
Pagi di pulau Dewata Bali. Cuaca tiba-tiba berubah cerah dengan gelombang laut kembali tenang seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya.
Haidar bersama timnya dan juga tim SAR kembali bergerak mencari keberadaan Alin. Ada yang masih mau menyelam dengan memperhitungkan pergerakan arus bawah laut membawa tubuh Alin dari titik lokasi kejadian entah berakhir di mana.
Setiap pesisir pantai mereka telusuri memungkinkan mereka bisa menemui Alin terdampar di tempat tertentu dengan Speedboat.
Haidar begitu gigih ingin menemukan lagi wanitanya dalam keadaan apapun. Tapi hatinya tetap berharap ia menemukan Alin dalam keadaan masih hidup dan sehat.
Upaya pencarian itu bergerak dari laut, udara dan darat. Haidar sudah bertekad tidak akan berhenti sampai menemukan raga kekasihnya.
"Alin...! Jika aku sudah menemukanmu, Aku akan memaksamu untuk menikahimu walaupun kamu terus menolakku."
Batin Haidar yang saat ini sedang membawa helikopter sendiri menyusuri pantai Bali.
Keluarga Delvin sudah berada di ruang ICU. Delvin dan Eca mendekati putrinya yang belum sadarkan diri. Eca begitu syok melihat wajah pucat putrinya.
Ia meminta lagi dokter Dewi untuk melakukan MMR untuk memastikan keadaan organ vital Ciky. Dokter Dewi menolak melakukannya karena mereka sudah berupaya sebisa mungkin untuk menyelamatkan nyawa Ciky.
Dokter Gaes memutuskan untuk membawa pulang Ciky ke Jakarta untuk di rawat di sana.
"Jika kita bertahan di sini, Ciky tidak akan tertolong."
Ucap dokter Gaes meminta persetujuan Delvin.
"Ijinkan aku untuk memeriksa keadaan putriku sendiri, dokter Gaes!" Pinta Eca.
"Baiklah. Itu jauh lebih baik diserahkan langsung pada ahlinya. Ayo kita berangkat sekarang! kita harus bergerak cepat. Terlambat sedikit saja kita akan kehilangan Ciky."
Ucap dokter Gaes.
Keluarga itu kembali lagi ke Jakarta dengan membawa tubuh Ciky. Saudara kembarnya Chiko menemani Ciky sambil terus mengajak Ciky ngobrol walaupun Ciky saat ini masih belum sadar.
"Ciky! Maafkan aku karena sudah meninggalkanmu sendirian bersama perempuan jahat itu. Andai saja aku tidak sakit, dia tidak akan berani membawamu pergi. Kita akan melawan dia bersama untuk menghentikan aksi gilanya."
Ucap Chiko yang sangat merindukan saudara kembarnya itu.
"Sayang! Jangan menanam kebencian di hatimu terhadap orang lain karena itu tidak baik sayang."
Ucap Eca menasehati putranya.
__ADS_1
"Dia bukan siapa-siapa buat kami bunda. Lagian perempuan jahat itu hanya terobsesi pada kami karena kehilangan anak kembarnya. Tidak ada yang menghentikan dia hingga akhirnya dia menjadi agresif."
Ucap Chiko begitu murka pada ibu kandungnya.
"Siapa yang bilang pada kalian kalau Tante Alin kehilangan anak kembarnya??"
"Tante Alea."
Ucap Chiko membuat kedua orangtuanya menatap Alea yang hanya bisa menyatukan kedua tangannya untuk meminta maaf.
"Kenapa dengan keluarga ini? Mereka melakukan apapun seenaknya tanpa memikirkan dampak buruk bagi psikis si kembar."
Batin Eca kecewa juga dengan sikap Alea.
Dokter Gaes bisa menangkap raut wajah kecewa Eca terhadap adik kembarnya. Ia juga tidak bisa berbuat banyak dalam situasi yang sangat rumit seperti ini.
Adiknya Alin belum ditemukan dan keponakan yang belum sadar. Belum lagi Alea tidak mau menemani ibunya yang saat ini sedang syok mengetahui putrinya tenggelam.
"Harusnya kamu menemani mami bukan malah ikut sibuk ke sana kemari sementara tenaga mu tidak di butuhkan di sini."
Bisik dokter Gaes pada Alea.
Tapi kenyataan apa yang di dapatkannya, ia harus membuang bayinya dalam keadaan situasi yang sangat tertekan mentalnya saat itu dan saat ia sudah bisa berpikir waras dan dewasa, ia kembali mencari bayinya setelah enam bulan berlalu.
Pada akhirnya hatinya makin sakit mendapatkan anak kembarnya bersama dengan laki-laki yang menjadi ayah kandung mereka sendiri dan menikahi perempuan lain.
Cobalah berada di posisi Alin. Pikirkan perasaannya sebentar saja sebagai Abang kami. Jangan terlalu menghukumnya atas akibatnya tapi cari tahu bagaimana penyebabnya dia menjadi terluka seperti itu."
Balas Alea tidak kalah sengit.
"Apapun alasannya, perbuatan Alin tetap lah salah. Harusnya dia memperbaiki kesalahannya dengan mendatangi Delvin dan bicara baik-baik pada kedua orangtuanya si kembar bukan bertindak kriminal seperti itu.
Secara tidak sengaja dia sudah membunuh anaknya sendiri dan bukan tidak mungkin, si kembar akan tumbuh menjadi anak yang pendendam pada keluarga kita dan membenci ibu kandung mereka sendiri." Ucap dokter Gaes.
Alea tidak mau lagi berdebat karena suaminya sudah memberi isyarat untuk menyudahi pertengkaran mereka.
Sementara di perairan pulau Dewata Bali, para tim SAR tidak menemukan tanda-tanda adanya Alin.
Mereka kembali ke markas untuk beristirahat dan meneruskan kembali usai makan siang.
__ADS_1
Tapi Haidar tidak menyerah. Ia mencari tempat yang cukup lapang untuk mendaratkan helikopternya.
Ia menyusuri hutan di hadapan pantai yang luas itu.
"Apakah Alin pingsan dan tidak mendengarkan kedatanganku? Jika ia masih hidup pasti ia akan berusaha mencari pertolongan. Alin di mana kamu sayang? Aku harap kamu tidak tenggelam." Gumam Haidar lirih.
...----------------...
Di rumah sakit milik dokter Gaes, Eca sendiri yang melakukan MMR pada tubuh Ciky. Ia memeriksa semua organ vital Ciky terutama pada paru-parunya.
Ditemani putranya Chiko, keduanya meneliti setiap gambar yang tertera di komputer memperlihatkan jantung, hati, paru-paru dan toraks milik Ciky.
"Bunda! Lihat ini! Paru-paru Ciky kemasukan butiran pasir saat ombak menggulung tubuhnya. Ia terminum air laut bersama pasir.
Kita harus membersihkan paru-parunya dari pasir yang masih mengendap. Sementara dokter di Bali hanya fokus menguras air laut dari paru-parunya." Ucap Chiko.
"Berarti kita harus melakukan operasi paru-paru Ciky secepatnya sebelum pasir itu melukai paru-parunya. Bunda akan memberi tahukan tim dokter untuk melakukan operasi pada Ciky."
"Kenapa bukan bunda saja yang melakukan operasi pada Ciky. Chiko sangsi pada dokter lain bunda."
"Baiklah bunda akan bicarakan pada dokter Gaes."
"Semoga berhasil Bunda. Aku sudah sangat merindukan Ciky."
Ucap Chiko dengan suara yang terdengar parau.
"Ciky akan kembali kepada kita, sayang."
Ucap Eca lalu menemui dokter Gaes.
Dokter Gaes menyetujui Eca untuk memimpin operasi pada Ciky. Dalam setengah jam, tim dokter sudah mempersiapkan Ciky di kamar operasi.
Walaupun sudah hampir setahun Eca vakum dari dunia kedokteran, namun kemahirannya sebagai dokter bedah masih diperhitungkan.
Eca baru mengerti perkataan putrinya yang memintanya menjemput dirinya di Bali artinya ia meminta bundanya sendiri yang merawatnya.
"Apakah ini arti dari mimpi kita berdua sayang? Kamu ingin bunda yang menemukan sendiri kasus mu yang telah membuat kamu kelamaan sadarnya?"
Batin Eca sambil membedah permukaan kulit Ciky untuk menyedot pasir yang masih bersarang di paru-paru Ciky.
__ADS_1