
Pemilik sepasang mata itu adalah Nico. Perasaannya kini sedang kacau dan gundah gulana. Diapun melangkah dengan gontai ke kamarnya.
Nico masuk ke kamarnya, menutup pintu kamarnya. Diapun berbaring terlentang dan menatap langit - langit kamarnya.
"Apakah aku egois...?
Apakah aku sangat melukai hati Momy ku ?
Apakah Paman Carl bisa di percaya...?
Apakah benar mereka keluargaku..."
Tapi mengapa akupun begitu sayang mereka.
Kakek akan datang, dan semua nantinya akan jelas, jika memang dia adalah keluargaku atau bukan. Jika memang mereka adalah keluargaku. Aku tidak akan jadi penghalang lagi bagi Momy dan Paman Carl."
Nico bangun dan beranjak keluar kembali, Karna saat ini kakeknya tak akan lama lagi datang. Dia sudah dekat dan hampir tiba di rumahnya.
Nico terus berjalan keluar ke ruang tamu.
Disana sudah ada Momy nya dan Dady Paman Carl.
Mereka menyambut kedatangan Nico dengan senyum yang lebar.
Alexa membawa anaknya duduk di sampingnya, merangkul bahunya dan mencium pipi anak kesayangannya.
"My Baby Kakek tak lama lagi datang, Paman Carl dan Joy sudah menjemputnya."
Tak berselang lama, suara deru mobil telah memasuki pekarangan Rumah Besar Alexa.
__ADS_1
Alexa, Nico dan Dady Carl segera berdiri dan berjalan keluar menyambut kedatangan Kakek Nico.
Tampak Carl dan Joy sudah diluar mobil dengan Kakek Nico. Mulai berjalan mendekati mereka yang berdiri di teras.
Nico langsung berlari memeluk Kakeknya.
Pria setengah baya itu pun, berlari menyambut pelukan Cucu kesayangannya.
Mereka berpelukan lama, tak hentinya Kakek Nico mencium kening, dan ubun rambut cucu kesayangannya.
Alexa pun mendekat dan memeluk mereka bertiga. Lama mereka berpelukan melepas rindu.
"Cucu tampanku...aku sangat merindukan kamu Cucuku..."
"Aku juga Kakek sangat merindukan kamu."
"Ayah...Mari masuk Ayah...ke rumah."
Dady Carl pun berjabat tangan dengan Kakek Nico, dan mereka pun berpelukan.
Alexa membawa Kakek Nico ke ruang makan, mereka pun makan bersama. Alexa sudah mempersiapkan makanan kesukaan Kakek Nico. Mereka makan sambil bercerita dengan akrab, tapi belum membahas masalah Almarhum Dady Nico.
Setelah makan mereka pun ke ruang tamu, dan mulai berbincang serius.
Dady Carl mulai bercerita, Joy dan Carl tampak menggandeng tangan Momynya yang ingin juga keluar dari kamarnya untuk menyambut Kakek Nico.
Kakek Nico menyambut uluran tangan dari Momy Carl.
"Almiranza...."
__ADS_1
"John...'
Mereka saling memperkenalkan nama.
Momy Carl pun tersenyum lebar, dan duduk bergabung.
Kakek Nico pun kembali duduk di tempatnya semula, dan mulai membuka percakapan.
"Aku dan Istriku sudah lama menikah tapi tak dikarunia anak. Jadi kami memutuskan untuk memiliki anak adopsi.
Hari itu kami pun berangkat ke sebuah pantai asuhan, yang di rekomendasikan temanku.
Disana Istriku langsung jatuh cinta dengan anak yang bermata indah dan sangat tampan. Kira - kira berumur sepuluh tahun. Istriku langsung menjatuhkan pilihannya kepada bocah yang sangat tampan itu.
Kamipun bertemu dengan kepala Panti Asuhan itu dan mulai mencari tahu tentang siapa anak itu..?
Kepala Panti Asuhan itu pun menyuruh pengasuh disana, untuk mengumpulkan semua anak Panti Asuhannya, agar semua anak panti asuhan berkumpul di sebuah ruangan.
Kami pun berbincang kembali, dan kami pada waktu itu, mau juga mendaftar sebagai salah satu pendonor dana setiap bulannya untuk anak - anak yang ada di Panti Asuhannya.
Kepala Panti Asuhan menyambut dengan sangat baik atas kesediaan kami, jadi salah satu pendonor dana di Panti Asuhan yang di pimpinnya.
Tak berselang lama pengasuh yang di perintahkan mengumpulkan anak - anak tersebut sudah berada di ruangan bersama kami, dan menjelaskan kalau semua anak - anak sudah berkumpul.
Kamipun berdiri dan mulai melangkah beriringan ke ruangan tersebut.
Setelah sampai di depan pintu sebuah ruangan bercet warna kuning. Kami pun mengikuti pak Kepala Panti masuk ke
ruangan itu.
__ADS_1
Tampak sudah banyak anak - anak yang duduk melantai di sana menunggu kami.
Bersambung.