
Keempat pasang mata berpandangan kembali, dengan jarak dekat. Mereka pun menjadi grogi kembali dan mengalihkan pandangan mereka kembali.
"Pak Direktur, sepertinya kepalaku sangat sakit..."
Andre membawa jemarinya memijit dahi Ae Ri
"Disini yaaahh...."
Tubuh Ae Ri terasa panas dingin, mendapat sentuhan lembut jemari Andre.
Andre terus memijatnya, bahkan membawa kepala Ae Ri bersandar di bahunya dan memijitnya.
"Tidak usah malu lagi denganku, apapun yang kamu minta saat ini, jangan sungkan memberitahuku, jika memang kamu hamil, aku akan menikahi kamu. Jika anak itu lahir kita khan bisa bercerai."
Ae Ri sangat senang mendengar Andre akan menikahinya, dia akan segera mendapatkan perhatian lebih dari Andre, tapi dia pun merasa sedih karna Andre tidak mencintainya hanya kasian dengan dirinya.
"Ae Ri Mengapa nasib kamu harus semalang ini..?"
Kesedihan menyelimutinya, Ae Ri menangis.
__ADS_1
Andre menyadari kata - katanya mungkin sangat menyakitkan bagi Ae Ri.
"Maafkan aku Ae Ri, aku adalah pria yang sangat jahat dan tega."
Masih memijit dahi Ae Ri, Andre pria normal, dia menyadari kalau Ae Ri, memiliki wajah yang sangat cantik dan manis, tapi cintanya pada Alexa, sangat besar. Dia masih memiliki rasa cinta yang besar untuk Alexa. Walau gadis di hadapannya ini, mungkin saja sudah mengandung anaknya.
Ae Ri menghapus air matanya dan tersenyum.
"Tidak pak Direktur, aku juga bersalah tidak menolak mu, aku akui aku sudah mencintai kamu pak Direktur, Maafkan aku...dan aku pantas anda perlakukan seperti ini."
Menatap Andre dengan air mata yang berlinang di kedua pipinya.
Andre menatapnya dan mengusap air mata Ae Ri.
Ae Ri menatap Andre dengan sendu, dan sedikit tersenyum walau hatinya begitu sakit, jika mendengar Andre akan bercerai dengannya jika anak mereka lahir, itupun jika benar - benar Ae Ri hamil.
"Ae Ri Ayuk kita keluar, membeli alat tes kehamilan, aku ingin melihat langsung
Apakah kamu benar - benar hamil. ?"
__ADS_1
Ae Ri mengangguk lemah. Setelah memoles bedak tipis sedikit di wajahnya. Andre dan
Ae Ri berjalan keluar kantor. Di iringi semua pandangan karyawan di kantornya, yang sibuk menjodohkan mereka, tampa mereka tahu.
Ae Ri sudah berada di dalam mobil. Andre melarang supirnya, membawa mobilnya dia yang menyetir sendiri mobilnya, dan Ae Ri di suruh nya duduk di sampingnya, bahkan Andre memasangkan sabuk pengaman mobil di tubuh Ae Ri. Membuat Ae Ri kembali baper, tapi dia mencoba bersikap biasa.
"Di balik sikap cueknya, ternyata Andre sangat perhatian dan penyayang serta romantis. Aku begitu iri padamu Alexa.."
Desahnya dalam hati, mobil pun bergerak maju, membawa Ae ri dan Andre di dalamnya yang sedang menyetir. Beberapa saat kemudian Andre sudah tiba di depan sebuah Apotik besar.
"Ae Ri, turunlah membelinya, aku tidak enak menemani kamu, takutnya ada yang mengenal ku."
Ae Ri mengangguk dan memakai masker dan kacamata, yang sudah dia persiapkan untuk membeli alat itu. Andre tadi singgah membelikannya.
Ae Ri turun dan berjalan ke dalam Apotik. Andre menunggunya dengan hati yang resah dan khawatir.
"Semoga saja Ae Ri hanya masuk angin, aku tidak mau menikah, jika akan menyakiti hatinya juga nanti. Aku sangat bingung..
Apa yang harus aku katakan pada keluargaku,?
__ADS_1
Pasti keluarga ku akan sangat kecewa kepadaku."
Bersambung.