
Helikopter yang membawa tubuh Alin dan Haidar tiba di atas atap rumah sakit milik dokter Gaes. Dua orang suster mendampingi dua dokter menyambut kedatangan pasien yang merupakan pemilik rumah sakit ini.
Dokter Linda melaporkan status pasien dan Alin siap menjalankan operasi pada kakinya. Haidar memaksa dokter Gaes untuk melibatkan Eca agar mempelajari lagi kasusnya Alin agar kakinya Alin tidak di amputasi begitu saja.
Walaupun mereka sangat bahagia Alin sudah ditemukan dalam keadaan hidup namun Delvin merasa berat hati jika istrinya terlibat dalam kasus Alin karena Delvin tidak mau justru di tangan Eca Alin malah meninggal dunia dan akan menciptakan rumor baru dengan pikiran manusia yang dangkal akan menciptakan komentar nyinyir yang membuat istrinya tersudutkan oleh media.
Haidar yang terlihat sangat frustrasi, mendatangi kediaman Eca untuk meminta pada ibu sambung si kembar agar menyelamatkan kaki Alin tanpa harus diamputasi.
Delvin membiarkan Eca mengambil keputusannya sendiri sesuai dengan bakat dan kemampuan Eca menyelesaikan suatu kasus yang sangat berat pada Alin.
Haidar sampai merendahkan dirinya dihadapan Eca, untuk bersimpuh memohon Eca bisa memikirkan cara terbaik selain amputasi.
"Eca! Aku mengenal kepribadian Alin sama seperti aku melihatmu pertama kali. Ia adalah gadis yang sangat lembut dan pemalu. Hebat dan cerdas namun sedikit ceroboh.
Sifat kalian hampir sama rela melakukan apa saja kalau sudah jatuh cinta pada orang yang mereka sayangi. Sama halnya kamu pada si kembar yang aku kira kamu adalah ibu kandung mereka saat itu.
Cintamu yang begitu besar pada si kembar hingga aku sulit membedakan statusmu yang saat itu hanya sebagai ibu pengganti bagi mereka.
Dan saat ini, calon istriku sudah ingin bertobat. Masa mudanya hilang karena ujian kehidupan yang telah merenggut mimpinya menjadi istriku saat itu sebagai gadis suci.
Sekarang apakah dia harus kehilangan lagi bagian tubuhnya, kebanggaannya menjadi manusia sempurna dengan anggota tubuh yang lengkap harus ia relakan begitu saja?"
Pinta Haidar sambil mengusap air matanya.
"Pergilah Haidar! Aku bukan Tuhan yang membuat kaki Alin kembali utuh. Aku sudah menerima pesan dari dokter Shireen dan melihat kasus dari kaki Alin yang sudah tampak membusuk hingga jaringan pada otot kakinya sudah tidak bisa di selamatkan lagi dan solusi terbaiknya adalah harus di amputasi."
Ucap Eca tegas.
Dengan penjelasan medis secara gamblang yang ikut di dengar oleh si kembar membuat keduanya ingin membantu ibu kandung mereka dengan mengandalkan kejeniusan yang mereka miliki.
Saat Eca menyerah untuk menolong Alin dan Haidar yang terlihat putus asa keluar dari rumah mereka dan meninggalkan rumah itu dengan baja hitam kembali ke rumah sakit, justru si kembar memiliki ide tersendiri.
Di rumah sakit dokter Shireen dengan timnya sepakat melakukan amputasi pada kaki Alin setelah mendapatkan persetujuan dari pihak keluarga dan Haidar tidak mampu lagi menahan kesedihannya.
"Apakah cintanya paman pada mama kandung kami hanya sebatas fisik?"
Tanya Chiko pada Haidar yang sedang menekuk kakinya sambil menyembunyikan wajah kecewanya duduk di lantai di sudut ruang tunggu keluarga pasien.
__ADS_1
Haidar perlahan mengangkat wajahnya menatap dua bocah yang sudah berdiri di hadapannya dengan wajah serius menunggu jawaban dari bibirnya yang nampak bergetar.
"Tentu saja aku mencintai ibu kalian bukan karena fisik tapi aku sangat mencintai ibu kalian karena hatiku yang terlalu menuntutku untuk tidak meninggalkannya walau dalam keadaan apapun." Ucap Haidar.
"Kalau begitu kami siap membantu ibu kandung kami untuk menyelematkan kakinya."
Ucap Chiko membuat Haidar tampak bingung.
Keduanya kembali berlari menuju ruang operasi di mana Alin saat ini berada. Saat dokter sudah siap dengan gergaji operasinya untuk mengamputasi kaki Alin, si kembar tiba-tiba muncul di hadapan tim dokter itu di temani oleh Haidar dan paman mereka dokter Gaes selaku CEO rumah sakit itu.
"Hentikan amputasi nya!"
Teriak Chiko pada dokter Shiren yang sudah siap mengangkat gergaji listrik itu.
Mereka terhenyak dan menurunkan tangan mereka dari tubuh Alin.
"Ada cara lain untuk menyelamatkan kaki mama. Jika dilihat dari lukanya, tulang kakinya masih sehat. Hanya jaringan disekitar kakinya yang sudah membusuk yang bisa di angkat otot yang busuk itu disekitar tulang yang terbungkus oleh jaringan itu." Ucap Chiko.
"Jika daging otot itu dibuang semuanya kita akan memasang implan sebagai pengganti otot daging pada bagian kakinya lalu membungkusnya lagi dengan kulit yang di ambil dari bagian belakang pahalanya untuk menyempurnakan kulit kakinya sehingga tidak terlihat seperti telah terjadi operasi." Lanjut Ciky.
"Kakinya akan terlihat mulus seperti kaki yang sebelah kirinya. Semuanya tertutup sempurna dengan metode laser yang bisa menyatukan implan dengan jaringan parut pada otot untuk mensuplai darah ke seluruh tubuh." Imbuh Chiko
Ucap Ciky membuat kagum para tim medis yang langsung bertepuk tangan.
Dokter Gaes dan Haidar langsung menggendong keduanya karena sangat bangga kepada kejeniusan si kembar yang saling memberikan ide cemerlang mereka dalam dunia kedokteran.
"Bersiaplah dokter Gaes sepertinya rumah sakit ini akan kebanjiran pasien jika operasi pada nona Alin ini berhasil."
Ucap dokter Shireen.
Dokter Gaes mengangkat jempolnya lalu mengecup pipi Ciky.
"Apakah kalian berdua bisa menuntun kami dokter Ciky dan dokter Chiko?"
Tanya dokter Shireen pada kedua bocah ini."
"Siap dokter Shireen!"
__ADS_1
Ucap si kembar kompak.
Operasi kembali di lakukan. Si kembar memperhatikan dari layar monitor yang terlihat jelas bagaimana pembedahan pertengahan betis bagian bawah milik ibu kandung mereka diangkat.
Dalam proses operasi itu ada terjadi ketegangan di mana Alin mengalami serangan jantung dan penurunan tekanan darahnya. Dokter Shireen melakukan kejut jantung berkali-kali namun Alin tidak memberikan respon. Mereka menghentikan kejut jantung saat tangan Chiko mencegah mereka.
Ciky mendekati ibunya dan berbisik kepada ibunya dengan suara bergetar hebat.
"Kalau bukan karena anda adalah ibu yang telah melahirkan kami dengan susah payah, kami tidak akan berpikir keras dan meminta pertolongan Allah untuk diberikan petunjuk agar bisa menolong mu dengan menyelamatkan kakimu yang pernah menopang perutmu yang besar bagaimana anda menjaga kami hingga kami lahir ke dunia ini.
Karena kau lah ibu kami yang memiliki surga di telapak kaki mu untuk kami bisa mengabdi padamu, maka hiduplah untuk kami wahai ibuku dan maafkan kami yang mengingkari mu sebagai ibu kandung kami."
Ucap Ciky hingga membuat grafik pompa jantung Alin kembali bergerak dan tekanan darahnya kembali stabil.
Tim dokter yang mendengar ucapan Ciky ikut meneteskan air mata dan kembali melanjutkan operasi saat Allah memberikan kehidupan kedua untuk Alin.
Setelah itu otot yang sudah dibuang tadi di bungkus lagi dengan implan dan di tutup dengan irisan kulit bagian paha Alin mengikuti alur kaki itu hingga terlihat sempurna.
Bekas operasi itu di jahit dengan menggunakan sinar laser hingga tidak menampakkan bekas pada luka seperti orang yang baru menjalankan operasi.
Hampir 12 jam operasi itu berlangsung dengan sempurna dan tim dokter puas dengan cara kerja mereka tentunya dengan dua dokter cilik yang menuntun jalannya operasi.
Karena ini adalah pengalaman pertama operasi mereka yaitu pada ibu kandungnya mereka sendiri, si kembar terlihat lelah dan lalu langsung jatuh kerena tidak tahan dengan rasa ngantuk yang mengusai otak mereka untuk segera tidur.
Dokter Gaes menggendong Ciky dan Haidar menggendong Chiko lalu membawa keluar dua bocah itu dari kamar operasi menuju kamar pribadi dokter Gaes yang ada di ruang kerjanya.
Sementara itu Alin sudah di pindahkan ke kamar inap khusus untuk keluarga dokter Gaes. Haidar menemani sang kekasih yang belum siuman.
"Alin..! Seumur hidupku, hari ini aku baru menyaksikan keajaiban Allah dalam diri si kembar bahwa tidak ada yang perlu kau takutkan di dunia ini saat ujian yang diberikan kepada hamba yang terpilih untuk melewati semua ujian itu agar engkau melihat hikmah apa di balik ujian itu.
Dan aku menemukan hikmah itu pada si kembar darah dagingmu yang kamu buang tapi akhirnya Eca yang mendulang sukses membesarkan keduanya hingga anak-anak itu tumbuh dengan otak jenius."
Gumam Haidar lirih.
Seakan mendengar ucapan sang kekasih, kedua sudut mata Alin keluar cairan bening yang mengisyaratkan bahwa ia sangat bersyukur memiliki si kembar dan melahirkan mereka ke dunia ini.
Haidar tidur sambil duduk di kursi dengan menggenggam tangan Alin.
__ADS_1
Sementara dokter Gaes menjaga keponakan berharganya dan tidur di sofa panjang yang ada di kamarnya.
Saat ini sudah pukul dua pagi untuk mengistirahatkan otak dan tubuhnya setelah mengikuti jalan operasi dengan dua keponakan jeniusnya.