IBU PENGGANTI UNTUK SI KEMBAR

IBU PENGGANTI UNTUK SI KEMBAR
72. Mengakui Kehebatan Si Kembar


__ADS_3

Anderson segera di larikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan.


Dokter memeriksa keadaan Anderson nampak bingung karena Anderson tidak mengalami sesuatu yang mengancam jiwanya seperti halnya penyakit.


Beruntunglah ada dokter Park yang merupakan keturunan cina yang mengetahui sakitnya Anderson.


Ia hanya menotok jalan darah Anderson yang sempat terhenti hingga tidak mengalir dengan lancar yang mengakibatkan pasokan oksigen tidak mengalir ke otaknya.


Dalam sekejap Anderson bisa bernafas dengan lega dan menghirup udara segar sebanyak-banyaknya, lalu menghembusnya lagi dengan lembut.


"Apakah kamu berkelahi dengan seseorang?" Tanya dokter Park penuh selidik.


Anderson terlihat diam dan sangat malu mengakui kalau ia diserang oleh seorang gadis kecil yang merupakan teman kelasnya.


"Baiklah. Kalau kamu tidak ingin mengaku pada kami siapa yang menendang ulu hati mu. Tapi aku peringatkan agar kamu tidak lagi berurusan dengan temanmu itu karena ia menguasai beberapa ilmu bela diri dan salah satunya adalah kungfu. Ia menghentikan jalan darahmu dan itulah yang membuat kamu sulit bernafas." Ucap dokter Park.


Anderson mengepalkan kedua tangannya dan menaruh dendam kepada Ciky dan Chiko karena hampir membuatnya mati terbunuh.


"Apakah tendangan mereka sangat membahayakan dokter?" Tanya Gwen penasaran.


"Tendangan itu akan membuatmu bisa muntah darah dan meninggal seketika.


Beruntung saja, temanmu ini hanya menghentikan jalur darahnya kalau tidak akan membuat ia bisa terbunuh. Pasti kamu sudah iseng padanya bukan?" Tanya dokter Park namun tidak digubris oleh Anderson.


Tidak lama kemudian, kedua orangtuanya Anderson mendatangi putranya setelah dihubungi oleh Gwen.


"Bagaimana dengan keadaan putra saya dokter?" Tanya tuan Robert.


"Hanya sesak nafas karena berkelahi dengan seseorang. Tuan bisa menanyakan langsung pada putranya. Sekarang putra tuan boleh pulang karena tidak ada masalah yang serius pada tubuhnya." Ucap dokter Saun.


"Terimakasih dokter!" Ucap tuan Robert.


Di perjalanan pulang, tuan Robert memaksa putranya untuk bercerita yang sebenarnya yang terjadi pada putranya. Akhirnya Gwen yang memberi tahukan kedua orangtua kekasihnya itu.


Awalnya kedua orangtuanya mengira kalau Ciky dan Chiko adalah remaja yang seusia putra mereka. Keduanya begitu marah dan meminta sopir agar segera ke kampus untuk melabrak si kembar.


Namun Anderson begitu malu kalau kedua orangtuanya terlalu ikut campur urusannya.


"Ini biasa terjadi di kampus Daddy, jadi tidak perlu dipersoalkan lagi urusan kami sebagai anak muda." Bantah Anderson.


"Daddy ingin memberikan pelajaran pada temanmu itu." Ucap tuan Robert dengan wajah kelam.


"Memberi pelajaran pada gadis berusia dua belas tahun, Daddy?" Tanya Anderson kesal.


Deggggg....

__ADS_1


"Jadi yang menendang mu itu, gadis usia dua belas tahun?"


Tanya tuan Robert yang tidak percaya dengan ucapan putranya namun Gwen yang meyakinkan tuan Robert bahwa apa yang dikatakan kekasihnya Anderson adalah kebenaran.


Tuan Robert hanya menepuk jidatnya karena kesal dengan putranya yang tidak bisa melawan dengan gadis kecil itu.


Setibanya di apartemen, si kembar bersikap seperti biasa dan tidak mau menceritakan apa yang mereka alami di kampus saat makan siang.


keluarga ini bercengkrama di ruang keluarga sambil menikmati penekuk dan teh jahe buatan nyonya Zoya.


Delvin menanyakan perkembangan pelajaran si kembar, namun keduanya hanya menjawab tidak ada masalah sama sekali yang mereka alami karena hampir semua yang diajarkan oleh dosen mereka, sudah mereka lebih dahulu mengetahuinya karena sudah banyak yang mereka pelajari dari Eca sebagai dosen terbaik mereka.


"Sepertinya bunda lebih cocok jadi dosen di kampus kami karena banyak sekali perkembangan teknologi informasi tentang dunia kedokteran yang sudah beralih dalam penanggulangan penanganan bedah penyakit tanpa harus ada sentuhan operasi." Ucap Chiko.


"Kalau begitu, bunda tidak pantas menjadi dosen karena banyak sekali ilmu baru dalam terapan dunia medis, bunda pantasnya menjadi mahasiswa lagi seperti kalian."


Ucap Eca malu-malu.


Delvin agak kurang setuju istrinya kuliah lagi atau menjadi dosen di kampus anak kembarnya.


"Tidak sayang. Bunda Eca masih di butuhkan oleh ketiga adik kalian yang sangat nakal ini."


Ucap Delvin melarang secara halus istrinya untuk berkarir lagi karena ia punya rencana sendiri untuk Eca.


Eca mengerti ucapan suaminya dan tidak ingin menyela pembicaraan suaminya.


"Adam ..!" Panggil Ciky.


"Iya kakak Ciky.. ..!"Ucap Adam sambil menghampiri Ciky.


"Adam kalau sudah besar mau jadi apa, sayang...?" tanya Ciky.


"Tentunya mau jadi seperti ayah. Mau kerja seperti ayah."


Ucap Adam kembali menyusun Lego bersama adik kembarnya.


"Kenapa mau kerja seperti ayah...?" Tanya Chiko.


"Ayah terlihat keren jadi seorang pengusaha. Ayah tidak begitu memikirkan cuti maupun aturan kerja karena perusahaan itu adalah miliknya.


Jadi tidak ada yang memarahi ayah jika ayah tidak masuk kerja."


Ucap Adam membuat Delvin bersorak girang karena jawaban Adam sepemikiran dengan dirinya dulu.


"Wah...ini baru anak ayah!"

__ADS_1


Ucap Delvin sangat bangga lalu menggendong putranya Adam.


"Ayahnya Adam sangat pintar. Adam mau seperti ayah. Adam mau jadi bos untuk diri sendiri." Lanjut Adam lagi.


Si kembar, Caca dan Cika tidak suka ayah mereka hanya menggendong Adam.


Keduanya mencari perhatian ayahnya dengan mendekati Delvin.


"Caca uga mau cepeti ayah....!" Ucap Caca.


"Cika ..uga ...ayah...mau ..endong ...!" ucap Cika sambil menarik celana pendek ayahnya.


"Iiiih....Ini, ayahnya Adam. Kalian sama bunda saja." Tolak Adam.


"Adam turun dulu yah, ayah mau gendong adik kembar dulu." Ucap Delvin.


Ketiganya tidak mau mengalah akhirnya membuat Delvin menjadi kewalahan karena ketiganya menangis memperebutkan dirinya.


Eca bangkit lalu membisikkan kata-kata ledekan pada suaminya.


"Emang enak jadi rebutan..?" ucap Eca lalu mengajak Ciky dan Ciko ke kamar mereka.


"Eca...! Ini anaknya...!" Teriak Delvin kewalahan nanganin ketiga anaknya yang sudah saling merangkul tubuhnya.


Bahkan Cika tidak segan menggigit lengan ayahnya membuat Delvin meringis kesakitan.


"Anak kamu juga keles..


"Seperti inikah kalau banyak anak, ibu ..?" Ucap Delvin membuat nyonya Zoya terkekeh.


Hari terus berlalu. Tidak terasa si kembar mengikuti ujian semester pertama penuh ketegangan.


Pengawasan yang begitu ketat hingga mahasiswa yang lain kesulitan bergerak.


Mereka juga tidak bisa melirik satu sama lain hanya sekedar untuk bertanya. Jika ada yang nekat, maka kertas ujian mereka akan diambil dan akan di skors dari ujian selanjutnya.


Mau tidak mau mereka harus fokus dengan kemampuan mereka sendiri.


Durasi ujian itu berlangsung satu jam. Tapi si kembar hanya menyelesaikan ujian mereka dalam waktu dua puluh menit. Ciky dan Chiko menyerahkan kertas ujian mereka pada pengawas.


Keduanya keluar bersamaan dengan tenangnya. Semua teman-temannya melebarkan mata mereka seolah tidak percaya dengan kedua bocah itu.


Anderson dan Gwen mengakui kehebatan kedua bocah itu yang tidak bisa tersentuh oleh mereka yang merupakan putra putri seorang mafia.


Pengawas masih menunggu yang lainnya untuk mengumpulkan hasil ujian mereka.

__ADS_1


"Apakah kalian tidak malu dengan si kembar yang sudah lebih dulu mengumpulkan ujian mereka?" Sindir Rebecca.


Mereka makin gugup melihat waktu tinggal sepuluh menit lagi. Tidak lama waktu ujian selesai dan semuanya menyerbu pengawas yang hendak meninggalkan kelas mereka untuk mengumpulkan kertas ujian mereka.


__ADS_2