IBU PENGGANTI UNTUK SI KEMBAR

IBU PENGGANTI UNTUK SI KEMBAR
38. Balas Dendam


__ADS_3

Delvin mendapati istrinya sedang menidurkan si kembar yang tidur diantara dua lengannya. Wajah kedua malaikat kecilnya itu terlihat sangat damai. Eca mengerjapkan matanya saat terdengar pintu terbuka.


Eca tersenyum melihat suaminya yang sudah berdiri di depan tempat tidurnya.


"Mereka ingin tidur bersamaku karena sudah lama tidak tidur seperti ini lagi sejak mereka beranjak besar."


Ucap Eca dengan lengan yang sudah lumayan kebas.


"Kamu terlalu memanjakan mereka sayang, hingga mereka selalu memanfaatkanmu." Sahut Delvin.


"Kadang orangtua lupa kalau anak-anak mereka terus tumbuh dan akan meninggalkan mereka suatu saat nanti. Di saat mereka tumbuh dari bayi sampai tujuh tahun setiap anak milik ibunya. Yang mereka cintai adalah ibu mereka. Aku tidak akan melewati momen itu sayang.


Setelah itu teman-teman sepermainan mereka dan di saat memasuki usia remaja mereka mulai menjauh dari kita dan mulai mencari jati diri mereka sendiri.


Apakah mereka akan mengenang ku sebagai ibu pengganti untuk mereka setelah mereka mengetahui Alin adalah ibu kandung mereka, Delvin?"


Delvin tidak langsung menjawab pertanyaan istrinya. Ia memindahkan si kembar bergantian ke kamar mereka yang konekting langsung dengan kamar pasangan ini.


Eca menggerakkan tangannya merelaksasi kembali otot-ototnya yang terasa keram.


Delvin menarik tubuh istrinya untuk mendapatkan pelukan hangat darinya.


"Saat mata mereka terbuka, yang mereka lihat adalah wajahmu. Saat mereka belajar berjalan dan jatuh terjerembab lalu menangis kesakitan, kamu yang langsung menggendong mereka dan menenangkan mereka.


Saat gigi pertama mereka tumbuh dan tubuh mereka demam, kamu menjaga mereka dan tidak jarang kamu ikut menangis kalau mereka menangis karena kesakitan.


Apakah sekian kenangan indah yang membekas di hatinya si kembar, apakah tidak cukup untuk membuat mereka tidak akan pernah berpaling kepadamu.


Jangan ragu ikatan batin antara kalian karena ikatan itu yang tidak pernah mengkhianatimu."


Imbuh Delvin sambil memeluk istrinya.


"Delvin!"


"Hmm!"


"Apakah sebelum mengenalku, apakah kamu sempat jatuh cinta pada Alin?"


"Apakah aku harus menjawabnya sayang?"


"Jika kamu tidak keberatan."


"Aku tidak tahu dengan perasaanku saat itu. Apakah aku jatuh cinta padanya atau di kejar rasa bersalah padanya? Tapi saat itu, di pikiranku hanya ingin mempertanggungjawabkan perbuatanku karena tanggung jawab moral ku padanya."


"Lantas kenapa tidak menunggunya? dan memastikan hatimu apakah kamu masih memikirkan dia atau tidak?"


"Karena aku sudah menemukan bidadari ku dengan membawa dua malaikat kecilku hingga membuat aku melupakan masalahku dengan Alin. Memang kami tidak berjodoh.

__ADS_1


Dipaksakan seperti apapun tidak akan pernah bisa karena dia datang di saat aku sudah bahagia denganmu dan si kembar. Aku mohon kamu bisa belajar bagaimana skenario Allah untuk mempertemukan kita bukan karena kesalahan hambaNya dengan hamba lainnya tapi karena Allah ingin mempertemukan kita karena rahmat-Nya. Jadi jangan merasa bersalah karena penderitaan orang lain, Eca!"


"Aku bangga memiliki dirimu Delvin, tapi aku lebih bangga lagi kalau kamu bersedia menebus kesalahanmu dengan menikahi Alin." Ucap Eca tegas.


Duarrrr...


"Jadi kamu ingin memberikan aku pada wanita munafik itu?"


"Dia begitu karena terluka Delvin."


"Jadi dengan perasaan iba mu itu kamu rela berbagi suamimu dengan wanita lain, begitu? kamu kira aku barang? Tolong jangan pernah mendikte hidupku sesuai dengan keinginanmu yang melawan prinsip hidupku, Eca!


Aku hanya mencintai satu wanita dan itu hanya kamu tidak ada yang lainnya kecuali anak-anak perempuanku dan ibu kandungku."


Delvin bangkit dan langsung keluar mencari udara segar di depan kamarnya.


Alin mengambil mantelnya dan selimut ringan yang sengaja ia bawa dari Jakarta. Angin pantai saat malam hari lebih kencang berhembus ke darat. Delvin menatap hempasan ombak laut yang tidak pernah bosan mencium bibir pantai.


Eca menyelimuti tubuh suaminya dan ikut duduk di samping Delvin. Sikap sabar Eca membuat Delvin ingin melakukan segalanya untuk wanita ini melebihi dirinya sendiri.


"Maafkan aku Delvin! Aku hanya ingin kamu tidak hidup dalam penyesalan karena ikut andil menghancurkan masa depan Alin."


"Tidak semua kesalahan dalam hidup kita harus ditebus dengan sebuah pengorbanan Eca. Sebuah pernikahan itu terjadi kalau pasangan itu sudah memikirkan baik buruknya masa depan mereka. Tapi aku tidak ingin pernikahan kita hancur karena sebuah kesalahan masa lalu."


"Kalau kamu tidak memenuhi keinginan Alin, dia akan terus meneror kita, sayang."


"Kau terlalu bernilai di mataku Eca sampai aku kadang lupa bahwa kau juga manusia biasa yang punya kesalahan. Berhentilah membujukku untuk menikahi wanita iblis itu."


Ucap Eca mengakhiri debat mereka.


Delvin membentangkan selimut itu agar mereka bisa merebahkan tubuh mereka sambil memandangi langit yang ditaburi bintang-bintang.


"Sayang! Fokuslah pada kehamilanmu dan jangan memikirkan yang lainnya. Aku ingin bayi kita tumbuh sehat di rahimmu sampai ia datang ke dunia ini." Ucap Delvin.


Sayangnya Delvin sedang bicara sendiri karena Eca sudah terlelap dalam dekapannya. Delvin mengecup kening istrinya dan kembali menatap bintang.


Delvin perlahan bangkit dan menggendong tubuh istrinya dibawa ke dalam kamar mereka.


Keduanya melepaskan kepenatan mereka dengan masalah yang bertumpuk-tumpuk lalu tidur melewati malam.


...----------------...


Tuan Haidar menemui Else untuk mengajak gadis itu keluar kantor.


"Else!"


Panggil Haidar saat gadis itu sedang serius mengerjakan tugasnya.

__ADS_1


"Haidar! Tumben si bos ke sini menghampiri ruang kerjaku."


Sindir Else dengan gesture tubuh menggoda Haidar.


"Apakah bisa temani aku makan siang?"


Rayu Haidar membuat Else seketika melongo.


"Hahh...? Apakah aku sedang bermimpi di ajak si tampan ini..?"


Else menggigit bibirnya sendiri memastikan ini nyata.


"Apakah kamu keberatan?"


"Oh, no...! Sama sekali tidak, Haidar. Baiklah kita berangkat."


Ucap Else sambil menenteng tas tangannya.


Haidar bukannya mengajak Else ke restoran, ia malah mendatangi tempat karoke.


"Kenapa kita harus ke sini Haidar?"


"Karena aku ingin makan siang di sini sambil karoke denganmu. Apa kamu tidak suka sayang? kalau kita melepaskan kelelahan kita dengan menghibur diri."


"Bukan ide buruk. Ok kita kerokean di sini."


Keduanya memasuki salah satu kamar karoke untuk menyanyi sambil makan siang yang sudah di pesan oleh Haidar.


Haidar juga menyiapkan bir yang sudah di masukkan obat perangsang untuk membalaskan dendamnya pada Else.


"Hari ini aku sedang merayakan keberhasilan hotel kita yang mendapatkan keuntungan tiga kali lipat daripada tahun sebelumnya. Dan kamu adalah salah satu karyawan terbaik yang telah memajukan hotel kita."


Puji Haidar membuat Else makin berada di atas awan.


Sudah hampir tiga botol bir Else habiskan. Dan kini ia mulai meracau. Melihat kondisi Else yang sudah mabuk parah, Haidar membawa gadis itu ke kamar hotel yang tidak jauh dari gedung karoke itu. Ia menanyakan tentang Alin bagaimana bisa minum minuman yang ada obat perangsang nya.


"Else! Apakah kamu yang menjebak Alin saat merayakan ulangtahun mu di tahun terakhir kuliah kalian?"


"Oh itu, gadis sialan itu. Dia yang sudah merebut kamu dariku. Gadis itu hamil gara-gara aku. Aku yang telah mencampurkan minumannya dengan obat perangsang.


Aku yang telah menyuruh pelayan klub menaburkan minumannya dengan obat itu agar ia mengemis cinta pada lelaki yang bisa menidurinya.


Akhirnya aku berhasil membuatnya hamil dengan laki-laki lain yang dia sendiri tidak kenal. Dengan begitu aku bisa memilikimu seutuhnya tanpa terganggu lagi dengan Alin."


Ucap Else.


Haidar merekam semua ocehan Else untuk mengusir gadis itu dari hotelnya. Haidar keluar dari kamar itu dan menghubungi anak buahnya untuk mengurusi Else.

__ADS_1


"Buang gadis itu ke tempat yang jauh!"


Titah Haidar sambil menyeringai licik.


__ADS_2