
Menjalani peran seorang ibu hamil, bukan barang baru untuk Alin. Walaupun begitu, ia juga sudah tidak ingat lagi, bagaimana rasanya hamil lagi karena sudah terlalu lama setelah tujuh tahun berlalu, baru kembali hamil.
Memasuki usia kandungan tujuh bulan rasanya seperti membawa beban yang cukup berat jika harus keluar rumah.
Ia menjadi malas ke manapun dengan perutnya seperti usia sembilan bulan. Alin lebih memilih tinggal di rumahnya dan berjalan-jalan sekitar komplek.
"Alin...!"
"Hmm!"
"Kita belum melihat jenis kelamin baby, sayang."
"Aku malas jalan honey."
"Nanti pakai kursi roda saja supaya kamu nggak kelelahan."
"Oh iya benar juga. Kenapa tidak kepikiran olehku." Sahut Alin tersenyum manis kepada suaminya.
"Apakah kamu tidak bosan hanya ada di rumah? Nanti pulang dari rumah sakit kita ke Mall ya sayang!"
"Tidak usah ke mall. Aku tidak menyukainya." Tukas Alin.
"Sayang..? Bukankah selama ini kamu lebih senang berbelanja sebelum perutmu makin besar?"
"Haidar! Sampai di Mall, aku malah menjadi tontonan orang. Tubuhku seperti badut dan aku sangat malu untuk itu." Wajah cantik Alin terlihat cemberut.
"Apakah mereka menertawai mu?"
"Ya tidak sih. Tapi tatapan mata mereka melihat perutku sepertinya aku ini orang aneh dan itu tidak membuat aku nyaman sayang."
"Ok. Baiklah.Kita tidak usah jalan-jalan ke mall. Tapi kita akan restoran kamu tidak keberatan bukan?"
"Baiklah. Kalau urusan makan, aku tidak menolaknya. Baby juga pasti senang karena makanan restorannya enak-enak." Auhhght..!"
"Kenapa sayang?"
"Sepertinya anak-anakmu kegirangan ketika dibilang mau ke restoran." Ucap Alin sambil tersenyum.
"Apakah mereka menendang perutmu?"
"Iya sayang. Mereka sangat antusias kalau bicara makan."
"Baiklah. Kita berangkat sekarang." Haidar terkekeh..
"Sepertinya baby kita tidak terlalu senang bertemu dengan banyak orang. Apakah mereka akan sejenius kakak-kakaknya?"
__ADS_1
"Insya Allah papa Haidar. Kami akan hebat seperti kakak kembar." Ucap Alin meniru suara anak kecil.
Keduanya sudah berada di ruang praktek dokter kandungan. Dokter hanya bisa mendapatkan dua orang yang berjenis kelamin laki-laki dan duanya lagi tidak terlihat.
"Apakah dua orang lagi perempuan dokter?"
"Entahlah. Aku rasa mereka ingin memberikan kejutan untuk kedua orangtuanya. Siapkan saja baju bayi untuk perempuan juga, siapa tahu keduanya berjenis kelamin perempuan." Tebak dokter Gabriel.
Dokter membersihkan lagi jell yang ada di perut Alin.
"Apakah anda tidak ingin melakukan persalinan secara sesar, nona Alin?"
"Kita lihat saja kondisinya seperti apa nanti, dokter. Sepertinya posisi mereka sangat bagus. Aku ingin melahirkan secara normal saja." Pinta Alin sambil menatap suaminya.
"Baiklah. Tidak masalah. Kami hanya menawarkan yang terbaik untuk anda. Wanita hanya kuat mengejan untuk dua atau tiga bayi tapi untuk empat bayi itu sangat rentan, mengingat usia anda sudah memasuki tiga puluh dua tahun."
"Aku sanggup. Insya Allah aku sanggup, dokter. Tuhanku akan menolongku. Karena Dia yang telah memberikan kehidupan di alam rahim ini.
Pasti Dia juga yang memberi kemudahan. Penelitian anda dan buku-buku ilmu kedokteran anda hanya berdasarkan persepsi dangkal bukan berdasarkan keyakinan tertinggi pada puncak keimanan."
Semprot Alin membuat dokter Gabriel mengernyitkan dahinya.
Haidar yang melihat situasi ini sangat tidak nyaman. Ia segera membawa keluar istrinya dari poli kandungan itu.
marah-marah seperti itu? Padahal dokter Gabriel hanya bermaksud baik, tidak berniat mendikte hidupmu."
"Aku tidak suka dengan statement yang ia sampaikan seakan penelitian medis itu adalah hal yang absolut.
Pendapat setiap penelitian hanya apa yang mereka pikirkan dan yang mereka uji pada pasien mereka secara acak. Sementara kekuatan fisik seseorang berbeda-beda." Ucap Alin.
"Baiklah. Tidak usah diperdebatkan lagi. Sekarang kita makan-makan ya!" Hibur Haidar.
"Tapi aku mau kita pindah ke rumah sakit lain. Aku tidak mau bertemu dengan dokter Gabriel lagi."Imbuh Alin.
"Tapi semuanya sudah sesuai dengan prosedur kasus kamu Alin yang akan melahirkan bayi kembar empat. Dan rumah sakit itu sudah mempersiapkan diri untuk menolong kamu." Tukas Haidar.
"Aku tidak mau melahirkan di rumah sakit itu.
Aku tidak mau sampai di rumah sakit mereka malah melakukan operasi sesar dengan dalih demi kesehatan ibu dan bayi. Alasan klise." Ucap Alin dengan mempertahankan prinsipnya.
Haidar tidak ingin lagi berdebat. Ia melanjutkan perjalanan mereka menuju restoran Indonesia yang ada di kota itu.
Alin dan Haidar memang senang berkunjung ke restoran tersebut karena berasa tinggal di Indonesia.
Mereka mencari masakan Padang yang terkenal di kota itu.
__ADS_1
...----------------...
Memasuki usia sembilan bulan, Alin sebentar lagi merayakan ulangtahunnya. Ia ingin bayinya lahir di tanggal yang sama dengan dirinya.
Sementara itu si kembar yang sudah memasuki liburan panjang memaksa kedua orangtuanya untuk berkunjung ke Belanda karena mereka ingin melihat adik bayi kembar empat yang sebentar lagi akan lahir.
"Ayah tidak lupakan dengan janji ayah kalau kami diijinkan untuk berlibur di Belanda?" Tanya Ciky.
"Tentu saja ingat sayang. Kapan kalian libur?"
"Dua hari lagi, ayah." Sahut Ciky.
"Baiklah. Persiapkan semuanya, apa saja yang ingin kalian bawa. Lusa kita berangkat." Ucap Delvin.
"Terimakasih ayah." Ucap si kembar kompak.
Sementara itu Eca yang ikut mendengarkan pembicaraan ayah dan anak itu merasa kurang suka jika mereka juga ikut ke Belanda.
"Apakah tidak cukup kamu mengantar saja si kembar ke Belanda?"
"Emangnya ada masalah apa lagi sayang?"
"Aku tidak mau kamu ketemu Alin."
"Sayang apakah kamu masih cemburu pada Alin?"
"Sangat cemburu. Bahkan aku tidak rela kita menginap di rumah mereka dan kamu mulai ngobrol dengannya seperti biasa." Imbuh Eca.
"Sayang..! Aku tidak punya hati padanya. Aku hanya milik kamu. Kita bahkan tiap malam melakukan percintaan panas seperti yang kamu inginkan agar aku memperlakukan kamu seperti memperlakukan Alin. Aku turuti kemauan kamu." Jawab Delvin .
"Tapi kamu bercinta dengannya hanya sekali bisa langsung jadi si kembar, sementara bercinta dengan aku bertahun-tahun dulu baru bisa hamil dan sekarang untuk hamil lagi aku merasa sangat kesulitan. Itu yang membuat aku sangat cemburu padanya." Lanjut Eca.
"Sayang, kadang orang melakukan kemaksiatan lebih cepat membuahkan hasil karena kuasa Allah yang menginginkan aib hambaNya terungkap.
Tapi ada juga yang Allah sembunyikan. Jadi tidak ada yang istimewa dengan itu semua. Tolong jangan cemburu berlebihan seperti itu sayang!" Ucap Delvin menenangkan Eca.
"Ok. Aku mencoba untuk tidak cemburu. Tapi, aku tidak mau kita menginap di rumah Alin kecuali si kembar."
"Baiklah. Aku akan booking hotel sekarang agar kamu tidak mengamuk lagi." Ucap Delvin .
Eca tersenyum puas karena hatinya tidak perlu tersiksa melihat wajah suaminya dan Alin yang akan saling berhadapan setiap saat jika mereka menginap di rumah Alin.
Dua hari kemudian, keluarga itu berangkat ke Belanda dengan pesawat jet pribadi mereka. Baby Adam yang saat ini hampir berusia satu tahun sudah bisa berjalan, walaupun masih tertatih-tatih.
Si kembar begitu bahagia bisa bertemu lagi dengan ibu kandungnya. Eca masih belum tenang karena hatinya masih terbakar rasa cemburu pada Alin. Entah mengapa Eca berubah menjadi posesif pada Delvin.
__ADS_1