
Operasi yang sangat rumit dan menegangkan mampu diselesaikan oleh Eca dalam kurun waktu lima jam.
Proses yang lebih cepat dari perkiraan waktu yang ditentukan. Eca harus bisa menyelesaikan operasi ini, mengingat keadaannya yang sedang hamil muda.
Walaupun saat ini perutnya sedikit kejang, namun hatinya sangat lega bisa menyelamatkan ibu mertuanya.
Tim dokter Eca sangat kagum dengan kehebatan mantan kolega mereka ini. Mereka menyalami Eca dan sangat bangga dengan ibu hamil ini.
"Kami harus banyak belajar padamu dokter Eca." Ucap dokter Risna.
Eca hanya bisa tersenyum karena iapun tidak mau berjanji pada tim dokter itu.
"Tolong rapikan ibu mertua saya!" Ucap dokter Eca karena perutnya makin kejang saat ini.
"Baik dokter Eca. Tapi anda tidak apakan, dokter?" Tanya dokter Risna cemas.
"Tidak apa, aku ingin bertemu putraku." Ucap dokter Eca lalu meninggalkan ruang operasi.
Eca berjalan begitu pelan sambil memegang perutnya. Suaminya Delvin yang sedang menunggu di depan kamar operasi langsung menangkap tubuh Eca yang terlihat sedikit tertunduk.
"Sayang...! Ada apa...?" Tanya Delvin menggendong tubuh istrinya.
"Perutku keram." Ucap Eca.
Dokter Shireen menghampiri keduanya dan meminta Delvin mengantar Eca ke ruang IGD.
"Apa yang sakit Eca?" Perutku keram, dokter Shiren." Ucap Eca sambil meringis.
Dokter Shireen segera memberikan pelayanan pada Eca untuk mengurangi keram pada perutnya.
"Bagaimana keadaan kandungnya dokter Shiren?" Tanya Delvin sangat kuatir pada Eca.
"Dokter Eca hanya butuh istirahat. Selainnya tidak ada masalah tuan Delvin. Kandungannya baik-baik saja." Ucap dokter Sheeran.
"Apakah kami boleh pulang?" Tanya Delvin lagi.
"Apakah anda tidak mau bertemu dengan ibu anda, Tuan Delvin?"
"Nanti saja, kalau ibuku sudah mendingan. Aku harus membawa pulang istriku." Ucap Delvin membuat Eca keberatan.
"Sayang...! Aku tidak mau pulang sebelum melihat kondisi ibu." Pinta Eca sedikit memelas.
"Eca...! Kita bisa melakukannya nanti. Ini sudah masuk jam makan siang. Malah kamu juga sudah telat makan siangnya.
__ADS_1
Lagi pula kasihan Baby Adam dari tadi dia terus mencari mu. Sekarang dia sedang bersama dokter Gaes" Titah Delvin.
"Baiklah. Kita pulang, tapi nanti malam kita ke sini lagi, pinta Eca makin manja.
"Iya sayang...!" Delvin mengalah agar tidak ada terjadi perdebatan diantara mereka.
Eca menyambut putranya baby Adam yang langsung memeluk tubuh ibunya dengan erat. Anak ini mengadu berlebihan pada bundanya tentang ayahnya.
"Unda...ayah nakal. Adi...ayah cubit Adam, terus doyong Adam ampe jatuh. Pala Adam berdarah." Ngadu nya membuat Eca menahan tawanya.
Delvin terlihat kesal, bayi sekecil ini, bisa-bisanya memfitnah dirinya.
"Astaga... Kenapa ayah jadi galak sama baby...?"
"Ayah nyuruh Adam harus Adi ayah. Teyuss.... Adam Ndak mau. Ayah marah...teyus Adam dicubit ayah...unda." Ucap baby Adam makin membuat Eca gemas.
Eca merasa sangat terhibur dengan baby Adam. Celoteh bayi ini yang membuat harinya makin berwarna menjalankan perannya sebagai ibu.
Pengalamannya sebagai ibu pengganti untuk si kembar, tidak sama dengan perasaan ikatan emosional dengan anak kandungnya sendiri.
Eca sangat bersyukur, Tuhan mengirim Adam untuknya yang membuatnya agak malas untuk mulai lagi karirnya sebagai dokter spesialis bedah.
Delvin menggendong putranya menuju mobil. Eca bergelayutan di lengan suaminya.
Karena kelelahan, Eca tidak bisa menengok ibu mertuanya di rumah sakit. Ia menunggu besok pagi membesuk ibu mertuanya itu bersama suami dan anak-anaknya Karena si kembar libur.
Dokter Shireen melakukan visit ke setiap pasiennya. Ketika memasuki kamar inap nyonya Zoya, wajah nyonya Zoya berbinar dengan raut wajah masih terlihat pucat.
"Bagaimana kabarnya nyonya...? Apakah ada keluhan...?"
Tanya dokter Shireen sambil memeriksa keadaan pasien dengan stetoskop miliknya.
"Tidak ada dokter. Terimakasih anda telah menyelamatkan hidup saya. Andai saja putraku masih lajang, aku akan menikahkan putraku denganmu, dokter."
Ucap Nyonya Zoya dengan nyinyiran pedasnya.
"Maaf nyonya Zoya, bukan saya yang telah menyelamatkan Anda, tapi menantu anda sendiri, dokter Eca. Jadi yang pantas mendampingi putra anda adalah dokter Eca."
Sahut dokter Shireen dengan tetap tersenyum pada pasiennya ini.
"Apa..? Mana mungkin dia menyelamatkan aku sementara dia sendiri saat ini hanya seorang istri pengangguran yang selalu menghabiskan harta putraku untuk kesenangannya."
Balas nyonya Zoya tidak percaya begitu saja pada pengakuan dokter Shireen.
__ADS_1
"Justru kasus penyakit nyonya yang begitu berat dengan kantung empedu yang sudah pecah.
Jika kantung empedu pecah, akan terjadi penyebaran infeksi pada anda dan nyawa anda tidak tertolong.
Sementara dokter di sini, tidak berani melakukannya karena cukup rumit dalam penanganannya pada penyakit yang anda alami.
Hanya satu-satunya dokter yang bisa kami andalkan adalah dokter Eca, walaupun dia bukan lagi dokter bedah di rumah sakit ini.
Dia rela menolong nyonya walaupun dalam keadaan hamil muda.
Usai menolong anda, ia mengalami keram perut yang luar biasa. Dan itu hampir membunuh bayi kembarnya. Aku terpaksa membohongi putramu kalau istrinya baik-baik saja, jika ketahuan yang sebenarnya oleh tuan Delvin, mungkin putramu enggan untuk menemuimu."
Ucap dokter Shireen membuat nyonya Zoya terbungkam dengan wajah terlihat sangat malu pada dokter Shiren.
Dokter Shireen pamit pada nyonya Zoya yang masih terlihat syok. Suaminya yang terlihat lelah masih tertidur di sofa panjang.
"Benarkah apa yang dikatakan oleh dokter Shiren kalau Eca yang telah menyelamatkan nyawaku..? Lantas kenapa sampai saat ini mereka belum datang membesuk aku...?" Gumam nyonya Zoya.
Cek...lek...
Pintu kamar inap VVIP milik nyonya Zoya di buka oleh Delvin. Si kembar dan baby Adam berhamburan masuk ke kamar nenek mereka.
Nyonya Zoya tersentak melihat kehadiran putra, cucu dan menantunya Eca. Wajahnya terlihat salah tingkah, tidak tahu mau ucapkan apa pada keluarga kecil putranya.
"Assalamualaikum nenek...!" Sapa si kembar serentak di ikuti baby Adam yang langsung naik ke tempat tidur mencium wajah neneknya.
Delvin dan Eca sangat heran dengan Baby Adam yang terlihat antusias pada neneknya padahal mereka baru pertama kali ketemu.
Si kembar mencium
punggung tangan nyonya Zoya yang terlihat terharu.
"Oh cucu-cucu Nenek...!" Ucap Nyonya Zoya sambil membelai kepala ketiganya yang tersenyum padanya.
"Nene akit apa..?" Tanya baby Adam.
"Sakit perut, sayang."
"Nene nda matan..? kata unda kalau nda makan akit peyut." Ucap baby Adam membuat neneknya tersenyum.
Eca menyalami ibu mertuanya lalu memeluk ibu mertuanya sambil meminta maaf.
"Sayang...! Harusnya ibu yang minta maaf sama kamu. Ibu menyesal telah membencimu secara buta.
__ADS_1
Ibu tidak pernah melihat kebaikanmu, ibu sangat menyesal telah mengabaikan mu selama ini karena mengikuti ego dan gengsi yang membuat ibu dan ayah sangat kesepian di hari tua kami, nak." Ucap nyonya Zoya penuh penyesalan.