
Rupanya bukan hanya keluarga Delvin yang mengunjungi Alin dan Haidar, ada juga keluarga besar dokter Gaes.
Sontak rumah itu sangat ramai karena Alin akan merayakan ulang tahunnya yang ke tiga dua.
Kehadiran si kembar yang menjadi kado ulang tahun untuknya.
"Terimakasih baby, sudah mengunjungi mama." Ucap Alin memeluk tubuh si kembar secara bergantian.
"Mama..! Perut mama sangat besar dengan empat adik bayi. Kamu tidak sabar ingin melihat adik bayi lahir." Ucap Ciky.
"Kalian pasti pintar mengurus bayi karena pengalaman dengan baby Adam." Ucap Alin sambil menggoda Adam yang ikut mengusap perutnya.
Wajah Adam yang merupakan cetakan wajah ayahnya Delvin, membuat Alin terus memuji ketampanan Adam.
"Delviin...! Sepertinya baby Adam besar sangat mirip denganmu." Ucap Alin sambil tersenyum.
Eca yang sedang mengobrol dengan dokter Gaes dan Haidar tidak mendengar ucapan Alin pada suaminya.
Delvin hanya tersenyum pelit lalu mengambil baby Adam menjauhi Alin. Ia tidak mau mendapat ceramah lagi dari istrinya kalau tahu dirinya ngobrol dekat dengan Alin.
Nyonya Arini dan Alea sibuk melihat hidangan yang disiapkan oleh para pelayan di meja makan. Acara ulang tahun Alin ditutup dengan makan malam bersama.
Karena saat ini lagi memasuki musim salju, membuat jalanan ibu kota sedikit terhambat. banyaknya mobil tergelincir membuat otoritas setempat mengeluarkan pengumuman untuk tidak melakukan aktivitas di luar rumah jika tidak begitu penting kecuali dengan tidak menggunakan kendaraan.
Makan malam berlangsung meriah diselingi canda tawa diantara mereka. Alea yang saat ini baru hamil lima bulan nampak bahagia menyambut kedatangan para keponakannya. Sementara dirinya sendiri hamil anak kembar.
"Alea..! Apakah kamu sudah mengetahui jenis kelamin bayimu?" Tanya Eca di sela mereka menikmati hidangan penutup.
"Kami tidak ingin mengetahuinya. Biarkan itu menjadi kejutan dari Allah untuk kami." Sahut Alea.
"Sepertinya baby Adam butuh teman main Eca, apakah kamu tidak berniat hamil lagi, sayang?" Tanya nyonya Arini.
"Bayiku sedang otw, mami!" Ucap Delvin cuek.
"Kapan om dokter punya pasangan? Apakah om dokter tidak pingin punya anak?" Tanya Ciky polos.
Semuanya terdiam menatap wajah dokter yang terlihat syok mendengar pertanyaan keponakannya.
"Belum ada yang cocok dengan om Ciky."
"Apakah mereka tidak menyukai om? Mereka payah sekali kalau tidak menyukai om ku yang tampan ini." Ucap Ciky membuat yang lain cekikikan.
"Sebenarnya, om dokter banyak yang suka, hanya saja om dokter tidak menemukan seperti yang om dokter inginkan." Ucap dokter Gaes.
"Bagaimana om dokter bisa tahu apa yang om dokter butuhkan dari mereka sementara belum melakukan pendekatan."
__ADS_1
Ucap Chiko dengan wajah datarnya sambil menikmati puding roti miliknya.
"Sayang...! Tidak pantas bicara dengan orangtua seperti itu." Ucap Eca menasehati putranya.
"Tidak apa Eca! Biar Gaes tahu apa yang dikatakan keponakannya itu adalah benar. Dia tidak akan menemukan wanita yang sesuai dengan hatinya, tapi tidak mau menjalin hubungan." Ucap Nyonya Arini.
"Yah, bagaimana mau ngedeketin mereka kalau kalau belum menemukannya."
"Dokter Shireen menyukaimu dokter Gaes. Dia berharap kamu melihatnya sebagai wanita bukan sebagai koleganya." Timpal Eca.
Dokter Gaes hanya tersenyum. Ia tidak terlalu suka dengan perjodohan. Apa lagi tidak ingin melihat wanita yang diam-diam menyukainya.
"Ini lebih masalah hati dokter Eca. Aku tidak mau menyukai wanita karena iba." Ucap dokter Gaes tegas.
"Setidaknya cobalah dulu, om ku sayang. Kalau nggak cocok tinggal dibalikin lagi pada tempatnya. Kalau cocok, bungkus langsung bawa pulang."
Timpal Ciky membuat semuanya terkekeh menggoda dokter Gaes.
"Astaga ..! Apa ini ..? Alin melihat banyak cairan bening merembes ke kakinya yang jenjang.
"Ada apa Alin?" Tanya Eca yang duduk sebelahnya.
"Sepertinya ketuban aku pecah." Ucap Alin lalu meringis kesakitan mencengkram lengan suaminya.
"Baby ..! Perutku sakit." Ucap Alin tidak kuat menahan kontraksi.
Haidar mengendong istrinya membawa ke kamar mereka.
"Tolong siapkan air hangat, handuk dan alkohol. Alin sudah siap melahirkan bayinya. Ia tidak bisa ke rumah sakit saat ini karena bayinya sudah berada di pintu rahim." Ucap Eca.
Dalam sekejap para pelayan sudaj menyiapkan apa yang dibutuhkan Eca. Eca memakai pakaian APD dan siap membantu proses persalinan Alin. Nyonya Arini dan Alea menemani Alin dari kedua sisi.
Sementara semua cowok berkumpul di depan ruang tamu sambil berdoa untuk keselamatan Alin dan empat anak kembarnya.
"Ikuti instruksi dariku dan kamu baru bisa mengejan." Ucap Eca dan diangguki Alin yang sudah sangat siap.
Dalam hitungan ketiga, bayi Alin pertama lahir. Selang lima menit, bayi kedua, tujuh menit bayi ketiga dan sepuluh menit kemudian lahir bayi keempat berjenis kelamin perempuan.
Tiga bayi berjenis kelamin laki-laki dan satu bayinya perempuan. Tangis keempatnya menggema bersamaan membuat keluarga besar itu menyambut dengan suka cita.
"Alhamdulillah mereka lahir dengan sehat" Ucap nyonya Arini penuh syukur.
Keempat bayi itu langsung diurus oleh dua perawat yang disewa Haidar.
Tapi, Alin malah pingsan setelah melahirkan bayi terakhirnya. Eca memeriksa keadaan Alin.
__ADS_1
"Astaga! Alin mengalami serangan jantung. Eca berusaha memompa jantungnya. Ia juga menyuntikkan morfin pada Alin melalui cairan infus.
Tidak lama Alin siuman. Eca bernafas lega karena ia pontang-panting sendirian mengurus Alin dan keempat bayinya.
Alin dirapikan oleh nyonya Arini. Alea menggendong salah satu bayinya Alin, di ikuti Ciky, Haidar dan yang satunya sedang di susui Alin.
"Alin ..! Apakah kamu sudah siap menyusui keempat bayimu Alin?"
"Sepertinya ASI ku tidak cukup untuk mereka berempat. Lebih baik didampingi dengan susu formula." Ucap Alin.
"Baiklah. Nanti minta pelayanmu ke supermarket." Ucap Eca.
"Aku sudah menyiapkannya, Eca." Kata Alin.
"Kamu sangat sigap dalam mempersiapkan sesuatu." Sindir Eca dalam canda.
"Terimakasih untuk bantuan mu, Eca..! Untuk kali kedua aku menyusahkan kamu lagi." Imbuh Alin.
"Setidaknya mereka tidak dititipkan lagi padaku." Seloroh Eca.
Alin terlihat malu mendengar sindiran halus oleh Eca padanya.
"Kalau begitu aku pamit dulu mau balik ke hotel, Alin. Biarkan si kembar menginap di sini." Ucap Eca lalu bangkit berdiri.
"Sepertinya wajahmu sangat pucat Eca. Apakah kamu baik-baik saja?"
"Mungkin aku kelelahan saja Alin. Aku butuh istirahat." Ucap Eca berjalan dengan langkah gontai.
"Apakah kamu tidak ingin menginap di sini saja?"
"Tidak ..! Aku butuh waktu berdua dengan Delvin." Ucap Eca agak ketus.
Alin cukup terkejut tapi ia memaklumi kecemburuan Eca padanya. Eca menutup pintu kamar Alin dan pamit pada semuanya. Delvin menitipkan di kembar pada Haidar.
Keluarga itu mengucapkan terimakasih banyak pada Eca yang bersedia membantu Alin melahirkan anak kembar empatnya.
"Sayang...! Apakah kamu baik-baik saja? Wajahmu sangat pucat." Tanya Delvin cemas.
Dokter Gaes yang melihat wajah Eca, merasa curiga dengan ibu satu anak ini.
"Dokter Eca! Sebelum kamu kembali ke hotel sebaiknya aku harus memastikan sesuatu." Ucap dokter Gaes.
"Ada apa dokter tanya Eca dengan suara makin melemah."
"Delvin! Ajaklah Eca duduk di sofa." Ucap dokter Gaes.
__ADS_1
Pria tampan ini mengeluarkan stateskop miliknya dan memeriksa keadaan Eca sambil merasakan denyut nadi Eca dipergelangan tangannya sambil melirik jam tangannya.