
Keluarga besar itu sangat bahagia ketika mendengar kalau saat ini Eca sedang hamil bayi keduanya. Mereka kembali menyalami Eca dan Delvin, mengucapkan selamat atas kehamilan keduanya Eca.
Eca yang ingin cepat-cepat kembali ke hotel membuat ia agak kurang suka menerima basa-basi dari keluarga besar dokter Gaes.
Mereka mengerti kalau saat ini Eca sedang mengalami bawaan hamil, membuat ibu dari Adam ini bersikap ketus pada siapa saja. Bukan hanya ketus, ia juga kelewat posesif pada Delvin.
Delvin mengerti keadaan istrinya yang lagi sensi dengan siapapun. Ia mengajak istrinya kembali ke hotel mereka yang tidak jauh dari kediaman Haidar agar si kembar bisa mondar-mandir selama liburan di rumah mamanya.
Eca yang tidak lagi mau bersuara membenamkan wajahnya ke dalam dekapan sang suami. Rasanya saat ini ia ingin di manja oleh suaminya.
Tiba di hotel, Delvin menggendong istrinya dengan enteng, sementara Eca mengalungkan tangannya ke leher kokoh Delvin sambil menyembunyikan wajahnya di ceruk kokoh itu.
Wangi tubuh Delvin menjadi aroma yang sangat di sukai Eca saat ini. Badai salju di luar sana makin mengamuk menghentakkan setiap jendela kamar hotel hingga membentuk tumpukan bunga es seakan kamar Delvin berada di dalam freezer.
Dingin itu menusuk hingga Delvin menyalakan mesin penghangat ruangan agar tubuh mereka tetap dalam keadaan hangat. Beberapa kali Eca harus bersin karena ia harus menyesuaikan tubuhnya dengan keadaan alam ini.
"Mau minum atau makan sesuatu yang hangat, sayang?" Tanya Delvin.
Eca mengangguk.
Tidak lama kemudian bel kamar mereka berbunyi. Pihak pelayan hotel mengantarkan makanan dan minuman ringan untuk menghangatkan tubuh pasangan ini.
Baby Adam memang sengaja menginap dengan si kembar karena putranya tidak lagi menyusu pada Eca.
Keduanya menikmati makan malam mereka walaupun tadi di rumah Haidar mereka sudah makan malam begitu banyak.
Udara dingin di tempat itu membuat mereka merasakan lapar terus menerus apalagi ditambah Eca yang saat ini dalam keadaan hamil.
Eca dan Delvin memakan dengan cepat makanan mereka agar tidak keburu dingin. Minuman hangat yang kini mereka nikmati cukup membuat suhu tubuh mereka menghangat dengan begitu keduanya bisa tidur dengan nyenyak malam ini.
"Apakah kamu merasa mual sayang?"
"Tidak..! Hanya kepalaku saja yang rasanya sangat berat." Sahut Eca dalam pelukan Delvin.
"Mau aku pijitin?"
"Tidak usah. Ini hanya permainan hormon kehamilan. Aku akan lebih baik kalau sudah di bawa tidur." Sahut Eca.
"Mau bercinta, sayang?" Tawar Delvin.
__ADS_1
"Aku masih sangat lelah, bahkan tidak punya tenaga untuk bercinta." Ucap Eca.
"Aku hanya ingin memberikanmu pemanasan ringan saja baby, supaya kamu bisa tidur." Ucap Delvin.
Eca mengerti apa yang di inginkan Delvin yang bisa membuatnya mabuk kepayang.
Eca mengangguk lembut dan Delvin segera membebaskan segitiga bermuda di bawah sana yang mulai berdenyut hanya dengan bisikan nakal suaminya.
Dalam sekejap, Delvin sudah berada di pangkal paha Eca, yang sudah melebarkan kedua pahanya saat lidah panjang Delvin mulai masuk ke gerbang surgawinya.
Rasa kenikmatan itu mulai menjalar ke seluruh tubuhnya yang mampu menghangatkan tubuh Eca yang sesekali mengerang nikmat.
"Delviin...sayang...aaaakk!" Eca membelai rambut Delvin dan sesekali mengacak rambut suaminya sambil menekan kuat agar Delvin lebih dalam membuatnya terbakar dalam gairah.
Hingga akhirnya ia bisa tidur terlelap setelah melepaskan cairan kenikmatannya. Sementara itu, Delvin yang masih doyan mengisap cairan kenikmatan istrinya dan tanpa sadar iapun tertidur di atas pangkal paha istrinya karena kelelahan senam lidah dibawah sana.
...----------------...
Sekitar pukul sepuluh pagi. Alea bersama suaminya mengantar baby Adam ke hotel untuk bertemu dengan sang bunda. Beruntunglah Delvin dan Eca sedang berada di restoran hotel dan melihat baby Adam yang sedang di gendong paman Jordy, suami dari Alea.
"Apakah semalam dia rewel?" Tanya Eca yang sekarang kelihatan lebih segar menikmati sarapannya.
Si kembar lagi fokus dengan Adik bayi kembar mereka saat ini. Tadi di ajak ke sini, katanya nggak mau ganggu bundanya yang sedang sakit. Apakah kamu sudah baikan Eca?" Tanya Alea.
"Aku sudah baikan. Pagi ini mau ke rumah sakit. Mau memeriksa keadaan kandunganku." Ucap Eca.
"Baiklah. Kalau begitu kami pulang dulu karena Alea belum bisa beraktivitas pasca melahirkan semalam." Ucap Alea lalu mengecup pipi tembem Adam.
"Terimakasih Alea sudah mengantar baby Adam. Aku titip si kembar." Ucap Eca.
Keduanya pamit kembali ke rumah Haidar.
Delvin menggendong putranya yang sibuk bermain game di ponselnya Delvin.
Rupanya selama ini Eca diam-diam melakukan program kehamilan Kembar untuk memberikan kejutan untuk suaminya walaupun keduanya bukan dari keturunan kembar.
Bagi Eca program hamil kembar bukan suatu metode baru karena banyaknya pasien yang sudah berhasil dengan program itu. Hanya saja kehamilan Eca yang jarak kelahirannya terlalu dekat membuat gadis berusia tiga puluh tahun ini harus ekstra hati-hati dengan kondisi rahimnya.
Setibanya di rumah sakit, dokter spesialis kandungan mulai melakukan USG untuk mendeteksi letak janin di dalam rahim Eca yang sudah mulai tumbuh.
__ADS_1
"Selamat nona Eca! Saat ini anda sedang mengandung bayi kembar. Mereka masih begitu kecil karena usia kandungannya memasuki sepuluh Minggu." Ucap Dokter Bella.
Delvin tercengang mendengar ucapan dokter Bella, Eca tersenyum sambil menganggukkan kepalanya menatap wajah suaminya.
Delvin mengangkat kedua bahunya seolah bertanya apa yang dilakukan istrinya sehingga mereka bisa memiliki anak kembar. Eca mengecup bibir suaminya di depan dokter Bella.
"Program kembar yang aku ikuti berhasil sayang. Aku sengaja tidak memberitahumu karena kuatir akan gagal. Setelah mengetahui hasilnya, ini menjadi sebuah kejutan untukmu." Ucap Eca dan terdengar oleh dokter Bella.
Keduanya segera balik ke hotel dengan baby Adam yang sedang main di tempat penitipan bayi di rumah sakit tersebut.
"Kenapa kamu harus merahasiakannya, sayang. Justru aku kalau aku tahu program ini bisa membuat bayi jadi kembar empat, aku akan lebih semangat lagi menggempur mu." Timpal Delvin sambil tersenyum menggoda Eca.
"Sayang sekali Delvin, aku tidak seperti Alin. Mungkin kalau kamu bercinta dengannya lagi, dia bisa hamil kembar sepuluh untukmu." Balas Eca ketus.
Lagi-lagi Delvin merasa serba salah kenapa Eca sekarang terus saja cemburu pada Alin.
"Sayang....! Kenapa kamu sekarang lebih senewen dan terus memikirkan tentang Alin. Bukankah semuanya sudah berlalu?
Dia sudah bahagia dengan Haidar, lelaki yang sangat dicintainya."
"Jelas saja dia mencintai Haidar setelah perjuangannya untuk mendapatkanmu sulit dicapainya." Ucap Eca sinis.
"Jika kamu terus cemburu pada Alin lebih baik kita kembalikan hak asuh si kembar jatuh padanya. Dengan tidak melihat si kembar lagi, kamu tidak akan teringat pada Alin. Karena cinta satu malam itu, maka hadir si kembar dalam hidupmu." Ucap Delvin membuat mata hati Eca baru terbuka.
Ia tidak memikirkan kecemburuannya akan membangun benteng perseteruan baru antara ia dan suaminya.
Dan itu sama halnya ia mengingkari kehadiran si kembar dalam kehidupan mereka.
Suasana menjadi hening di tambah dinginnya cuaca membuat lidah Eca seakan mati beku. Mungkin kesabaran Delvin tidak lagi setebal tumpukan salju yang mengeras di atas permukaan bumi di tempat mereka berpijak saat ini.
Ucapan Delvin barusan adalah bentuk teguran kerasnya pada Eca yang terus menerornya dengan perasaan cemburu buta.
Setibanya di hotel mewah di tengah kota Roterdam, Delvin yang ingin menyambangi lagi kediaman Haidar untuk melihat si kembar membuatnya enggan untuk ke sana.
Ia lebih memilih bermain bersama putranya baby Adam. Wajah datar Delvin mampu membuat Eca tidak lagi bisa merayu suaminya.
Ia telah merusak suasana hati Delvin dengan kecemburuannya. Padahal saat ini mereka sedang bahagia menyambut kedatangan baby kembar. Eca yang malang.
"Bersiaplah, besok kita pulang ke Jakarta tanpa si kembar!" Ucap Delvin dingin setelah membaringkan putranya yang sudah terlelap.
__ADS_1
Duaaarrr.....