IBU PENGGANTI UNTUK SI KEMBAR

IBU PENGGANTI UNTUK SI KEMBAR
49. Kontak Batin


__ADS_3

Delvin mendekati istrinya yang masih saja belum sadarkan diri. Ia menggenggam tangan istrinya yang masih begitu dingin dan sedikit pun belum ada tanda-tanda kehidupan kecuali pernafasannya yang sedang ditopang oleh banyak peralatan medis di tubuhnya Eca.


"Eca! Apakah kamu akan diam saja seperti ini sementara putri kita Ciky saat ini juga sedang kritis. Kalian seakan sedang mengujiku untuk mati perlahan-lahan. Bagaimana caraku melalui semua ini tanpa ada kau yang bisa aku ajak berbagi."


Ucap Delvin menangis di dekat tubuh istrinya. Sementara yang diajak ngomong, sedikitpun tidak memberikan responnya membuat Delvin makin frustrasi.


"Cikyyyyyy...!"


Jangan masuk ke sana!" Pekik Eca sambil mengejar putri sambungnya menuju putaran waktu yang berkilauan cahaya menyilaukan mata.


"Bunda harus pulang. Ada adik bayi dan ayah juga Chiko menunggu bunda. Mereka terus menangisi Bunda."


Ucap Ciky sambil mencegah Eca untuk tidak mendekatinya.


"Kita akan pulang bersama, nak. Tolong jangan tinggalkan bunda atau bunda akan ikut bersamamu."


"Siapa yang akan menjaga ayah dan adik bayi kalau bunda ikut Ciky."


"Dia..!"


Tunjuk Eca pada sosok Alin yang berdiri tidak jauh dari Eca.


Ciky melihat ke Alin yang sedang tertawa jahat padanya.


"Jika Ciky bisa meminta, Ciky ingin lahir dari rahim bunda. Dia tidak pantas untuk ayah dan dia tidak baik menjadi ibu untuk adik bayi.


Dia tidak mencintai siapapun kecuali dirinya sendiri dengan ambisinya. Aku sangat membencinya." Ucap Ciky sinis.


"Tapi dia adalah ibu kandung kamu dan Chiko."


"Kami tidak pernah mengenalnya. Kami hanya memiliki satu ibu yaitu bunda Eca. Jangan biarkan dia mengambil ayah dari bunda."


"Tapi bunda tidak bisa kembali ke ayah kalau Ciky masuk ke pintu cahaya putih itu. Ajak bunda juga bersama Ciky."


Ucap Eca berusaha mendekati Ciky.


Eca berhasil menangkap tubuh putrinya. Dan keduanya jatuh terguling ke arah cahaya putih yang ingin mengisap tubuh keduanya seperti magnet.


"Cikyyyyyy! Bunda sudah siap untuk ikut Ciky."


Baiklah. Kalau begitu kita masuk ke pintu itu bersamaan bunda. Di sini tempatnya sangat dingin padahal baru di depan pintunya saja. Bagaimana kalau kita masuk ke dalam pasti sangat indah."


"Bunda juga penasaran, seperti apa di dalam sana."

__ADS_1


Ucap Eca lalu menggandeng putrinya Ciky.


"Ayo bunda kita masuk!"


Baru saja keduanya melangkah ke pintu yang sudah mulai sedikit terbuka tiba-tiba keduanya mendengar suara tangisan bayi.


Ada juga suara Chiko dan Delvin yang terus memanggil Eca.


Dokter terus berupaya menyelamatkan Eca dan Ciky dari tempat yang berbeda.


Chiko memeluk ayahnya yang ikut menangis. Sementara Alea yang ada di situ bersama suaminya menggendong bayinya Eca ikut tegang melihat dokter sibuk memberi pertolongan pada Eca.


Alea sangat care dengan Eca karena ia sangat berhutang dengan ibu sambung dari keponakannya ini.


Di tambah lagi ketulusan Eca yang telah merawat dan membesarkan si kembar makin membuat Alea tunduk hormat pada Eca. Baginya Eca adalah salah satu wanita yang telah memberinya banyak inspirasi.


Alea yang sampai saat ini belum di karuniai momongan membuat ia sangat menyayangi bayinya Eca. Ia juga mengutuk perbuatan saudara kembarnya Alin yang telah membahayakan hidup Ciky.


Eca yang saat ini sedang mengalami serangan jantung membuat dokter memberikan kejut jantungnya beberapa kali.


Begitu pula Ciky yang sedang kritis terus mendapatkan perawatan medis.


"Bunda! Aku nggak tega dengar suara adik bayi yang menangis memanggil kita. Lebih baik kita pulang kembali kepada ayah dan adik bayi. Aku tidak mau meninggalkan Chiko sendirian. Saat ini ia pasti merasakan kesepian tanpa Aku, bunda."


"Sampai ketemu lagi Bunda. Kalau bisa jemput aku di rumah sakit Bali."


Pinta Ciky lalu menuju jalan mereka masing-masing.


"Tunggu Ciky! Cikyyyyyy!"


Eca mengerjapkan matanya secara perlahan setelah melewati masa kritisnya. Dokter Shireen menangis haru melihat sahabatnya ini akhirnya bangkit dari koma.


"Hei! Selamat datang sayang!" Ucap dokter Shireen sambil mengusap air matanya Eca.


"Apakah aku boleh bertemu dengan suamiku, Shiren?"


"Boleh sayang! Bahkan bayimu tidak sabar ingin melihat bundanya."


Ucap dokter Shireen sambil memberi isyarat pada suster untuk memanggil suaminya Eca, Delvin.


"Tuan! Istri anda sudah sadar. Ia ingin bertemu dengan anda."


Delvin begitu bahagia langsung memeluk putranya Chiko.

__ADS_1


"Sayang! Kita temui bunda bersama!"


Keduanya menghampiri Eca. Seakan sedang mencari seseorang yang hilang membuat Eca menelisik lagi ke punggung suaminya.


"Di mana Ciky, sayang?"


"Sayang! Kamu baru sadar. Ciky sedang bersama Alin. Apakah kamu tidak ingin melihat bayi kita?"


"Aku ingin bertemu mereka berdua. Tolong panggilkan Ciky."


Alea masuk membawa bayinya Eca sambil menahan kesedihannya. Ia juga ikut merasa canggung karena kejadian yang menimpa Ciky.


"Eca..! Selamat sudah menjadi seorang ibu."


Ucap Alea sambil tersenyum terlihat getir.


"Di mana putriku Ciky. Apakah putriku dalam bahaya? Aku menemukannya sedang tidak baik-baik saja. Dia mengatakan kepadaku kalau saat ini sedang di rawat di rumah sakit di Bali.


Apakah aku hanya mimpi saja atau ini kenyataan sebenarnya. Tolong jawab pertanyaan ku! Kenapa kalian semuanya diam?"


Delvin dan Alea saling menatap. Begitu pula dokter Shireen bingung harus mengatakan apa. Lidah mereka begitu kelu untuk menceritakan keadaan yang sebenarnya kepada Eca.


"Eca! Aku mohon kamu bersabar sayang. Saat ini kita sedang diuji oleh Allah dan .."


"Tidak bisakah kamu hanya menjawab pertanyaan ku saja tanpa harus bertele-tele seperti itu, Delvin?"


"Ciky di bawa kabur oleh Tante Alin bunda dan Ciky hampir tenggelam di lautan tapi sekarang sudah ada di rumah sakit dan kamu belum tahu nasibnya saat ini."


Ucap Chiko yang tidak ingin membuat bundanya penasaran.


"Astaga! Putriku datang menyelamatkan aku. Dia meminta aku untuk menjemputnya. Aku ingin menjemput putriku di Bali. Dia sendirian di sana melawan maut. Kenapa kalian berkumpul semua di sini menemaniku."


Teriak Eca kecewa dengan suaminya.


"Tidak apa kalau kalian berangkat ke Bali menjemput Ciky. Eca sudah melewati masa kritisnya." Ucap dokter Shiren.


Keluarga itu langsung bertolak ke Bali bersama dokter Shireen dan juga pasangan Alea dan suaminya.


Sementara itu di perairan Bali, sudah ada Haidar yang mengerahkan anak buahnya yang jago diving untuk mencari keberadaan kekasihnya Alin.


Haidar cepat tanggap begitu mendengar Alin tenggelam di laut Bali. Cintanya pada gadis itu tidak pernah pudar walaupun ia tahu Alin sudah banyak berubah.


Rasa sakit hati dan kecewanya Alin karena Haidar saat itu tidak berusaha menerimanya malah mendiamkannya. Itulah sebabnya Alin merasa tidak dicintai lagi dan menganggap cinta Haidar hanya sebatas tubuhnya yang saat itu masih terjaga kesuciannya.

__ADS_1


Sementara bagi Alin cinta tanpa pamrih itu adalah cinta yang tidak pernah melihat siapa yang akan dicintanya karena cinta sesungguhnya menerima setiap keadaan pasangan walau apapun terjadi berjalannya waktu.


__ADS_2