
Keadaan rumah sakit seketika riuh dengan kecelakaan sebuah bus sekolah yang terguling di jalan tol karena mengalami rem blong.
Para dokter yang sudah siap di pintu masuk utama menerima para korban yang terlihat dengan luka yang mengenaskan. Setiap pasien di data sesuai dengan tingkat cidera dari yang paling parah hingga luka ringan.
Setiap dokter di temani satu orang suster menangani pasien yang juga mengalami trauma berat pasca kecelakaan itu.
Dokter nampak sibuk menangani pasien yang luka berat dengan keadaan yang sudah tidak bisa tertolong.
Ada yang meninggal setibanya di rumah sakit. Ada yang baru di tangani juga meninggal dan ada pula yang masih bisa diselamatkan namun nyawanya tergantung pada ajalnya kini.
Dokter Eca, dokter Ciky dan beberapa dokter lainnya menangani pasien dengan luka berat. Sementara dokter Chiko dan beberapa dokter lainnya menangani pasien yang luka ringan.
Seorang gadis dengan luka ringan masih dalam keadaan pingsan yang membuat Chiko harus di beri alkohol untuk menyadarkan dirinya.
Saat mengerjapkan matanya, Edis menatap wajah tampan dokter chiko membuat ia merasa sudah berada di dalam surga.
"Apakah aku sudah mati?" Tanya pasien yang bernama Edis ini.
"Belum nona. Kamu masih hidup. Keadaan lukamu hanya memar dan suhu tubuhmu juga normal."
Ucap Chiko sambil tersenyum samar pada gadis cantik yang ada di hadapannya ini.
"Benar....! Aku belum mati. Aku kira sedang berhadapan dengan malaikat yang paling tampan yang ada di dalam surga."
Ucap Edis yang tidak mau memalingkan wajahnya dari wajah Iko.
"Tunggu saja orangtuamu sebentar lagi menjemputmu." Ucap Chiko namun Edis menolak.
"Saya ingin dirawat. Saya tidak mau pulang." Ucap Edis yang merasa sudah menemukan Arjuna nya.
"Rumah sakit ini tidak menerima orang yang sehat. Jadi kamu harus pulang. Aku mau melihat pasien yang lain."
Ucap Chiko tegas karena Edis terlihat gadis manja menurut pikirannya.
"Tunggu dokter!" Aku masih takut karena ada temanku yang menghembuskan nafas terakhirnya tepat di hadapanku dengan keadaan wajahnya yang mengenaskan.
Tiba-tiba aku kehilangan kesadaran ku. Bisakah kamu menemani aku sebentar?"
Pinta Edis sedikit berbohong karena tidak ingin Chiko meninggalkannya.
"Kamu bisa ditemani perawat. Aku akan meminta mereka mereka menemanimu."
Ucap dokter Chiko membuat perawat lain menolak karena banyak pekerjaan yang harus mereka kerjakan.
"Ayolah dokter...! Aku akan meminta ayahku untuk menambahkan biaya pembayaran rumah sakit ini agar dokter bisa menemaniku di sini."
Ucap Edis setengah memelas.
__ADS_1
"Baiklah. Aku akan menemanimu. Apa yang terjadi dengan bus kalian? Kamu dari SMA mana?"
"Kami baru pulang dari Jogjakarta usai mengadakan acara perpisahan sekolah. Mobil mulai oleng dan menabrak pembatas jalan hingga akhirnya terguling di jalan tol dan aku berasal dari SMA internasional...uhuk...uhuk ..!"
Tiba-tiba edis muntah darah membuat Chiko nampak panik.
Chiko mendorong brangkar Edis menuju ruang operasi. Setelah melakukan biopsi ternyata ada benda kecil yang masuk di paru-paru Edis yang ternyata adalah plastik kecil seperti Lego.
Chiko bernafas lega karena Edis tetap bertahan di rumah sakit dan tidak mau pulang.
"Seandainya dia pulang, gadis ini bisa mati karena kecerobohan ku yang tidak melakukan MRI pada tubuhnya." Gumam Chiko merasa bersalah.
Untuk menebus kesalahannya, Chiko berjanji untuk menemani Edis selama menjalani rawat inap.
Usai melakukan operasi, Edis dipindahkan ke kamar inap VVIP.
Chiky yang baru selesai melakukan operasi di kamar sebelah terlihat sangat lelah karena belum makan siang hingga waktu sudah memasuki pukul delapan malam.
"Apakah kamu baik-baik saja Chiky?" Tanya Chiko saat keduanya menuju ke ruang ganti dokter.
"Aku hanya lapar dan mau ke kantin. Hari ini kenapa hanya rumah sakit kita yang terima kecelakaan anak sekolah yang ternyata dari alumni sekolah SMA kita." Ucap Ciky.
"Jadi korban kecelakaan bus itu adalah adik kelas kita, Ciky?" Tanya Chiko yang baru mengetahuinya.
"Itulah sebabnya, kepala sekolah meminta mengirim siswanya ke rumah sakit kita. Harusnya bisa kirim ke rumah sakit lain juga." Timpal Ciky.
Ponsel Ciky berbunyi. Dan ternyata ada panggilan dari Erland.
"Keluarlah sayang...! Aku bawakan makan malam untuk kita makan bersama. Aku tunggu kamu di mobilku di parkiran khusus dokter." Ucap Erland.
"Iya sayang. Aku akan segera ke sana."
Ucap Ciky sambil berjalan menuju lobi.
Ciky berjalan dengan langkah gontai memasuki mobil tunangannya dan lalu merebahkan tubuhnya di paha Erland.
"Aku ngantuk, sayang! Aku malas makan. Aku mau tidur sebentar di pangkuan mu." Ucap Ciky.
"Tapi kamu belum makan siang, sayang. Nanti kamu bisa sakit. Aku suapin ya..?" Ucap Erland lalu meminta Ciky untuk bersandar.
Ciky menerima setiap suapan dari Erland dengan mata yang terlihat berat.
"Cukup Erland. Nanti aku makan lagi. Aku hanya mau tidur." Ucap Ciky. Ciky menyedot minumannya.
Erland menyetel jok mobilnya membentuk tempat tidur dan membentangkan bedcover di atasnya dan meletakkan bantal agar Ciky bisa berbaring dengan nyaman.
Ciky tersenyum pada Erland seakan mengatakan terimakasih karena sudah membuat tubuhnya bisa nyaman tidur di dalam mobil itu di jaga oleh pangerannya.
__ADS_1
Sementara di kamar inap milik Edis, dokter Chiko sedang menunggu Edis yang masih belum siuman dari biusnya.
Ia terpaksa membangunkan Edis dengan obat karena sudah melebihi durasi waktu yang ditentukan oleh dokter pada pasien yang menjalani operasi.
Tidak lama kemudian, Edis mulai membuka matanya dan ia sangat bahagia bisa melihat lagi wajah tampan Chiko.
"Apa yang terjadi padaku?" tanya Edis.
Chiko menceritakan keadaan sebenarnya pada Edis.
"Aku meminta maaf karena telah meremehkan kesehatan mu yang terlihat segar dari luar saja." Ucap Chiko dengan wajah penyesalan.
"Apakah dokter tidak menemukan penyakit yang lainnya padaku?" tanya Edis terlihat serius.
"Aku sudah melakukan biopsi padamu dengan teliti. Dari pencitraan, tidak ada lagi yang saya temukan selain benda kecil tadi." Ucap Chiko dengan penjelasan secara medis.
"Kenapa anda terlalu mengandalkan peralatan medis saat memeriksa aku?" Tanya Edis.
"Apakah kamu merasa ada yang masih sakit Edis?"
"Iya ..!"
"Apa yang sakit?"
"Hatiku dan jantungku?"
"Tapi aku tidak menemukan sakit ke duanya diantara organ vital milikmu itu?"
"Jantungku berdetak tidak beraturan sejak tadi saat melihat wajah tampan itu dan penyakit yang sulit di sembuhkan olehmu saat ini karena aku jatuh cinta padamu dokter Chiko. Apakah kamu bisa mengobatinya?" Tanya Edis dengan tampang seriusnya.
Duaaarrr....
Chiko di buat salah tingkah dengan pernyataan gadis berusia tujuh belas tahun ini.
Ia memberikan ponselnya pada Edis agar gadis ini menghubungi kedua orangtuanya.
"Mereka tinggal di luar negeri dan aku tinggal dengan nenekku di Jakarta bersama pelayanku. Tidak usah menghubungi mereka kecuali aku sudah mati. Mereka tidak akan mempedulikan aku karena bisnis mereka lebih penting daripada aku."
Ucap Edis menyembunyikan kesedihannya, gadis kesepian yang sekarang sedang mencari perhatian Chiko.
Mendengar pengakuan Edis, Chiko merasa sangat menyesal membuat gadis ini sedih.
"Maafkan aku...! Apakah kamu mau makan sesuatu?"
"Aku sudah kenyang hanya dengan menatap wajahmu yang tampan itu." Ucap Edis membuat Chiko hanya bisa mengusap tengkuknya yang terasa sangat pegal.
"Kenapa aku harus bertemu dengan gadis aneh hari ini?" Batin Chiko yang gemas juga dengan Edis.
__ADS_1