
Sekitar beberapa bulan kemudian, Edis sudah kembali sehat dan mulai melakukan aktivitasnya sebagai calon mahasiswa baru yang akan mengambil pendidikan kedokteran di universitas negeri di Jakarta.
Gadis ini bercita-cita ingin menjadi dokter agar bisa mengabdi di rumah sakit milik dokter Eca, dengan begitu ia lebih dekat dengan dengan pangerannya.
Karena terlalu sibuk mempersiapkan diri, ia sampai lupa tujuannya untuk kembali menggoda dokter kesayangannya yaitu dokter Chiko.
Bulan berikutnya, Edis mulai mengikuti kegiatan ospek di kampusnya. Gadis cantik ini menjadi target kakak-kakak panitia ospek untuk mengerjainya. Terutama mahasiswa cowok.
Kadang di suruh menyanyi maupun menari, Edis mengikuti semuanya dengan senang hati karena gadis ini memang pintar melakukannya dengan gayanya yang supel.
Karena sifat cueknya dengan kecerdasannya membuat ia disukai oleh teman-temannya.
Di saat malam penutupan acara kegiatan ospek itu di puncak, rupanya panitia mengundang salah satu Nara sumber yang memperkenalkan tentang dunia kedokteran itu adalah dokter spesialis bedah yang tidak lain adalah dokter Chiko.
Awalnya bukan dokter Chiko yang diundang di acara tersebut melainkan Dokter Eca yang merupakan alumni kampus itu. Karena ada jadwal yang begitu padat, maka Eca mengirim putranya untuk mengisi acara tersebut.
Semua calon mahasiswa baru itu sudah berkumpul di aula siap mendengarkan penyampaian dari dokter Chiko. Kebetulan malam itu, Edis tidak bisa hadir karena mengalami demam.
Hingga acara berakhir, Edis menghubungi panitia kalau demamnya makin tinggi.
Panitia acara tersebut begitu panik saat melihat wajah Edis yang sangat pucat membuat ia sangat kuatir.
Mau tidak mau mereka harus meminta tolong dokter Chiko yang kebetulan malam itu mau menginap di villa itu karena sebagai dosen tamu.
"Dokter Chiko! Maaf apakah saya boleh meminta tolong?" Tanya Evlin.
"Ada apa Evlin?"
"Salah satu calon mahasiswi sedang sakit parah." Ucap Evlin.
"Baik. Antarkan saya ke tempatnya!" Titah Chiko.
Setibanya di kamar villa yang ditempati Edis, dokter Chiko begitu kaget melihat gadis yang beberapa bulan ini absen menggodanya tiba-tiba sudah ada di hadapannya.
"Edis ...?" Batin Iko lalu mendekati tubuh Edis dan memeriksa keadaannya.
Karena sakit Edis bukan demam biasa membuat Chiko meminta ijin membawa Edis ke rumah sakit miliknya.
__ADS_1
"Saya harus membawa gadis ini ke rumah sakit dengan mobil saya. Kebetulan saya punya sopir pribadi. Jadi, biarkan saya yang membawanya. Beritahukan kedua orangtuanya kalau putrinya sakit.
Kalian tidak usah ikut karena tugas kalian mengawasi mahasiswa baru di sini. Saya yang akan bertanggungjawab pada gadis ini."
Ucap Chiko lalu menggendong sendiri tubuh mungil Edis dan membawanya ke dalam mobilnya yang sudah di siapkan sopir pribadinya, pak Iwan.
Edis yang sedang demam berat tidak mengetahui kalau saat ini ia sedang bersama dengan pangerannya.
Flash back..
Walaupun dokter Chiko tidak begitu peduli padanya. Saat Edis pulang dari rumah sakit setelah di nyatakan sembuh, gadis ini kerap kali menyambangi rumah sakit dengan membawa makanan untuk Chiko.
Sudah berkali-kali, Chiko melarangnya untuk menemui dirinya di rumah sakit, namun Edis ternyata tidak kapok juga mendatangi dokter Chiko.
"Apakah kamu kurang kerjaan hingga menganggu aku terus menerus, hah?" Bentak Chiko namun diabaikan oleh Edis.
"Apakah dokter tidak menyukai aku sama sekali? Aku cantik, baik hati, tidak sombong dan termasuk cerdas...-"
"Dan tidak tahu malu." Sarkas Chiko.
"Yah ..! Aku memang tidak tahu malu karena terlalu menyukaimu. Suatu saat kau akan menyesal dengan penolakan mu itu karena tidak ada gadis manapun yang tergila-gila mencintaimu seperti aku." Ucap Edis cuek.
"Aku tidak akan menganggu hidupmu lagi kecuali aku sudah tidak ada di dunia ini, dokter cintaku...!" Teriak Edis sambil berjalan mundur meninggalkan Chiko.
"Dasar gadis aneh ...! Kenapa aku harus berurusan dengan gadis itu. Aku juga bertemu dengan gadis cantik di manapun. Tapi tidak over acting seperti gadis gila itu." Gerutu Chiko menuju ke ruang kerjanya.
Sejak pertemuan terakhir itu, Edis sudah tidak tampak batang hidungnya lagi karena sibuk mempersiapkan dirinya sebagai calon mahasiswa baru.
Chiko mulai bernafas lega karena tidak ada lagi pengganggu yang tiap hari menunggunya untuk menggoda dirinya.
Walaupun begitu, ada rasa rindu terselip di dalam hatinya saat wajah Edis terlintas di benaknya.
"Akhirnya gadis tidak tahu malu itu menyerah juga. Sekarang aku bisa tenang bekerja tanpa terganggu olehnya." Ucap Chiko.
Walaupun Edis tidak pernah muncul lagi, ia selalu mengirim makanan untuk Chiko melalui go food. Kadang mengirim coklat, permen, cemilan lainnya untuk Chiko bahkan ponsel keluaran terbaru ia kirimkan untuk Chiko
Seperti sore itu, seorang kurir mengantarkan paket untuk Chiko. Chiko melihat ada nama pengirimnya adalah Edis.
__ADS_1
Tidak lama ponselnya berdering dan ternyata ada notifikasi pesan masuk dari Edis.
"Aku tidak terima penolakan darimu. Aku harap kamu menyukai barang pemberianku.
Siapa tahu saja, ini adalah barang kenang-kenangan terakhir dariku.
Dan aku mohon gunakan itu sebagai mobilitas pekerjaanmu sebagai dokter. Siapa tahu aku kecipratan pahalanya." Dari calon istrimu Edis.
"Dasar gadis gila...!" Umpat Chiko menyimpan semua barang pemberian Edis padanya yang bisa ia simpan kecuali makanan matang yang langsung ia berikan kepada para perawat.
Sejak saat itu, Edis tidak pernah mengirim apapun lagi pada dokter Chiko.
Flash back off...
Setibanya di rumah sakit, Chiko membaringkan tubuh Edis di atas brangkar. Edis segera ditangani oleh dokter Chiky.
Chiky yang sudah mengetahui hubungan Edis dan Chiko, sempat kaget melihat Chiko bisa bersama dengan Edis, musuh besarnya.
Chiko menjelaskan bagaimana ia bisa bersama dengan Edis.Saat pemeriksaan berlangsung, dengan pengambilan sampel darah yang langsung di bawa Chiko ke bagian patologi untuk mengetahui penyakit yang dialami oleh Edis.
"Aku ingin hasil dari laporan ini secepatnya."
Ucap dokter Chiko pada bagian patologi yang suka lelet meneliti sampel darah pasien.
"Baiklah dokter Chiko. Anda bisa menunggunya lima belas menit lagi." Ucap Hanna.
Sekitar lima belas menit kemudian, hasil dari tes sampel darah Edis sudah keluar. Chiko yang merasa kalau Edis hanya sakit biasa dengan tenangnya membuka surat laporan itu dan hatinya langsung syok saat mengetahui Edis menderita kanker leukimia stadium lanjut.
"Astaga....tidak mungkin gadis ini menderita penyakit mematikan ini dalam waktu yang begitu cepat."
Ucap dokter Chiko dengan tubuh yang begitu lemas.
Setiap persendiannya seakan mau copot dari tubuhnya. Tanpa terasa air matanya jatuh luruh bersama dengan hatinya yang tiba-tiba merasakan kepedihan yang mendalam.
Rasa kehilangan sosok centil dengan segala senyum dan kejahilannya yang setiap hari datang menggodanya.
Chiko memegang dadanya yang merasa sangat sesak. Ia menatap wajah cantik Edis yang terlihat tenang. Usia Edis yang hanya menghitung hari membuat pria tampan ini makin merindukan waktu yang hilang saat menyia-nyiakan gadis ini.
__ADS_1
"Edis .. mengapa rasa cintaku padamu datangnya sangat terlambat. Maafkan aku baby ..!"
Chiko memeluk tubuh Edis sambil menangis menyesali perbuatannya yang telah bersikap kasar pada gadis yang sudah mencuri hatinya.