
"Ayah! Apakah nanti ayah yang akan menjemput kami pulang sekolah?" Tanya Chiko.
"Tentu saja sayang!"
"Ok. Bye ayah!"
Ucap si kembar yang langsung turun tanpa di temani oleh Delvin.
Mobil kembali bergerak menuju perusahaan.
"Lakukan sesuatu agar mobil sedan merah itu kecelakaan secara alami!"
Titah Alin pada pembunuh bayaran untuk mencelakakan mobil milik Eca.
Alin mengira yang mengantar anak kembarnya ke sekolah adalah Eca.
Ia kemudian turun menuju sekolah si kembar namun di cegah oleh pengawal si kembar yang sudah berjaga di depan gerbang sekolah.
"Maaf nona Alin! anda di larang untuk mengunjungi si kembar. Ini perintah tuan Delvin kepada kami untuk menjaga si kembar agar tidak dibawa oleh anda." Ucap pengawal Rendi.
"Aku ibu kandung dari si kembar. Jadi aku punya hak untuk menemui anak kembarku."
Ucap Alin dengan suara lantang membuat orang yang ada di sekitar sekolah memperhatikan mereka.
"Jika anda bersikeras, kami tidak akan segan menyeret anda keluar dari sini dan kami akan melaporkan anda ke polisi." Ucap Rendi.
"Baiklah. Sebenarnya aku tidak takut kepadamu. Aku hanya memikirkan anak kembar ku makanya aku membebaskanmu kali ini, berengsek!"
Alin kembali lagi ke mobilnya dengan perasaan kesal.
Sementara mobil yang di kendarai oleh Delvin yang sedang berada di jalan tol agak sedikit kesulitan menyalip karena di halangi terus oleh mobil yang ada di depannya.
Jika berpindah haluan pasti mobil didepannya ikut menghalangi.
"Bos! sepertinya mobil di depan kita sedang cari masalah. Sepertinya pengemudinya sedang menghalangi terus jalan kita." Ucap sang sopir.
"Pindah ke kanan dan kurangi kecepatannya. Usahakan kita berada di belakang mobil bus itu!" Ucap Delvin memberi solusi.
Saat kecepatan di kurangi sang sopir, justru mobil dari belakang menabrak mobil Delvin dengan kecepatan tinggi hingga mobil Delvin ke dorong ke depan dan langsung di tabrak oleh mobil sebelahnya.
Kecelakaan itu tidak bisa dihindarkan oleh pengendara lain. Delvin yang mendapatkan benturan yang cukup keras membuat ia mengalami pendarahan dalam. Sementara sopirnya langsung meninggal di tempat.
Polisi jalan tol segera mengamankan kecelakaan itu dan melihat korban untuk segera di evakuasi ke rumah sakit.
Orang suruhan Alin begitu terkejut melihat penumpang dalam mobil sedan jazz merah itu bukan perempuan melainkan laki-laki.
Ia langsung menepuk jidatnya karena salah target. Sementara itu Delvin segera di bawa oleh mobil ambulans ke rumah sakit untuk segera ditangani.
"Apaaa..? Jadi penumpangnya bukan Eca? jadi korbannya adalah Delvin?"
Alin merasa sangat menyesal karena ia tidak melihat lebih teliti siapa yang ada di mobil itu.
__ADS_1
"Maafkan kami nona! Kami melakukan sesuai dengan perintah anda."
Ucap Orang suruhannya.
"Apakah kalian sedang di periksa oleh polisi?"
"Teman kami yang saat ini sedang di tahan oleh polisi."
"Lebih baik kalian segera menghilang sebelum ketahuan dan Jangan sampai kalian menyebut namaku."
Alin mengakhiri pembicaraannya dan langsung kembali ke hotelnya.
"Astaga! Apa yang harus aku lakukan untuk bisa mendapatkan si kembar? Apakah aku tetap bersikap lembut agar bisa bertemu dengan si kembar di rumah Delvin?
Oh iya, Delvin pasti di rawat di rumah sakit dan Eca akan menemaninya otomatis si kembar akan kesepian di rumah sendirian. Sebaiknya aku memanfaatkan situasi ini."
Ucap Alin menyeringai licik.
Ia segera ke rumah Eca sebelum ibu mil itu berangkat ke rumah sakit untuk melihat keadaan Delvin.
...-...
...---------------...
Eca yang baru terima telepon dari rumah sakit milik dokter Gaes, segera ke rumah sakit itu.
"Ya Allah semoga tidak terjadi apa-apa dengan suamiku."
Ucap Eca berdoa sepenjang jalan.
"Lebih baik memberikan empati pada Eca dalam keadaan berduka dengan begitu aku bisa memenangkan hatinya untuk mendapatkan ijinnya mendekati anak kembarku. Kalau keadaan Delvin parah, Eca pasti melupakan si kembar."
Otak encer Alin terus bermain sebagai penunjuk jalan untuk menggunakan segala cara agar bisa mencapai tujuannya.
Eca berjalan cepat menuju ruang IGD untuk menunggu suaminya sedang di tangani. Pintu ruang IGD terbuka. Dokter Shireen yang melihat Eca, segera mendekati ibu mil itu.
"Syukurlah kamu sudah di sini Eca. Aku butuh bantuan mu meminta persetujuan kamu untuk melakukan operasi pada Delvin karena mengalami pendarahan dalam."
Eca terhenyak dengan tubuh lemas.
"Bagaimana dengan semua organ vitalnya?" Tanya Eca sambil menandatangani berkas persetujuan untuk operasi Delvin.
Organ vitalnya semua aman. Kamu pasti tahu sendiri kalau kita kelamaan melakukan tindakan operasi, maka nyawa pasien akan...!"
"Lakukan yang terbaik untuk suamiku dokter Shireen. Aku percaya kepadamu."
Ucap dokter Eca menyela ucapan dokter Shireen dengan wajah pucat.
Alin segera mendekati Eca yang sedang menunggu di ruang tunggu.
"Eca!"
__ADS_1
"Alin!"
"Tadi aku ke rumahmu tapi aku melihat mobilmu menuju rumah sakit, apakah ada masalah?"
"Delvin mengalami kecelakaan lalu lintas. Ia sedang berada di ruang operasi saat ini."
"Aku turut prihatin Eca. Semoga kamu kuat."
Alin memberikan motivasinya pada Eca yang berusaha tetap tenang.
Eca ingin sekali melakukan operasi sendiri pada suaminya namun ia tidak memiliki wewenang lagi di rumah sakit ini.
"Eca! Apakah aku boleh menjemput si kembar?" Tanya Alin hati-hati.
"Tidak perlu! Karena sudah ada yang menjemput mereka saat ini. Mereka akan menuju ke rumah sakit untuk melihat ayahnya." Ucap Eca masih terlihat tegas.
"Sial..! Dia sama saja dengan Delvin. Mereka pikir anak kembarku akan selamanya bersama mereka.
Alin mencoba menenangkan dirinya sendiri karena belum mendapatkan kesempatan bisa bersama dengan anak kembarnya.
Dokter Gaes yang mengetahui Delvin kecelakaan segera menemui Eca di ruang tunggu di mana sudah ada adiknya Alin di tempat tersebut.
Dokter Gaes menyampaikan rasa prihatinnya pada Eca. Tidak lama kemudian, si kembar datang dengan pengawal pribadi ayahnya dan langsung memeluk bundanya Eca.
"Bunda! Ayah kenapa? Tanya Ciky sambil menangis.
"Ayah mengalami kecelakaan sayang. Sekarang masih di dalam ruang operasi. Kita tunggu hasilnya dengan tetap berdoa semoga ayah cepat sembuh."
"Dokter Eca! Bolehkah aku membawa mereka ke kantin? sepertinya mereka lapar."
Tawar dokter Gaes membuat Alin merasa lega.
"Kamu hebat Abang! Kamu tahu kalau aku sangat ingin dekat dengan anak kembarku."
Puji Alin membatin.
"Apakah kalian mau makan siang dengan om dokter?" Tanya Eca.
"Boleh..!"
Ucap Ciky lalu mengajak Chiko yang terlihat masih syok ayahnya kecelakaan.
"Apakah aku juga boleh temani si kembar Eca?"
"Silahkan..! Tapi jangan rusak kepercayaan ku!"
Eca memberi peringatan tegas pada Alin yang terlihat licik.
"Apakah bunda mau dibawakan sesuatu?" Tanya Chiko.
"Belikan bunda Movin blueberry dan lemon tea!"
__ADS_1
"Cih! Kau sedang bermanja dengan putraku. Cari perhatian sekali."
Umpat Alin terlihat cemburu putranya sangat peduli dengan Eca.