IBU PENGGANTI UNTUK SI KEMBAR

IBU PENGGANTI UNTUK SI KEMBAR
81. Tidak Tertolong


__ADS_3

Entah mau menebus rasa bersalah ataukah rasa cintanya pada Edis, Chiko tidak ingin pulang ke rumah setiap kali usai bertugas jaga.


Ia lebih memilih menunggu Edis di kamar inap milik gadis itu. Sementara kedua orangtuanya Edis sulit dihubungi hingga akhirnya, Ciky nekat mendatangi rumah Edis.


Setibanya di rumah Edis, Ciky dan kekasihnya Erland disambut oleh pelayan. Ciky memperkenalkan dirinya sebagai dokter yang saat ini sedang merawat Edis. Ciky menanyakan bagaimana caranya agar bisa bicara dengan kedua orangtuanya Edis.


"Maaf dokter...! sebaiknya dokter menanyakan langsung pada nyonya besar. Mungkin beliau lebih mengetahui keberadaan putranya."


Ucap pelayan itu terlihat misterius.


"Baiklah. Tidak masalah, yang penting ada wali dari pasien Edis yang bisa kami ajak diskusi." Ucap dokter Ciky.


Tidak lama seorang wanita tua dengan usia yang diperkirakan delapan puluh tahun keluar dari kamarnya dengan tongkat ditangannya.


Walaupun usianya sudah lanjut, namun masih ada goresan bekas kecantikannya di sana, mungkin karena masa mudanya sering melakukan perawatan secara rutin.


"Apakah kalian berdua mencariku? Tanya nyonya Amor.


"Selamat sore nyonya! Maaf kami menganggu nyonya karena kami ingin menyampaikan sesuatu yang penting mengenai cucu anda Edis." Ucap dokter Ciky.


"Siapa kalian dan dari mana kalian?"


"Perkenalkan saya dokter Ciky dari rumah sakit AYESHA. Kedatangan saya kemari untuk memberitahukan kalau cucu Anda Edis saat ini sedang di rawat di RS kami." Ucap Ciky.


"Apa..? Cucuku Edis di rumah sakit? Bukankah saat ini dia masih berada di puncak?"


Tanya nyonya Amor tidak percaya.


"Cucu anda saat ini sedang mengidap penyakit leukimia stadium lanjut. Usianya hanya menghitung hari.


Ia bisa sembuh jika mendapatkan pencangkokan sumsum tulang belakang dan kami butuh orangtuanya untuk bisa melakukan pencangkokan itu secepatnya.


Apakah nyonya bisa menghubungi orangtuanya untuk kembali ke Indonesia?" Tanya dokter Ciky penuh harap.


Nyonya Amor terlihat sedih sambil menarik nafasnya berat. Iapun kembali menatap wajah cantik dokter Ciky.


"Masalahnya, cucuku Edis hanya anak adopsi putraku. Dia diambil di panti asuhan saat berusia satu tahun. Awalnya putra dan menantuku sangat menyayangi Edis. Berjalannya waktu, saat Edis memasuki masa remaja, kasih sayang mereka mulai berkurang pada Edis. Mereka sibuk melakukan perjalanan bisnis dan meninggalkan Edis bersamaku hingga gadis itu menarik diri dari pergaulan dengan teman-temannya dan mulai sibuk dengan dunianya sendiri.

__ADS_1


Tapi sedikitpun, dia tidak pernah mengeluh apa lagi menangis. Di hadapan orang dia terlihat ceria, tapi saat sendirian dia mulai menangis dan mengurung dirinya di kamar jika ia merasa orangtuanya mengabaikan dirinya." Ucap nyonya Amor membuat Ciky tersentak.


"Apakah Edis sudah mengetahui kalau dia adalah anak angkat?"


"Dia belum mengetahuinya tapi dia merasa curiga kalau kalau dia hanya anak angkat dan saya tidak tega menyampaikan kebenaran itu padanya." Ucap nyonya Amor sembari menarik nafasnya lagi.


"Walaupun Edis hanya anak angkat di keluarga ini, apakah tidak ada sama sekali empati kedua orangtuanya pada gadis ini sebagai manusia?" Ucap Ciky menahan geramnya."


"Biar aku akan bicarakan ini pada putraku. Ia sebenarnya sayang pada Edis hanya saja menantuku menjaga jarak antara keduanya." Ucap nyonya Amor.


"Baiklah. Kami tunggu kabar baiknya dari anda. Kasihan Edis." Ucap Ciky lalu pamit pada nyonya Amor.


Ketika dalam perjalanan pulang ke rumah sakit, Ciky menangis sepanjang jalan mengingat nasib Edis yang terlihat kesepian.


"Menjelang ajalnya pun, kedua orangtua angkatnya tidak peduli sama sekali dengan gadis itu, apakah gadis itu hanya jadi boneka mereka saat ia masih kecil dan setelah remaja mereka mulai bosan dan mengabaikan begitu saja haknya sebagai putri di keluarga itu. Benar-benar manusia egois." Umpat Ciky kesal.


"Sayang......! Jangan terlalu terbawa emosi. Kamu tidak mendapatkan apapun dalam kasusnya Edis, dengan marah-marah seperti itu.


Pikirkan sesuatu untuk Edis, entah mempelajari lagi kasusnya agar bisa menemukan solusi atau membahagiakan gadis itu diakhir hidupnya. Bukankah Chiko mulai jatuh cinta pada gadis itu?" Tanya Erland.


"Apakah kamu akan mengatakan kepada Chiko tentang status Edis hanya putri angkat, Chiky?"


"Lantas mau ngomong apa lagi kalau bukan hal yang sebenarnya disampaikan. Apakah kamu punya solusi lain?"


"Mengumumkan pada media, siapa tahu ada yang mau menolong Edis. Siapa tahu kita bisa menemukan orangtua kandungnya atau saudara kandungnya.


Bukankah Edis lahir dari seorang ibu? Siapa tahu ibunya bisa mengetahui informasi putrinya dengan begitu, kita bisa tahu siapa ibu kandungnya Edis yang telah menelantarkan putrinya." Ucap Erland.


"Penyakit Edis tidak bisa menunggu waktu. Andaikan kita melakukan seperti saranmu kita butuh banyak petunjuk dari orangtua angkatnya dari mana mereka adopsi Edis." Imbuh Ciky.


"Ya Tuhan. Kenapa jadi rumit seperti ini." Ucap Erland ikut frustrasi.


Setibanya di rumah sakit. Ciky menyampaikan hasil pertemuannya dengan nenek angkatnya Edis.


Chiko sangat syok saat mengetahui status kekasihnya. Ia kembali ke kamarnya Edis sambil menahan kesedihannya.


Edis yang baru saja membuka matanya menatap wajah tampan Chiko dengan wajah sendu.

__ADS_1


"Apakah kedua orangtuaku akan datang menjengukku, Chiko? Pasti mereka akan datang melihat keadaanku. Mana mungkin mereka akan membiarkan aku mati sia-sia, jika aku adalah putri mereka satu-satunya." Ujar Edis menghibur diri sendiri.


"Bolehkah aku memelukmu Edis?"


"Apakah kamu sudah berubah pikiran Chiko? Apakah kamu sudah jatuh cinta padaku?"


"Hmm!"


Chiko mengangguk dengan mata berkaca-kaca.


"Apakah aku akan meninggal Chiko? Karena itukah kamu mencintaiku? apakah kamu iba padaku?"


"Tidak Edis....!Aku mencintaimu tanpa harus menunggumu sakit. Aku sudah menipu diriku sendiri kalau aku sudah jatuh cinta padamu saat kamu tidak lagi datang menemui ku. Disitulah aku mulai merindukanmu.


Merindukan gadis konyol yang selalu menunggu kedatanganku atau saat aku pulang kerja. Aku merindukan semua kegilaan mu, sayang." Ucap Chiko sambil mengeratkan pelukannya pada tubuh Edis.


"Jika aku tahu kamu sudah mencintaiku sebelum aku sakit, aku ingin mengajak kamu nonton film terbaru di bioskop atau ke pantai, ke puncak.


Aku ingin mengunjungi tempat tempat yang sedikit sepi agar bisa bersamamu tanpa ada yang menganggu." Ucap Edis sambil menangis.


"Apakah kamu ingin kita nonton film denganku berdua saja?"


"Apakah boleh aku keluar dari sini menuju bioskop?"


"Kita tidak ke bioskop, sayang. Kita akan menonton di dalam kamar ini. Aku ingin berbaring di sampingmu sambil menonton film yang belum kita tonton." Ucap Chiko.


"Benarkah kamu ingin nonton film dan ikut berbaring di ranjang ini bersamaku?" Tanya Edis dengan wajah berbinar.


"Hmm!"


Edis mengecup pipi Chiko. Chiko menatap wajah cantik Edis yang sangat pucat dan mendaratkan ciuman pada gadis itu.


Edis menikmati ciuman Chiko dan membalasnya dengan lembut.


"Chiko...! Akhirnya aku bisa memelukmu dalam dekapanmu. Dua jantung yang saling berdetak bersama dengan waktu yang akan memisahkan kita.


Andai aku mati malam ini, aku ingin mati dalam pelukanmu. Aku tidak pernah menyesal karena terlalu mencintaimu, Chiko....! Biarkan aku bernafas dalam cintamu di sisa waktuku dan jangan pernah lupakan, bahwa ada gadis gila yang mencintaimu sepenuh hatinya" Batin Edis memperdalam ciumannya pada pangerannya.

__ADS_1


__ADS_2