IBU PENGGANTI UNTUK SI KEMBAR

IBU PENGGANTI UNTUK SI KEMBAR
55. Pembalasan Setimpal


__ADS_3

Pesta pernikahan pasangan Haidar dan Alin di gelar dengan mewah di hotel milik Haidar. Kemeriahan pesta itu menjadi suram bagi Alin karena tamu yang sangat ia tunggu belum juga muncul.


Alin terlihat sangat cantik dengan mengenakan gaun pengantin internasional yang terlihat sangat mewah hasil rancangan dari salah satu desainer kondang Indonesia.


Gaun pengantin internasional ini mengikuti lekuk tubuh Alin hingga menjuntai ke lantai dan terkesan feminim dan elegan sesuai dengan karakter sang pemakainya.


Sementara Haidar juga mengenakan jas putih dengan celana berwarna senada dengan dasi kupu-kupu berwarna putih.


Entah mengapa keduanya memilih warna putih.


Sementara di kediaman Delvin, Eca tidak henti-hentinya membujuk Si kembar yang tidak berminat untuk menghadiri pernikahan ibu kandung mereka.


"Sayang...! Apakah kalian tidak menyesal nanti mama Alin meninggalkan kalian dalam waktu yang sangat lama." Bujuk Eca lembut.


"Kami ingin menjaga adik bayi. Kami tidak ingin pergi bunda. Itu acara orang dewasa. Sampaikan salam kami saja untuk keduanya. Semoga mereka berdua samawa."


Ucap Ciky yang terlihat lebih cuek.


"Mungkin pesta ini tidak begitu menarik buat mama Alin dan paman Haidar. Karena tamu istimewa yang mereka tunggu bukan tamu orang penting atau ayah dan bunda. Tamu istimewa itu adalah kalian anak-anaknya." Timpal Delvin.


"Bunda dan ayah sudah cukup mewakili kami. Kami tetap tidak ingin pergi."


Tolak Chiko kompak dengan Ciky yang sama-sama keras kepala.


Eca duduk diantara keduanya. Walaupun saat ini ia terlihat sangat cantik dengan gaun pesta yang sangat mewah, tapi dia sedikitpun tidak begitu peduli dengan penampilannya karena pikirannya terbagi pada si kembar yang sulit di bujuk.


"Apakah kalian mau dengar kisah bunda?"


"Hmm."


"Bunda hidup sebagai yatim piatu tanpa sanak saudara yang mau mengurus bunda, tidak sedikitpun menyenangkan sampai bunda bertemu dengan kalian berdua yang datang dalam hidupku. Sepertinya mama Alin terlalu baik menitipkan kalian pada bunda agar bunda tidak kesepian.


Karena kalian juga bunda di pertemukan jodoh bunda dengan ayah kandung kalian sendiri. Walaupun bunda punya saudara kandung, tapi tidak begitu berpengaruh pada kehidupan bunda karena bunda selalu melakukan apapun sendirian.


DI saat kesepian menghadapi kerasnya kehidupan, bunda selalu merindukan sosok ibu yang bisa bunda datangi untuk mencurahkan perasaan bunda tentang apa saja.


Tapi keinginan itu hanya sebuah mimpi. Karena bunda tidak punya lagi ibu yang bisa bunda ajak berbagi atau membelai rambut bunda saat bunda menangis di pangkuannya. Kalian tahu belaian tangan seorang ibu adalah obat hati yang sangat mujarab.


Tidak ada lagi yang lebih berharga di dunia ini selain kasih sayangnya seorang ibu, terlepas dia sendiri memiliki dosa besar dalam hidupnya, cukuplah Allah dan dirinya yang tahu dan itu bukan urusan anak-anaknya.


Jika kalian bersikap apatis seperti itu, bunda merasa telah gagal mendidik kalian menjadi anak yang berbakti. Ayo, ayah kita berangkat, nanti pestanya keburu bubar!"


Ajak Eca sambil menarik pergelangan tangan suaminya.

__ADS_1


Eca terlihat sangat kecewa pada si kembar yang sulit di duga perasaan mereka. Kadang empati mereka tinggi kadang mendadak menjadi apatis.


Delvin menghibur istrinya saat sudah berada di dalam mobil.


"Sayang...! Maafkan sikap si kembar yang kali ini tidak mau mendengarkan mu. Mungkin suasana hati mereka saat ini sedang tidak baik." Ucap Delvin lirih.


"Kalau mereka bersikap seperti itu kenapa juga kemarin mau menyelamatkan nyawa ibu mereka. Aku kira mereka sudah mau menerima keberadaan Alin yang mereka sudah ketahui ibu kandung mereka sendiri." Semprot Eca sebel.


Sepertinya Delvin tidak begitu menanggapi kemarahan istrinya pada anak kembarnya. Ia malah ingin menikmati kecantikan istrinya yang jarang ia lihat tampil memukau malam ini.


"Malam ini kamu sangat cantik dan amarahku pada si kembar terhalang oleh kecantikan mu. Sepertinya aku butuh bulan madu kedua karena kamu sudah melalui waktu dalam tiga bulan ini dan dokter sudah memastikan rahimmu sudah sehat. Berarti kita bisa mampir di salah satu kamar di hotelnya Haidar sayang, untuk bercinta."


Goda Delvin lalu menempelkan keningnya pada kening istrinya.


"Tapi baby Adam masih membutuhkan aku sayang."


"Empat botol Asi untuknya cukup bertahan sampai besok pagi. Aku hanya butuh waktu berdua denganmu malam ini, sayang.


Delvin memagut bibir istrinya sesaat. Sang sopir hanya bisa fokus menatap jalanan tanpa ingin kepo apa yang terjadi di belakang sana.


"Sayang! Nanti saja di kamar hotel. Aku tidak mau makeup ku rusak karena kenakalan mu." Cegah Eca menghentikan aksi gilanya Delvin.


"Baiklah! Sedikit lagi kita tiba di hotel." Ucap Delvin begitu semangat.


"Aku dan kamu pengantinnya setiap saat. Jadi tidak perlu momen khusus untuk melakukan percintaan."


"Cih! Kau selalu pintar memanfaatkan situasi."


"Salahmu sendiri kenapa malam ini tampil secantik ini. Berarti kamu sedang menggoda aku sayang." Imbuh Delvin makin membuat Eca merona.


"Cukup sayang gombalannya!"


Sergah Eca sambil memoleskan lagi lipstiknya sebelum turun di depan pintu lobi hotel.


Suara biduanita nampak mengalun indah terdengar hingga ke lobi. Para undangan yang mulai berkurang karena Delvin dan Eca terlalu lama membujuk si kembar untuk ikut bersama mereka.


Langkah kaki kedua sejoli ini menjadi pusat perhatian tamu undangan karena ketampanan dan kecantikan keduanya mengeluarkan aura pesona yang begitu memukau seperti artis Hollywood yang menghadiri Grammy award.


Para jajaran dokter yang mengenal keduanya hanya bisa mengangguk hormat tanpa ingin mencegah keduanya karena sedang melangkah menuju pelaminan di mana sepasang pengantin menunggu kehadiran keduanya.


Alin yang melihat kedatangan Delvin dan Eca begitu girang karena merasa ada si kembar yang mengikuti keduanya.


Namun sayang, saat melihat di balik punggung keduanya tidak ada sosok yang ia nantikan sedari tadi membuat wajah itu berubah mendung. Delvin dan Eca menyalami pasangan pengantin baru ini dan foto bersama.

__ADS_1


Usai melakukan foto bersama Eca baru menceritakan kepada Alin tentang si kembar.


"Maafkan aku Alin! Kami terlambat, karena kami sulit untuk membujuk anak-anak yang kekeh tidak ingin ikut bersama kami. Aku gagal membujuk keduanya."


Ucap Eca sedih.


"Sudahlah Eca! Tidak apa. Ini bukan salahmu Eca, tapi nasibku saja yang kurang beruntung. Sudahlah. Yang penting aku tahu si kembar sangat mencintai aku." Ucap Alin menghibur dirinya sendiri.


"Silahkan menikmati hidangannya Delvin, Eca!" Ucap Haidar mengalihkan kesedihan istrinya.


Alin menahan tangisnya. Wajahnya tidak mampu menyembunyikan rasa kecewanya malam ini.


"Sayang! Apakah aku kurang cukup membuat kamu bahagia malam ini, sayang?"


Ucap Haidar sambil merengkuh pinggang istrinya.


"Apakah kita tidak bisa ke kamar sekarang?" Tanya Alin yang tidak bisa lagi mengusai emosinya.


Rasanya saat ini ia ingin menangis sekeras mungkin.


"Apakah kita tidak jadi langsung ke bandara sayang?" Tanya Haidar heran dengan dengan sikap Alin yang tiba-tiba berubah pikiran.


"Besok pagi saja sayang. Aku tidak siap berangkat malam ini."


"Apakah kamu masih ingin bertemu dengan si kembar?"


"Aku ingin melihat mereka untuk terakhir kalinya. Dengan begitu aku ingin melupakan bahwa aku pernah melahirkan mereka berdua.


Lagi pula mereka sudah memiliki ibu yang sangat mencintai mereka. Dan aku memiliki kamu yang selalu ada untukku di setiap waktu." Ucap Alin.


"Baiklah sayang! Lebih baik kita menghabiskan malam pertama kita di hotel ini."


Ucap Haidar lalu mengaitkan tangannya pada tangan sang istri.


Saat sudah mencapai pintu lift, tiba-tiba ada seseorang yang menegur keduanya dengan suara lantang.


"Haidarrrrr.....! Kau harus bertanggungjawab atas hidupku....!"


Teriak seorang wanita yang saat ini terlihat sangat terluka dengan pistol yang mengarah ke arah Haidar.


Duarrr ....


"Kauuu .....!"

__ADS_1


Dorrrr.....


__ADS_2