
Lagi-lagi kepedihan perpisahan itu menusuk-nusuk perasaan anak dan ibu itu. Mereka berpelukan cukup lama, seakan enggan untuk meninggalkan ibu yang melahirkan mereka di tambah keempat adik bayi kembar yang sangat lucu dan menggemaskan untuk mereka ajak main bersama.
"Bye...bye...Baby Yayan, Yura, Yahya dan Yusuf."
Ucap Ciky mengecup adik kembar empat secara bergantian dan di ikuti Chiko.
"Semoga dua tahun lagi kalian bisa bermain bola dengan Abang Chiko." Ucap Chiko.
"Paman Haidar! Terimakasih untuk semuanya. Kami sangat senang menghabiskan liburan di sini." Ucap Chiky.
"Hati-hati dan jaga adik kalian baby Adam dan juga calon adik kembar kalian." Ucap Haidar.
Delvin dan Haidar saling berpelukan. Delvin hanya mengangguk hormat pada Alin. Sementara Eca mengecup pipi Alin dan melambaikan tangannya pada keluarga itu.
Baby Adam nampak sibuk mencium baby Yura berulang kali. Semuanya tertawa dengan tingkah baby Adam yang terlihat genit pada wanita.
Baja hitam itu meninggalkan kediaman Alin menuju bandara di mana pesawat jet pribadi , Delvin sudah siap membawa pulang keluarga itu.
"Aduh baby Adam, kecil saja kamu sudah genit, bagaimana kalau sudah besar."
Ucap Ciky sambil mengecup baby Adam di pangkuannya.
Eca yang masih saja gelayutan di lengan suaminya terlihat lebih manja.
"Apakah calon bayi kembar kita laki-laki sayang?" Tanya Delvin saat keduanya sudah berada di dalam pesawat.
"Kenapa bertanya seperti itu?"
"Karena kamu sangat manja padaku, beda saat kamu hamil Adam terlihat mandiri dan sangat tegas." Sahut Delvin.
"Entahlah...! Yang jelas aku tidak mau jauh darimu." Ucap Eca membuat Delvin mulai licik.
"Bagaimana kalau kamu setiap hari temanin aku ke perusahaan. Tidak perlu kerja cukup duduk dekat denganku." Ucap Delvin.
Tapi sayang otak culas Delvin bisa terbaca oleh Eca. Spontan ibu sambung si kembar ini langsung memikirkan tentang baby Adam.
"Siapa yang menemani Adam kalau kakak kembarnya pada sekolah. Putraku akan kesepian kalau aku harus meninggalkan juga menemanimu kerja." Sahut Eca sebagai bentuk penolakan halus.
"Iya juga ya. Kalau di bawa ke perusahaan belum tentu baby Adam betah main di sana apa lagi sudah bisa berjalan." Ucap Delvin.
__ADS_1
Eca menarik sudut bibirnya, rasanya saat ini ia ingin ngakak karena berhasil membalas keculasan suaminya.
"Kamu kira aku tidak tau otak mesum mu itu, sayang. Kamu hanya memanfaatkan hormon kehamilan ku untuk kepentingan mu.
Ciky dan Chiko bermain dengan baby Adam agar bocah satu tahun ini tidak boring berada dalam pesawat. Baby Adam hanya bisa serius kalau sudah bermain urusan game. Entah mengapa bayi satu tahun ini sudah hebat bermain game untuk tingkat usia dewasa. Justru gerakan jemari kecilnya itu mampu menarik perhatian abangnya Chiko bagaimana Adam bisa menjatuhkan lawan mainnya. Ciky dan Chiko saling menatap mengagumi kehebatan Adam. Rupanya kejeniusan Adam bukan hanya di miliki si kembar saja tapi pada Baby Adam. Itu berarti kejeniusan mereka terkait pada ayahnya Delvin. Faktor genetik datang dari Delvin yang mewarisi kecerdasannya pada ketiga anaknya dan mungkin calon bayi kembarnya yang sedang tumbuh.
Ciky dan Chiko ingin meneliti bibit unggul ini bagaimana faktor genetik mempengaruhi kecerdasan pada keturunannya.
"Ayah..!" Panggil Ciky.
"Iya sayang!"
"Apakah kami boleh melihat raport ayah selama sekolah?"
"Ayah sekolahnya lompat-lompat sayang."
"Maksud ayah apa?"
"Ayah hanya sekolah bertahan di SD dua tahun, SMP satu tahun, SMA satu tahun dan kuliah satu tahun. Di usia dua belas tahun ayah sudah mendampingi kakekmu bekerja di perusahaannya." Ucap Delvin.
"Berarti memang ayah kita jenius, tapi kenapa dua sama sekali tidak cerita kepada kita selama ini?" Bisik Ciky gemas.
Sementara Eca tidak usah lagi kejeniusan wanita ini. Ahli matematika, fisika, kimia yang selalu menyabet juara tingkat internasional bahkan dunia. Mengusai tujuh bahasa asing secara otodidak.
"Kenapa kalian menanyakan rapor ayah?"
"Untuk penelitian kami nanti. Apakah ayah tidak tahu kami akan mengikuti pendidikan secara akselerasi." Ucap Chiko.
"Anak-anak, apapun kalian ingin lakukan untuk masa depan kalian, bunda dan ayah akan mendukung kalian, tapi jangan pernah menyembunyikan sesuatu apapun itu dari kami terutama pendidikan dan pergaulan kalian, karena kalian sudah masuk ke kandang harimau." Ucap Eca kuatir dengan keadaan si kembar yang harus bergaul dengan dunia remaja.
"Iya bunda, kami juga sudah mempelajari kenakalan remaja dan penanggulangannya, semoga dari teori yang dibaca kami, bisa diserap oleh kami di sekolah baru nanti." Ucap Chiko yang sudah siap masuk SMP bersama Ciky.
...----------------...
Pagi itu kesibukan Eca mengurus persiapan si kembar yang mau berangkat ke sekolah internasional jenjang SMP.
Keduanya sudah nampak rapi dan siap di antar oleh sang sopir. Delvin yang ingin mendampingi anak-anaknya itu, di cegah oleh Eca karena si kembar akan diledek jika masih di antar orangtuanya.
"Sayang..! Berikan mereka kepercayaan dan tanggung jawab karena saat ini, mereka hanya butuh dukungan kita." Ucap Eca.
__ADS_1
"Tapi, setidaknya teman-temannya tahu si kembar adalah anak-anakku."
"Anak-anak ingin menjadi diri mereka sendiri, bukan karena koneksi apa lagi penyumbang terbesar sekolah mereka adalah kamu itu akan menjadi beban untuk si kembar."
"Baiklah, kalau begitu aku mau berangkat kerja, kamu hati-hati di rumah sama baby Adam dan entar siang aku makan siang di rumah, persiapkan dirimu sayang!"
Ucap Delvin sambil mengedipkan sebelah matanya pada sang istri.
"Ih... kenapa suamiku jadi ganjen begini?" Keluh Eca sambil berdecih.
"Karena aku juga lagi ngidam sama tubuh istriku sendiri." Ucap Delvin sambil meremas bokong istrinya.
"Baiklah aku menunggumu makan siang bersama."
"Makan siangnya di kamar sayang dan layani aku makan dengan mengenakan lengerie tanpa pakaian dalam." Ucap Delvin membuat Eca sedikit meremang.
"Muachhh..!" Keduanya ciuman tepat di depan baby Adam.
Putra Delvin ini merasa cemburu pada ayahnya. Ia mendorong wajah ayahnya menjauhi ibunya.
"Angan..cium nda!" Ucap baby Adam sambil menggelengkan kepalanya.
Delvin makin menggoda putranya dengan terus melancarkan ciumannya pada istrinya.
Karena kesal dipermainkan ayahnya, wajah Delvin ditabok baby Adam membuat Delvin langsung meringis.
"Ternyata aku punya saingan berat di dalam rumah ini. Sebentar lagi aku akan menculik bunda mu, Adam." Goda Delvin makin membuat Adam menangis dan melarang ibunya menjauhi ayahnya.
"Mmm....Emang enak di usilin anak sendiri." Tawa Eca cekikikan.
Eca mengantar suaminya ke pintu utama. Baby Adam merasa aman dari ayahnya karena ia bisa berduaan sama bundanya.
"Unda.. Main yuk!" Ajak baby Adam...
"Ok, baby!"
....
like dan vote cinta !
__ADS_1