IBU PENGGANTI UNTUK SI KEMBAR

IBU PENGGANTI UNTUK SI KEMBAR
69. Tinggal Bersama


__ADS_3

Pernikahan dokter Gaes dan dokter Shiren berlangsung khidmat di hotel milik Haidar.


Haidar dan Alin tidak bisa hadir karena kembar empat sakitnya berbarengan membuat mereka harus membatalkan perjalanan ke Indonesia.


Si kembar sangat sedih karena tidak bisa bertemu dengan adik kembar empatnya.


Tapi mereka masih bisa melakukan video call dengan mama Alin yang juga terlihat sedih karena sangat merindukan anak kembarnya.


Adik-adiknya itu tumbuh dengan sehat. Ciky kangen sama adik ceweknya Yura. Mungkin hanya satu cewek membuat ia lebih senang dengan adiknya itu.


"Sayang ..dua tahun lagi kita akan bertemu.. Mama harap kalian bisa tepati janji kalian untuk berlibur di Belanda." Pinta Alin.


"Ok... mama..! Liburannya harus selang seling. Kali ini liburan dengan keluarga ayah Delvin dan tahun berikutnya baru liburan dengan keluarga papa Haidar.


Kami harus bersikap adil pada dua keluarga supaya kalian tidak saling cemburu satu sama lain." Ucap Chiko."


"Sayang....! Kalian sangat bijak. Mama bangga pada kalian. Astaga... anak-anakku kalian buat mama terharu lagi pada kalian. Salam untuk keluarga besar kita. Dan kabarkan pada mama kalau bunda Eca melahirkan nanti." Ucap Alin.


"Muaaacch....! Miss you mom...!" Ucap Ciky.


"I love you mom ..!" Ucap Chiko.


"love you too, baby...! Miss you too..! muuacchh..!"


Sejak kesembuhan ibu mertuanya, kini keduanya mertuanya Eca tinggal bersama putranya, Delvin.


Mereka memilih tinggal bersama Delvin karena merasa lebih terhibur dengan ketiga cucu mereka di tambah lagi Eca akan melahirkan anak kembarnya yang ternyata berjenis kelamin perempuan yang akan melengkapi kebahagiaan Delvin dan Eca.


Ibu mertuanya lebih memanjakan Eca di kehamilan ibu kandungnya baby Adam ini. Ia kadang memasak sendiri untuk Eca karena Eca kepingin masakan kampung yang sebenarnya bisa di kerjakan oleh chef Yana.


Namun nyonya Zoya ingin mengolah sendiri dengan tangannya. Delvin tersenyum melihat ibunya yang cerewet kembali adu mulut dengan chef Yana yang terlalu kekinian gaya masaknya. Sementara dia sendiri tetap memasak dengan gaya tradisionalnya.


"Aku tahu masakan kamu tuh enak dan kekinian. Tapi kalau di lihatnya terlalu ribet.


Kalau aku yang masak tinggal Cemplung ini itu, jadi. Di jamin sama enaknya dengan masakan kamu." Semprot nyonya Zoya.


"Tapi nyonya, itulah seninya memasak. Harus ada aturan estetika sendiri dalam meramu masakan itu menjadi enak." Protes chef Yana.


"Seorang ibu di manapun berada dengan tingkat strata sosial berbeda, jika ia memasak untuk anak-anaknya dengan bumbu sederhana rasanya lebih nikmat daripada masakan restoran mewah manapun."


Timpal nyonya Zoya sambil menambahkan garam pada masakannya lalu meminta pelayan untuk menyajikannya di meja makan untuk makan siang mereka.

__ADS_1


Nyonya Zoya meminta chef Yana dan pelayan lainnya ikut merasakan hasil masakannya. Chef Yana yang pemanasan menyicipi masakan itu.


Dan alangkah kagetnya, ia merasakan masakan itu sama yang di masak mendiang ibunya.


Tidak lama ia menyendok lagi sup buntut buatan nyonya Zoya dan rasanya sama persis seperti masakan ibu kandungnya.


Chef Yana menghampiri nyonya Zoya yang sedang memastikan hidangannya sudah komplit di atas meja makan.


"Nyonya...! Tolong ajarin aku, bumbu apa saja yang anda ramu hingga masakan itu menjadi sangat nikmat." Pinta chef Yana.


Nyonya Zoya membalikkan tubuhnya dan menatap wajah sendu chef Yana.


"Apakah masakan aku mengingatkan pada ibumu...?" Tanya nyonya Zoya.


"Ko nyonya Zoya bisa tahu aku kangen merasakan lagi masakan ibuku pada masakannya nyonya?"


"Karena setiap ibu hanya mengandalkan bumbu rahasianya dengan cinta dan kasih sayang.


Rasa ketulusan hatinya yang tidak terukur dengan standar bumbu terbaik yang diciptakan chef manapun.


Rasanya bukan hanya di lidahmu tapi sampai ke hatimu." Ucap nyonya Zoya membuat mata chef Yana berkaca-kaca.


"Sudahlah...! Habiskan makananmu di sana. Aku mau makan bersama dengan keluargaku."


Tidak lama keluarga besar itu sudah berkumpul. Perut Eca yang makin membesar dua kali lipat kehamilan normal membuatnya sedikit sulit berjalan cepat, apa lagi hanya menunggu harinya saja.


Si kembar dan baby Adam yang sudah makin besar saat ini menikmati makan siang mereka.


"Nenek...! maaksaka nenek top marga top seperti masakan Oma Arini." Ucap Ciky.


"Benarkah...?" Apakah kamu menyukainya sayang...?" Tanya neneknya dengan wajah berbinar.


"Kami juga menyukainya nenek, iya nggak Adam...?" Ucap Chiko sambil menatap wajah gemas Adam yang lagi mengunyah makanannya dengan mulut penuh.


"Hmmm...hmmm!" Ucapnya sambil mengangguk dengan mengangkat jempolnya.


Usai menelan makanannya ia baru memuji neneknya.


"Nenek pintal macak...! Adam cukaaa macakan nenek..!" Ucap sambil mengecup dua jarinya seperti seorang youtuber penikmati masakan di restoran.


Semuanya terkekeh geli melihat tingkah baby montok ini.

__ADS_1


"Eca ..! Apakah kamu suka sayang...?" Tanya nyonya Zoya masih belum puas karena belum mendengar komentar dari menantunya.


"Ini sangat lezat ibu. Aku lebih senang masakan kampung dengan bumbu sederhana. Apa lagi cinta ibu masuk di dalam masakan ini." Ucap Eca membuat nyonya Zoya terharu dan sangat bangga karena masakannya diterima dengan baik oleh sang menantu.


"Terimakasih ibu sudah memasak untuk kami." Ucap Eca sambil tersenyum.


"Ibu akan memasak untuk kalian sebelum ajal ibu tiba nak. Ibu ingin menebus semua waktu yang hilang begitu saja dengan menjauhi kalian. Jika ibu tidak di kasih penyakit kronis, mungkin sampai saat ini, penyakit hati ibu terus kambuh." Ucap Nyonya Zoya.


"Nenek harus ngaji cupaya etannya pegi jauhhh dayi nenek. Kata unda kalau sedih...ngaji. Iyakan ...unda..?"


Tanya baby Adam yang sudah menyelesaikannya makan siangnya lebih dulu.


"Iya sayang. Tapi baby ko nggak pernah ikut sholat lagi sama ayah...?"


"He...he ..! cholat unda atu kali aja."


"Sholat magrib doang bunda." Timpal Chiko.


"Adam cuka antuk ... bunda." Protes Adam.


"Tapi orang hidup itu kalau muslim harus sholat sayang." Ucap Delvin.


"Adam macih kecil ...ayah..!" Bantah Adam.


"Walaupun masih kecil harus tetap sholat." Timpal Ciky.


Merasa semuanya pada menyerangnya Adam pun menangis. Ia turun mengadu pada neneknya supaya di bela.


"Nenek ...cemuanya nakalin Adam...hiks ..hiks . ..!" adunya pada sang nenek.


"Iya biarin ..! Nanti nenek pukul mereka semua."


Ucap neneknya membuat semuanya terkekeh dengan ulah Adam.


Tapi tawa mereka terhenti saat melihat wajah Eca berkeringat dingin menahan sakit sambil mencengkram lengan suaminya.


"Auhhght....! Delvin ..,! Perutku sangat sakit sayang." Ucap Eca membuat semuanya sontak berdiri menghampiri Eca.


"Bunda ..!" Pekik mereka bersama melihat wajah pucat Eca.


"Pak Iwan...! Siapkan mobil..!" Titah Delvin sambil menggendong Eca membawanya ke mobil.

__ADS_1


Keluarga besar itu berangkat menuju rumah sakit milik dokter Gaes.


__ADS_2