IBU PENGGANTI UNTUK SI KEMBAR

IBU PENGGANTI UNTUK SI KEMBAR
51. Cinta Tanpa Batas


__ADS_3

Ruang tunggu keluarga pasien itu tampak senyap menanti sebuah kabar yang tak kunjung juga berakhir di dalam sana.


Eca menahan kandung kemihnya yang sudah hampir meledak di bawah sana karena penanganan operasi paru-paru Ciky perlu kehati-hatian.


Usai pembersihan dari serpihan pasir halus dari paru-paru Ciky, kini tinggal menjahit kembali lapisan otot daging sebagai pelindung paru-paru itu dengan tali nilon khusus untuk menjahit paskah operasi pasien.


Selebihnya, Eca menyerahkan kepada tim dokter lainnya untuk merapikan keadaan Ciky. Sementara Eca harus ke kamar mandi untuk membuang air seni yang sudah lama tertampung di kandung kemihnya.


Eca menangis sendirian di kamar mandi karena tidak menyangka kalau Alin tega menyakiti putrinya.


"Jika terjadi sesuatu pada putriku, aku tidak akan memaafkan kamu Alin. Kamu hanya bisa melahirkan mereka, tapi kamu tidak tahu rasanya merawat mereka hingga tumbuh besar dan itu adalah pengorbanan yang tidak bisa kamu gantikan dengan apapun."


Gumam Eca lirih.


Sesaat kemudian, Ciky segera di pindahkan ke kamar inap dan Eca mengikuti brangkar putrinya yang di dorong oleh dua orang suster.


"Bagaimana operasi Ciky, sayang?" Tanya Delvin cemas.


"Dia akan segera pulih. Sesaat lagi dia akan sadar." sahut Eca.


"Oh syukurlah. Kamu telah menyelamatkan hidupnya."


Delvin memeluk istrinya karena keadaan mereka kembali tenang.


Saat keduanya ingin berciuman, Ciky mengerjapkan matanya sambil memanggil Eca. Keduanya akhirnya mengurungkan niat mereka untuk berciuman.


"Bunda!"


"Alhamdulillah, sayang! Akhirnya kamu bisa sadar. Kami semua merindukanmu."


Ucap Eca penuh haru. Delvin mengecup kening putrinya.


"Maafkan ayah sayang telah lalai menjaga kalian."


"Tidak apa ayah. Semua yang terjadi bukan kesalahan ayah. Mungkin sudah saatnya Ciky harus tahu kalau Tante Alin adalah mama kandung Ciky dan Chiko. Tapi cinta Ciky pada bunda adalah cinta tanpa batas apapun yang menghalangi cinta kita. Terimakasih telah merawat kami seperti anak kandungnya bunda."


Ucap Ciky sambil menitikkan air matanya.


"Maafkan bunda dan ayah, sudah merahasiakan hal besar ini pada kalian. Apapun yang di katakan mama Alin jangan semuanya kamu percaya kecuali hanya satu kebenaran darinya kalau dia adalah ibu kandung kalian." Ucap Eca tegas.


"Aku lebih percaya pada bunda karena ketulusan cinta bunda tidak ada kebohongan di dalamnya kecuali untuk melindungi kami. Aku mencintaimu bunda."


Eca memeluk putrinya penuh kasih di susul ayahnya Delvin.


"Ayah, bunda! Ciky mau lihat adik bayi." Pinta Ciky karena belum sempat melihat adiknya.


Tidak lama kemudian, Chiko dan dokter Shireen masuk membawa bayinya Eca dan memberinya pada Eca.


"Dia sangat mirip dengan aku." Ucap Chiko bangga."


"Matanya lebih mirip denganku, Chiko!" Sahut Ciky tidak mau kalah.

__ADS_1


"Yang jelas adik bayi sangat mirip dengan ayah." Delvin nggak mau ketinggalan berdebat dengan anak kembarnya.


"Eca hanya bisa terkekeh mendengar keluarganya berebutan untuk memantaskan wajah mereka dengan putranya.


Kebahagiaan keluarga kecil itu kembali lengkap.


"Kita beri nama adik bayi yaitu Adam."


"Kenapa harus Adam bunda?"


"Karena Allah yang menamai nama pertama manusia di muka bumi adalah Adam."


"Semoga adik bayi bisa menjadi pemimpin negara suatu saat nanti."


Ucap Ciky dikuti kata aamiin oleh yang lainnya.


Beberapa hari kemudian, Ciky sudah diperbolehkan pulang oleh pihak dokter.


Kehidupan mereka kembali lengkap tanpa ada gangguan orang lain karena sekarang Delvin lebih protektif pada keluarganya.


...----------------...


Memasuki hari ke tujuh, pencarian terhadap Alin harus dihentikan oleh tim SAR karena di anggap status Alin sudah meninggal.


Tapi itu tidak berlaku untuk seorang Haidar yang masih berusaha untuk mencari sang pujaan hati.


Haidar sangat yakin Alin berada di suatu tempat yang daerahnya tidak terjangkau oleh tim SAR dan juga anak buahnya.


Dengan bermodalkan keyakinan dan perlengkapan medis serta perbekalan secukupnya, Haidar menelisik hutan karena ia yakin Alin pasti sudah masuk ke dalam hutan untuk mencari makanan atau sekedar berteduh.


Tidak tanggung-tanggung, Haidar membawa alat pengeras suara untuk memanggil Alin agar suaranya bisa terjangkau oleh wanita itu.


Benar saja, di dalam hutan sana, Alin yang sedang berjuang untuk bertahan hidup di tengah kakinya yang terluka tidak bisa keluar dari hutan itu.


Gadis itu hanya mengandalkan air hujan dan buah pisang yang ia temukan di dalam hutan itu yang sangat banyak pohon pisangnya.


Pakaian yang compang-camping dengan tubuh yang sangat dekil lebih pantas di sebut wanita gila.


Mendengar ada orang yang memanggil namanya Alin segera bangkit dan berjalan menuju arah pantai.


Karena keadaan kakinya yang sangat sakit membuat ia begitu lamban untuk melangkah ke pantai.


"Aliinnnnn...! Apakah kamu mendengarkan aku? Aku Haidar. Aku datang menjemputmu sayang" Teriak Haidar.


"Haidar...!" iya itu suaranya Haidar. Tapi bagaimana bisa aku tiba di pantai sebelum ia melihat aku dan meninggalkan tempat ini."


Gumam Alin begitu frustrasi.


Sementara di pantai sana, kapal milik Haidar bergerak perlahan menyisiri pantai.


"Apakah kita harus lanjut lagi bos?"

__ADS_1


"Hmm!"


Alin tidak kehilangan akal. Ia melihat di atas pohon banyak burung gagak yang sedang istirahat bersama anak-anaknya pasti sudah bisa terbang


Ia mencari kayu yang lebih besar untuk menganggu ketenangan burung-burung itu agar terbang.


"Hanya ini satu-satunya caraku agar bisa ditemukan oleh Haidar."


Gumam Alin.


Apa yang dilakukan Alin berhasil mendapatkan perhatian Haidar karena suara burung gagak begitu nyaring terbang bersamaan ke udara membentuk formasi.


"Putar balik kapalnya!"


Titah Haidar pada anak buahnya ke tempat burung gagak yang baru saja terbang meninggalkan sarangnya.


"Alin ..! Aku sudah tahu tempatmu. Tunggu aku di situ sayang..!"


Ucap Haidar melalui pengeras suara.


Haidar meminta anak buahnya untuk tetap di kapal sambil mengawasinya menjemput Alin.


Ia membawa perlengkapan yang akan dibutuhkan kekasihnya jika mereka sudah bertemu.


"Alin... bicaralah! Aku sudah dekat ke arahmu."


Ucap Haidar menyongsong Alin.


"Haidar... Aku di sini...!"


"Alin...!"


Wajah Haidar sangat berbinar mendengar suara wanitanya.


Haidar menebas beberapa pohon liar yang menghalanginya. Alin begitu senang dengan kedatangan Haidar walaupun belum melihat sosok tampan itu.


Tapi suara tebasan pohon sudah terdengar lebih dekat ke arahnya.


"Haidar...! Apakah kamu bersama orang lain?"


"Aku hanya sendiri. Yang lain tunggu di kapal." Teriak Haidar.


"Syukurlah. Pakaianku sangat tidak layak untuk menutupi tubuhku. Aku tidak mau ada yang melihatku seperti ini."


"Aku membawa apapun yang kamu butuhkan, sayang!"


Haidar menghentikan langkahnya saat melihat sosok yang dicintainya sangat menyedihkan.


"Haidar...!" Ucap Alin haru.


Haidar tersentak dengan melebarkan matanya saat ia melihat seekor ular kobra tepat di atas kepala Alin yang siap mematuk Alin.

__ADS_1


"Jangan bergerak Alin....!"


Alin menegang di tempatnya berdiri mendengar desiran suara ular kobra.


__ADS_2