IBU PENGGANTI UNTUK SI KEMBAR

IBU PENGGANTI UNTUK SI KEMBAR
54. Tidak Ingin Bertemu


__ADS_3

Delvin menjemput lagi si kembar di rumah sakit. Suami dari Eca ini hanya ingin membawa pulang anak-anaknya setelah menolong ibu kandung mereka. Dokter Gaes tidak bisa lagi menahan anak-anak ini lebih lama tinggal di rumah sakitnya.


Si kembar sudah rapi berpakaian hendak pulang ke rumah mereka. Mereka juga sudah merindukan bunda Eca dan juga adik bayinya.


Saat hendak pulang, tiba-tiba Haidar memanggil keduanya.


"Chiko, Ciky!"


Dua anak itu menghentikan langkahnya. Haidar menghampiri keduanya tapi sebelumnya ia menyapa terlebih dahulu Delvin dan mengucapkan terimakasih pada ayah kandung si kembar karena mengijinkan si kembar membantu menyelamatkan kaki Alin.


"Chiko, Chiky! Maaf sayang, Mama Alin ingin bertemu dengan kalian berdua. Apakah kalian mau bertemu dengannya sesaat saja..?" Pinta Haidar berdiri sejajar dengan kedua calon anak sambungnya.


Ciky dan Chiko saling menautkan tangan mereka dan berkata,


"Kami hanya datang untuk menolongnya bukan untuk bernostalgia dengannya. Maafkan kami paman! Kami tidak punya urusan lagi dengan wanita itu. Kami sangat merindukan bunda Eca karena tempat pulang kami adalah rumah ayah kami, ayah Delvin."


Ucap Ciky tenang namun kata-katanya sangat menghanyutkan.


Haidar tidak bisa berkata apa-apa lagi kecuali hanya bisa memaklumi sikap si kembar yang moodnya suka berubah-ubah setiap saat.


Delvin hanya mengulum senyum kepuasan karena ia tidak ingin anak-anaknya dekat dengan ibu kandung mereka.


"Maafkan aku Haidar! Kamu dengar sendiri si kembar menolak untuk bertemu dengan ibu mereka." Ucap Delvin sambil menipiskan bibirnya.


"Tidak apa Delvin...! Aku mengerti karena bukan perkara mudah bagi mereka memaafkan begitu saja perbuatan Alin pada mereka."


Si kembar hanya salim pada Haidar. Lalu melambaikan tangan mereka.


"Goodbye uncle! Good luck!"


Haidar mengangguk melepaskan kepergian si kembar. Ia kembali lagi ke kamar Alin untuk melayani gadis itu.


Wajah Alin nampak kecewa saat melihat Haidar datang sendiri tanpa si kembar.


"Apakah mereka menolak bertemu denganku Haidar?"

__ADS_1


"Mereka bukan menolak tapi anak-anak itu kelelahan karena semalaman membantu dokter dengan menuntun tim dokter melakukan operasi pada kakimu.


Jadi, ku mohon jangan salah paham dan berkecil hati pada si kembar."


"Jadi mereka mendampingi tim dokter juga untuk melakukan operasi pada kakiku?"


"Iya sayang, karena dokter belum beberapa paham dengan metode baru yang diterapkan si kembar untuk membedah kakimu yang hampir di amputasi kalau bukan mereka datang tepat waktu semalam, sayang."


Ucap Haidar agar calon istrinya ini merasa dicintai anak-anaknya.


"Benarkah? Mereka melakukan ini untukku? Mereka rela begadang demi menyelamatkan kakiku..?" Suara Alin terdengar parau karena merasa sangat terharu dengan perhatian anak kembarnya.


"Iya sayang, kalau bukan karena cinta, lalu sebutan apa lagi yang pantas disematkan oleh mereka untukmu dari si kembar? Mereka mencintaimu dengan cara mereka sendiri dan jangan pernah pesimis dengan cinta mereka, tapi aku juga berharap jangan memaksakan kehendak mu lagi pada si kembar! Biarkanlah mereka menyampaikan perasaan mereka dengan tindakan nyata tanpa paksaan darimu."


Air mata Alin tumpah ruah, dokter Gaes yang baru masuk melihat keadaan adiknya lalu menyerahkan rekaman video selama operasi berlangsung pada Alin.


"Ini bukti cinta anak-anak padamu. Setelah itu aku harap jangan berbuat bodoh lagi pada si kembar atau Delvin akan menjauhkan mereka darimu."


Ucap dokter Gaes menasehati adiknya yang keras kepala ini.


Alin menerima tablet milik kakaknya dengan rasa haru.Ia menyaksikan setiap adegan di mana dirinya menjadi tokoh utama di rekaman itu.


"Kalau bukan karena anda adalah ibu yang telah melahirkan kami dengan susah payah, kami tidak akan berpikir keras dan meminta pertolongan Allah untuk diberikan petunjuk agar bisa menolong mu dengan menyelamatkan kakimu yang pernah menopang perutmu yang besar bagaimana anda menjaga kami hingga kami lahir ke dunia ini.


Karena kau lah ibu kami yang memiliki surga di telapak kaki mu untuk kami bisa mengabdi padamu, maka hiduplah untuk kami wahai ibuku dan maafkan kami yang mengingkari mu sebagai ibu kandung kami."


Kalimat indah itu membuat tangis Alin pecah. Ia meraung keras sambil memeluk tubuh Haidar. Hatinya sangat sakit seakan ada bongkahan batu besar menindih ulu hatinya. Kalimat yang menyentuh.


"Aku adalah ibu kandung yang jahat. Aku tidak pantas untuk bersama mereka. Aku tidak akan lagi menganggu hidup mereka Haidar! Aku cukup tahu cinta mereka padaku. Bawa aku pergi jauh dari mereka, Haidar! Aku tidak ingin lagi melihat mereka. Hanya Eca yang pantas mereka miliki." Ucap Alin sesenggukan.


"Iya sayang...! Setelah menikah kita akan tinggal di Eropa. Kita akan mulai hidup baru di sana. Kamu akan melahirkan anak kembar yang banyak. Kita akan hidup bahagia dan melupakan apa yang pernah terjadi." Ucap Haidar menyemangati kekasihnya.


"Aku mencintaimu, Haidar! Kamu adalah tempat terakhir aku kembali setelah lama bertualang mendapatkan kembali cinta yang hilang."


Ucap Alin masih saja terisak.

__ADS_1


"Aku rela menunggumu hanya untuk mendapatkan cinta dan ragamu kembali padaku. Aku sangat mencintaimu Alin. Menikahlah denganku wahai gadisku. Aku melupakan setiap kesalahanmu karena cintaku mampu memaafkan semua kesalahanmu itu."


Keduanya saling berciuman, saling menyalurkan perasaan cinta mereka masing-masing.


...----------------...


Tiga bulan kemudian, Alin dan Haidar mempersiapkan pernikahan mereka yang hanya tinggal seminggu lagi.


Dokter Shireen memastikan bahwa kaki Alin sudah menyatu kembali dengan daging otot yang lain tapi implannya harus di ganti tiap lima tahun sekali agar tidak terjadi infeksi nantinya.


Alin sangat semangat menyambut hari bahagianya ini. Berbagai macam atribut yang akan ia kenakan di hari bahagianya itu di teliti lagi hingga tiga kali agar tidak terlewatkan olehnya.


Namun ada yang mengganjal di hatinya. Dua undangan khusus untuk pasangan Delvin dan Eca serta anak kandungnya yang ia undang khusus buat si kembar.


"Apakah mereka akan memenuhi undangan pernikahanku? Apakah mereka akan datang?"


Hati Alin bertanya-tanya sebelum menyebarkan undangan itu yang di kirim pada orang-orang tertentu saja sementara yang lain di undang melalui pesan elektronik.


Memasuki masa pingitan, Haidar sudah di larang untuk tidak bertemu lagi dengan Alin sampai hari akad nikah berlangsung.


Haidar tidak sanggup menahan gejolak kerinduannya agar bisa bertemu lagi dengan Alin. Pria tampan itu sedikit merengek-rengek pada Alin agar bisa melakukan video call.


"Tinggal empat hari lagi sayang kita akan bertemu di pelaminan."


Ucap Alin menahan tawanya saat berbincang di telepon dengan Haidar.


"Hanya sebentar saja sayang. Itu tidak lama."


"Aku tahu, Haidar! tapi ada adat istiadat setempat yang harus kita hargai. Tidak ada suatu ketetapan yang tidak akan membawa manfaat. Aku harap kamu bisa bersabar." Ucap Alin.


"Yah, nasib jadi calon mempelai pria selalu saja tersiksa seperti ini. Baiklah. Aku tidak akan memaksa kamu lagi."


Ucap Haidar lalu memutuskan sambungannya secara sepihak.


"Uhhh...! Ngambek nih ye..!"

__ADS_1


Alin tergelak sendiri lalu kembali teringat akan anak-anaknya.


"Akankah si kembar datang ke pernikahanku. Ya Allah aku mohon anak-anakku tidak menolak bertemu denganku karena di hari yang sama aku akan meninggalkan negara ini untuk mulai hidup baru bersama suamiku. Semoga Engkau mengabulkan permohonanku ini ya Allah!" Pinta Alin penuh harap.


__ADS_2