
Haidar sengaja memberikan hadiah pada Alin dengan sesuatu yang mampu menyentuh hati gadis ini. Ia sangat mengerti Alin saat ini sedang merindukan anak kembarnya.
Rupanya kejutan itu berhasil membuat Alin terenyuh. Alin memejamkan matanya sambil membawa foto-foto bayi kembarnya ke dadanya.
"Aku telah melewatkan semua momen pertumbuhan mereka yang tak pernah terulang lagi.
Aku tidak menyesal mengandung mereka setelah aku melihat kualitas hidup mereka yang sangat baik dan itulah penyesalan terdalam ku."
Tangis Alin pecah sambil memeluk foto-foto si kembar.
Haidar meraih tubuh yang bergetar itu membawa dalam pelukannya. Hatinya yang masih memiliki rasa pada gadis ini, ikut hanyut dalam kesedihannya Alin.
"Alin! Menikahlah denganku dan kita akan memiliki anak sendiri tanpa harus menganggu kehidupan si kembar dengan keluarganya."
Ucap Haidar sambil mengusap punggung Alin yang terus menangis sesenggukan.
"Tidak Haidar! Aku tidak bisa menikah denganmu. Aku sudah kotor. Aku menyerahkan diriku sendiri kepada lelaki yang tidak aku kenal." Tolak Alin.
"Itu bukan salahmu. Kamu hanya korban. Kamu gadis yang baik. Hanya saja kamu diberikan ujian yang tidak mampu kamu tolak. Aku tidak menyalahkan mu apa lagi menghukum mu.
Aku ingin kita menikah dan mengatur lagi kebijakan secara hukum untuk bisa mendapatkan giliran mengasuh si kembar.
Sejalannya waktu kita pelan-pelan memberitahukan mereka bahwa kamu adalah ibu kandung mereka." Ucap Haidar penuh kelembutan.
Alin diam sejenak sambil mengusap air matanya namun tangisnya masih terdengar.
"Maafkan aku Haidar! Aku tidak bisa."
Tolak Alin lalu keluar dari mobil Haidar.
Haidar tidak ingin lagi memaksa. Ia ingin memberikan kesempatan Kepada Alin untuk merenung.
Dengan begitu Alin mau menerima pinangannya tanpa ada keterpaksaan darinya.
Haidar turun dari mobilnya menyusul Alin yang sudah siap berangkat ke rumahnya Eca untuk menemui si kembar. Haidar mengetuk jendela mobilnya Alin karena ingin menyampaikan sesuatu pada gadis ini. Alin menurunkan jendela mobilnya sambil menunggu apa lagi yang ingin di katakan mantan kekasihnya ini.
"Alin! Orang yang pantas kamu salahkan dari peristiwa yang menghancurkan hidupmu adalah sahabat mu Else. Dia lah yang telah menyuruh pelayan klub menaburkan obat perangsang itu ke dalam minuman mu."
Ucap Haidar lalu kembali lagi ke mobilnya.
Alin benar-benar syok mendengar ucapan Haidar tentang sahabatnya itu.
"Dasar wanita Jala*ng..!"
Umpat Alin dengan sumpah serapahnya pada Else.
Tetapi sesaat kemudian, ia kembali tenang. Sambil mengusap air matanya, ia merasa bersyukur karena kedengkian sahabatnya itu padanya ia bisa melahirkan si kembar.
__ADS_1
"Aku memang membenci mu Else! Tapi karena mu aku bisa bercinta dengan lelaki tampan ayah dari anak kembarku."
Ucap Alin yang sudah kerasukan setan sambil tersenyum penuh kepuasan.
Entah apa yang ada dalam otaknya kini, walaupun hatinya terasa sakit di khianati oleh sahabatnya sendiri, tapi mengingat percintaan panasnya dengan Delvin membuat ia mengabaikan sakit hatinya.
"Aku akan membuat perhitungan sendiri denganmu Else suatu saat nanti, tapi setelah aku mampu merebut Delvin dan si kembar dari tangan Eca. Aku sedang berupaya untuk itu dengan mendekati anak-anak lagi untuk merebut cinta dan perhatian mereka."
Alin menambah kecepatan mobilnya agar tiba lebih cepat di kediaman Delvin.
Kebetulan si kembar sedang bermain dengan kucing mereka di halaman. Alin memarkirkan mobilnya di depan pagar mansion Delvin dan berjalan ke dalam halaman setelah minta ijin pada satpam.
"Tante Alin!"
Panggil keduanya sambil menggendong kucing kesayangan mereka.
"Apa kabar sayang! Boleh Tante Alin peluk kalian?"
"Boleh Tante!"
Ciky dan Chiko memeluk ibu mereka dengan senang hati. Alin begitu kaget Chiko dan Ciky mencium pipinya secara bersamaan.
Eca yang sedang memperhatikan adegan itu dari atas balkon kamarnya sedikit cemburu.
Tapi ia tidak bisa menepis bahwa hubungan darah itu lebih kuat daripada hubungan cinta yang bisa ia berikan kepada si kembar.
"Jika kamu tidak suka kedatangan wanita itu, lebih baik usir saja." Ucap Delvin ketus.
"Tidak sayang! Aku suka ko melihat Alin yang sudah mulai dekat dengan si kembar."
"Jangan terlalu percaya pada wanita ular itu karena suatu saat nanti, kamu lengah sedikit saja, ia akan merebut si kembar darimu."
"Dia tidak akan berani melakukan itu sayang." Balas Eca memenangkan suaminya.
"Ciky, Chiko! Apakah kalian mau belajar taekwondo dengan Tante?"
"Apakah Tante Alin bisa bela diri."
"Hmm!"
"Aku mau Tante! Aku ingin jadi laki-laki hebat untuk melindungi bunda." Ucap Chiko antusias.
"Kenapa harus bunda?"
Protes Alin yang tidak suka putranya memprioritaskan Eca.
"Bundaku tidak bisa bela diri selain mengobati orang sakit dan memberikan cinta dan sayangnya kepada kami.
__ADS_1
Kami adalah anak-anaknya, jadi sudah sepatutnya kami melindunginya." Jawab Chiko membuat batin Alin meringis.
"Apakah Chiko tidak mau melindungi Tante Alin.
"Untuk apa melindungi Tante Alin kalau Tante bisa melindungi diri Tante sendiri? lagi pula Tante itu orang lain sedangkan bunda Eca adalah ibu kandung kami." Ujar Ciky.
Alin mengepalkan tangannya menahan sakit hatinya.
"Apakah kalian mau tahu rahasia besar yang sudah disembunyikan bunda kamu Eca itu?"
"Rahasia apa Tante?"
"Rahasia besar itu adalah kalau bunda Eca bukan ibu ..?"
"Alin..!"
Tegur Eca yang sudah berdiri di belakang dirinya.
Alin tidak bisa meneruskan perkataannya dan tersenyum pada Eca dengan keterpaksaannya.
"Bunda! Tante Alin ingin melatih kami belajar bela diri. Boleh ya bunda?" Pinta Ciky.
"Boleh sayang. Tapi latihannya di sini." Ucap Eca.
"Terimakasih bunda!" Si kembar mencium pipi Eca .
"Ini Eca aku sengaja buat kue untuk si kembar."
Ucap Alin menyerahkan kue buatannya itu pada Eca.
Alin memberikan kepada pelayannya agar di hidangkan di piring untuk teman minum teh mereka.
Eca mengajak Alin untuk duduk di taman.
Delvin tidak ingin bergabung dengan dua wanita itu. Dia malah mengajak si kembar bermain dan itu membuat Alin sangat menderita.
"Apakah kamu serius ingin mengajarkan anak-anak bela diri?"
"Aku ingin anak-anakku menjadi pemberani."
"Apakah kamu tidak punya maksud terselubung dari niatmu itu Alin?" Selidik Eca sambil membaca gesture tubuh Alin.
"Apakah kamu kira aku akan menyakiti anak kandungku sendiri, Eca?"
"Semuanya berawal dari niat tulus. Tapi kesempatan selalu ada untuk orang mencari cela mendapatkan keuntungan. Aku harap kamu tidak memiliki konflik kepentingan dengan ku dan satu lagi jangan coba-coba menyebut statusmu sebagai ibu mereka. Kamu mengerti?"
"Hmm!"
__ADS_1
Saat sedang berbincang serius tiba-tiba ada mobil tamu yang datang dengan plat mobil berlogo polisi. Benar saja dua orang polisi turun dari mobil itu dan menghampiri Delvin yang duduk tidak jauh dari mereka. Alin begitu gugup melihat kedatangan polisi dan buru-buru pamit pada Eca.
"Eca! Aku pamit pulang dulu. Aku masih ada urusan. Aku akan menghubungi anak-anak kalau aku sudah siap melatih Mereka." Ucap Alin.