
Tubuh Alin bergetar hebat dengan wajah pucat seperti kapas. Ia memejamkan matanya merasa bahaya belum usai mengintainya.
Haidar mengeluarkan pistolnya untuk menembak ular kobra itu. Ia fokus mengarahkan pistolnya siap membidikkan ke arah ular kobra.
Alin menahan nafasnya agar tidak memancing sang ular itu panik. Dengan cepat Haidar menarik pelatuknya saat ular itu siap mematuk kepala Alin yang langsung menunduk.
Spontan saja darah ular itu ciprat ke tubuh Alin membuat gadis itu akhirnya muntah. Haidar menarik tubuh kekasihnya dan mengguyur tubuh Alin dengan air mineral yang ia bawa di dalam ranselnya.
"Kamu tidak apa sayang?"
Tanya Haidar seraya memberikan handuk kecil pada Alin untuk mengusap wajahnya.
Haidar memeluk Alin namun gadis ini menolak karena tubuhnya yang yang terasa sangat bau serta dekil. Apa lagi darah ular melengkapi kesialannya hari itu.
"Apakah kamu malu dengan tubuhmu sayang?"
Alin tersenyum getir dengan air mata yang terus berderai melihat ketulusan cinta Haidar padanya. Ia mengangguk pelan menyatakan perasaannya yang tidak percaya diri dengan aroma tubuhnya membuat Haidar jijik padanya.
"Kamu bisa mandi di kapal. Tutuplah tubuhmu dengan syal ini!"
Titah Haidar lalu membantu menutupi tubuh Alin yang setengah telanjang karena pakaiannya yang sudah tidak layak.
"Aku tidak bisa berjalan Haidar! Kakiku terluka."
Ucap Alin sambil menahan sakit dan perih pada lukanya yang terlihat infeksi.
"Apakah luka itu saat kamu tenggelam di laut, Alin?"
Tanya Haidar sambil mengamati lukanya Alin.
"Kakiku mengenai bunga karang saat terbawa arus laut. Aku tergeletak di pantai entah waktu yang tidak tahu berapa lama."
Ucap Alin sambil menangis.
Haidar langsung menggendong tubuh Alin dan membawanya ke kapal. Haidar harus berjalan keluar dari hutan sambil melangkah diatas pasir yang cukup berat itu. Alin terdampar di perbatasan laut Bali dan Mataram.
Haidar akhirnya sampai juga di perahu karet di mana anak buahnya sudah menunggu mereka. Dengan dibantu anak buahnya tubuh Alin bisa di angkat ke atas kapal miliknya.
Haidar membawa langsung Alin ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh kekasihnya. Alin membiarkan apa yang dilakukan Haidar pada tubuhnya karena ia tidak bisa mengurus dirinya sendiri saat ini. Haidar melihat jelas tubuh Alin terdapat banyak luka lebam dengan luka goresan yang mulai mengering.
Usai di mandikan, Delvin mengoleskan krim lembut pada luka lebam di tubuh Alin yang masih menggunakan handuk. Setiap luka itu dikecup oleh Haidar seakan ikut merasakan kesakitan yang dialami oleh kekasihnya.
__ADS_1
Tidak ada niatan lain yang Haidar miliki saat ini kecuali ingin membantu Alin. Lagi pula ia sudah berniat untuk menikahi Alin begitu mereka tiba di Jakarta.
Kapal itu terus bergerak menuju pelabuhan di mana helikopter sudah siap mengangkut pasangan ini menuju bandara.
Haidar memutuskan untuk membawa Alin ke Jakarta agar gadis ini di rawat di rumah sakit milik keluarga Alin. Setibanya di pesawat jet pribadi miliknya, dokter siap mengobati kaki Alin. Tubuh Alin terlihat sangat kurus.
Haidar menyuapi Alin yang terlihat sangat kelaparan. Alin menikmati makanannya sambil menangis. Haidar tidak ingin menanyakan apapun pada Alin kecuali Alin sendiri mau menceritakannya.
Haidar tahu kalau saat ini Alin sangat trauma selamat dari maut dan bertahan di dalam hutan sendirian setelah satu pekan dengan makanan apa adanya yang ia temukan.
Walaupun pipinya terlihat tirus dengan kelopak matanya terlihat cekung, Alin tetap terlihat cantik. Tubuhnya yang sekarang sudah bersih dengan potongan rambut pendek yang sengaja di gunting Haidar agar Alin terlihat segar.
"Apakah kamu mau dokter memberimu obat penenang? supaya kamu bisa tidur, sayang?"
"Aku tidak mau tidur dengan obat penenang. Aku hanya ingin berbaring Haidar."
"Baiklah. Apakah kamu mau berbaring dalam pelukanku?"
Alin merebahkan tubuhnya dalam pelukan Haidar. Air matanya seakan tidak pernah ingin berhenti menangis.
"Menangis lah sepuas mu, jika air mata mampu mengobati hatimu yang terluka."
"Aku menyesal, takut dan merasa paling bodoh Haidar."
"Hidup manusia itu adalah bentuk proses yang terus melakukan kesalahan walaupun ia tahu itu salah karena jiwanya sudah di kendalikan oleh naf**sunya yang menutupi akal sehat dan nuraninya. Dan semua orang mengalami itu bukan hanya kamu sendiri di dunia ini sayang.
Tapi jika kalimat penyesalan sudah kamu ucapkan berati nurani mu telah mengembalikan logika mu untuk berpikir logis." Ucap Haidar bijak.
"Haidar!"
"Iya sayang!"
"Apakah kamu tahu keadaan putriku Ciky?"
"Dia selamat dari maut yang hampir merenggut nyawanya. Ia sudah berada kembali dengan keluarganya. Jika kamu mencintai anak-anak kita, relakan mereka sayang! Toh kamu masih bisa bertemu dengan mereka.
Seorang anak tidak akan melupakan ibu kandungnya, apa lagi sekarang mereka sudah tahu kamu adalah ibu mereka. Berilah mereka waktu untuk berpikir.
Percayalah padaku, ketulusan hati seorang ibu akan membawa mereka kembali padamu. Cinta yang dipaksakan tidak akan berakhir indah."
Lanjut Haidar mengecup kening Alin.
__ADS_1
"Aku sangat mencintaimu Alin!"
"Mengapa kamu masih mencintaiku Haidar. Aku adalah perempuan jahat. Aku tidak pantas untuk lelaki sepertimu."
"Jangan pernah terjebak pada pikiranmu yang dangkal dengan terus berprasangka buruk padaku. Kalau bukan karena cinta, aku tidak mungkin sejauh ini mencari mu hanya mengandalkan naluri ku bahwa kau masih hidup di suatu tempat.
Aku berpikir saat belum menemukanmu, kalau kamu akan merasakan ketakutan, kesakitan, kelaparan dan putus asa bertahan hidup sendirian tanpa ada orang lain. Aku terus meyakinkan diriku untuk bisa menemukanmu.
Mencintaimu bukanlah perkara yang mudah untuk mendapatkan kembali kepercayaan mu agar bisa memiliki mu tanpa perlu seberapa banyak kesalahanmu yang kamu lakukan dalam hidupmu, tapi seberapa besar cinta mu yang tersisa untukku."
Ucap Haidar terdengar parau.
"Aku juga mencintaimu Haidar. Maafkan aku karena terus menjauhi mu agar kamu bisa melupakanku. Aku telah menghukum diriku dan tidak sadar kalau aku juga menyiksamu."
ucap Alin sambil mendongakkan wajahnya menatap wajah pria yang pernah singgah dalam hidupnya.
Haidar memagut bibir pucat Alin dan tiba-tiba tubuh Alin bereaksi demam. Tubuhnya makin melemah membuat Haidar nampak panik.
"Dokter! Tolong periksa dia!"
"Nona Alin demam karena infeksi pada kakinya. Berapa lama lagi pesawat ini tiba di Jakarta?" Tanya dokter Linda.
"Sekitar dua puluh menit lagi pesawat tiba di bandara Halim Perdanakusuma." Ucap Haidar cemas.
"Bisa siapkan helikopter atau kita akan kehilangannya."
"Apa yang kamu katakan dokter?"
"Lukanya sudah mengakibatkan imun tubuhnya menurun dan virus akan tersebar ke hati melalui aliran darah. Dia tidak akan bisa terselamatkan."
Ucap dokter Linda membuat Haidar sangat syok.
"Tidak dokter! Aku tidak menemukannya untuk mati."
Ucap Haidar sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat.
Rasanya dunianya ikut runtuh mengetahui Alin kembali sakarat.
Dokter menatap wajah keduanya dengan tatapan rumit.
Antara kasihan dan profesional ia harus mengatakan hal yang sebenarnya pada Haidar yang ia tahan sejak tadi
__ADS_1
"Kakinya harus di amputasi kalau anda ingin dia selamat." Ucap dokter Linda jujur apa adanya.
Duaaarrr...