IBU PENGGANTI UNTUK SI KEMBAR

IBU PENGGANTI UNTUK SI KEMBAR
43. Kedatangan Haidar


__ADS_3

Tiga hari kemudian, Delvin sudah di bawa pulang istrinya Eca di temani si kembar. Walaupun begitu Delvin masih harus tetap melakukan rawat jalan untuk memastikan operasinya berhasil membuat otaknya tidak lagi terdapat penggumpalan darah pasca operasi dengan melakukan ulang biopsi.


Sementara kasus penabrakan yang terjadi di jalan tol, masih di selidiki oleh kepolisian. Delvin tidak terlalu mementingkan persoalan itu karena otaknya tidak boleh melibatkan banyak masalah berat.


Eca menjadi dokter pribadi suaminya sendiri selama di rumah. Eca juga memperingatkan si kembar untuk tidak menceritakan hal-hal yang berkaitan dengan Alin.


"Ingat sayang! Saat ayah bertanya tentang Tante Alin, tolong ceritakan kepada ayah hal yang baik-baik saja tentang Tante Alin."


Ucap Eca sebelum mereka sedang melakukan makan siang.


"Iya bunda!"


"Pintar!"


Semuanya sudah berkumpul di meja makan. Eca sengaja meminta chef Yana untuk memasak makanan yang lunak untuk suaminya.


Chef Yana paling hebat mengolah jenis masakan untuk orang sakit. Walaupun pasien tidak berselera makan, namun ditangan chef Yana, makanannya tidak pernah mendapat penolakan.


"Apakah ayah mau disuap sama putri ayah yang cantik ini?" Tawar Ciky.


Delvin merasa sangat terharu mendengar putrinya menawarkan diri untuk memanjakannya. Delvin mengangguk dengan mata berkaca-kaca.


Ciky mengambil piring makan ayahnya lalu menyuap ayahnya dengan sangat telaten.


"Ayah! Semoga ayah cepat sembuh sebelum Ade bayi lahir karena bunda pasti membutuhkan ayah sebagai suami siaga. Ayah tidak lupakan saat dulu ayah menunggu bunda melahirkan kami?"


Ucap Ciky di sela kegiatannya menyuapi ayahnya.


Deggggg...


Delvin hampir saja tersedak, kalau Eca tidak buru-buru memberikan suaminya minum.


"Sayang! Kalau lagi makan, jangan ajak ayah bicara dulu." Ucap Eca lembut.


"Yang bicara itu Ciky, bunda. Bukan ayah. Lagian Ciky hanya kasih ayah semangat untuk cepat sembuh." Bantah Ciky.


"Iya sayang! Tapi ayah belum terlalu sehat untuk diajak ngobrol."


"Baiklah, bundaku sayang. Nanti kalau Ciky diam saat bunda tanya, jangan marah ya."


"Kan yang sakit ayah, kenapa bunda ikutan di hukum sama Ciky?" Ucap Eca heran.


"Kalau ngobrol depan ayah, pasti akan membuat ayah makin sakit."


Sungut Ciky merasa tersinggung dicegah bundanya.


Eca merasa serba salah. Ingin hati mencegah Ciky bicara yang ada kaitannya dengan Alin, malah Ciky membahas masa lalu.


"Tidak apa sayang, aku tidak terpengaruh dengan ocehan anak-anak. Mereka tidak tahu apa yang mereka sampaikan. Aku malah menganggap mereka lahir dari rahimmu.


Jadi aku siap dengan pertanyaan mereka sesulit apapun nantinya." Ucap Delvin saat keduanya sudah berada di kamar mereka.


"Sayang! Aku lebih tahu kondisimu saat ini yang tidak boleh banyak mendapatkan ucapan yang mengejutkan.


Jadi ku harap kamu menuruti permintaanku sebentar saja, hanya berlangsung satu Minggu ini atau kami akan kehilanganmu."


Keluh Eca terlihat sendu.


"Aku tidak mau membuat anak-anak tersinggung. Aku sudah terbiasa dengan ocehan mereka. Tolong percayalah kepadaku semuanya akan baik-baik saja."

__ADS_1


Delvin meyakinkan istrinya untuk tidak membuat jarak antara dirinya dan si kembar.


"Baiklah. Aku harap kamu bisa mengendalikan emosimu untuk siap mendengarkan apapun ocehan si kembar.


Janji untuk tidak terpengaruh dengan respon yang mampu membuatmu cepat emosi. Aku tidak mau direpotkan dengan itu semua, karena kondisiku juga sedang hamil." Pinta Eca tegas.


"Iya sayang! Aku mengerti akan kondisimu saat ini. Maafkan aku sudah menyusahkan mu."


"Aku hanya meminta kerjasama mu, dengan begitu kita bisa melewati ujian ini bersama-sama." Ucap Eca yang terlihat kelelahan.


Eca bukan hanya mengalami kelelahan fisik tapi juga kelelahan pikiran. Ia begitu takut dengan kondisi kandungannya yang sangat rentan dengan keguguran saat menghadapi masalah bertubi-tubi.


...----------------...


Dalam waktu cukup lama, Delvin menjalani semua terapi otaknya untuk menguji ingatannya kembali. Ia tidak perlu ke rumah sakit karena dokter pribadinya yaitu Eca sudah stay dua puluh empat jam untuk melakukan terapi otak padanya.


Eca menanyakan hal-hal kecil yang berkaitan dengan momen kebersamaan mereka saat pertama kali mereka bertemu dan mulai dekat. Pertanyaan yang diajukan Eca sangat cepat dan membutuhkan jawaban spontan dari Delvin.


"Di mana pertama kali kamu mencium ku?"


"Di rumah kontrakan mu."


"Siapa wanita pertama yang kamu cium?"


"No komen."


"Siapa ibu kandungnya si kembar?"


"No komen."


"Siapa wanita yang ada di hatimu?"


"Siapakah cinta pertamamu?"


"Ibu kandungku?"


"Cukup! Kenapa jawabannya no komen terus?" Sungut Eca.


"Pertanyaan mu tidak relevan dengan jawaban." Ucap Delvin kesal.


"Apakah pertanyaan ku ada yang salah?"


"Tidak ada yang salah dengan pertanyaan mu, hanya saja pertanyaan yang kamu ajukan itu kurang etis."


Tegas Delvin.


"Ok maafkan aku tuan suami!" Senyum Eca menggoda suaminya.


"Jangan lagi menguji daya ingatanku sayang! Yang aku butuhkan saat ini adalah daya rangsang mu."


Pinta Delvin yang sudah berpuasa selama tiga Minggu ini."


Percintaan panas pagi itu sangat syahdu. Perut Eca yang sudah terlihat mulai membesar membuat perubahan hormon pada tubuhnya terlihat sangat seksi.


Dua bukit yang makin membesar dengan bokong berisi terlihat makin padat dan montok, hingga membuat jari jemari kekar Delvin meremasnya dengan gemas.


Pergulatan dua tubuh polos itu dengan peluh yang membasahi tubuh mereka namun Delvin masih terus menghajar istrinya tanpa ampun.


Sementara itu di kediaman nyonya Arini, Alin sedang membuat kue kesukaan untuk anak kembarnya yang akan ia antar sebentar lagi.

__ADS_1


Ia sudah berpakaian rapi lalu memoleskan make up secara natural namun kecantikannya tetap terpancar teduh.


"Mommy aku berangkat dulu."


Pamit Alin sambil menenteng kardus kue menuju mobilnya.


Langkah kakinya terhenti saat melihat wajah tampan tuan Haidar yang turun dari mobil baru yang baru di beli pria berusia tiga puluh tahun itu.


Haidar tersenyum pada sang mantan sambil mengangkat satu tangannya pada Alin sebagai bentuk sapaan, sementara tangan satunya menenteng sesuatu.


Jantung Alin berdegup kencang melihat pria yang pernah ia cintai itu.


"Hai Alin!"


"Apa kabar Haidar!" Sapa Alin terbata-bata.


"Sepertinya yang kamu lihat saat ini, sayang."


Ucap Haidar membuat Alin makin gugup.


"Kita bukan lagi pasangan kekasih Haidar. Tolong jangan memanggilku sebutan sayang."


"Ini bunga dan coklat untukmu, Alin! Selamat ulangtahun Alin!"


Ucap Haidar yang tidak pernah melupakan tanggal ulang tahun Alin.


"Astaga! Aku lupa kalau aku ulangtahun, Haidar. Terimakasih untuk bunga dan coklatnya. Silahkan masuk Haidar!"


"Terimakasih Alin. Sepertinya kamu mau pergi, apakah aku boleh tahu kamu mau ke mana?"


"Aku mau ke tempat si kembar."


"Boleh aku antar?"


"Tidak usah Haidar!"


"Ayolah Alin, ada hadiah lainnya yang ingin aku tunjukkan kepadamu."


"Hadiah...?"


"Ada di mobilku Alin."


"Apa...?"


Haidar menarik tangan Alin menuju mobilnya. Haidar mengambil amplop coklat lalu memberikannya kepada Alin.


"Apa ini Haidar?"


"Lihatlah sendiri!"


Alin mengeluarkan isi amplop coklat itu yang merupakan Foto ulangtahun si kembar yang berusia satu tahun. Ada juga foto si kembar yang masih usia bayi dari tiga bulan, enam bulan dan sembilan bulan. Air mata Alin tidak tertahankan melihat perkembangan bayi kembarnya.


Eca memang tidak pernah memamerkan foto si kembar di media sosialnya karena ketakutan ketahuan Alin.


"Bagaimana kamu bisa bertemu dengan si kembar?"


"Karena Eca pernah bekerja di hotel ku."


Degggg....

__ADS_1


__ADS_2