
Hampir tiga bulan sejak kepergian Edis, Chiko tidak begitu bersemangat saat bertugas di rumah sakit.
Eca tidak ingin Chiko memeriksa keadaan pasien apalagi melakukan operasi pada pasien. Untuk sementara Chiko di pindahkan dibagian patologi.
Di bagian ini, ia hanya meneliti sampel darah pasien untuk mengetahui jenis penyakit yang di derita oleh para pasien.
Saat istirahat, Chiko hanya memakan biskuit dan coklat yang dulu di kirim Edis untuknya. Ia juga menggantikan ponselnya dengan ponsel baru yang diberikan Edis padanya.
Ia juga memegang ponsel milik Edis sambil melihat wajah Edis dari masa duduk di bangku SMP sampai gadis itu bertemu dengannya.
Saat ini, ia sedang iseng membuka video rekaman milik Edis. Ia melihat ada rekaman Edis yang lebih banyak membahas tentang dirinya.
"Hai...Guys ..! Hari ini aku sedang menembak seorang dokter tampan. Tapi sayang, dia sangat galak dan tidak berperasaan. Tapi, aku tidak akan menyerah sampai dia jatuh cinta padaku.
Apakah dia akan mencintaiku...? Mungkin tunggu aku mampus kali ya ..dia baru merasakan kehilangan aku...he...he.. doakan ya guys..!" Ucap Edis sambil cekikikan.
"Cih ..! Bagaimana kamu tidak akan bertahan lama untuk mencintaiku, kamu sendiri mengharapkan kematian mu." Ucap Chiko lirih sambil berurai air mata.
Chiko membuka lagi video yang lainnya.
"Mungkin aku terlihat tidak tahu malu mengejarmu seperti orang gila, tapi aku ingin kamu tahu, jika aku sangat kesepian tinggal di kamar ku yang hanya ada kehampaan tanpa ada kedua orangtuaku yang ada di sisiku.
Jadi untuk membuat hatiku bisa terhibur, aku terpaksa menggoda mu, tapi lagi-lagi kamu terlalu angkuh dokter Chiko.
Semoga Tuhan memberikan aku penyakit berat agar aku bisa bertemu denganmu lagi. Apakah dengan cara itu aku bisa membuatmu jatuh cinta padaku sayang?" Ucap Edis sambil tertawa kecil.
"Dasar gadis bodoh ...Untuk apa kamu mengejarku kalau pada akhirnya kau hanya membuat aku gila seperti ini? Pasti di semua rekaman ini hanya isi curhat kamu tentang aku bukan?" Sungut Chiko.
Chiko mematikan ponselnya Edis karena tidak ingin lagi mendengar ocehan kekasihnya.
"Ternyata kamu ingin membalas dendam kepadaku saja Edis. Kamu sebenarnya tidak mencintaiku.
Kamu hanya ingin membuat aku menderita karena pembalasan mu akhirnya kesampaian juga. Puas kamu sekarang berhasil membuat aku menderita, sayang?"
Chiko mengambil wudhu dan membaca Alquran agar dadanya tidak terlalu terasa sesak memikirkan kepergian Edis dalam hidupnya.
Sementara Chiko dengan kesedihannya, Ciky malah saat ini sedang merasakan tanda-tanda kehamilan pada dirinya.
Ia melakukan tes kehamilan dan ternyata ia benar-benar sedang hamil.
Erland memutuskan untuk memeriksa kandungan istrinya ke dokter kandungan untuk mendapatkan hasil yang akurat.
Kabar bahagianya mereka dikaruniai calon bayi kembar.
Keduanya menyambut kedatangan sang buah hati dengan suka cita.
"Akhirnya kita mendapatkan hasil dari ikhtiar kita sayang." Ucap Erland mengecup bibir istrinya.
Dreeett....
Erland mengernyitkan dahinya saat melihat ada panggilan nomor tidak dikenal. Ia tetap menerima panggilan itu.
"Hallo selamat malam tuan Erland..! Ini dari kepolisian.
__ADS_1
Saya melaporkan bahwa saudara tiri anda dan ibunya di tahan di tahan di kepolisian karena kedapatan membawa sabu seberat tiga kilogram di mobil mereka." Ucap polisi Bactiar.
"Silahkan anda menahan mereka sesuai dengan kejahatan yang mereka perbuat.
Saya tidak ada hubungannya dengan mereka. Terimakasih, pak atas informasinya."
Ucap Erland yang terlihat bahagia bisa menyingkirkan kutu busuk di mansion milik ayahnya.
"Siapa sayang?" Tanya Ciky.
Erland menceritakan apa yang disampaikan polisi kepadanya. Ciky terlihat tidak begitu peduli karena musuh suaminya berarti musuhnya juga.
Keduanya lebih fokus dengan tamu baru yang sedang menghuni di rahimnya Ciky.
...----------------...
Lima tahun kemudian, Chiko belum juga move-on dari kehilangan kekasihnya Edis.
Eca dan Delvin sudah melakukan upaya apapun untuk bisa mengembalikan lagi keceriaan putra mereka.
Alin meminta putranya agar mau mengunjunginya ke Belanda agar hati Chiko tidak terpenjara dengan cinta mendiang Edis.
Chiko akhirnya mau menemui ibunya di Belanda. Alin mempersiapkan kamar terpisah untuk putra sulungnya itu.
Haidar menjemput Chiko di bandara karena Chiko menumpang pesawat komersial.
Haidar yang sudah menunggu Chiko di terminal kedatangan sempat kaget dengan perubahan Chiko yang terlihat lebih dewasa dengan postur tubuh yang begitu gagah. Keduanya saling berpelukan lalu masuk ke dalam mobil.
"Bagaimana kabar keluarga di Jakarta, Chiko?" Tanya Haidar sekedar basa-basi.
"Bagaimana dengan kabarmu sendiri, Chiko?"
"Yah seperti yang Papa lihat." Ucap Chiko.
"Semoga kamu bisa move on setelah berlibur di sini. Lagi pula adikmu Yura sebentar lagi akan wisuda menjadi dokter. Dia ingin seperti kamu dan Chiky." Ucap Haidar mengalihkan lamunan Chiko.
"Alhamdulillah, Yura terjun ke dunia kedokteran. Semoga ilmunya bermanfaat untuk orang banyak.
Saat mobil Haidar berhenti di lampu merah, seorang gadis sedang menyebrang jalan membuat Chiko spontan memanggil nama Edis.
"Edis ...!" Panggil Chiko yang terus mengikuti langkah kaki jenjang gadis itu hingga ke seberang jalan.
Tanpa ijin pada Haidar, Chiko langsung turun begitu saja sementara lampu sudah berganti kuning.
"Chiko...! Apa yang kamu lakukan?" Tanya Haidar terlihat panik.
Chiko terus mengejar gadis itu dan gadis itu menghilang saat Tramp melintas di depan Chiko.
"Apakah aku hanya halusinasi saat melihat wajah gadis itu yang mirip dengan Edis?" Tanya Chiko lirih.
Haidar menjemput lagi Chiko di mana pemuda tampan itu masih mencari sosok yang mirip dengan mendiang kekasihnya Edis.
"Chiko, siapa yang kamu kejar?"
__ADS_1
"Edis."
"Untuk apa kamu mengejar orang yang sudah tidak ada di dunia ini, Chiko?"
Haidar terlihat geram dengan ulah putra sambungnya.
"Maafkan Chiko papa!" Ucap Chiko.
"Baiklah. Lain kali jangan turun saat di penghentian lampu merah."
"Apakah Chiko boleh jalan-jalan dulu sebentar papa?" Pinta Chiko yang masih penasaran dengan gadis tersebut.
"Baiklah. Jangan lama-lama pulangnya! Kamu belum bertemu dengan mamamu dan dia pasti sangat cemas memikirkan mu." Ucap Haidar lalu menepikan mobilnya.
Chiko menumpang taksi agar bisa kembali ke tempat di mana ia menemukan gadis itu.
Setibanya di tempat itu, Chiko berdiri di seberang jalan sambil melihat di sekitarnya.
Karena tidak juga melihat gadis itu, ia mampir ke sebuah restoran yang tidak jauh dari tempat itu. Chiko melihat buku menu untuk memilih makanan yang akan ia pesan.
"Selamat siang tuan! Apakah anda sudah siap untuk memesan?" Tanya seorang pelayan dengan santun.
"Baik. Saya memesan stampport dan jus apel."
Ucap Chiko lalu menatap wajah pelayan dan betapa kagetnya Chiko ternyata pelayan itu adalah gadis yang ia kejar tadi dan ternyata benar wajahnya sama persis seperti Edis.
"Tuan ...! Saya akan mengulangi lagi pesanan anda."
Ucap pelayan itu dengan wajah terlihat sangat ramah.
"Hmm!" Ucap Chiko tanpa melepaskan tatapannya pada pelayan itu.
"Harap tunggu sepuluh menit lagi, tuan!" Ucap pelayan itu.
"Tunggu...! Siapa namamu?"
"Icha."
"Icha...!" Apakah kamu mau menemani aku makan siang?"
"Tapi tuan ...Aku sedang kerja." Ucap Icha.
"Baiklah. Kalau begitu aku tidak jadi pesan." Ancam Chiko.
"Jangan Tuan! Baiklah. Aku akan bicara dengan manajerku." Ucap Icha lalu meninggalkan Chiko.
Chiko menarik nafas lega karena ia tidak merasa sedang halusinasi saat ini.
"Akhirnya kamu kembali lagi dalam hidupku." Ucap Chiko sambil tersenyum penuh kebahagiaan.
....
TAMAT
__ADS_1
Tolong ikuti karya baru author " Istri yang ditukar, misterius My Wife dan love story secret of Castle. Terimakasih untuk like dan vote, dan komentarnya yang sangat memuaskan. Semoga selalu sehat ...aaamiin.
Ter