
Eca sedang menjalani operasi sesar saat ini. Sudah tiga jam lebih Delvin menunggu dengan gelisah kondisi istrinya di dalam ruang operasi namun tidak ada yang bisa ia lakukan selain berdoa.
Si kembar yang baru pulang sekolah langsung menemui ayah mereka di temani Alin yang sedang berperan menjadi ibu yang baik untuk si kembar.
Bukan hanya si kembar yang menjadi incaran Alin, tapi ia juga bersikap manis di hadapan Delvin agar ayah dari anak-anaknya itu terkesan kepadanya.
Walaupun usaha Alin begitu keras untuk mendapatkan perhatian Delvin, namun sedikitpun Delvin tidak tersentuh niat baik Alin.
"Ayah! Apakah adik bayi kami sudah lahir?"
Tanya Ciky sambil duduk di pangkuan ayahnya.
"Belum sayang! Dari tadi ayah sedang menunggu kabar bunda. Kita doakan saja semoga bunda melahirkan adik bayi dalam keadaan sehat dan bunda selamat."
"Aaamiin...!"
Chiko terlihat lebih pendiam dan tidak ingin menanyakan Apapun kepada ayahnya. Ia terus menatap lampu yang sedang menyala di depan kamar operasi menandakan operasi masih sedang berlangsung.
Alin duduk menunggu kabar Eca tidak jauh dari si kembar dengan ayahnya. Untuk meyakinkan Delvin bahwa ia juga peduli dengan Eca, memasangkan wajah murung, namun hatinya saat ini sedang berdoa agar Eca dan bayinya tidak selamat.
Tidak lama kemudian, dokter Amel keluar dengan wajah muram. Delvin makin tegang namun hatinya cukup lega mendengar suara tangis bayinya di dalam sana.
"Dokter Amel! Bukankah itu suara bayi saya sudah lahir?"
"Iya Tuan! Selamat atas kelahiran bayinya. Tapi,..!"
Dokter Amel sengaja menjeda perkataannya karena begitu takut keluarga ini akan syok.
Alin yang ikut berdiri di balik punggung Delvin ikut menunggu kelanjutan ucapan dokter Amel.
"Katakan dokter! Ada apa dengan Bundaku...?"
Tanya Chiko dengan ekspresi sendu menahan tangisnya.
"Aku harap semoga kamu mati Eca. Dengan begitu aku, Delvin dan si kembar menjadi keluarga yang utuh."
Batin Alin penuh harap.
"Maafkan kami Tuan Delvin! Dokter Eca saat ini sedang koma pasca kami mengangkat tumornya setelah mengangkat babynya."
Ucap dokter Amel hati-hati.
"Tapi istriku akan sembuh kan dokter?"
"Dilihat dari semangat hidup dokter Eca, Ia akan melewati masa kritisnya, entah sampai kapan tapi saya pribadi yakin dokter Eca bisa secepatnya sadar dari komanya.
Kami akan memindahkan dokter Eca ke ruang ICU dibawah pengawasan perawat dan dokter jaga. Tuan Delvin dan anak-anak bisa pulang istirahat usai melihat babynya di ruang bayi." Ucap dokter Amel.
__ADS_1
"Terimakasih Dokter Amel..! Tapi saya ingin bertemu dengan istri saya Eca."
"Dengan senang hati tuan Delvin. Anda boleh menemui istri anda sesaat lagi setelah di pindahkan di ruang ICU!"
Chiko yang tidak bisa terima kondisi bundanya koma, tiba-tiba saja pingsan, membuat suster yang baru keluar dari kamar operasi langsung meminta Delvin membawa ke ruang IGD.
Delvin menggendong tubuh putranya yang ternyata terserang demam tinggi. Alin nampak pucat melihat keadaan putranya sambil menggendong Ciky yang sedang menangisi saudaranya.
"Tante Alin! Chiko kenapa..?"
"Tidak tahu sayang. Kita tunggu hasilnya dari dokter. Jangan takut!"
Ucap Alin menenangkan putrinya.
"Suhu tubuh Chiko 41 derajat. Kami sudah menyuntikkan obat penurun panas di infusnya. Kita tunggu saja tuan kondisinya putra anda hingga suhu tubuhnya menurun." Ucap dokter Vincent.
Delvin makin setress namun Alin makin senang dengan keadaan ini . Ia memiliki rencana yang lebih mantap untuk membawa kabur Ciky.
Karena kelamaan menunggu keadaan Chiko di dalam sana, Ciky akhirnya tidur dalam gendongan Alin. Delvin keluar menemui keduanya.
"Alin! Kalau kamu tidak keberatan bawa pulang Ciky untuk menginap di rumahmu. Saat ini aku benar-benar tidak bisa berpikir jernih."
Ucap Delvin pada Alin yang saat ini sangat mengharapkan Delvin membutuhkan dirinya dalam keadaan sulit seperti sekarang ini.
"Tidak usah kuatir Delvin ! aku akan merawat putriku dengan sepenuh hati. Tolong jaga putra kita, semoga Chiko cepat sembuh."
Alin menggendong Ciky membawa ke mobilnya. Bukan rumah tujuannya, justru ia membawa putrinya ke luar kota dengan jet pribadinya.
...----------------...
Tiga hari berlalu, bayi Eca diperbolehkan pulang oleh dokter Amel, namun Delvin ingin bayinya tetap berada di rumah sakit hingga istri dan putranya Chiko sembuh.
"Dokter! Kalau bisa bayiku tetap berada di sini dan dekat dengan ibunya supaya aku bisa mengontrol ketiganya dalam satu ruangan. Kalau dibawa pulang itu sangat menyulitkan aku untuk mengurus ketiganya walaupun di rumah ada pelayan." Pinta Delvin.
"Tidak masalah tuan Delvin. Dokter Gaes sangat mengerti keadaan kalian."
Ucap dokter Amel.
"Apakah dokter Gaes ada di ruangannya?"
"Dokter Gaes baru berangkat ke luar negeri pagi ini, Tuan Delvin! Tapi ia sudah memastikan kami untuk memberikan pelayanan terbaik untuk dokter Eca dan putra kalian Chiko."
"Terimakasih dokter Amel!"
Eca yang sudah dipindahkan di kamar inap VVIP di satukan ruangannya dengan putranya Chiko dan bayinya. Delvin sedikit lega karena ia bisa menjaga ketiganya dengan bantuan dua perawat.
Sementara di Denpasar Bali, Ciky memaksa Alin untuk kembali ke Jakarta.
__ADS_1
"Tante Alin! Kenapa kita berada di sini? Ciky ingin ketemu Chiko dan bunda serta adik bayi."
"Sayang! Saat ini, bunda dan Chiko masih sakit dan mereka tidak akan melihatmu karena belum sadar. Jadi Ciky sama Tante saja ya." Bujuk Alin.
"Tapi Ciky maunya ketemu keluarga Ciky. Ciky nggak mau berada jauh dari mereka. Tante Alin, Ciky tidak mau di Bali. Ciky mau ketemu bunda...hiks ..hiks . .hiks..!"
"Eca bukan ibu kandungmu. Dan berhentilah menjadi anak cengeng!" Bentak Alin.
"Tante Alin bohong! Bunda Eca adalah ibu kandung aku dan Chiko."
"Jadi kamu kira Tante bohong. Baik. Kalau kamu tidak percaya, kita akan buktikan siapa yang berbohong, bunda mu Eca, atau aku, ibumu?"
Ucap Alin lalu menghubungi ibunya nyonya Arini.
Alin memperbesar volume ponselnya agar Ciky ikut mendengarkan perbincangan dia dan Ibunya. Alin meminta Ciky untuk tidak bersuara supaya anaknya bisa mendengar obrolan mereka.
"Hallo mami!"
"Alin, apakah kamu masih bersama si kembar di rumah mereka?"
"Tidak mami! Aku hanya bersama dengan putriku di suatu tempat. Putraku Chiko sedang di rawat di RS mami. Kalau ada waktu tolong jenguk putraku karena ibu sambung mereka sedang koma di rumah sakit." Ucap Alin sinis.
"Alin. Jangan main-main kamu! Kenapa kamu bisa bawa kabur Ciky? Bagaimana kalau ayahnya mengamuk denganmu dan melaporkan kamu ke polisi?"
"Tidak ada hukum untuk seorang ibu kandung membawa pergi anak kandungnya sendiri."
"Tapi, Delvin adalah ayah kandungnya mereka dan Delvin sudah membuat surat adopsi untuk ...!"
Alin mematikan ponselnya agar ibunya tidak bahas hal yang sangat menyakitkan hatinya.
"Sekarang, apakah kamu sudah percaya kalau aku adalah ibu kandung kamu dan Chiko, bukan Eca. Aku adalah ibu kandung kalian.
Eca yang telah merebut ayah kalian dariku. Sekarang kamu harus tahu, siapa bunda mu Eca itu. Dia telah menculik kalian dari mami dan memisahkan mami dan ayahmu Delvin." Ucap Alin sengit.
"Tidakkkkkkkk...! Tante Alin pembohong..!" Teriak Ciky lalu berlari ke luar dari kamar menuju pantai.
"Ciky...! Ciky berhenti Ciky, sayang...!"
Teriak Alin ketika putrinya terus berlari mencapai bibir pantai di mana ombak lautnya saat ini sedang tinggi.
"Ciky... kembali sayang! Jangan ke situ!"
"Ciky tidak mau bersama Tante Alin. Ciky mau ketemu bunda Eca."
Teriak Ciky bersama dengan ombak yang datang menelan tubuh kecilnya.
"Cikyyyyyy...! Tidakkkkkkkk...
__ADS_1