
Erland mendorong tubuh Reva untuk menjauhi dirinya. Gadis tidak tahu malu itu selalu mencari perhatian Erland dengan cara apapun agar bisa masuk dalam kehidupan Erland.
Reva adalah gadis yang dijodohkan kakeknya Tuan Billy.
Reva merasa perjodohan mereka dari kecil antara kedua kakek mereka untuk memperkuat perusahaan raksasa yang mereka bangun bersama, namun terpisah saat mereka sudah bisa mandiri untuk mendirikan perusahaan masing-masing agar tidak terputus persahabatan mereka dengan menjodohkan kedua cucu mereka.
Awalnya mereka ingin menjodohkan anak-anak mereka. Ternyata keduanya memiliki sama-sama anak laki-laki.
Perjodohan itu tidak berhenti ketika mereka memiliki cucu yang berbeda jenis kelamin yaitu Erland dan Revalina.
"Aku memintamu meninggalkan kamarku! Dan sampai kapanpun aku tidak menerima perjodohan sialan itu." Ucap Erland.
"Baiklah. Kalau begitu kamu siap meninggalkan kekayaan Billy group." Ucap Reva.
"Aku tidak peduli. Aku lebih baik jadi pengemis jalanan daripada harus di jodohkan dengan perempuan bebal sepertimu yang hanya mengandalkan tubuh murahan mu itu dan kekayaan keluargamu itu."
Ucap Erland sinis.
"Keluarrr!" Bentak Erland sambil memegang pinggangnya kerena ikut tertarik saat ia berteriak.
Reva meninggalkan kamar inap Erland dengan menghentakkan kakinya sambil mendengus kesal.
...----------------...
Sekitar pukul tiga sore, dokter Eca melakukan visit ke kamar pasien. Kamar Erland yang menjadi kamar terakhir yang ia kunjungi.
Ia memasuki kamar inap milik Erland. Sudah beberapa hari ini, Erland tidak bertemu dengan dokter Ciky. Gadis itu memang sengaja menghindari Erland.
Merasa penasaran, Erland menanyakan tentang keberadaan Ciky pada dokter Eca.
"Dokter...! Apakah saya boleh tanya."
Tanya Erland yang sudah sangat rindu pada Ciky.
"Silahkan!"
"Apakah dokter Ciky tidak bertugas? apakah dia sedang sakit atau mengambil cuti?"
"Kenapa menanyakan dokter Ciky? Anda bisa di periksa oleh dokter jaga sesuai dengan shif kerja mereka."
Ucap Eca yang belum paham arah pembicaraan pasien Erland.
"Aku belum sempat mengucapkan terimakasih kepadanya. Besok aku sudah pulang tapi aku ingin sekali mengucapkan terimakasih ku pada dokter Ciky." Ucap Erland.
"Banyak dokter yang merawat anda, kenapa hanya dokter Ciky yang anda ingin mengucapkan terimakasih?"
"Karena dia, aku bisa selamat dari tikaman para penjahat yang mencoba membunuh aku tiga hari yang lalu."
Ucap Erland yang tidak mengetahui siapa Eca bagi Ciky.
__ADS_1
Deggggg....
Eca mengernyitkan dahinya, ia sama sekali tidak mengetahui kalau putrinya sudah terlibat perkelahian dengan para penjahat.
Ia mencoba menahan diri dan memancing pertanyaan lagi pada Erland.
"Apakah anda sengaja meminta tolong pada dokter Ciky membantumu melawan penjahat?" Tanya Eca.
"Sepertinya mobil dokter Ciky kehabisan bensin dan dia terjebak di tempat yang sepi. Di saat yang sama mobilku di hadang oleh dua mobil penjahat.
Dan saat aku di serang, tiba-tiba muncul dokter Ciky menolongku dan membawa aku ke rumah sakit ini. Ketika siuman aku baru tahu kalau nona Ciky adalah dokter bedah di rumah sakit ini." Ucap Erland.
"Aneh...! Bukankah seorang Erland Hadi Billy Purwanto memiliki banyak pengawal hingga tidak tersentuh oleh penjahat manapun?"
Tanya Eca yang sangat mengetahui siapa pasien yang ada di hadapannya ini.
Erland tidak heran jika namanya dikenal oleh kalangan manapun, apalagi sekelas dokter Eca.
Iapun berusaha tidak terlihat arogan di depan dokter Eca karena menginginkan informasi tentang Ciky. Gadis yang sudah membuat jiwa lelakinya merindu.
Selama ini dia begitu antipati terhadap wanita manapun karena tidak ingin berurusan dengan wanita liar yang hanya memanfaatkan kekayaannya.
Hanya Reva saja yang membuatnya cukup pusing untuk menyingkirkan gadis itu.
"Ada alasan tersendiri yang membuat aku tidak ingin di kawal oleh pengawal ku karena aku butuh waktu untuk diriku sendiri sebagai manusia biasa.
Tapi kesempatan itu di manfaatkan penjahat untuk menghabisi diriku dan untunglah nyawaku masih bisa di selamatkan, saat bertemu dengan bidadari itu yang akhirnya aku tahu dia seorang dokter." Ucap Erland senyum-senyum sendiri pada Eca.
"Aku tidak menyukainya, tapi Aku jatuh cinta kepadanya." Sahut Erland apa adanya.
"Kamu terlalu percaya diri anak muda. Dokter Ciky tidak mungkin membalas perasaan yang sama denganmu." Balas Eca.
"Ketulusan cinta pada seseorang akan dirasakan dengan hati yang sama dan aku yakin dokter Ciky menyukai ku juga." Imbuh Erland.
"Menyukai belum tentu mencintai. Karena cinta punya pemilik hati yang akan ia bawa dalam kehidupannya sampai ia mati."
Balas Eca menguji perasaan Erland pada putrinya.
"Aku akan melamarnya pada kedua orangtuanya. Apakah aku boleh meminta alamatnya, dokter? Aku yakin anda pasti memiliki alamat semua staff anda.
Tolonglah agar aku bisa mendapatkan cinta dokter Ciky sekalian jiwa raganya."
Ucap Erland penuh percaya diri.
"Kamu tidak akan mendapatkan Ciky dengan mudah karena kedua orangtuanya sangat galak, apa lagi ayahnya tidak akan mungkin menerima kamu begitu saja menjadi menantunya."
Ucap dokter Eca.
"Jika anda membantuku meyakinkan kedua orangtuanya, tentang kesungguhan cintaku pada dokter Ciky, maka aku akan sangat berterimakasih kepada anda dokter Eca, " bujuk Erland pada dokter Eca.
__ADS_1
"Baiklah. Aku akan menolong mu untuk meyakinkan kedua orangtuanya menerimamu. Aku hanya punya waktu malam Minggu besok.
Jika kamu bersedia, aku menunggu di rumah orangtuanya," Ucap Eca sekaligus memberikan alamat rumahnya pada Erland.
"Baik dokter. Terimakasih untuk waktunya! Semoga anda selalu sehat." Ucap Erland terlihat bahagia.
Tepat pukul tujuh malam, semua keluarga Delvin berkumpul karena Eca dan si kembar bebas tugas di rumah sakit. Keluarga ini berkumpul di halaman belakang untuk makan malam.
"Bunda...! Kenapa kita harus memakai baju rapi hanya untuk makan malam di rumah saja?"
Tanya Ciky pada Eca yang terlihat menyimpan geram pada putri pertamanya itu.
"Mungkin bunda ingin melihat kakak Ciky tampi cantik malam ini karena selama ini Kaka Ciky terlihat sangat jelek dengan aroma obat dan alkohol." Goda Caca.
"Ciky ..! Ada yang ingin bunda tanyakan kepadamu dan kamu juga Chiko. Kenapa Ciky harus membantu Erland saat pria itu diserang oleh sekelompok penjahat?" Tanya Eca membuat Delvin terperanjat dan juga Ciky.
"Apa...? Membantu melawan penjahat....?" Tanya Delvin menatap putri pertamanya.
"Iya Delvin. Putrimu ingin menjadi pendekar wanita untuk membela kebenaran hingga mempertaruhkan nyawanya demi seorang pria yang bernama Erland Hadi Billy Purwanto.
Cucu dari pendiri software terkemuka di Indonesia." Ucap Eca gamblang membuat Delvin benar-benar syok.
"Jawab itu Ciky!" Bentak Delvin membuat Ciky terpaku.
"Aku hanya tidak mau jadi saksi bodoh yang hanya bisa melihat terjadi pembunuhan malam itu.
Erland di serang lima orang penjahat sekaligus membuat aku tidak tega melihatnya teraniaya.
Jika aku bisa membantu, kenapa tidak aku gunakan ilmu bela diri untuk melindungi orang yang lemah." Ucap Ciky membela diri.
"Bagaimana kalau kamu nya yang terbunuh hanya ingin menjadi pahlawan kesiangan?"
Tanya Delvin dengan wajah kelam.
"Pahlawan kemalaman ayah. Kejadiannya kan malam hari, iyakan kak Ciky."
Ucap Cika membuat kedua orangtuanya hampir ngakak.
"Assalamualaikum...
selamat malam ...!" Sapa Erland pada keluarga Delvin.
"Waalaikumuslam...!" Jawab keluarga itu serentak sambil memalingkan wajah mereka melihat kedatangan Erland.
Betapa kagetnya Erland saat melihat dokter Eca duduk berdampingan dengan Delvin.
"Astaga...jadi dokter Eca ibu dari dokter Ciky....?" Batin Erland menahan gugup.
"Pria itu yang ditolong putrimu Ciky dan dia ke sini ingin melamar putri pertamamu Ciky."
__ADS_1
Ucap Eca membuat Delvin tersentak.