
Eca masih mempertahankan keyakinannya bahwa ia bisa melewati masa kehamilannya tanpa di bawah ancaman medis oleh dokter Amel.
Delvin harus mengawasi istrinya selama dua puluh empat jam untuk memastikan kondisi Eca tetap dalam keadaan baik.
Sejak mendengar statement dari dokter Amel, Eca dan Delvin lebih banyak melakukan ibadah agar lebih dekat dengan Allah.
Setiap waktu Delvin harus mempersiapkan mentalnya dan juga jantungnya jika Eca mengalami drop.
"Eca! Ini sudah lewat satu Minggu, kenapa kita tidak ke rumah sakit saja untuk melakukan sesar atau menginap di rumah sakit, supaya kamu terus dipantau oleh dokter Amel."
Ucap Delvin sambil mengusap perut besar istrinya.
"Jangan terlalu kuatir Delvin! Aku masih bisa melewati waktu tiga Minggu lagi. Kalau sudah mencapai tepat sembilan bulan, aku pasti akan siap melakukan operasi sesar."
Ucap Eca me menenangkan Delvin.
"Apakah kamu tidak kuatir dengan dirimu dan bayi kita, sayang?"
"Aku sangat takut, kuatir, bingung sama sepertimu. Tapi aku tidak akan pernah menyerah karena ada Allah bersama kita. Dialah yang menciptakan manusia dalam rahim seorang ibu. Kenapa kita tidak meminta padaNya untuk kelangsungan hidup calon bayi kita? Gunakan jalur langit sebagai ikhtiar terakhir kita, sayang!"
Pinta Eca sambil mengusap air matanya.
"Aku sangat takut kehilanganmu Eca. Nafasku seakan ikut berhenti setiap kali aku merasakan kehidupan kalian berdua akan meninggalkan ku."
"Aku masih ingin hidup untuk mempertahankan kalian semua, kamu, si kembar dan juga anak ini. Aku tidak mau memberi peluang pada wanita manapun untuk mengambil alih tempat ku di hatimu."
Ucap Eca sambil tersenyum membuat Delvin merasa dicintai istrinya.
"Pegang janjimu itu sayang atau aku tidak akan memaafkanmu. Aku akan mengembalikan si kembar pada Alin kalau kamu tidak mau hidup untuk kami."
"Si kembar dan kamu segalanya bagiku. Aku tidak akan menukarkan kalian dengan apapun di dunia ini." Tegas Eca.
Adrenalin Eca cukup kuat untuk melawan penyakitnya. Namun Delvin terus membujuk istrinya untuk secepatnya melakukan operasi sesar demi mencegah hal yang terburuk yang akan terjadi.
"Sayang demi aku dan si kembar, lakukan operasi itu, Eca."
Pinta Delvin tak mau kehabisan kata.
"Ini bukan tentang operasi itu. Ini tentang melampaui semua itu, begitulah cara hal hebat tercapai. Bagaimana hal-hal yang sulit bisa tercapai jika seseorang mengambil resiko.
__ADS_1
Dari yang aku baca, kau lah persis orang yang aku butuhkan untuk mendukungku. Orang yang ku kira akan mengerti tentang ku. Karena kau adalah alasanku untuk membawa putra kita ke dunia ini.
Biarkan aku berjuang untuk melahirkan cintaku yang kau sudah tanam di rahimku. Aku butuh kesabaranmu untuk menunggu hasilnya bagaimana aku mampu memberikan hadiah terindah dalam hidupku yang bisa aku persembahkan untuk suamiku tercinta."
Ucap Eca sambil mengusap air matanya.
"Sayang! Rasa takut bisa membuat orang bisa tetap hidup. Alasannya itu heroik dan sangat menarik karena tak tahu apa yang akan dinantikannya. Karena kau bisa mengantisipasi tentang semua hal itu."
Ucap Delvin memberi semangat untuk Eca.
"Satu, dua, mungkin 5 persen. Mungkin operasi itu 60,%. Jika dokter akan melakukan operasi itu, maka ada peluang enam puluh persen, bahwa aku akan mati di atas meja operasi."
Gumam Eca membuat Delvin nampak pucat.
"Apakah maksudmu, operasi juga tidak membantu kalian berdua akan selamat?"
"Begitulah cara kerjanya, sayang di dunia medis. Hanya faktor keberuntungan dengan dokter yang menangani kasus setiap pasiennya bisa selamat dari maut."
Jantung Delvin kembali berdenyut kencang hingga lidahnya seakan sangat kering dan sulit untuk bernafas. Wajah itu terlihat kaku membayangkan apa yang akan terjadi dengan istrinya jika saatnya tiba.
Rasanya ia sangat menyesal telah menjadi seorang ayah dari anak yang akan dilahirkan oleh istrinya Eca. Jika bisa memilih, ia lebih mengutamakan keselamatan Eca dari pada memiliki anak dan akan membuatnya kehilangan istrinya.
Jelang persalinan Eca, istri dari Delvin ini harus di bawa ke rumah sakit untuk menunggu masa persalinannya yang akan di lakukan secara sesar.
Kesibukan Delvin yang lebih fokus pada Eca membuat si kembar harus bisa mandiri walaupun ada pelayan yang akan membantu menyiapkan semua kebutuhan si kembar.
Alin yang ingin memanfaatkan momen itu, menawarkan diri untuk merawat anak kembarnya.
Keintiman Alin dengan si kembar yang sekarang menginap di rumah orangtuanya Alin membuat si kembar mulai mempertanyakan niat baik ibu kandungnya ini.
"Kenapa Tante Alin begitu peduli pada kami sementara kami berdua tidak punya hubungan darah dengan keluarga Tante Alin dan bukan juga kerabat dekat ataupun kerabat jauh?"
Tanya Ciky begitu kritis saat Alin menyisir rambut panjangnya.
"Keluarga Tante sudah sangat dekat dengan keluarga orangtuanya kalian. Apa lagi bunda Eca pernah bekerja di rumah sakit keluarganya Tante Alin dan saat ini bunda kalian sedang menantikan adik baru kalian yang sebentar lagi akan lahir." Ucap Alin.
"Tapi kami bisa mengurus diri kami sendiri tanpa perlu dibantu Tante Alin karena kami sudah belajar untuk mandiri." Balas Chiko.
"Sayang! Saat kalian berada di rumah sendirian dengan pelayan, kalian hanya menanti kepulangan ayah dan bunda kalian saat mereka selesai bekerja.
__ADS_1
Tapi di saat bunda kalian sedang sakit, otomatis ayah kalian harus menemani bunda kalian dalam waktu yang tidak dapat di tentukan. Dan itu akan membuat kalian kesepian."
Imbuh nyonya Arini.
"Tapi kami lebih nyaman tinggal di rumah sendiri dari pada harus menginap di sini. Kami kangen dengan kamar kami sendiri." Balas Ciky.
"Emangnya kamar di sini nggak bagus?" Tanya Alea.
"Bagus, hanya saja tidak selengkap seperti kamar kami Tante Alea." Ucap Chiko.
"Maksudnya tidak lengkap itu apa, Chiko?"
"Kamar kami punya televisi yang sangat besar dan kulkas mini." Ucap Chiko.
"Baiklah besok Tante Alin akan belikan televisi dan kulkas mini untuk kalian."
Sahut Alin ingin menyenangkan hati di kembar.
"Tidak perlu repot-repot Tante Alin, dan jangan anggap perkataan kami sebagai bentuk tuntutan. Harusnya Tante mengerti bahwa ucapan kami ini adalah bentuk penolakan kami yang tidak betah menginap terlalu lama di rumah orang lain.
Kami hanya ingin pulang ke rumah ayah dan bunda walaupun saat ini kedua orangtua kami berada di rumah sakit." Balas Chiko sinis.
"Iya Tante Alin, kami tidak akan bisa tenang kalau kami belum tahu keadaan bunda kami saat ini. Kami butuh waktu untuk sendiri dan fokus dengan kesehatan bunda kami dan kami tidak butuh apapun dari kalian. Kami ingin pulang."
Pinta Ciky lalu mewek.
Nyonya Arini dan putri kembarnya saling menatap. Mereka juga tidak bisa lagi membujuk si kembar untuk menginap lagi walaupun di iming-iming apapun.
"Baiklah. Kalau begitu Tante Alin akan mengantarkan kalian pulang." Ucap Alin.
"Terimakasih Tante Alin." Ucap si kembar kompak.
"Dengan senang hati sayang."
Ucap Alin dengan penuh rencana jahat di otaknya.
Si kembar mengambil ransel milik mereka dan bersiap untuk pulang. Keduanya pamit kepada Oma Arini dan tantenya Alea.
"Sakitnya Eca membawa keberuntungan juga untukku."
__ADS_1
Senyum Alin terlihat menyimpan misteri.