
Else mengerjapkan matanya dengan sekujur tubuh tidak bisa bergerak karena merasakan kesakitan yang luar biasa pada tubuhnya terutama bagian intinya.
Kaki tangannya diikat dalam keadaan telanjang di tempat tidur yang ia tidak tahu milik siapa di kamar yang terasa asing baginya.
Terdengar pintu kamar terbuka dan ternyata itu adalah pemilik tempat ini.
"Apakah tidurmu nyenyak sayang?"
Tanya seorang pria tampan dengan banyak tato di tubuhnya. Ia hanya memakai handuk yang hanya melilit setengah tubuhnya hingga memperlihatkan otot dadanya yang kekar.
"Hei siapa kau? Kenapa aku sampai di sini? dan ini di mana? Tolong lepaskan aku! Aku ingin pipis. Apakah kamu ingin aku mengompol di sini?"
Tanya Else tanpa jeda.
"Ok!"
Ikatan tali pada kaki dan tangannya di lepas oleh pria asing yang bernama Onky. Else mencoba bangkit duduk dan matanya langsung terbelalak melihat bercak darah di seprei putih tergambar jelas membuatnya spontan berteriak.
"Akkkkkkkkk! Tidakkkkkkkk!"
"Hei!" Apakah kamu bisa diam?"
"Apakah kamu telah memperkosaku?"
"Tidak..! Kita melakukannya suka sama suka. Kau yang memohon kepadaku dan aku dengan suka rela melayani mu. Bagaimana..? kamu menikmatinya sayang?"
"Menikmati kepalamu. Aku melakukannya tidak dalam keadaan sadar dan kau memanfaatkan itu. Bagaimana bisa aku di ikat seperti kambing guling. Apakah kamu seorang maniak?"
"Karena kau mencoba kabur dariku setelah kita bersenang-senang nona. Dan aku tidak mau kehilangan secepatnya dirimu setelah aku membayarmu."
"What...? Jadi kamu mengatakan kalau aku telah di jual oleh germo?"
"Yah begitulah. Mereka mengatakan kalau kamu masih perawan dan itu yang membuat aku sangat tergiur dengan tubuhmu yang sangat bagus dilengkapi wajahmu yang juga menarik.
"Baiklah. Kalau begitu bebaskan aku karena kamu sudah mengambil hakmu. Aku harus pulang karena harus bekerja.
"Pulang...? Tempatmu di sini. Kamu boleh pulang setelah melahirkan anak untukku. Dan kau tidak boleh melangkah keluar dari kamar ini setelah kamu dinyatakan hamil."
Ucap Ongky lalu terkekeh jahat membuat Else meneguk liurnya dengan gugup.
"Haidar... kau akan membayar semua ini. Kau telah menjebakku dengan licik. Aku tahu kamu ingin balas dendam setelah apa yang kulakukan kepada Alin tapi pembalasan mu lebih menyakitkan dari apa yang aku perbuat pada Alin." batin Else.
Else tidak ingin lagi berdebat dengan Ongky. Ia lebih memilih diam menyusun rencana untuk bisa kabur dari sarang ini.
Else mencoba berdiri dengan tubuh gemetar sambil menahan sakit.
"Apakah kamu perlu bantuan?"
__ADS_1
"Tidakk..!
Aku bisa sendiri. Tolak Else tidak mau memperlihatkan kelemahannya kepada pria asing yang sama sekali ia tidak kenal.
"Its's ok!"
Ongky duduk lagi di sofa sambil memainkan ponselnya.
Else menahan sakit yang amat sangat bagian intinya seakan di dalam sana sudah lecet parah dengan pusaka milik pria asing itu.
"Sialan! Seberapa besar miliknya sehingga aku merasakan sakit seperti ini."
Umpat Else sambil merendam tubuhnya di dalam bathtub.
Ia menangis sesenggukan di dalam kamar mandi menyesali perbuatannya yang telah menjebak Alin hingga membuat gadis itu menderita.
Tapi penyesalan selalu datang terlambat. Tidak ada yang bisa ia lakukan setelah mendapatkan karmanya saat ini.
"Sampai kapan aku akan berada di sini. Aku tidak mau sampai hamil anak dari lelaki aneh itu. Aku bukan pelacur. Aku tidak sudi tubuhku di sentuh lelaki itu lagi."
Tok. tok....
"Cepatlah keluar! Atau aku akan merobohkan pintu ini."
Teriak Ongky yang merasa terlalu lama di tinggal Else mandi.
Else membayangkan kalau setelah mandi ia akan mendapatkan lagi hukuman yang sama.
Ia segera keluar dari kamar mandi dengan menggunakan jubah mandi.
"Sekarang makanlah dan setelah itu persiapkan dirimu. Aku akan kembali dalam sepuluh menit. Dan pakai lengerie itu!"
Titah Ongky lalu keluar dari kamarnya tidak lupa mengunci pintu kamarnya.
Else yang sangat merasa lapar menghabiskan makanan itu dalam waktu lima menit. Selebihnya ia sedang mencari tasnya karena membutuhkan ponselnya.
"Di mana ponselku? Tas juga tidak ada. Apakah pria aneh itu membuangnya?"
Semua laci yang ada di ruangan itu di buka oleh Else namun ia tidak menemukan tas atau ponselnya. Ia pun membuka pintu balkon untuk melihat suasana sekitarnya agar bisa kabur dari tempat itu. Namun matanya lagi-lagi terbelalak karena pemandangan di depannya adalah kuburan. Apa lagi suasana malam hari yang membuatnya makin memucat.
"Sialan! Aku tinggal berdampingan dengan kuburan."
Else mundur perlahan namun tubuhnya menyentuh sosok tinggi yang tidak lain adalah Onky.
"Akhhhhkkk..! Hantu. Tolong jangan ganggu aku!"
Teriak Else sambil menutup wajahnya.
__ADS_1
"Mau apa malam-malam keluar ke balkon? Apakah kamu ingin kabur, hah?"
Bentak Onky sambil menyeret tubuh Else masuk ke kamar.
"Maaf aku hanya ingin keluar menghirup udara segar."
Ucap Else memberi alasan.
Ongky tidak mau percaya begitu saja otak licik Else. Ia dengan cepat menarik jubah mandi Else kemudian mengikat lagi kedua tangannya Else.
Setelah itu tubuh Else habis menjadi tempat pelampiasan syahwat Ongky membuat gadis ini hanya bisa meringis kesakitan.
Tubuhnya harus menerima pecutan dari ujung gesper milik Ongky. Setelah gadis ini kesakitan ia baru melakukan percintaan panas dengan Else yang malang.
"Ampuni aku! Tolong jangan sakiti aku seperti ini Aku mohon kepadamu!"
Lirih Else sambil menangis kesakitan.
"Aku sudah membayarmu sangat mahal. Jadi aku berhak melakukan apa saja padamu termasuk membunuhmu."
Ucap Ongky membuat Else seketika pingsan.
Di Jakarta, keluarga kecil Delvin menjalani aktivitas mereka seperti biasa. Walaupun begitu Delvin tidak ingin kecolongan dalam mengawasi si kembar dan istrinya.
Bagaimanapun juga, ia tidak percaya dengan kebaikan Alin yang terlihat mulai berubah. Delvin berpikir Alin sedang menyusun rencana jahatnya untuk melakukan aksi selanjutnya entah dengan cara apa.
"Urusan si kembar, biar aku yang mengantar jemput mereka. Sebaiknya kamu di rumah saja sayang. Kandungan mu masih sangat muda dan aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi kepadamu."
Ucap Delvin saat Eca sudah siap mengantar si kembar.
"Tapi aku sudah rapi sayang. Aku ingin mengantar si kembar." rengek Eca manja.
"Lakukan apapun di dalam rumah dan dengarkan perintah suamimu demi kebaikan bersama. Aku pinjam mobilmu, ok sayang."
Ucap Delvin lalu mengecup bibir dan perut istrinya yang masih rata.
"Sampai ketemu lagi bunda. Turuti apa kata ayah dengan begitu ayah lebih tenang kerjanya."
Ucap Chiko so dewasa.
"Iya tuan Chiko. Sekarang kamu ikut bawel seperti ayahmu."
"Begitulah para suami bunda, semua perkataannya harus dituruti oleh para istri kalau pingin masuk surga." Timpal Ciky.
Mobil sedan merah milik Eca di kendarai oleh sang sopir. Sementara Delvin dan si kembar duduk di belakang.
Tidak jauh dari mobil mereka sudah ada penguntit setia yang tidak lain adalah Alin.
__ADS_1