
Untuk menemani si kembar sekolah di Amerika, Delvin memboyong semua keluarganya tinggal di Amerika, termasuk kedua orangtuanya.
Delviin tidak tega meninggalkan si kembar sendirian di sana tanpa di dampingi oleh orang dewasa.
Awalnya Alin dan Haidar mengajukan diri untuk menemani si kembar selama menempuh pendidikan kedokteran di universitas ternama di Amerika, namun Delvin tidak menyetujuinya dan ngotot untuk mengawasi anak kembarnya sendiri.
Sempat ada adu mulut antara keduanya karena Delvin terlalu mengusai si kembar. Haidar mengingatkan lagi istrinya agar Alin tidak terlalu memaksakan kehendak pada si kembar atau Delvin akan menghukum mereka untuk tidak lagi bertemu dengan si kembar.
Saat ini usia si kembar empat sudah mencapai empat tahun. Keempatnya tidak begitu hebat seperti si kembar.
Beda halnya dengan Adam yang sudah bisa baca dan menulis serta pandai berhitung dan mengusai empat bahasa sekaligus.
"Sayang ...! Kalau si kembar tinggal dengan kita, mereka pasti bisa mengajari keempat adiknya agar bisa cepat membaca, berhitung, menulis dan belajar beberapa bahasa di dunia seperti seperti adiknya Adam." Ucap Alin.
"Kepintaran Adam tidak ada kaitannya dengan Ciky dan Chiko. Adam pintar itu lebih berpengaruh dari faktor genetik antara Delvin dan Eca.
Sekali anak itu di ajarkan lebih cepat nangkap dari pada anak-anak kita." Ucap Haidar memberikan pengertian kepada istrinya.
"Aku hanya ingin yang terbaik untuk anak-anak kita sayang. siapa tahu kehadiran Ciky dan Chiko akan membuat adik-adiknya juga ikut hebat seperti mereka.
Andai saja Delvin lebih bijak membagikan waktu untuk kita bisa membesarkan si kembar, mungkin aku sangat bersyukur pada Tuhan dan tidak akan pernah senewen ini." Ucap Alin.
"Apakah kamu tidak mencintai keempat anak kita sayang?"
Tanya Haidar yang mulai cemburu pada Delvin karena Alin terus menerus memuji si kembar.
Tapi Haidar terus berupaya untuk selalu membimbing keempat anaknya agar bisa tumbuh dengan baik sesuai usia mereka dan tidak terlalu memaksakan diri karena setiap tingkat kecerdasan anak itu berbeda-beda.
Di Amerika sana, Delvin membeli sebuah apartemen mewah untuk keluarganya tempati.
Baby Adam dan adik kembarnya Caca dan Cika sedang bermain bersama. Adam yang sekarang sudah lebih pintar mengajar Adi kembarnya yang baru berumur satu tahun untuk mengenal huruf alfabet dari kue yang berbentuk huruf itu.
"Caca, Cika. Ikuti apa yang kakak ajarkan kepada kalian. Ini huruf A, B, C dan D. Sekarang coba kalian ulangi huruf yang kakak sebutkan!" Titah Adam pada kedua adiknya.
Alih-alih mengikuti ucapan abangnya Adam, kedua gadis kecil ini malah memakan kue-kue itu membuat Adam menjadi kesal.
"Eh, kalian ..! Kenapa tidak mau menuruti perkataan kakak. Mau cari mati ya!"
Geram Adam membentak adik kembarnya yang asyik makan kue mereka sambil menonton film kartun.
"Aduh ...! Pak guru galak amat. Emangnya nggak bisa ngajarin nya penuh dengan kesabaran?"
Tegur Eca melihat putranya terlalu bersemangat mengajari adik kembarnya.
__ADS_1
"Bagaimana Adam tidak marah bunda, bukannya ikuti perkataan Adam mereka malah memakan semua kue-kue ini bunda." Protes Adam pada adik kembarnya.
"Itu berarti adik kembarnya belum mengerti apa yang di katakan Adam. Sekarang, Adam baca bukunya sendiri dan jangan lagi ganggu adiknya atau mereka tidak akan berhenti menangis."
Ucap Eca pada Adam yang sok jadi Abang kecil.
...----------------...
Di kampus, Ciky dan Chiko menjadi pusat perhatian di kampus di mana si kembar lebih menonjol setiap kali menyebutkan bagian anatomi tubuh manusia yang selalu terdapat penyakit di dalamnya.
Setiap kali ditanya dosen, si kembar menjelaskannya dengan baik dan tepat. Kejeniusan si kembar mulai di manfaatkan oleh teman-temannya yang usianya terpaut lima tahun dengan mereka.
Ketika memasuki waktu istirahat, mereka mengajak Ciky dan Chiko makan di kantin. Keduanya menolak karena beralasan membawa bekal sendiri dari rumah dan memilih makan di kelas.
"Ciky, Chiko. Apakah kalian tidak ingin ke kantin?" Tanya pasangan Anderson dan Gwen.
"Tidak...! Kami membawa bekal sendiri karena makanan kantin tidak cocok dengan kami."
Ucap Chiko sambil membuka makanannya berupa nasi dan daging rendang yang sengaja dibuat oleh nenek dan bundanya untuk mereka.
"Kalian makan nasi? Apakah kalian orang Asia tenggara?"
Tanya Gwen yang terlihat ngiler dengan bekal si kembar.
"Iya. Makanan pokok kami adalah nasi dan kami tidak bisa kenyang hanya makan Burger atau apapun makanan yang ada di kantin itu." Sahut Ciky.
Pinta Gwen yang sudah tidak sabar menyicipi masakan rendang milik si kembar.
"Aku hanya memberikan kamu satu daging tidak lebih," ucap Ciky tegas.
"Baiklah. Tidak apa aku hanya ingin menyicipinya saja." Ucap Gwen.
Ciky memberikan potongan daging rendang pada Gwen dengan wadah tisu.
Dalam sekejap, Gwen melahapnya dan ia mengunyah sambil menikmati bumbu dan tekstur daging yang kaya dengan aroma pedas dan rasa harum dari bumbunya.
"Apakah aku boleh memintanya lagi?" Tanya Gwen.
"Tidak ..!" Tolak Ciky sambil melirik Chiko yang makan dengan tenang.
"Apakah itu daging babi?" Tanya Anderson pada Gwen yang terlihat sangat doyan hinggap meminta lagi pada Ciky.
"Kami seorang muslim dan tidak mungkin makan daging haram itu." Timpal Chiko.
__ADS_1
"Apakah aku boleh meminta punya kamu Chiko?" Pinta Anderson.
"Maaf ini, makan siang aku dan kami tidak bisa membaginya."
Ucap Chiko menghabiskannya dengan cepat makan siangnya.
"Baiklah tidak apa. Sebenarnya kami ingin meminta bantuan kepada kalian agar kalian mau membantu kami mengerjakan tugas yang diberikan oleh dosen.
Dan kami akan membayarkan kalian berapapun yang kalian inginkan, kami sanggup membayarnya.
"Mohon maaf. Kami sendiri kewalahan mengerjakan tugas kuliah kami dan kami rasa kita di sini memiliki tugas dan tanggungjawab yang sama untuk belajar disiplin ilmu agar mendapatkan hasil yang memuaskan dengan mengandalkan otak sendiri bukan menumpang kehebatan orang lain untuk mendompleng nama besar." Sahut Chiko sarkas.
"Hei anak kecil...! Kamu ternyata angkuh juga, seberapa hebatnya keluargamu, hingga kamu berani-beraninya merendahkan kami, hah? Kalian di sini hanya pendatang dan kamu berhak mengatur kalian." Ucap Anderson menggertak Ciky dan Chiko..
"Kekayaan ayahku bisa membeli keangkuhan mu itu. Walaupun kami pendatang, bukan berarti kami mudah dijajah oleh kalian seperti budak."
Ucap Chiko menantang balik Anderson.
Anderson menendang bangku milik Chiko hingga putranya Delvin ini tersungkur ke belakang membuat Ciky naik pitam saudaranya diperlakukan dengan kasar oleh Anderson.
Anderson dan Gwen tertawa jahat melihat melihat Chiko yang dianggapnya anak kecil yang mudah ditindas. Chiky segera membantu Chiko berdiri dan merapikan tempat makan mereka.
"Kamu tidak apa Chiko?" Tanya Chiky sedih.
"Tidak apa Chiky." Chiko memasukkan tempat makannya ke dalam ransel.
"Apakah kalian masih berani menantang ku, hah?" Bentak Anderson lagi.
"Kau hanya bajingan tengik yang memiliki otak udang dengan mulut besar mu itu dan ingin menjadi seorang dokter hanya untuk memuaskan ambisi orangtuamu, bukankah begitu bung Anderson?"
Tantang Chiko lagi untuk membuat Anderson makin meradang.
Walaupun begitu, Chiko sudah siap-siap untuk membalas serangan Anderson jika lelaki ini nekat untuk menganiaya lagi.
Benar saja, Anderson dengan garangnya menyerang Chiko namun Chiky lebih dulu memutar tubuhnya dan melompat ke arah Anderson dan menendang tepat di ulu hati Anderson hingga membuat dada Anderson terasa sesak dan sulit bernafas.
Wajah itu terlihat pucat dengan nafas yang megap-megap untuk mendapatkan udara.
Gwen histeris melihat keadaan kekasihnya yang hampir mati kehabisan nafas.
"Jangan berani-berani meremehkan kami anak kecil dan pendatang seperti kami, karena aku bisa mengirimmu ke kuburan hari ini juga."
Ucap Chiky lalu tersenyum miring pada pasangan pecundang ini.
__ADS_1
Chiko dan Ciky meninggalkan pasangan itu yang terlihat panik dan berjalan menuju perpustakaan untuk membaca buku di dalam sana.
"Tolong... tolong...!" Teriak Gwen pada siapa saja yang melintas untuk menolong kekasihnya.