IBU PENGGANTI UNTUK SI KEMBAR

IBU PENGGANTI UNTUK SI KEMBAR
41. Memberi Kesempatan


__ADS_3

Operasi Delvin akhirnya berhasil. Eca merasa sangat bersyukur saat suaminya bisa menempati kamar inapnya sambil menunggu kesadarannya pulih.


Eca mengecup pipi suaminya sambil berbisik lirih. " I love you baby."


Wajah lelah Eca tergambar jelas yang seharian menunggu suaminya operasi.


Tidak lama si kembar masuk bersama Alin dan dokter Gaes yang mengembalikan si kembar kepada Eca. Anak-anak ini membawa banyak makanan untuk ibu angkat mereka.


"Bunda! Bagaimana keadaan ayah? Apakah ayah sudah bebas dari pendarahan otaknya?"


Tanya Chiko terlihat cemas menatap wajah pucat ayahnya seraya memberikan movin untuk ibundanya serta lemon tea.


Eca meneguk minumannya sebentar.


"Sudah sayang! Kita hanya menunggu ayah sadar dari obat biusnya?"


"Apakah sekitar lima menit lagi?" Tanya Ciky.


"Benar sayang?"


"Apakah ayah hampir terserang mati otak, bunda?" Tanya Chiko.


"Bagaimana kamu tahu, Chiko?" Tanya Eca.


"Ayah mengalami serangan jantung karena pembuluh aorta nya sempit saat hantaman keras dari mobil belakang yang hampir membuat pembuluh darah yang memompa darah ke jantung tidak menyampaikan oksigen secara menyeluruh di ruang jantung.


Sementara syaraf otaknya tidak mendapatkan suplai oksigen yang membuatnya sempat mati otak. Itulah sebabnya ayah mengalami pendarahan otak."


Jelas Chiko secara medis begitu akurat membuat dokter Gaes dan ibu kandungnya, Alin begitu terpukau.


"Itulah sebabnya mengapa ayah harus segera dioperasi, jika di biarkan ayah seperti orang tidur yang hanya mengandalkan alat pompa jantung dan alat medis lainnya untuk menopang hidupnya karena sudah mati otak. Hidup ayah tidak bedanya seperti mayat hidup." Timpal Ciky.


Ketiga orang dewasa di depannya hanya bisa saling menatap karena kecerdasan si kembar dalam melihat suatu kasus.


"Pengetahuan adalah kekuatan. Setiap kali ayah memasuki pasar baru, ia mempelajari semua tentang lahannya.


Kebutuhan konsumen, target pasar, pesaing. Ayah baru sadar tubuhnya bukanlah bisnis yang terdengar seperti orang kaya gila dengan fantasi mengendalikan setiap aspek dalam hidup ayah.


Sudah saatnya ayah istirahat dengan Allah memberinya sakit lewat kecelakaan." Ucap Chiko.


"Itu adalah tugas seorang ayah untuk menafkahi keluarganya, sayang." Balas Eca bijak.


"Eca! Si kembar memiliki bakat alami. Mereka sangat jenius saat mendiagnosa suatu kasus. Mereka adalah diagnostik handal yang dibutuhkan negara ini.


Apakah aku bisa meminjam mereka untuk menguji kemampuan mereka membaca hasil biopsi milik pasien?"

__ADS_1


Ucap dokter Gaes yang tidak sabar ingin mengetahui seberapa hebat keponakannya ini.


Alin bukan hanya terpukau pada kejeniusan anak kembarnya. Tapi hatinya makin mengkerut karena mengingat kebodohannya melepaskan dua permata nya yang bukan hanya di anggap sebagai anak saja tapi juga menjadi aset berharga untuk negara ini.


Bagaimana tidak. Kejeniusan si kembar mampu menyelamat jutaan manusia dengan kehebatan mereka.


"Ok dokter! Kami punya catatan sendiri untuk membaca wajah siapa saja yang bisa terlihat penyakit yang di alaminya hanya dengan melihat gejala dari fisiknya.


Entah itu dari mata, hidung, mulut, gerakan bibir saat bicara, dan masih banyak lagi penelitian yang kami lakukan secara acak dari berbagai wajah manusia yang kami temui. Terutama wali murid dari teman-teman kami di sekolah."


Ungkap Ciky lalu mengeluarkan buku catatan laporan medisnya lalu di serahkan kepada pamannya dokter Gaes.


Dokter Gaes membaca setiap nama lengkap usia dengan semua gejala penyakit yang bisa di amati hanya melalui wajah dan sebagian tubuh dari jender yang berbeda.


Begitu pula Chiko yang ikut menyerahkan buku laporan medisnya pada pamannya.


"Kalian benar-benar darah daging kami, aku bangga menjadi paman kalian, keponakan ku tercinta. Maafkan paman yang saat itu tidak punya nyali untuk menentang kakek dan nenek kalian untuk membuang kalian."


Batin dokter Gaes dengan rasa bersalahnya sebagai kakak yang tidak bisa melindungi adiknya.


Alin terperangah sendiri karena merasa wanita yang paling memalukan dan juga sangat buruk di muka bumi ini.


"Baby! Andai waktu bisa berputar kembali, mami akan mempertaruhkan hidup mami untuk kalian.


Batin Alin dengan mata yang terasa panas hendak meraung menyaksikan kehebatan anak kembarnya.


Dari segi apapun, Alin benar-benar sudah kalah telak. Mentalnya seperti kerupuk yang terlihat indah di luar namun tidak kuat tahan banting dengan sekali di remas.


Walaupun di tengah kesedihannya melihat keadaan sang suami, Eca masih bisa tersenyum bangga melihat perkembangan kecerdasan anak angkatnya ini.


Senyum kebanggaannya Eca di tanggapi kedengkian Alin yang merasa Eca telah merebut semua yang ia miliki. Bukan hanya si kembar tapi ayah si kembar pun juga menjadi milik ibu mil itu.


"Tidak ada yang tersisa untukku selain penyesalan dan sakit hati melihat kebersamaanmu dengan orang-orang yang aku cintai.


Bahkan keluarga ku sendiri mengakui kehebatan mu bahkan mereka dengan jelas menyatakan perasaan mereka sangat menyukaimu.


Kau pintar mengambil hati siapapun, menempatkan dirimu di strata sosial manapun juga. Padahal latarbelakang kehidupan mu tidak begitu hebat setelah aku selidiki.


Alin tidak bisa lagi menahan dirinya untuk menangis. Sambil membekap mulutnya ia keluar dari kamar inap Delvin agar bisa menangis di tempat yang cukup aman untuk ia bisa melepaskan beban hatinya.


"Aku sudah tidak ingin menangis, tapi kenapa hatiku masih saja merasakan sangat sakit. Aku bisa gila kalau tidak bisa mendapatkan kembali anak kembarku.


Kenapa wanita itu harus menikahi orang kaya. Andai saja dia miskin mungkin dengan uang yang banyak akan meluluhkan perasaannya untuk mengembalikan anak kembarku."


Gumam Alin lirih sambil menangis sesenggukan di lab. yang tak terpakai.

__ADS_1


Delvin menggerakkan sebagian jarinya untuk memberikan respon kesadarannya.


"Bunda...! Ayah sudah sadar." Ucap Ciky sambil menarik dress Eca.


"Delvin...!" Eca mendekati wajah suaminya dengan tersenyum haru.


"Maafkan aku sayang! Aku begitu takut saat aku mulai tidak sadarkan diri, aku hanya mengingat kalian berempat.


Aku berharap Tuhan tidak mencabut nyawaku, karena masih ingin melihat anak-anak kita tumbuh dengan baik."


Ucap Delvin dengan air mata berderai.


"Kau sudah selamat dari maut. Tuhan memberikan kesempatan untuk melihat bayi keduamu lahir." Ucap Eca lalu mengecup pipi suaminya.


"Ayah...! Kami akan menjaga ayah dengan segenap jiwa raga kami. Bertahanlah untuk terus menemani bunda sampai kalian tua bersama." Ucap Ciky sok dewasa.


Ada rasa geli yang dirasakan ketiga orang dewasa di depannya pada perkataan Ciky yang selalu saja mendapatkan kata-kata puitis yang mampu menyentuh hati kedua orangtuanya.


Dokter Gaes yang melihat kemesraan itu merasa bahwa si kembar tidak akan merubah pendirian mereka walaupun suatu saat nanti mereka akan mengetahui kenyataan sesungguhnya bahwa Eca bukanlah ibu kandung mereka. Mereka akan tetap memilih Eca sebagai ibu pengganti.


"Selamat Delvin! Aku harap kamu secepatnya sembuh."


Ucap dokter Gaes sambil membelai rambut Ciky.


"Terimakasih sudah menemani si kembar."


"Apakah aku boleh mengajak mereka menginap? Di rumah ada Alea dan mami. Pasti keduanya sangat senang jika si kembar menginap.


Biar Eca fokus merawatmu di sini. Kasihan istrimu yang sedang hamil muda harus merawat tiga anak sekalian. " Canda dokter Gaes.


Delvin melirik istrinya untuk meminta persetujuan walaupun hatinya sangat berat untuk melepaskan si kembar untuk menginap di rumah keluarga ibu kandung mereka sendiri.


"Tidak apa sayang. Berilah mereka kesempatan bersama si kembar, karena mereka juga punya ikatan darah dengan si kembar."


Timpal Eca sambil mengangguk setuju pada dokter Gaes.


"Anak-anak! Apakah kalian mau menginap di rumah om dokter? Ada banyak buku kedokteran yang tidak di miliki oleh bunda kalian." Ucap dokter Gaes.


"Benarkah? Wah keren! Apakah kami boleh menginap ayah, bunda?"


"Iya sayang! Tetap jaga kesopanan dan jangan lupa sholat tepat waktu." Ucap Eca


"Jagalah Allah maka Allah akan menjagamu!"


Timpal Chiko sebelum ibunya mengucapkan password terbaiknya.

__ADS_1


__ADS_2