
Wajah Chiko menegang kala melihat tubuh Ciky kotor dengan penampilannya yang terlihat berantakan.
Ditambah lagi Ciky mendampingi seorang pemuda dengan luka parah membuatnya makin syok.
"Ciky..! Apa yang terjadi...?" Kenapa kamu tiba-tiba bersama dengan pemuda ini ..?" Tanya Chiko saat berada di ruang IGD.
"Nanti saja aku jelaskan Chiko! Tolong segera obati pemuda ini karena pinggangnya terkena sabetan senjata tajam."
Ucap Ciky yang membuka sendiri kancing baju pemuda itu.
Saat melihat otot-otot kekar pemuda itu yang terdapat di dada dan bagian perut yang terlihat sixpack membuat Ciky menelan salivanya dengan gugup.
"Sudahlah kamu istirahat saja biar aku dan tim yang lainnya menyelamatkannya. Lukanya cukup dalam dan kami harus melakukan operasi padanya."
Ucap Chiko saat melihat pemuda itu sudah pingsan dengan wajah terlihat pucat.
"Tolong selamatkan dia Chiko. Aku mau tidur di ruang kerjanya bunda." Ucap Ciky.
Tidak berapa lama Chiko dan timnya sudah berada di ruang operasi untuk menolong pemuda yang diketahui bernama Erland.
Erland merupakan seorang CEO muda yang memiliki perusahaan software yang ternama yang ada di Jakarta.
Erland sengaja di bunuh oleh suruhan saudara tirinya yang ingin menguasai perusahaan Erland karena ayah Erland sudah meninggal.
Ayahnya yang menikah lagi dengan seorang janda yang memiliki seorang anak laki-laki seusia dengan Erland saat ayahnya menceraikan ibunya.
*
*
Sekitar pukul delapan pagi, Ciky sudah berpakaian rapi dan menghampiri Erland yang sudah dipindahkan ke ruang VVIP.
Pria tampan itu masih tertidur dan Ciky sengaja menunggunya bangun. Chiko masuk ke kamar Erland dan melihat wajah cantik Ciky sudah duduk di sebelah pasien yang ditolongnya semalam.
"Mobilmu sudah di derek di pom bensin dan bensinnya sudah terisi penuh. Ini ponselmu. Mobilnya sudah ada di tempat parkir rumah sakit." Ucap Chiko.
"Alhamdulillah, terimakasih Chiko kamu sudah menyelamatkan aku dari amukan ayah dan bunda." Ucap Ciky dengan wajah berbinar.
"Apakah kamu tidak mau pulang?"
Tanya Chiko karena Ciky tugas jaganya entar siang pukul 12 siang.
"Sudah tanggung Chiko. Aku mau mengurus pria ini." Ucap Ciky.
__ADS_1
"Kamu sedang jatuh cinta padanya?" Tebak Chiko membuat wajah Chiky bersemu merah.
"Diam lah...! Dia bisa mendengar mu dan itu akan menjatuhkan pamor ku." Ucap Ciky.
"Identitasnya ada di dompet itu. Aku sudah menghubungi orang terdekatnya. Sebentar lagi kamu akan disingkirkan oleh keluarganya. Seharusnya kamu pergi dari sini!" Titah Chiko.
"Tidak..! Aku yang sudah menolongnya dan biarkan aku menyelesaikannya sampai akhir. Sekarang kamu pulang saja dan jangan jadi nyamuk di sini." Usir Ciky pada saudara kembarnya itu.
"Terserahlah..! Hati-hati. Jangan terlalu menaruh harapan padanya, bisa saja dua sudah memiliki tunangan." Ucap Chiko mengingatkan Ciky.
"Setidaknya dia belum menikah dan aku tidak tergolong menjadi seorang pelakor." Sarkas Ciky.
"Baiklah. Terserah padamu...!" Chiko meninggalkan kamar inap Erland bersama Ciky.
Tidak lama kemudian, Erland mengerjapkan matanya dan langsung menatap wajah cantik Ciky.
Sesaat kemudian ia merasa sedang bermimpi saat berada di kamar mewah rumah sakit bak kamar hotel tapi ada beberapa alat medis yang terdapat di ruangan itu.
"Aduh ..! Keluh Erland merasa sangat pusing.
"Apakah ada yang sakit, Tuan?" Tanya Ciky saat melihat wajah Erland meringis sambil memegang kepalanya.
"Kepalaku sangat berat dan aku merasa sangat pusing." Ucap Erland terbata-bata.
"Sebentar..! Biar aku memeriksa keadaanmu." Ucap Ciky seraya menempelkan stateskop ke dada bidang Erland.
Sesaat kemudian Erland merasa baikan.
"Apakah anda sudah merasa baikan tuan..?" Tanya Ciky.
Bukan menjawab pertanyaan Ciky. Erland malah menikmati kecantikan Ciky.
"Apakah kamu adalah bidadari yang semalam menolongku..?"
Tanya Erland yang baru mengingat wanita yang sudah menyelamatkan nyawanya semalam.
"Iya. Beruntunglah mobilku kehabisan bensin dan aku bisa menolong mu.
Jika aku tidak ada di sana, bagaimana caranya kamu bisa menyelamatkan dirimu dari para penjahat itu. Apakah mereka ingin merampok mu?"
Tanya Ciky sambil melakukan USG perut Erland untuk memastikan tidak terjadi pendarahan dalam pada luka yang sudah dioperasi oleh Chiko.
"Aku tidak tahu, apa motivasi mereka hingga ingin membunuhku."
__ADS_1
Ucap Erland bohong agar tidak membuat Ciky terus menginterogasi dirinya.
"Apakah kamu ingin makan? Kamu sudah sadar pukul lima pagi dan kembali tertidur saat di berikan obat penenang." Ucap Ciky.
"Apakah kamu bekerja di sini?"
"Iya aku dokter bedah di rumah sakit ini. Namaku Ciky dan siapa namamu?"
"Namaku Erland. Panggil saja aku Erland. Tapi kenapa aku melihatmu masih terlalu muda untuk menjadi seorang dokter bedah. Pasti usiamu masih dibawah dua puluh tahun." Tebak Erland.
"Saat pembagian kepintaran oleh Tuhan, rupanya aku yang paling serakah untuk mengambil semua kecerdasan otak manusia lainnya, sehingga aku di takdir kan menjadi sangat jenius dan aku menyelesaikan pendidikan kedokteran ku di usia lima belas tahun."
Ucap Ciky membuat Erland tersedak dengan liurnya sendiri.
"What...? Semudah itu kamu menyelesaikan pendidikan kedokteran mu, sementara mahasiswa kedokteran ada yang sampai tua sebelum waktunya karena belum bisa meraih gelar sarjana kedokteran."
Ucap Erland takjub pada Chiky.
"Terimakasih untuk pujiannya Erland. Mau aku suapin makan untukmu?"
"Sangat mau dokter Ciky, kalau kamu tidak keberatan."
Ucap Erland berbinar mendapatkan penawaran seorang dokter cantik.
Ciky menyuapkan bubur ayam pada pada Erland. CEO muda itu melahapnya dengan cepat. Matanya terus menatap wajah Ciky membuat Ciky merasa tersipu dan hampir menjatuhkan mangkuk buburnya.
"Apakah anda sudah punya kekasih dokter?" Tanya Erland.
"Aku tidak akan berani menyuapkan bubur untukmu kalau aku sudah punya kekasih." Ucap Ciky malu-malu.
"Apakah aku boleh memanggil mu Ciky saja?"
"Aku masih bertugas dengan memakai seragam medis. Jadi kamu harus memanggil profesi ku saja." Ucap Ciky.
"Baiklah dokter Ciky, berarti aku punya kesempatan untuk mengajakmu kencan." Ucap Erland.
Ciky memberikan obat dan minum untuk Erland. Tidak lama seorang wanita cantik dengan pakaian kekurangan bahan masuk ke kamar inap Erland dengan wajah memasang wajah palsu dan air mata buaya.
"Erland ....sayang! Kamu tidak apa sayang?" Tanya Reva langsung memeluk Erland membuat Ciky jengah.
"Permisi tuan Erland." Ucap Ciky terlihat syok melihat gadis cantik itu memeluk Erland.
"Tunggu dokter Ciky!" Cegah Erland tapi Ciky sudah lebih dulu menutup pintu kamar inap itu dengan dada bergemuruh menahan tangisnya.
__ADS_1
"Sialan! Kenapa hatiku tiba-tiba sedih seperti ini?" Ucap Ciky sambil melangkah menuju ruang kerjanya.
"Kamu apa-apaan datang-datang memeluk aku seperti ini?" Tanya Erland gusar melihat tingkah Reva padanya.