
Mereka berdua hanya bisa diam dan sibuk dengan pikiran masing - masing.
Beberapa puluh menit kemudian, Carl sudah masuk ke parkiran sebuah Cafe yang cukup besar.
Setelah memarkir mobilnya, Carl dan Mona keluar dari mobilnya, mereka berjalan masuk ke dalam cafe dan duduk berhadapan.
Tak lama seorang pelayan datang, mereka pun memesan minuman.
Carl memulai percakapan.
"Nona saya Carl, maaf boleh saya mengenal anda."
Menjulurkan tangannya sebagai salam perkenalan.
Mona menyambutnya, menggenggam tangan Carl.
"Saya Monalisa, sahabat Alexa."
Melepaskan tangannya.
"Senang berkenalan dengan anda.."
"Iya sama, sayapun senang berkenalan dengan anda, walau aku sangat kecewa dengan anda."
Carl menatap kebingungan dan mulai sangat khawatir.
"Maaf Nona, jika aku membuat anda kecewa, tolong di jelaskan Nona, sungguh aku sangat bingung."
"Wajah anda memang sangat tampan, dan sangat mirip dengan Ayah Nico, tapi kelakuan anda sangat brengs*k"
Carl tersentak dan shock, dan hatinya sungguh kebingungan.
"Maafkan saya Nona, mohon jelaskan apa yang sebenarnya terjadi."
__ADS_1
Mona pun mulai bercerita, tentang curhatan sahabat nya dan Nico yang mendengar percakapan mereka, dan sangat terpukul yang akhirnya menentang hubungan Momy nya dan Carl.
Tubuh Carl terasa tak bertulang, dia sangat shock dan depresi, dia tidak menyangka kesalahan nya dari awal menjadi lobang saat ini, yang sangat lebar, dan dalam di antara cinta mereka saat ini. Berapa kali Carl menarik nafas panjang bahkan matanya mulai berkaca - kaca.
"Maafkan aku, memang aku pria brengs*k, aku pria yang tak berguna. Tapi sungguh aku sangat mencintai mereka berdua."
Menatap Mona dengan tatapan yang begitu sedih.
Mona pun terenyuh.
Melihat Carl yang begitu rapuh dan terpukul dia bisa melihat sangat banyak cinta, di dalam mata itu, untuk sahabat nya dan anaknya.
Mona menarik nafas dalam.
"Carl kamu tahu, berapa berharganya Nico bagi Alexa, dia adalah nafas dan hidup Alexa dan kamu tahu, dia pasti akan memilih anaknya."
Carl menatap Mona dengan pandangan sedih.
Carl meneteskan air mata kepedihan.
Mona sangat kasian melihatnya, dia bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri, jika Carl pun sangat mencintai sahabatnya dan anaknya.
"Saran saya Carl, jauhi dulu sementara mereka, dan mulai mencari cara untuk memperbaiki hubungan kalian sedikit demi sedikit."
Carl menatap Mona dengan tatapan sendu.
"Aku tidak sanggup bertemu Nico lagi, aku sungguh sangat mengecewakannya."
"Jangan pesimis, jika memang kamu menganggap mereka sangat berharga, perjuangkan cinta kalian."
Carl menatap sendu, di matanya sudah tak ada cahaya harapan lagi.
"Aku sungguh mencintai mereka berdua.."
__ADS_1
Carl tak malu lagi menangis, dia merasa dia sudah kehilangan Alexa dan anaknya.
"Mengapa hatiku begitu sakit sekali Mona..?
Mengapa aku begitu sangat sakit akan kehilangan mereka.?
Aku begitu menyayangi dan mencintai mereka Mona."
Mona mengambil tangan Carl dan menggenggamnya.
"Kamu harus kuat Carl, aku akan membantumu. Kamu tahu Alexa pun sangat mencintai kamu, dia terus menangis bahkan Nico. Mereka juga sangat mencintai kamu. Carl kamu hanya bisa sabar dan mencari cara untuk mendapatkan cinta mereka kembali. Okey..."
Carl menatap wajah Mona, dan mulai sedikit tersenyum.
"Baiklah...apa yang harus aku lakukan sekarang Mona, aku sungguh sangat mencintai mereka berdua."
"Jangan temui dia dulu, tapi tetap beri kan mereka chat setiap hari, permohonan maaf atau apalah. Kamu hanya butuh banyak kesabaran saja."
Mona melepaskan tangan Carl.
"Semangat yah...Mereka pantas kamu perjuangkan !!"
Carl mengangguk.
"Anda sahabat yang sangat baik..."
"Iya tuan Carl...sekarang aku juga sahabat baru kamu okey...!!"
Carl mulai tersenyum walau hatinya saat ini sedang hancur dan sangat sedih.
Mona menyuruh Carl menyimpan nomer ponselnya dan Mona pun mengambil nomer ponsel Carl.
Bersambung.
__ADS_1