IBU PENGGANTI UNTUK SI KEMBAR

IBU PENGGANTI UNTUK SI KEMBAR
48. Penyesalan Alin


__ADS_3

Teriakan pilu itu menggema di bibir pantai menghampiri ombak ganas untuk mencari si buah hati. Alin seperti orang gila yang tidak bisa lagi menggunakan akalnya untuk ikut menyeburkan tubuhnya mencari Ciky dalam kepanikan.


"Sayang..! Maafkan mama Ciky!" Jerit Alin penuh penyesalan.


Sementara Ciky yang berusaha berenang untuk mencapai bibir pantai namun tubuhnya lagi-lagi dibawa ombak laut ke tengah. Alin yang sudah bisa melihat tubuh putrinya yang sedang melawan arus berusaha untuk menolong.


Sementara orang-orang yang ada di pantai itu hanya bisa menyaksikan dari jauh tanpa berani ikut menolong mengingat ombak laut seperti mengamuk dengan alam untuk menunjukkan kekuasaannya di tempatnya berada.


"Sayang, mama akan menjemputmu. Tolong bertahanlah. Jangan menjauhiku!"


Teriak Alin sebisa mungkin agar putrinya mendengarkannya.


Entah berapa banyak air laut yang mereka teguk ditengah upaya menyelamatkan diri, namun keinginan hidup memotivasi mereka untuk terus berjuang.


Alin akhirnya sudah hampir mendekati putrinya namun sayang Ciky yang tidak bisa lagi berenang karena kelelahan harus menenggelamkan dirinya karena tidak kuat lagi untuk bertahan.


"Cikyyyyyy.....Noooo!"


Sentak Alin ketakutan putrinya tenggelam.


Alin melakukan penyelaman mencari tubuh putrinya sambil memohon agar putrinya tetap hidup. Pakaian tidur Ciky yang berwarna putih memudah Alin masih bisa melihat putrinya di kedalaman laut.


"Ya Allah! Hukumlah aku! dan ku mohon selamatkan kan putriku."


Ucap Alin akhirnya mendapati tubuh putrinya yang terus tenggelam.


Alin dengan cepat menarik tubuh Ciky ke atas permukaan laut. sementara dari atas sana helikopter milik tim SAR sudah berada di atas sana hendak menolong keduanya.


Mereka sudah bisa melihat Alin yang berhasil muncul ke atas permukaan laut sambil menyangga tubuh putrinya dengan satu tangannya.


Di Jakarta, Nyonya Arini yang sedang berjalan menuju kamar inap Eca menerima telepon dari pihak resort tempat Alin menginap, mengabarkan jika putrinya berada dalam bahaya.


"Selamat sore nyonya!"


"Sore!"


"Apakah benar ini keluarga dari nona Alin?"


"Iya saya ibunya. Ada apa, tuan?"


"Saat ini putri anda sedang berada dalam bahaya karena menyelamatkan seorang gadis kecil di tengah laut dan tim SAR sedang menolong keduanya.


Sementara kondisi alam tidak bersahabat."


"Apaaaa .. ??" Pekik nyonya Arini begitu syok.


"Maafkan kami nyonya! Kami sudah menghubungi polisi."


Ucap manajer hotel tersebut sambil menceritakan kronologinya.


"Apakah mereka sudah selamat dari bahaya?"


Tanya nyonya Arini yang saat ini sedang membesuk cucunya Chiko di rumah sakit.


"Masih dalam proses nyonya!"

__ADS_1


"Tolong kabari saya terus untuk perkembangannya, Pak!"


"Baik nyonya. Kami sedang memantau hasilnya."


"Terimakasih!"


Nyonya Arini melangkah dengan cepat menuju kamar inap VVIP milik Eca, di mana cucunya Chiko berbagi kamar dengan bundanya itu.


Tanpa permisi, nyonya Arini langsung membuka pintu kamar itu dan mendapati Delvin yang sedang menunggu keluarganya spontan berdiri.


"Nyonya Arini!"


Delvin menghampiri nyonya Arini hendak Salim, namun nyonya Arini tidak ingin berbasa-basi lebih lama lagi dengan Delvin karena dia harus segera menyampaikan berita buruk itu.


Chiko yang sudah merasa baikan menatap keduanya yang terlihat sedang serius bicara sesuatu dengan setengah berbisik.


"Nak Delvin! Bisa kita bicara sebentar di luar?"


Delvin mengangguk cepat lalu keluar bersama nyonya Arini.


"Ada apa nyonya?"


"Aku mohon maaf harus menyampaikan kabar buruk ini padamu, nak Delvin."


Ucap nyonya Arini dengan mata berkaca-kaca.


"Apakah Ciky sedang sakit?"


"Ciky tenggelam di laut Bali dan saat ini sedang diselamatkan oleh tim SAR."


"What...? Bagaimana bisa Ciky saat ini tiba-tiba berada di Bali, nyonya?"


Ucap nyonya Arini dengan cepat.


"Innalilahi wa innailaihi rojiuun."


Tubuh Delvin seketika limbung hingga bersandar dibalik dinding kamar Eca karena terlalu syok.


Nyonya Arini juga merasa hal yang sama dengan tubuh renta nya tak sanggup menanggung beban ini.


Dokter yang hendak berkunjung ke kamar pasien lainnya melihat kedua orang yang mereka kenal dekat ini, menghampiri keduanya.


"Ada apa nyonya Arini, tuan Delvin...?" Tanya dokter Shireen.


Tanpa ingin menjawab pertanyaan dokter Shireen, nyonya Arini meminta dokter Shireen untuk membawanya ke ruang kerja putranya dokter Gaes.


Sementara Delvin berusaha bangkit berdiri kembali ke kamarnya menemui Eca yang masih terbaring koma.


"Apa yang harus aku lakukan dalam situasi seperti ini. Ya Allah selamatkan putriku dari maut dan berikan hukuman setimpal pada perempuan laknat itu."


Batin Delvin yang hanya bisa menghubungi orang-orangnya di Bali untuk melihat keadaan putrinya.


Delvin menceritakan keadaan putrinya sebatas yang ia ketahui dari nyonya Arini pada anggotanya yang ada di Bali.


"Kami juga mendengar kabar itu Tuan, tapi kami tidak mengetahui kalau itu putri anda. Baiklah kami akan segera ke lokasi kejadian." Ucap Bruno yang jago berselancar di ombak laut itu.

__ADS_1


"Nona! Bertahan di sini sebentar karena teman saya akan datang menolong anda dengan helikopter yang satunya lagi."


Ucap anggota tim SAR pada Alin.


"Baik pak. Yang penting selamatkan dulu putri saya karena dia sempat tenggelam."


Ucap Alin yang sedang membantu memasang alat pengaman di tubuh Ciky.


Anggota tim SAR memberi kode pada temannya untuk menarik mereka ke atas helikopter.


"Tuan! Aku akan menunggu temanmu datang menolongku!"


Teriak Alin mengalahkan deru suara helikopter.


Tim SAR berhasil menyelamatkan tubuh Ciky dan langsung terbang menuju rumah sakit terdekat.


Sementara Alin yang tidak kuat lagi berenang karena kakinya juga sudah mati rasa.


Hari mulai gelap, langit mulai mengeluarkan awan hitam yang sangat menyeramkan dengan petir mulai memperlihatkan cahaya bidikannya.


Gemuruh langit menggelegar angkasa hingga bumi di buatnya bergetar. Tidak lama butiran hujan mulai turun dengan derasnya disertai angin kencang menari indah di atas permukaan laut.


Seonggok tubuh jenjang nan cantik bergidik ngeri menerima hukuman alam yang saat ini sedang mengadilinya.


Tidak ada satu orangpun yang berani berdiri di pantai dengan pandangan mata mereka yang sangat gelap ke arah laut sana, di tambah hujan yang makin deras membuat mereka berlari menyelamatkan diri ke tempat tujuan mereka masing-masing.


Alin masih bertahan dengan segenap jiwanya menunggu kedatangan bala bantuan yang dijanjikan seorang anggota tim SAR yang menolong putrinya tadi.


Debat pun terjadi diantara anggota tim SAR yang tidak berani menyelamatkan Alin ditengah cuaca yang tidak mendukung untuk menyelematkan ibu kandungnya si kembar itu.


"Kita tidak bisa menyelamatkan gadis itu karena medan yang sangat sulit di jangkau. Helikopter akan jatuh di tengah cuaca seperti ini, jika nekat menyelamatkan nyawa gadis itu"


Tolak anggota tim SAR yang tidak mau mempertaruhkan nyawa mereka demi menyelamatkan Alin.


"Tapi kita tidak mungkin membiarkan gadis itu menunggu kelamaan di laut sana ditengah cuaca seperti ini."


Ucap ketua tim SAR itu pada anggotanya yang tidak bergeming sedikitpun di markasnya.


"Kami tidak mau mengambil resiko pak. Kami rela di hukum anda dengan cara apapun karena kami juga punya keluarga yang juga menunggu kami pulang."


Ucap anggotanya membuat bos-nya hanya bisa pasrah.


"Ya Allah! Ampuni aku..ampuni hamba-Mu yang hina ini!"


Teriak Alin penuh penyesalan lalu tidak bisa lagi bertahan di atas permukaan laut. Ia akhirnya tenggelam perlahan menuju dasar laut.


Di rumah sakit, para dokter sedang menangani kondisi Ciky dengan tubuh gadis itu yang makin lemah. Mereka menguras perut gadis kecil itu dari banyaknya air laut yang ia minum.


"Dokter Dewi! denyut nadi anak ini makin melemah. Paru-parunya kebanyakan kemasukan air laut. Apa yang harus kita lakukan?"


Tanya dokter Amanda pada rekannya.


"Jangan biarkan anak ini mati atau kita akan menyesal seumur hidup."


Ucap dokter Dewi tidak tega melihat keadaan Ciky.

__ADS_1


Mereka tetap berusaha menolong Ciky dengan segala upaya medis.


"Detak jantungnya juga mulai melemah dan mungkin kita akan kehilangan anak ini." Ucap dokter Dewi sedih.


__ADS_2