
Hampir tiga bulan, si kembar sudah mulai aktif mengabdi di rumah sakit milik bunda mereka.
Keduanya tampak asyik bercengkrama dengan para dokter lainnya, membahas metode baru untuk beberapa kasus penyakit yang akan mereka lakukan tanpa pembedahan seperti kasus operasi pada pasien penderita paru-paru.
Sambil melihat layar monitor yang menampakkan penyakit yang berkesinambungan dengan paru-paru itu, mereka nampak serius mendengarkan penjelasan si kembar secara bergantian.
Kejeniusan si kembar membuat mereka seakan mengenyam lagi pendidikan gratis tanpa harus balik ke kampus untuk menelaah setiap buku tebal yang menguras otak dan tenaga secara bersamaan.
Selain harus merogoh kocek biaya yang cukup mahal untuk sekolah mengambil jurusan spesialis dokter bedah tersebut, mereka juga harus mengambil cuti.
Usai memberikan pencerahan, Ciky pamit pulang duluan dan harus bergantian dengan Chiko yang sedang bertugas malam hari sebagai dokter jaga.
"Apakah kamu yakin mau pulang malam-malam di jam segini sendirian, Ciky?" Tanya Chiko kuatir dengan saudara kembarnya itu.
"Ini Jakarta Chiko. Jam dua belas, jalanan masih ramai." Ucap Ciky merasa keadaan pasti sangat aman menurutnya.
"Kita sudah lama tinggal di luar negeri dan belum tahu perkembangan kota Jakarta seperti apa saat ini, apa lagi menyangkut dunia kriminal, Ciky."
kata Chiko terlihat cemas kepada saudara kembarnya ini.
"Ada Allah yang selalu melindungi kita ke manapun kita pergi. Jika aku mati, itu adalah kematian syahid dan dosaku akan terampuni dan surga menantikan aku Chiko, karena aku baru pulang kerja." Ucap Ciky enteng.
"Coba kalau kamu ngomong depan ayah dan bunda seperti itu, yang ada besok mereka akan langsung mengurungmu dan besoknya kamu tidak di ijinkan kerja lagi." Balas Chiko.
"Insya Allah. Aku aman. Aku cabut dulu. Mohon doanya. Kali-kali aku bertemu dengan pangeran ku malam ini."
Ucap Ciky makin membuat Chiko gregetan.
"Ya sudah pulanglah. Jangan lupa siapkan semprotan lada di kantong bajumu dan tetap waspada di sekitar jalanan!"
Kata Chiko menasehati Ciky yang keras kepala.
"Iya pak dokter. Aku pulang dulu. Assalamualaikum." Ucap Ciky.
Dalam beberapa menit, mobil Ciky sudah beradu dengan para pengendara lain untuk saling mengadu kecepatan agar tiba ke tempat tujuan mereka masing-masing.
Ciky yang asyik mendengarkan lagu di radio mobilnya, tiba-tiba kaget dengan beberapa mobil yang menyalip mobilnya hingga ia hampir menabrak pagar pembatas jalan.
"Sial ..! Apakah mereka sedang balapan liar di jalanan sepi seperti ini?"
__ADS_1
Umpat Ciky berusaha mengejar mobil yang sudah berada di depannya yang hampir menyenggol mobilnya tadi.
Mobil mewah yang dipakai Ciky adalah hadiah dari mama Alin. Itulah sebabnya ia sangat hati-hati membawa mobilnya di jalanan karena mobil itu sangat berharga untuknya.
Bukan karena mewah dan mahalnya tapi karena hadiah mamanya untuk ulang tahunnya ke sembilan belas tahun.
Tanpa disadari oleh Ciky kalau saat ini ia sudah kehabisan bensin. Di tengah jalan mobilnya tiba-tiba ngadat dan berhenti mendadak tepat di tempat yang sepi.
Ciky yang melihat jarum penunjuk bensin di bawah nol membuat ia sangat kesal.
"Dasar bodoh...! Harusnya aku lihat dulu bensinnya. Kenapa nekat jalan pulang seperti ini. Apakah aku harus telepon ayah...? Rasanya tidak mungkin kalau aku harus ganggu ayah dan bunda di jam satu pagi seperti ini. Yang ada aku malah kena semprot dari ayah.
Ciky mencari pom bensin terdekat melalui google map dan ternyata adanya tiga kilo meter lagi dari tempatnya berada.
"Aku tidak mungkin meninggalkan mobil aku di sini. Apakah aku telepon saja pak Iwan untuk menjemput aku?" Ciky bertanya sendirian tanpa menemukan solusi.
Ia tidak berani turun karena terlihat gelap di sekitarnya. Bagi Ciky lebih baik berhadapan dengan penjahat dari pada berhadapan dengan kegelapan yang mungkin bisa melihat hantu.
Ciky bergidik ngeri.
Ciky mematikan lampu mobilnya dan bersandar di jok mobil hendak merebahkan tubuhnya, tapi terhenyak saat melihat tiga mobil beruntun berhenti tidak jauh dari mobilnya.
Melihat ada yang tidak beres, Ciky merekam adegan itu dengan ponselnya dengan tubuh gemetar.
"Apakah gerombolan penjahat itu akan menyakiti pemilik mobil merah itu?" Tanya Ciky lirih.
Tidak lama seorang pria pemilik mobil merah itu turun dan mulai melakukan perlawanan. Tak ayal perkelahian itupun terjadi.
Lima orang penjahat dengan memegang senjata tajam ditangan mereka masing-masing hendak menyerang pria yang sendirian itu, pemilik sedan merah.
"Astaga...! Mereka pasti akan mengeroyok, laki-laki itu seorang diri. Bagaimana kalau terjadi pembunuhan malam ini? tidak-tidak, aku harus menolong pria itu malang itu." Ucap Ciky lalu menghubungi nomor polisi.
"Hallo selamat pagi! Dengan kantor polisi.. ..ada yang bisa kami bantu?"
"Pagi pak....! ada perkelahian di sini pak ...!"
"Di wilayah mana, dek ..?"
"Tidak tahu pak ...! Datang saja. Pasti anda bisa melacak ponsel saya." Ucap Ciky segera turun dan membiarkan ponselnya begitu saja di dalam mobil.
__ADS_1
Ia hanya mencabut kunci mobilnya lalu menghampiri gerombolan penjahat yang menyerang seorang pemuda malang itu.
Ciky tidak bisa lagi tinggal diam. Ia segera membantu seorang pria muda yang terus-menerus mendapatkan serangan dari lawan.
Pria itu tampak kewalahan melawan penjahat itu dengan tangan kosong sementara penjahat itu membawa senjata tajam dan besi lainnya untuk menyerang pria muda itu.
Ciky mengambil kayu yang tergorok di jalanan. Dengan kayu itu Ciky melempar ke arah penjahat, tentunya lemparan itu membentuk baling-baling dengan kekuatan yang sudah Ciky atur untuk menghadang lawan.
Pletakkk .. bunyi kayu itu menghantam wajah penjahat hingga mereka kehilangan keseimbangan.
Dengan kecepatan tinggi, Ciky berlari ke arah penjahat yang sempat kaget dengan kedatangan kayu dan juga dirinya yang sudah menghantam wajah mereka secara berturut-turut. Ciky menendang beberapa penjahat hingga terpental.
Dan serangan tiba-tiba Ciky pada beberapa penjahat membuat pemuda tampan itu terkesima dengan ilmu bela diri Ciky yang memukau dirinya.
Para penjahat itu tidak tinggal diam, mereka kembali menyerang Ciky dan pemuda itu secara bergantian. Lima lawan dua. Perkelahian yang cukup imbang..
Kecepatan serangan Ciky bertubi-tubi hingga tangan Ciky mampu menotok beberapa titik syaraf penjahat hingga tiga orang bisa ia lumpuhkan dengan mudah.
Ketiganya seperti kena serangan stroke. sementara pemuda tampan itu syok melihat lawannya jatuh dengan mudah oleh Ciky.
Tanpa disadari oleh pemuda itu, lawan mengarahkan pisau padanya membuat Ciky berteriak untuk menyadarkan pemuda itu agar menghindar serangan senjata tajam itu yang menghampiri perutnya.
"Awassss ...!" teriak Ciky membuat pria tampan itu segera waspada namun sayang, pisau itu sudah lebih dulu mengenai pinggangnya dengan luka sabetan pisau lawan. Dan pria tampan itu spontan memegang pinggangnya yang berdarah.
"Auhhght ...!"
Ciky harus melayangkan tendangan membabi buta ke arah lawan yang telah menusuk pria tampan itu, untuk melumpuhkan mereka. Keduanya langsung kabur kala Ciky berhasil menyemprotkan wajah mereka dengan gas lada.
Dengan mata perih mereka berlari tanpa arah. Ciky segera menolong pemuda itu karena darahnya terus mengalir tanpa henti dari pinggangnya.
"Kamu tidak apa...? Ayo kita segera ke rumah sakit. Kamu bisa kehabisan darah. Aku pakai mobilmu ya. Mobil aku mogok sebelah sana karena kehabisan bensin."
Ucap Ciky sambil memapah tubuh kekar pemuda itu yang masih bingung dengan kedatangan Ciky yang sudah menjadi pahlawannya malam ini.
Walaupun berada di dalam keremangan, wajah cantik Ciky terlihat aura cahaya yang membuat pria tampan itu tidak lepas menatapnya.
"Apakah aku sudah mati?" Tanya pria tampan itu pada Ciky.
"Kamu masih hidup Tuan. Kamu tidak boleh mati karena aku sudah bersusah payah menolong mu menyingkirkan penjahat itu." Ucap Ciky.
__ADS_1
"Tapi aku sudah bertemu dengan seorang bidadari." Ucap pemuda itu sambil melihat Ciky menyetir mobilnya menuju ke arah rumah sakit milik keluarga Ciky.