
Saat melepaskan pengantin baru itu menuju bandara, untuk melakukan bulan madu, Chiko mengajak Edis mengunjungi villa ayahnya yang berada di puncak.
Awalnya Chiko ingin mengajak Edis ke Belanda tempat ibu kandungnya, namun kondisi Edis yang tidak memungkinkan gadis ini untuk berpergian.
Saat ini, Edis tinggal di rumah Chiko karena di kediaman Edis tidak ada yang memperhatikan gadis ini kecuali pelayannya yang terlihat kurang peduli dengan Edis kalau bukan Edis yang meminta mereka menolongnya.
Demi kenyamanan Edis yang menjadi pertimbangan Chiko agar gadis ini tinggal di mansionnya di bawah pengawasannya langsung.
Lagi pula kedua orangtuanya tidak keberatan jika Edis tinggal dengan mereka. Adik kembarnya Chiko selalu menemani gadis ini jika Chiko sedang tugas jaga di rumah sakit. Itulah yang membuat Edis merasa nyaman berada di rumah kekasihnya karena kehangatan keluarga itu.
Awalnya Edis harus menjalani kemo yang terus menerus membuat ia harus bolak balik ke rumah sakit dengan Chiko.
Hingga kangker darahnya lambat laun mulai berkurang dan itu membuat keluarga Chiko sangat senang.
Awalnya gadis ini divonis hanya bertahan dua pekan namun hingga tiga bulan berjalan, Edis bisa melewati masa pemulihannya dengan rajin kemo.
"Hasil dari kemo yang kamu jalani sudah mendapatkan tingkat kesembuhanmu mulai meningkat walaupun belum sepenuhnya.
Tapi dengan kamu rutin menjalaninya, insya Allah kangker itu lambat laun bisa hilang. Buktinya kamu mampu bertahan hingga enam bulan ini." Ucap Chiko bahagia.
"Chiko ..!"
"Iya sayang."
"Apakah kamu mencintaiku dan mau menikahi ku walaupun aku adalah gadis penyakitan?"
"Berhentilah bicara omong kosong Edis. Kamu akan segera sehat lalu aku akan menikahimu dan kamu bisa melanjutkan lagi kuliahmu."
Ucap Chiko saat keduanya sedang melakukan perjalanan menuju puncak bersama keluarga besar Chiko.
Entah mengapa, Edis merasa hidupnya tidak lama lagi. Ia merasa perjalanan ini adalah akhir kisah cintanya bersama dengan Chiko.
Setibanya di villa miliknya Delvin, pria tampan ini meminta keluarga besarnya berkumpul di mana ada keluarganya Haidar dengan anak kembar empatnya, ada keluarga Alea dan juga dokter Gaes bersama istrinya dan Shireen saat ini sedang menantikan kelahiran bayi ketiganya.
Keluarga itu menikmati kebersamaan mereka dengan karaokean dan juga saling ngobrol apa saja.
Chiko menyanyikan lagu untuk kekasihnya Edis. Dan sebaliknya Edis pada Chiko.
Eca yang melihat dua sejoli itu merasa tidak tenang. Ia menghampiri suaminya untuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk Edis.
"Sayang...!" Panggil Eca saat Delvin sedang ngobrol dengan Haidar dan dokter Gaes.
__ADS_1
Delvin pamit sebentar pada keduanya lalu berjalan berdua dengan istrinya menuju ruang makan.
"Ada apa Eca....?"
"Sepertinya liburan kita kali ini tidak panjang." Ucap Eca dengan mimik sedih.
" Maksudmu, kamu ingin balik ke rumah sakit?"
"Bukan begitu, Delvin. Besok kelurga ini akan dirundung duka." Ucap Eca.
"Kamu bicara apa Eca. Siapa yang mau meninggal dunia?"
"Keadaan Edis sudah menunjukkan gejala kematiannya. Aku sudah sering melihat gejala fisik pada orang yang akan meninggal dunia."
"Gejala fisik seperti apa Eca?"
"Kuping Edis terlihat makin melengkung dengan posisi telapak kakinya yang tidak lagi bisa tegak saat berbaring." Ucap Eca.
"Bukankah kangker Edis sudah mulai berkurang dan bahkan akan sembuh jika kemo nya dilakukan secara rutin." Bantah Delvin.
"Ajal tidak harus datang di saat manusia sedang sakit, Delvin. Yang sehat bisa saja meninggal dunia dengan cara Allah mengaitkan sebab kematian hambaNya kalau waktunya telah tiba.
Edis sedang sakarat karena waktunya akan tiba. Kesembuhan kangker secara medis tidak menjamin ajalnya ditunda.
Makan bersama kita dengan lahapnya padahal selama ini Edis tidak makan banyak." Ucap dokter Eca.
"Bagaimana dengan Chiko menghadapi situasi ini Eca? Aku tidak sanggup melihat putraku sedih." Ucap Delvin dengan wajah sendu.
"Ini adalah bagian dari takdirnya Chiko. Ia harus belajar sesuatu untuk kehilangan bagian hatinya dan kita hanya bisa berdoa." Ucap Eca.
Delvin hanya mengusap wajahnya dengan perasaan gusar lagi sedih.
Walaupun begitu, Eca sudah mempersiapkan segala kemungkinan yang terjadi pada Edis.
...----------------...
Keesokan harinya, Chiko mengajak Edis mengunjungi kebun teh di sekitar villa ayahnya. Keduanya berjalan sambil bercanda dengan sesekali mengecup pipi maupun bibir.
"Chiko ...! Jika aku tidak bisa lagi menemanimu di dunia ini, apakah kamu akan mencari pengganti ku?" Tanya Edis sambil menautkan tangannya pada para tangan Chiko.
"Aku akan berusaha melupakan gadis tengil sepertimu." Canda Chiko sambil cengengesan.
__ADS_1
"Aku senang mendengarnya, sayang." Ucap Edis kelihatan serius.
"Hei,...! Kenapa kamu menanggapinya begitu serius? Aku tidak akan bisa melakukan apapun jika tidak bisa melihat senyummu setiap hari. Kamu adalah penyelamat ku Edis.
Jangan menghukum ku lagi, sayang. Apakah kamu tidak kasihan padaku dan juga keluarga ku yang sangat mencintaimu sampai saat ini?" Tanya Chiko.
"Terimakasih Chiko untuk cintamu dan juga perhatian keluarga besar mu padaku.
Aku merasa tidak sendirian saat ini. Aku merasa bahagia berada di tengah kalian." Ucap Edis mulai merasa pusing yang luar biasa.
"Edis ..! Apakah kamu baik-baik saja?" Tanya Chiko yang melihat wajah Edis terlihat pucat.
"Pandanganku sedikit kabur." Keluh Edis yang tidak bisa lagi merasakan kakinya menapaki bumi.
"Naiklah ke punggungku Edis! Sedikit lagi kita sudah tiba di villa, sayang." Ucap Chiko dengan perasaan yang sudah tidak tenang.
Tidak terasa keduanya sudah memasuki gerbang villa.
"Edis ...! Apakah kamu tidur, sayang?" Tanya Chiko sambil menahan air matanya.
"Aku ingin tidur yang lama Chiko. Aku mencintaimu Chiko. Terimakasih untuk cintamu sayang. Selamat tinggal Chiko....!" Ucap Edis dengan leher yang sudah terkulai ke samping kanan.
"Selamat jalan gadisku..! Kau datang tiba-tiba di hadapanku dengan menawarkan cintamu dan sekarang kamipun pergi tiba-tiba dan membawa cintaku bersamamu.
Jika hanya sakit yang kau berikan kepadaku, seharusnya jangan pernah muncul di hadapanku Edis.....hiks ...hiks!
Delvin dan Haidar yang melihat posisi tubuh Edis hampir jatuh segera berlari menolong Chiko yang kuat lagi melangkah karena tubuhnya sendiri saat ini sudah sangat lemas karena kehilangan Edis.
Eca memeluk putranya yang jatuh tersungkur ke tanah sambil menangis. Edis sudah di gendong Delvin dan Haidar masuk ke dalam villa.
"Bunda...Edis bunda ...!" Chiko meraung dalam dekapan bundanya.
"Sayang....Edis sudah bebas dari penyakitnya. Dia ingin merasakan cintamu sesaat sebelum hidupnya berakhir. Dia terlihat sangat agresif saat mencari perhatianmu hanya untuk menutupi kesepiannya karena tidak di pedulikan oleh kedua orangtuanya."
Ucap Eca menenangkan hati putranya dengan menangis bersama.
Tangis keluarga itu tidak terbendung lagi melihat Edis sudah pergi untuk selamanya.
Anak-anak Alin dan Eca menangis saat Edis di baringkan di tempat yang sudah disiapkan oleh pelayan di ruang keluarga itu.
.....
__ADS_1
Hari ini kita tamat ya say...