumam Ciky sambil bersedekap dengan bibir mengerucut.
"Apakah kalian sudah siap menerima keputusan terburuk sekalipun." Ucap Delvin dengan sedikit ekspresi wajah sendu.
"Bilang saja nggak jadi. Nggak usah bertele-tele seperti itu ayah, bikin pusing."
Ucap Ciky segera berlalu sambil menggandeng tangan Chiko hendak ke kamar mereka.
"Apakah kalian tidak mengambil koper kalian untuk dibawa ke mobil?" Ucap Delvin membuat langkah si kembar terhenti.
Deggggg...
Keduanya saling bertatapan dengan wajah berbinar dan langsung memeluk ayah mereka.
"Ayah jahatttt...! Tega ngerjain kami."
Gerutu Ciky begitu gembira.
Eca segera turun dan melihat keluarga kecilnya terlihat bahagia. Eca sudah berpakaian rapi mengenakan mantel hitamnya.
Si kembar beralih ke bundanya gantian memeluk Eca.
"Bunda! Terimakasih bunda!"
"Hmm!"
Wajah Eca terlihat sembab mencoba untuk tersenyum pada anak angkatnya ini. Keduanya mengambil tas ransel mereka dan meminta tolong pada pelayan membawa koper mereka ke mobil.
Delvin merengkuh pinggang istrinya dan mengecup lembut bibir Eca.
"Maaf sayang! Sudah memaksamu untuk momen penting si kembar."
"Hmm!"
Eca terlihat enggan merespon lebih banyak perkataan suaminya. Delvin mengerti akan perasaan Eca. Istrinya sudah mau ikut ke Bali saja sudah membuatnya bahagia.
Keluarga kecil ini berangkat ke Bali dengan pesawat jet pribadi. Eca dan Delvin hanya mendengar ocehan si kembar yang saling berebut untuk bercerita tentang kejadian apa saja kepada kedua orangtuanya.
Delvin menarik tubuh Eca agar bersandar ke dadanya. Lagi-lagi Eca hanya mengikuti permintaan suaminya walaupun saat ini hatinya masih dongkol.
Delvin mengecup kening istrinya sambil mendengar cerita si kembar.
Sementara di Jakarta, keluarga Alin mendatangi kediaman Delvin.
Wajah dokter Gaes terlihat murka ingin melabrak Delvin dan menuduh Delvin laki-laki biadab yang manfaatkan saudaranya demi kepuasan syahwatnya.
"Di mana tuan kalian?"
"Baru saja berangkat ke Denpasar untuk merayakan ulang tahun si kembar, dokter!"
Ucap satpam yang mengenal baik dokter Gaes.
__ADS_1
Nyonya Arini menarik nafas dalam mengingat hari ulang tahun si kembar yang akan jatuh esok hari.
"Sebaiknya kita menyusul mereka ke Denpasar, Gaes! Lagi pula si kembar ulang tahun. Selama ini kita tidak pernah merayakan ulang tahun cucuku."
Ucap Nyonya Arini.
"Baik mami. Kita ke Bali sekarang."
Ujar dokter Gaes mengutamakan amarahnya dari pada memikirkan persahabatannya dengan Eca atau jasa gadis itu yang telah menyelamatkan saudaranya Alea.
Baru saja mereka masuk ke mobil, kedua orangtuanya Delvin turun dari mobil. Ia mengenali tamunya lalu menghampiri nyonya Arini dan putranya dokter Gaes.
"Arini..?"
"Zoya ..?"
"Mau ketemu Eca?"
"Dan putramu, Zoya." Jawab Arini ketus.
Zoya dan Arini adalah sahabat saat masih SMA dulu. Keduanya tidak pernah bertemu lagi saat mereka berkeluarga dan Zoya pindah ke luar negeri dibawa suaminya. Walaupun begitu Zoya mengetahui Eca bekerja di rumah sakit milik sahabatnya Arini.
"Kelihatannya penting, kenapa nggak masuk dulu?"
"Putramu membawa keluarganya di Bali. Mereka mau merayakan ulang tahun cucu kita." Ujar nyonya Arini.
"Cucu..? Si kembar bukan cucuku. Mereka adalah anak haram dari perempuan tidak tahu malu itu." Umpat nyonya Zoya.
"Tunggu nyonya Zoya! Eca bukan ibu kandungnya si kembar. Si kembar adalah anak kandung dari adikku Alin yang meninggalkan bayinya pada Eca pasca melahirkan. Dan ayah si kembar adalah putra anda sendiri Delvin."
Ucap dokter Gaes memperjelas kedudukan Eca di mata mertuanya.
Deggggg....
"Putramu Delvin telah memperkosa adikku hingga hamil. Dan kami baru mengetahuinya belakangan ini, nyonya."
Duaaarrr...
"Kedatangan kami ke sini untuk meminta lagi si kembar dari putramu bajingan itu. Kami memang tidak menyalahkan Eca karena gadis itu sangat baik dan juga jenius. Tapi kami tetap tidak terima perlakuan bejat putramu yang tega menghancurkan hidup saudaraku Alin."
Ucap dokter Gaes sengit.
"Karena Eca lah cucu kita tumbuh dengan baik dan sehat. Permisi Zoya!"
Nyonya Arini dan putranya meninggalkan kedua orangtuanya Delvin yang masih termangu mendengar kabar yang membuat mereka sangat syok.
...----------------...
Perayaan ulang tahun si kembar terlihat meriah di restoran resort tempat mereka menginap. Walaupun hanya mereka berempat, namun tidak mengurangi kebahagiaan si kembar makam ini.
Ciky menyanyikan lagu untuk bundanya Eca sementara Chiko untuk ayahnya, Delvin.
Delvin menggenggam tangan istrinya sambil menikmati persembahan lagu untuk mereka berdua secara bergantian.
Tidak jauh dari mereka duduk, ada Alin yang mengikuti acara ulang tahun anaknya dengan rasa haru. Usai perayaan ulang tahun itu berakhir, Alin melangkah mendekati meja keluarga Delvin dengan membawa dua kado untuk anak kembarnya.
"Selamat malam semuanya!"
Ucap Alin sambil mengibaskan rambutnya ke belakang.
__ADS_1
Deggggg...
"Tante Alea...?" Wajah si kembar langsung sumringah menghampiri Alin yang mereka kira adalah Alea.
"Tante ini adalah saudara kembarnya Tante Alea, namanya Alin!" Ucap Delvin.
"Ibu kandungnya kalian!" Sela Alin.
Deggggg...
Delvin menatap tajam wajah Alin membuat gadis ini berhati-hati dengan ucapannya.
"Selamat ulang tahun Ciky, Chiko! Ini hadiah untuk kalian!"
Alin memberikan kado untuk anak kembarnya dan mencium pipi keduanya lalu memeluk keduanya sangat erat.
Delvin yang ingin bangkit memisahkan anaknya dari Alin, di cegah oleh Eca.
"Biarkan dia melepaskan kerinduannya pada si kembar. Dia memang salah, tapi kodratnya sebagai ibu tidak bisa kita ingkari asalkan dia tetap jaga sikapnya."
Bisik Eca pada Delvin yang tidak tahan melihat Alin yang tiba-tiba hadir di depan mereka.
Alin mengajak si kembar ngobrol dan keduanya tidak mempermasalahkan permintaan ibu kandungnya mereka walaupun di bawah ancaman Delvin.
"Jika kamu bicara yang aneh pada anak kembar ku, aku tidak akan segan membunuhmu di sini!" Ancam Delvin.
"Kita lihat saja nanti!"
Tantang Alin sedikit sinis.
Delvin dan Eca mengawasi anak kembar mereka bersama Alin yang duduk di sebrang meja mereka.
"Selamat malam nona Eca!"
Sapa Haidar membuat Eca gugup.
Eca melihat ke arah Alin yang duduk membelakangi mereka bersama si kembar dan Haidar tidak menyadari kehadiran mantan tunangannya.
"Malam tuan Haidar! sayang, ini tuan Haidar mantan bos ku."
Ucap Eca memperkenalkan keduanya.
"Delvin!"
"Haidar!"
"Apakah itu si kembar?" Tanya Haidar yang sudah lama tidak bertemu dengan si kembar.
"I..ya Tuan Haidar!"
Eca makin gugup dan berharap Alin tidak bangun. Delvin yang sudah mengetahui kalau Haidar mantan tunangan Alin ikutan panik.
"Apakah mereka merayakan ulang tahun malam ini?"
Tanya Haidar lagi yang melihat ada tumpukan kado di kursi.
Tidak lama Alin bangkit berdiri lalu membalikkan tubuhnya sambil menggandeng tangan anak kembarnya.
Baik Haidar maupun Alin sama-sama terkejut.
__ADS_1
"Alin...!"
"Haidarr...!"