
Kehamilan Eca memasuki usia kandungannya yang empat bulan, membuat membuat ibu dari baby Adam ini harus hati-hati dalam menjaga kesehatannya karena pernah menderita tumor ganas di rahimnya.
Walaupun kini sudah tidak ada lagi tumor itu, namun Eca harus tetap menjaga kandungannya karena sangat rentan dengan keguguran.
Sementara itu, Alea yang saat ini sedang menjalani operasi sesar karena dokter tidak mau mengambil resiko gadis ini melahirkan secara normal karena pernah mengidap tumor otak.
Alea dikaruniai bayi kembar berjenis kelamin laki-laki. Senyum kebahagiaan tampak jelas di wajah sang suami dan ibunya nyonya Arini.
Dokter Shireen yang melakukan operasi itu, memberikan bayi kembar itu pada suami Alea dan nyonya Arini.
Sementara dokter Gaes sedang memperhatikan wajah cantik dokter Shireen yang terlihat salah tingkah di hadapannya.
"Gaes....! Coba kamu dekati dokter Shiren! Jangan hanya ditatap seperti itu! Ajaklah dia ke kantin. Dia pasti belum sarapan pagi setelah menolong adikmu Alea." Ucap nyonya Arini.
"Baiklah mam!" Ucap dokter Gaes lalu ke ruang ganti dokter.
"Apakah kamu mau temani aku sarapan dokter Shireen?" Tanya dokter Gaes.
Dokter Shireen yang sedang melamun di depan lokernya, terperanjat saat melihat dokter Gaes yang sudah ada di balik punggungnya.
Pasalnya, gadis ini sedang melamunkan pria itu dan sekarang menyapanya tiba-tiba. Wajahnya seketika bersemu merah melihat sosok pria yang selama ini sudah membuatnya menahan hasrat.
"Apakah anda mengajak saya dokter Gaes?" Tanya Shireen karena takut salah dengar.
"Iya kamu." Ucap dokter Gaes.
"Boleh dokter..! Kebetulan aku belum sarapan." Ucap dokter Shireen gugup.
Keduanya segera ke kantin. Dokter Shireen yang sangat gugup saat ini, rasanya serba salah. Pikirannya tidak fokus saat mengambil sesuatu untuk di taburi di atas bubur ayamnya. Ia harusnya mengambil kecap, malah salah mengambil saus.
"Astaga..! Kenapa malah saus yang aku masukkan ke bubur ayam ku..?"
Keluhnya ketika baru menyadari kecerobohannya.
Dokter Gaes yang melihat itu hendak tertawa tapi ia takut membuat dokter Shireen makin malu padanya.
Ia hanya bisa mengulum senyum sambil menutup mulutnya dengan punggung tangannya pura-pura mengucek hidungnya yang tak gatal.
"Ternyata gadis ini sangat lucu dan menggemaskan." Batin dokter Gaes.
Dokter Gaes yang belum menyentuh bubur ayamnya, lalu memberikan bubur ayam miliknya pada dokter Shiren.
"Kamu makan punya aku saja!" Titah dokter Gaes.
"Tapi, dokter Gaes..! Aku bisa menyingkirkan saosnya." Tukas dokter Shiren tidak enak hati.
"Tapi, itu sudah tidak enak." Ucap dokter Gaes.
"Aku bisa meminta lagi yang baru." Ucap Shiren.
"Bubur ayamnya sudah habis, sayang." Ucap dokter Gaes membuat dokter Shiren tersedak dengan ludahnya sendiri.
__ADS_1
"Uhuk...uhuk...!"
Dokter Gaes menyodorkan teh hangat untuk gadis ini yang hampir mati kutu di depannya.
Shiren meminum teh itu secara perlahan. Ia merasa hari ini Dewi Fortuna sedang menghampirinya.
"Sebenarnya aku sudah sarapan. Aku hanya ingin mengajak kamu sarapan karena ada yang ingin aku katakan padamu dokter Shiren."
Ucap dokter Gaes sambil memperhatikan Shiren menikmati bubur ayamnya.
"Apakah ini sangat penting dokter, Gaes? Tanya dokter Shiren yang mengira ada kaitannya dengan kariernya.
Ia mulai kuatir jika ia bisa di pindahkan ke departemen lain karena perombakan jabatan yang saat ini jadi isu di rumah sakit ini.
"Apakah ada kaitannya pengangkatan dengan jabatan, dokter Gaes?" Tanya Shiren ragu-ragu.
"Hmm..!"
"Apakah aku salah satu kandidat itu...?" Tanya dokter Shireen mulai GR.
Dokter Gaes mengangguk sambil menatap wajah cantik dokter Shireen lebih dalam.
Dokter Shireen meneguk minumannya setelah menghabiskan bubur ayamnya. Ia sangat senang bakalan naik jabatan.
..."Apakah kamu bersedia menjadi istri dari seorang CEO rumah sakit..?" Dokter Gaes sedang melamar dokter Shiren....
Dokter Shireen tercenung sesaat untuk menelaah lagi perkataan dokter Gaes kepadanya.
"Astaga...! Aku sedang tidak mimpikan dokter Gaes?" Tanya dokter Shireen dengan wajah bodohnya.
"Apakah kamu mau jadi istriku...?" Tanya dokter Gaes lagi.
"Maauu bangettt..!" Ucap dokter Shireen seperti anak kecil di tawarin makan es krim.
Dokter Gaes terkekeh dengan ulah Shiren yang membuatnya terus-menerus tertawa.
"Aku ingin kita secepatnya menikah." Ucap dokter Gaes.
"Kapan dokter?"
"Minggu depan."
"What ..?"
"Jangan terlalu dibuat ribet. Biarlah mami ku yang mengurus semuanya. Hotel dan catering akan diserahkan pada pihak hotel milik adik ipar ku.
Mamiku akan mengajak kamu ke butik untuk memilih gaun pengantin yang kamu suka. Buatlah sesuatu yang seefisien mungkin agar kita tidak terbebani dengan pernikahan ini."
Ucap dokter Gaes membuat dokter Shireen seperti berhenti bernafas.
"Baik dokter."
__ADS_1
"Mulai sekarang, panggil namaku saja Shireen." Ucap dokter Gaes.
"Terimakasih sudah memilihku menjadi istrimu, Gaes..! Ini seperti menunggu hujan turun setelah mengalami kemarau setahun. Rasanya aku mau pingsan karena terlalu bahagia" Ucap dokter Shiren.
"Baiklah. Kalau begitu aku mau pergi sebentar. Jaga dirimu Shiren." Ucap dokter Gaes lalu meninggalkan Shiren yang masih termangu menatapnya pergi.
Dreeett....!"
Ponsel Shireen berdering. Gadis ini segera meraih ponsel dalam kantong jas putihnya. Ia melihat panggilan dari dokter Gaes.
"Apa ada yang ketinggalan Gaes..?" Tanya Shireen.
"Iya..ada yang ketinggalan." Kata dokter Gaes.
"Apa ..?" Tanya Shireen sambil memeriksa sesuatu di bawah meja kantin itu.
"I love you, Shireen...!" Ucap dokter Gaes membuat Shireen seakan ingin terbang.
"Hahhhh...love you too baby ...!" Ucap Shiren sambil berjingkrak.
Gadis satu ini tidak tahu kalau dokter Gaes sedang memperhatikan tingkahnya dari jauh.
Dokter Gaes meneruskan langkahnya untuk mengurus semua dokumen pernikahannya dengan Shiren.
Sementara itu, Shiren mendapatkan panggilan lagi dari ruang IGD. Ia segera berlari menuju menuju ruang IGD dan melihat seorang ibu yang merupakan ibu kandungnya Delvin tergeletak tak berdaya dengan selang oksigen yang sudah terpasang di hidungnya.
Shiren mengenali sosok ini karena pernah bertemu dengan ibu mertuanya Eca saat keduanya pernah berpapasan di Mall beberapa tahun yang lalu.
Setelah diteliti penyakitnya, rupanya kantong empedu nyonya Zoya sudah pecah. Untuk mengatasinya harus dilakukan operasi.
Tapi operasi ini sangat sulit dilakukan karena kasusnya jarang terjadi. Andaipun itu bisa hanya ada satu orang dokter yang bisa melakukan operasi ini.
Tim dokter yang lain menatap dokter Shiren menunggu calon istri dokter Gaes ini mengatakan siapa dokter itu.
"Apakah ada dokter yang bisa menangani kasus ini dokter Shiren?"
"Ada .. tapi dia tidak lagi bertugas di rumah sakit ini. Kalau kondisinya dibiarkan hanya dengan pengobatan biasa, maka nyawanya tidak bisa bertahan selama dua puluh empat jam." Ucap dokter Shiren cemas.
"Siapa dokter itu...? Karena ada dua dokter yang sudah hengkang dari rumah sakit ini." Ucap dokter Risna.
"Dokter itu adalah menantu dari pasien ini sendiri." Ucap dokter Shiren.
"Emang dokter Shiren kenal siapa pasien ini?"
"Iya dia adalah ibu mertuanya dokter Eca, sahabat kita. Hanya saja hubungan mereka kurang baik dan masalahnya dokter Eca sedang hamil dan dia tidak mungkin melakukan operasi pada ibu mertuanya sendiri, lagi pula dia tidak lagi berdinas di rumah sakit ini." Ucap dokter Shireen.
"Tapi dia pernah menyelamatkan putrinya Chiky saat putrinya dalam keadaan kritis. Kenapa tidak melakukan hal yang sama pada ibu mertuanya?"
"Masalahnya Ciky dan ibu mertuanya memiliki status yang berbeda....tapi.. sudahlah... Aku akan bicarakan ini dulu pada dokter Gaes."
Ucap dokter Shireen yang hampir keceplosan mengenai status si kembar yang sesaat lagi akan menjadi keponakannya.
__ADS_1