IBU PENGGANTI UNTUK SI KEMBAR

IBU PENGGANTI UNTUK SI KEMBAR
45. Kesedihan Eca


__ADS_3

Polisi membahas tentang kecelakaan yang terjadi beberapa waktu lalu yang menimpa Delvin di ruas jalan tol.


"Apakah pelakunya sudah di proses secara hukum pak?" Tanya Delvin.


"Sepertinya kecelakaan yang terjadi pada anda diduga terencana oleh seseorang. Mereka melakukan tabrakan itu pasti atas perintah seseorang.


Apakah ada teman bisnis anda yang anda curigai tuan Delvin?" Tanya polisi Bactiar


"Apakah pelakunya mengakui itu perintah orang lain?"


"Kami masih mendalami kasus kecelakaan ini. Jika ini murni kecelakaan, hukuman untuk pelaku bisa berkurang, tapi kalau ini kasus pembunuhan berencana, maka kami harus mencari tahu sampai ke akar-akarnya." Ucap polisi Bactiar.


"Aku tidak pernah bermasalah dengan siapapun karena selama ini, hubunganku dengan teman bisnisku saling menguntungkan." Ucap Delvin.


"Baik. Kami hanya menyelidiki teman-teman bisnis anda yang mungkin anda curigai. Kalau begitu kami permisi." Ucap Polisi Bactiar.


"Terimakasih untuk kerja kerasmu pak. Aku sangat menghargainya. Semoga sukses menangkap penjahat sebenarnya!"


Delvin mengantar tamunya ke mobil. Dia sendiri yang menutup pintu mobil itu sampai mobil polisi itu bergerak meninggalkan mansion miliknya.


Eca yang berdiri membelakangi suaminya sempat mendengar percakapan suaminya dan polisi Bactiar. Ia pun merasa ada campur tangan Alin dalam kecelakaan menimpa suaminya.


"Mungkin Alin menyuruh orang lain untuk membunuhku, hanya saja orang suruhannya salah target, akhirnya rencananya apes."


Gumam Eca mulai waspada dengan Alin.


"Sayang ...? Kenapa bengong di situ?" Tegur Delvin saat Eca tenggelam dalam diamnya.


"A..iya sayang. Aku hanya memikirkan bagaimana kalau aku yang ada di mobil itu, mungkin kita akan kehilangan kesempatan untuk melihat baby." Eca mengusap perutnya.


"Allah telah melindungi kamu dan bayi kita, dan aku penggantinya. Aku sedang memikirkan perkataan polisi dan aku berharap satu nama ini bukan dia orangnya." Ucap Delvin terlihat ragu.


"Siapa yang kamu curigai Delvin?"


"Akh...l Lupakan saja. Tidak penting. Aku tidak mau memikirkannya. Kita serahkan saja semuanya pada polisi.


Kita harus yakin jika suatu kejahatan itu tidak akan pernah bertahan lama karena suatu saat nanti semuanya akan terungkap. Dan orang itu akan bertanggungjawab atas perbuatannya."


Ucap Delvin mengajak istrinya ke kamar mereka.


Setiap kali memasuki weekend, Alin sudah berada di mansion Delvin dengan pakaian bela dirinya. Ia juga membawa baju baru yang sama untuk anak kembarnya.


Si kembar begitu antusias dalam berlatih. Keduanya cepat mengikuti setiap gerakan dasar membuat Alin begitu bangga pada anak kembarnya yang cepat mengusai gerakan.


"Tante Alin!"


"Iya Chiko!"

__ADS_1


"Butuh berapa lama aku bisa mendapatkan sabuk hitam seperti Tante Alin."


"Kalau Ciky dan Chiko bisa ikut setiap turnamen untuk menguji kemampuan kalian dengan lawan yang imbang, kalian akan mendapatkan tingkat sabuk lebih cepat." Sahut Alin.


"Apakah harus melewati itu semua?"


"Tentu saja prosedurnya seperti itu."


"Baiklah. Kami siap ikut turnamen."


"Itu masih sangat panjang sayang. Nanti saja sayang kalau pertahanan kalian cukup kuat untuk siap menerima setiap serangan diantara kalian berdua." Imbuh Alin.


"Kami ingin mendapat secepatnya kenaikan sabuk." Ucap Chiko penuh semangat.


Alin terkekeh mendengar celotehan anak kembarnya yang membuat ia tidak berhenti tertawa. Ada saja candaan si kembar kalau sudah mengoceh.


"Astaga! Mereka pintar juga humor. Kalian punya bakat untuk menghibur orang lain. Ternyata bersama kalian tidak akan membuat aku setress. Semoga suatu nanti kembali kita bisa hidup bersama sayang. Mama akan usahakan itu."


Batin Alin sambil mengawasi si kembar mengulangi lagi setiap gerakan dasar dalam olahraga taekwondo.


...----------------...


Tidak terasa kehamilan Eca sudah memasuki usia delapan bulan. Eca rutin memeriksakan kandungannya ke dokter.


Tentu saja Eca tidak dibiarkan sendiri setiap kali ada jadwal konsultasi dengan dokter kandungannya. Delvin dengan setia mendampingi sang istri.


Dokter Amel merasa curiga dengan Eca ketika mengetahui Eca baru pertama kali mengandung dan akan melahirkan bayi pertamanya.


"Dokter Eca..!"


"Iya dokter!"


"Apakah saya boleh bertanya sesuatu yang sifatnya pribadi?"


"Silahkan dokter!"


"Apakah si kembar adalah anak kandungmu?"


Eca sudah mengerti arah pembicaraan dokter Amel yang berkaitan dengan rahimnya. Eca menarik nafasnya dalam sambil melirik suaminya. Delvin setuju agar Eca harus berkata jujur.


"Aku hanya ibu sambung bagi si kembar."


"Baik. Aku tidak akan menanyakan alasannya karena pengakuanmu sudah cukup membantuku. Pintu rahimmu menunjukkan bahwa kamu baru pertama kali mengandung."


Ucap dokter Amel sambil melakukan USG dari dalam untuk mengetahui perkembangan janin Eca.


"Apakah ada masalah dokter dengan kandunganku?"

__ADS_1


"Ada tumor yang bersarang di rahimmu sebesar biji kenari. Tumor ini tidak menganggu bayimu tapi akan mengancam jiwamu."


Deggggg...


"Lantas apa yang harus kami lakukan dokter?"


"Mengeluarkan bayimu secepatnya sebelum tumor itu membuat kamu tidak mampu bertahan hingga bisa melahirkan bayimu."


"Apaaa ...? Apakah tidak bisa menunggu aku melahirkan nanti dokter?"


"Tidak bisa dokter Eca. Bukankah aku sudah bilang, kamu akan kehilangan bayimu karena tumor itu akan menyerang tubuhmu sebelum kamu melahirkannya."


Ucap dokter Amel penuh penekanan pada kalimatnya.


Eca terlihat syok dengan Delvin yang harus cepat mengambil keputusan.


"Baik dokter. Kalau begitu lakukan operasi sesar secepatnya!" Pinta Delvin membuat Eca makin syok.


"Bayiku terlalu kecil untuk melahirkan secara prematur Delvin. Aku tidak mau mengorbankan bayiku demi jiwaku."


"Kita masih punya kesempatan untuk punya anak lagi sayang." Pinta Delvin memberi pengertian pada istrinya.


"Tidak! Aku mau anak ini lahir. Aku tidak mau anak yang lain.Aku melewati rasa mual setiap saat. Membawanya ke sana kemari dengan mengurangi aktivitas ku.


Aku rela vakum menjadi dokter hanya untuk menikmati peranku sebagai ibu agar bisa melihat puteraku lahir ke dunia ini, Delvin. Bagaimana mungkin sudah sebesar ini kamu meminta aku untuk mengorbankan bayiku Delvin?"


"Dokter Eca! Usianya juga sudah cukup untuk bayimu lahir secara prematur. Dengan begitu nyawa kamu bisa selamat."


Tukas dokter Amel.


"Tidak! Aku ingin melahirkannya secara normal. Hanya tinggal sebulan lagi, itu tidak akan lama. Aku lebih tahu kondisiku. Aku bisa melewatinya. Aku yakin Allah menolongku. Tolong jangan memaksa aku dokter Amel!"


Ucap Eca lalu meninggalkan poli kandungan tersebut.


"Yakinkan dokter Eca untuk segera melakukan operasi sesar atau anda akan kehilangan mereka berdua!" Titah dokter Amel.


Delvin segera menyusul istrinya setelah mengambil copy resep dari dokter Amel.


"Sayang! Aku mohon turuti kata-kata dokter demi kebaikan kita bersama. Aku tidak mau kehilanganmu." Pinta Delvin.


"Apakah kamu tidak percaya kepadaku Delvin? Aku tidak ingin membahayakan anak ini dan hidup dalam rasa bersalah seumur hidupku karena tidak mampu menjaganya dengan baik."


"Dia tidak akan meninggal karena persalinan dilakukan dengan sesar dan akan ditangani oleh dokter secara profesional."


"Kamu mau memilih percaya kepadaku atau dokter Amel? Jika kamu memaksaku untuk melakukan sesuai perintahnya. Kami akan mati bersama!" Ancam Eca membuat Delvin begitu Kalut.


Duaaarrr...

__ADS_1


__ADS_2