IBU PENGGANTI UNTUK SI KEMBAR

IBU PENGGANTI UNTUK SI KEMBAR
67. Pilihan Sulit


__ADS_3

Ponsel Delvin berdering kencang saat pria tampan menuju ke perusahaannya. Delvin di segera melihat pemilik nama panggilan itu yang merupakan dokter Gaes.


Delvin menerimanya segera menempelkan benda pipih itu ke kupingnya. Dokter Gaes berbasa-basi sebentar lalu langsung masuk ke pembicaraan inti.


"Delvin saat ini, ibu anda nyonya Zoya sedang berada di ruang IGD dan dokter saat ini sedang melakukan diskusi untuk operasi pasar ibu anda."


Ucap dokter Gaes lalu menceritakan kasus rumit yang di hadapi oleh tim dokternya yang tidak mampu melakukan operasi pada nyonya Zoya kecuali dokter Eca.


Delviin tersentak mendengar ibunya mengalami sakit yang sangat serius dan juga perlu penanganan medis yang melibatkan istrinya.


"Jelas itu tidak mungkin dokter Gaes. Dokter Gaes tahu sendiri istriku sedang hamil bayi kembar lagi. Entar kalau terjadi sesuatu kepada anak dan istri saya bagaimana dokter?" Tanya Delvin dengan wajah kelam.


"Baiklah kalau anda menolaknya. Berarti anda siap kehilangan ibu kandungmu. Saat ini hidup beliau diujung tanduk. Jika kita terlalu lama mengulur waktu, maka komplikasi penyakit akan bertambah dan kita kehilangan dirinya." Ucap dokter Gaes apa adanya.


"Baiklah. Terimakasih atas informasinya Gaes. Tapi saya tidak bisa mengorbankan Eca dan bayi saya saat ini demi ibu yang nyawanya juga belum bisa tertolong walaupun Eca yang melakukan operasi itu." Sahut Delvin ketus.


"Baik..Kami hanya ingin melakukan yang terbaik. Memang sih jika dokter Eca dilibatkan melakukan operasi ini maka ia harus menghabiskan waktu hampir sepuluh jam berdiri selama jalannya operasi mengingat kasus penyakitnya yang cukup sulit."


Lanjut dokter Gaes untuk mempertegas baik buruknya jika Eca dilibatkan juga.


Rupanya dokter Shireen yang tidak cukup sabar menunggu keputusan dari Delvin saat dihubungi oleh dokter Gaes, ia sudah lebih dulu menghubungi ibu sambung dari si kembar ini.


Eca yang mengetahui keadaan mertuanya yang sangat membutuhkan dirinya, membuat ibu dari baby Adam ini sudah lebih dulu menuju rumah sakit.


Ia tidak peduli dengan keadaannya yang sedang hamil muda. Baginya inilah saatnya ia harus menunjukkan kiprah terakhirnya pada sang mertua tanpa mengenang apa yang pernah mertuanya lakukan padanya selama ini.


Tujuh tahun berjuang untuk mendapatkan restu, namun selalu mendapatkan penolakan dari sang mertua bahkan tidak sedikit ia harus menerima setiap hinaan yang dilontarkan oleh mertuanya yang selalu menguji keimanannya.

__ADS_1


Bagi Eca penyerangan secara verbal dari ibu mertuanya tertuju pada dirinya tidak seberapa daripada apa yang saat ini ia miliki bersama suaminya.


"Kalau bukan karena ibumu, apakah aku akan mendapatkan suami sebaik dan setampan kamu...?" Tanya Eca mengenang lagi peristiwa sebelumnya.


Delvin yang menghubungi nomor istrinya tidak juga diangkat Eca. Delvin menghubungi pelayan menanyakan keberadaan Eca. Rupanya saat ini Eca sudah lebih dulu berangkat ke rumah sakit dengan membawa baby Adam bersamanya.


Delvin segera meminta sopir pribadinya untuk berputar arah menuju rumah sakit. Setibanya di rumah sakit, Delvin bertemu dengan ayahnya yang sudah duduk di ruang tunggu dengan wajah cemas.


"Mengapa pada akhirnya kalian muncul dan mulai menyusahkan istriku dan juga mengorbankan bayi kembar kami yang saat sedang di kandung Eca. Apakah ayah tahu jika Eca berdiri kelamaan di ruang operasi tidak menutup kemungkinan dia akan mengalami keguguran ayah."


Ucap Delvin sambil menangis dengan posisi tubuh teronggok di lantai rumah sakit.


"Maafkan ayah nak, ayah tahu ini cukup sulit buat nak Eca dan juga calon cucu ayah tapi ayah tidak bisa hidup tanpa ibu kamu, nak...hiks .hiks...hik..!"


Tangis ayahnya Delvin menyayat hati putranya betapa kehilangan seorang istri akan sangat menyedihkan dirinya yang selama ini selalu bersama dengan istrinya.


"Kenapa baru butuh sekarang saat kalian benar-benar kehabisan akal untuk mencari orang lain menyembuhkan penyakitnya ibu?" Protes Delvin pada ayahnya.


"Kenapa ayah memohon kepadaku, toh aku sudah kalah langkah. Istriku lebih nekat melakukan operasi itu tanpa minta ijin kepadaku." Ucap Delvin ketus..


"Iya nak ayah tahu. Ayah sudah bertemu dengan nak Eca sebelum dia masuk ke ruang operasi dengan perutnya yang cukup besar. Ayah senang ketika mengetahui kalau ayah punya calon cucu kembar." Sahut suami dari Nyonya Zoya ini.


"Aku tidak mengerti dengan jalan pikiran ayah dan ibu ternyata masih saja egois seperti biasa."


Ucap Delvin lalu berjalan menuju ruang kerjanya dokter Gaes untuk mencari putranya Adam.


Setibanya di ruang kerjanya dokter Gaes, Delvin kembali memperdebatkan hal yang sama yang sudah bahas sebelumnya.

__ADS_1


Cekcok antara mereka berdua tidak terelakkan membuat si kecil Adam terbuka matanya yang sebelumnya sudah ditidurkan oleh dokter Gaes dengan susah payah.


"Kenapa anda tidak menunggu aku untuk memutuskan apakah istriku boleh melakukan operasi pada ibuku atau tidak.


"Saya sudah memaksa dokter Eca untuk menunggu sebentar lagi sampai kamu tiba di rumah sakit, tapi dokter Eca tetap memaksa aku untuk tetap mengijinkan dirinya melakukan operasi itu karena ibu anda dalam keadaan sakarat dan dia tidak mau merasakan penyesalannya seumur hidupnya jika terlambat satu menit saja untuk menyelamatkan ibu anda, Delvin. Maafkan aku, sebagai dokter dan pemangku jabatan tertinggi di rumah sakit ini, aku harus memikirkan keselamatan nyawa pasienku daripada harus mengutamakan adab untuk menjaga perasaanmu."


Ucap dokter Gaes dengan wajah sendu karena merasa dihadapkan pada pilihan sulit.


"Tapi bagaimana dengan keadaan fisik Eca yang cukup rentan dengan keguguran sementara di ruang operasi itu radiasinya cukup kuat untuk keselamatan janin yang dikandungnya. Bukan hanya satu tapi juga dua bayiku."


Kata Delvin sambil mengusap wajahnya dengan gusar.


Delvin duduk di sofa panjang itu sambil menangis, merasa begitu sesak saat ini pada keadaan dua wanita yang sangat berharga dalam hidupnya.


Mereka hanya bisa menunggu usainya waktu operasi dan berharap operasinya berjalan lancar dan Eca tetap dalam keadaan selamat tanpa kekurangan suatu apapun.


"Ayahhhh....! Hiks...hiks...hiks....unda mana...ayah?" Tanya baby Adam yang baru bangun tidur.


Delvin segera menggendong putranya dan memenangkannya sementara dua sendiri juga sedang menangis.


"Ayah....Napa nangis....?" Tanya Adam sambil mewek.


"Ayah juga sedih, baby!"


"Kata anda kalau Adi ayah ..nda oleh sedih, ayah..!"


Baby Adam menyeka air mata ayahnya. Tingkah baby Adam yang menggemaskan membuat Delvin sedikit tersenyum. Ia lalu mengecup pipi tembem putranya.

__ADS_1


"Baby Adam kenapa nangis...baby Adam juga ayah kecil.. kalau jadi ayah kecil juga tidak boleh menangis." Ucap Delvin.


"Adam nda mau Adi ayah... Adam mau jadi anak unda dan ayah..aja...hiks.. hiks...!" Bantah baby Adam.


__ADS_2