
Ciky membuka pintu kamarnya dan melihat Erland dan Chiko menatap wajah Ciky yang terlihat sembab habis menangis.
"Tuntaskan urusan kalian malam ini secara bijak. Jangan berdebat untuk hal konyol kalau pada akhirnya kalian berdua saling mencintai." Ucap Chiko menasehati keduanya.
Chiky menutup pintu kamarnya dan mengajak Erland duduk di balkon ruang keluarga lantai dua.
Memang di keluarga Delvin, Eca tidak mengijinkan putra putrinya untuk mengajak teman mereka ke kamar entah itu lelaki maupun perempuan.
Mereka sudah tahu dengan peraturan itu kalau tamu tempatnya di ruang tamu atau ruang keluarga.
Chiky duduk di sofa panjang di ikuti oleh Erland yang duduk di sebelahnya. Lama juga keduanya terdiam. Seakan sedang merangkai kata untuk mereka ucapkan setelah lawan bicara mereka melempar umpan.
"Apakah aku boleh bicara Ciky...?"
"Silahkan....!"
"Aku tahu kita berdua belum saling mengenal satu sama lain dan pinangan aku terkesan buru-buru.
Tapi suatu niat baik untuk bisa menghalalkanmu jauh lebih berakhlak daripada melakukan pendekatan tanpa ada keseriusan seperti pecundang.
Kamu adalah wanita berharga untukku yang berasal dari keluarga terhormat.
Aku bukan perayu wanita karena selama ini aku tidak pernah melakukan pendekatan dengan mereka karena begitu sulit memilih wanita tulus ditengah popularitas nama besar keluargaku.
Tapi denganmu aku menaruh semua harapan itu bahwa ketulusan cintamu yang membuat aku langsung jatuh cinta padamu.
Dan aku tidak punya hubungan spesial lainnya walaupun yang kamu lihat tidak seperti yang terlihat.
Reva bukan siapa-siapa bagiku. Tolong pahami perkataanku." Ucap Erland meyakinkan wanitanya.
Erland menjelaskan kedudukan Reva di dalam keluarganya dan juga di matanya agar Ciky berhenti cemburu pada wanita yang tidak jelas itu.
"Aku...aku ..aku...! Aku takut mimpiku akan berakhir dengan prinsip kakekmu. Dan kamu tidak mungkin sanggup hidup di jalanan jika kakekmu membuktikan ancamannya.
"Cih...! kakek tua itu tidak akan meminta orang lain untuk menguburkan hartanya bersama dengan jasadnya.
Lagi pula jatah hidupnya tidak akan bertahan lama di bumi ini karena hartanya tidak akan mampu membeli waktu.
Biarkan saja dia mengancam aku dengan segala tindakan arogannya, nanti juga harta itu akan tetap beralih kepadaku secara otomatis karena aku pewaris satu-satunya."
Ucap Erland begitu frontal membuat Ciky hanya bisa membelo.
"Cih...! Dasar cucu songong. Bisa-bisanya dia menyumpahi kakeknya cepat mati." Ucap Ciky lirih sambil menahan tawanya.
"Bagaimana..? masih mau menerima aku atau tidak, Ciky?" Tanya Erland sedikit memaksa.
__ADS_1
"Kalau aku menolakmu, Bagaimana...?" Tanya Ciky.
"Aku akan menculik mu dan membawa mu ke penghulu untuk memaksamu menikah denganku." Acuh Erland.
"Kalau aku menerimanya...?" Tanya Ciky lagi.
"Aku akan memperlakukanmu seperti putri di istanaku." Sahut Erland.
"Kenapa tidak meyakinkan kakekmu dulu sebelum datang melamar ku?" Tanya Ciky.
"Kalau kita sudah menikah, baru aku datang memaksanya untuk menerimamu suka atau tidak suka. Lagi pula, dia tidak mungkin akan mengawasi kehidupan kita." Ucap Erland.
Ucapan frontal Erland cukup mengejutkan Ciky yang bisa mengetahui bagaimana kedekatan Erland dan kakeknya.
Biasanya seorang kakek lebih menyayangi cucunya ketimbang anaknya. Atas pertimbangan itu, Ciky mau menerima pinangannya Erland.
"Ciky..! Apakah kamu mau....-"
"Iya, aku siap hidup berdua denganmu. Buatlah aku menjadi wanita sempurna untukmu, Erland Hadi Billy Purwanto."
Ucap Ciky buru-buru menjawab pertanyaan Erland tanpa menunggu Erland menuntaskan pertanyaannya.
Erland tersenyum bahagia mendengar ucapan cinta yang manis dari wanitanya. Erland menyematkan cincin berlian pada jari manis Ciky sebagai calon tunangannya.
Dan Ciky mengambil cincin perak khusus untuk pria lalu disematkan ke jari manisnya, Erland. Keduanya sudah menjadi pasangan yang saling mengikat satu sama lain.
Ciky membalas mengecup pipi Erland membuat mata sipit Erland langsung melebar.
"Aku tidak akan mencuci wajahku agar stempel bibirmu tidak hilang, sayang." Ucap Erland membuat Ciky terpingkal.
"Dasar lebay kamu Erland." Ucap Ciky pada pada pria berusia dua puluh lima tahun ini.
"Baiklah. Ini sudah malam. Aku harus pamit pulang sebelum ayahmu menegur ku. Aku harus memberikan kesan terbaik pada keluargamu sekalipun aku agak enggan meninggalkan kamu secepat ini." Ucap Erland.
"Aku menunggumu makan siang besok di kantin rumah sakit." Ucap Ciky.
"Justru aku ingin mulai hariku sarapan bersamamu besok pagi. Jangan bawa mobilmu..! Biar aku yang akan menjemputmu." Kata Erland.
Keduanya berjalan keluar menuju keluarganya Ciky yang masih bercengkrama di ruang keluarga sambil bercerita tentang apa saja.
Jika sudah berkumpul bersama keluarga, anggota keluarga dilarang untuk memegang ponsel mereka. Itu aturan yang diterapkan di dalam keluarga Delvin agar menjaga hubungan kedekatan mereka satu sama lain.
Erland pamit kepada keluarga Delvin dan Ciky mengantar tunangannya sampai ke mobil.
"Aku akan menjemputmu jam enam pagi supaya waktu kita lebih banyak untuk pacaran." Ucap Erland lalu mengucapkan salam pada Ciky
__ADS_1
"Bye ...! Mimpikan aku malam ini Erland." Pinta Ciky dan keduanya saling melambaikan tangan.
...----------------...
Keesokan paginya, seperti janji Erland untuk menjemput Ciky pagi sekali, gadis ini sudah tampil cantik dari jam 5.30.
Sementara keluarganya yang lain masih sibuk mandi kecuali ketiga adiknya yang sudah siap berangkat ke sekolah.
Adam yang saat ini berusia 12 tahun, sudah duduk di kelas 12 sementara adik kembarnya Caca dan Cika duduk di kelas 9 di usia mereka yang ke sepuluh tahun.
Tidak heran lagi dengan keluarga jenius ini. Adam dan adik kembarnya sudah berangkat ke sekolah di antar oleh sopir pribadi mereka pak Iwan.
Tidak lama kemudian, datanglah Erland yang menjemput Ciky dan segera turun membukakan pintu mobil untuk tunangannya, Ciky.
Keduanya saling cipika cipiki setelah berada di dalam mobil.
Asisten Erland yang bernama Willy menyapa Ciky walaupun mereka belum sempat berkenalan.
"Selamat pagi dokter...!" Sapa Willy pada Ciky yang tersenyum padanya.
.
"Pagi..!" Ucap Ciky lalu menatap lagi wajah kekasihnya.
"Kamu terlihat sangat cantik pagi ini Ciky. Apa kabarmu pagi ini, sayang...!" Tanya Erland.
"Ini adalah hari pertama sejarah cintaku di mulai dengan sarapan bersama dengan pangeran ku dan tentu saja kabarku sangat baik, sayang." Sahut Ciky dengan senyum merekah.
"Aku semalam berusaha memimpikan kamu tapi, kamu tidak hadir juga dalam mimpiku dan itu membuat aku sangat gusar.
Dan pagi ini hatiku sangat bahagia karena aku bisa menatap wajahmu secara nyata dan awal pagi ku menjadi kabar terbaik untukku hari ini, Ciky." Balas Erland.
Keduanya terkekeh lalu mencari tempat sarapan pagi mereka di sebuah kedai makanan yang menyiapkan berbagai menu sarapan.
Ciky dan Erland memilih sarapan roti pisang coklat panggang yang ditaburi keju dengan segelas susu.
"Apakah hari ini kamu ada jadwal operasi?" Tanya Erland.
"Jadwal operasinya sekitar jam sembilan pagi dan mungkin aku bisa terlambat makan siang Erland. Kamu makan siang sendiri saja ya sayang, takutnya aku bisa molor sampai jam dua siang." Ucap Ciky.
"Aku akan tetap datang makan siang denganmu sayang." Ucap Erland.
Visual Ciky
__ADS_1
Visual Erland