
Pagi yang cerah, Alin bangkit dengan meregangkan otot-otot pahanya yang terasa kaku untuk kembali menyatu. Tubuh polosnya di biarkan saja terekspos oleh mata lelaki yang mengintip aksinya dengan senyum terbungkus di bawah selimut tebalnya.
"Apakah kamu sedang menggoda aku lagi, sayang?" Haidar turun dari tempat tidurnya hendak memeluk istrinya yang baru beberapa jam lalu di halalkan nya.
"Jangan mendekat! Karena kita harus ke bandara." Ucap Alin masuk ke kamar mandi membuat Haidar terkekeh.
"Cih..! Kenapa dua terlihat sangat takut. Padahal dia yang terus mengusai arena permainan."
Haidar menyusul ke dalam kamar mandi dan ikut nimbrung masuk ke dalam bathtub.
"Mau aku mandikan sayang...?"
"Tidak usah! Kamu akan memperlambat acara mandinya dengan terus menyiksaku."
"Yah paling sebentar saja, hitung-hitung buat awal sarapan pagi ku dengan ini."
Haidar menunjukkan dua puncak coklat muda yang menantangnya untuk dihisap.
"Tidak...! Ini saja rasanya sangat perih, pasti sudah lecet. Lidahmu seperti kucing." Sungut Alin makin membuat Haidar gemas dengan istrinya.
Keduanya akhirnya mandi bersama lalu mengakhirinya dengan cepat karena mereka harus sarapan dan segera ke bandara.
Saat keduanya sudah siap dengan penampilan terbaik mereka, Alin memperhatikan sebentar penampilan suaminya.
"Sangat tampan! Semoga mereka hanya mengagumimu bukan untuk mengejarmu." Sindir Alin dengan candaan ringan.
Keduanya menautkan tangan mereka dan membuka pintu kamarnya hendak menuju restoran dan langsung berangkat.
Saat membuka pintu, keduanya di kejutkan dengan kedatangan si kembar dengan membawa satu buket bunga dan sebuah kado.
"Selamat menempuh hidup baru mama, papa." Ucap si kembar kompak dengan mata berkaca-kaca.
Alin terpaku di tempatnya seraya mengambil bunga dari sang putra dan Ciky memberikan kado untuk papa sambungnya.
"Ciky mohon papa mencintai mama kami sepenuh hati."
Ucap Ciky lalu mengecup pipi Haidar ketika Ciky menarik kaosnya untuk menunduk.
Alin berlutut lalu memeluk putranya erat dan bergantian dengan Ciky.
"Maaf kami baru datang sekarang, mama!" Ucap Chiko.
__ADS_1
"Tidak apa sayang. Dengan begitu kita punya banyak waktu untuk ngobrol sebelum kami berangkat ke Eropa." Kata Alin.
"Kalian di antar siapa ke sini?"
"Sopir pribadi ayah. Pak Iwan." Sahut Ciky.
"Apakah ayah dan bunda kalian tahu kalian ke sini?" Tanya Haidar.
"Tentu saja, papa." Ucap Chiko.
"Apakah kalian sudah sarapan?" Tanya Alin.
"Belum! Kami takut paman dan mama keburu berangkat." Kata Chiko.
"Baiklah. Kita sarapan bersama." Ajak Haidar.
Bagi Alin hadiah yang terindah pernikahannya adalah cinta anak kembarnya yang lain tidak menjadi penting untuknya.
Rasanya saat ini ia ingin menghabiskan waktu sehari lagi untuk bersama si kembar, tapi ia tidak ingin lagi terlalu melibatkan emosinya untuk mengikat cinta anak kembarnya lebih ke dalam jiwanya.
Mereka seperti keluarga kecil bahagia duduk di restoran hotel milik Haidar. Pelayan datang menghidangkan menu sarapan untuk keempatnya.
Alin tidak segan menyuap makanan untuk Ciky, putrinya yang hampir kehilangan nyawanya karena dirinya.
"Restoran hotel ini sangat enak dari pada di restoran hotel yang pernah kami nginap." Ucap Ciky.
"Siapa dulu pemiliknya Ciky, papa Haidar." Puji Chiko.
"Terimakasih Chiko. Satu hal yang menjadi hotel ini diminati oleh member adalah makanannya yang sengaja di jaga kualitasnya." Ucap Haidar.
"Ya, kata chef Yana. Kalau mau membuat tamu mu terkesan berilah dua makanan yang enak, seumur hidupnya dia terus mengenangmu karena sudah memanjakan lidahnya." Ucap Ciky.
"Itu juga merupakan ajaran Rosulullah yang harus memuliakan tamu dengan hidangan yang nikmat." Ucap Haidar.
Berarti papa menjalankan Sunnah Rosulullah sebagai prinsip dari hotel ini." Timpal Chiko.
"Iya sayang! Apakah kalian mau tambah menu yang lain?" Tanya Haidar.
"Maunya sih di coba semua menu di sini papa, tapi perut kami tidak bisa menampung lagi." Ucap Ciky.
Haidar melirik jam di tangannya. Sudah saatnya mereka harus berangkat.
__ADS_1
Walaupun memiliki jet pribadi, Haidar sudah memperhitungkan perjalanan mereka ke Belanda harus sesuai dengan jadwal lintas penerbangan agar tidak bertabrakan dengan pesawat jet pribadi milik orang lain yang selalu antri di landasan pacu.
Ciky melirik papa sambungnya itu dan terlihat gelisah. Ia pun memberi kode pada Chiko untuk segera mengakhiri pertemuan mereka.
"Mama! Maaf kami tidak bisa antar mama ke bandara karena pagi ini ada acara keluarga ayah." Ucap Ciky bohong.
"Baiklah sayang. Tidak apa. Terimakasih sudah mau menemui mama di sini. Sampaikan salam mama untuk ayah Delvin dan bunda Eca. Mama akan menghubungi kalian begitu tiba di Belanda. Kalau libur, kalian bisa mengunjungi kami."
Ucap Alin menahan tangisnya yang sudah tercekat di tenggorokannya.
"Ya Allah ini sakit banget, di saat cinta kedua anakku mengalir apa adanya, justru perpisahan membuat kami harus menjauh lagi entah berapa lama." Batin Alin terasa makin sakit saat Ciky minta di peluk.
"Mama peluk Ciky mama!"
Alin tidak kuat lagi menahan tangisnya. ia menggendong tubuh putri kecilnya dan memeluknya erat.
"Maafkan kelakuan mama yang tidak terpuji pada kalian. Terimakasih sudah tumbuh sehat dan cerdas sampai saat ini. Hormatilah bunda Eca layaknya dia yang telah melahirkan kalian. Maafkan mama sayang!"
Ciky merenggangkan tubuhnya. Mengusap air mata ibunya.
"Kami sangat mencintaimu, mama. Tapi takdir tidak mengijinkan kita untuk hidup bersama.
Sampai kapanpun kaulah ibu kandung kami. Cinta kami tidak akan pernah berubah. Tapi ada ibu yang telah membesarkan kami dengan segenap jiwa raganya dan kami tidak bisa berpaling darinya walaupun darahmu mengalir dalam tubuh kami. Semoga bahagia dengan papa Haidar. Selamat jalan mamaku. I love you so much." Ucap Ciky mengecup pipi ibunya.
Kini giliran Chiko yang terlihat tegar di hadapan ibunya.
"Aku...aku ..aku tidak tahu harus mengucapkan kata apa yang terindah untuk perpisahan kita. Hanya satu hal yang aku ingin sampaikan kepada mama.
"Terimakasih sudah melahirkan kami ke dunia ini. Mungkin karena doa mama kami di pertemukan dengan ayah Delvin. Jaga diri mama. Semoga selalu bahagia."
Chiko memeluk ibunya erat dan mengecup kening Alin cukup lama.
"Papa Haidar. Tolong jaga maka kami dan buatlah dia bahagia." Ucap Chiko lalu mencium punggung tangan papa Haidar dengan takzim diikuti oleh Ciky.
Alin dan Haidar masuk ke mobilnya lalu mobil itu bergerak. Alin menangis sepanjang jalan dan Haidar memeluk istrinya dengan erat.
"Perpisahan ini sangat menyakitkan Haidar." Ucap Alin lirih.
"Kamu akan merindukan mereka dan tidak perlu kuatir lagi akan cinta tulus si kembar kepadamu." Ucap Haidar membelai rambut panjang istrinya lembut.
Mobil mewah milik Ciky dan Ciko sudah kembali lagi ke rumah orangtua mereka. Ciky yang lebih sensitif tidak bisa berhenti menangis saat berpisah dengan ibu kandungnya.
__ADS_1
"Mengapa perpisahan selalu saja menyakitkan." Batin Ciky.