
Mobil pak Joko sudah standby di depan pintu keluar rumah sakit Raci Pasuruan,,, Rio sudah menghubungi pak Joko untuk menjemputnya setelah di perbolehkan pulang oleh dokter ,,, Rio memilih untuk langsung pulang kerumahnya karena menurutnya pulang kerumah adalah pilihan terbaik untuk saat ini ,, selagi papa nya belum pulang dari Kalimantan
Yuda membopong badan Rio menuju mobil pak Joko ,,,.Yuda sedikit kerepotan saat Rio sesekali minta berhenti untuk membenahi penutup wajahnya ,,karena ia takut wajah lebamnya akan terekspos di awak media ,,
" Ini makasih surbannya " Ucap Rio saat sudah berhasil duduk tenang di mobilnya
" Kalau mas mau, buat mas Rio aja " Yuda menguraikan senyumnya
" Wah.. makasih ya! Alhamdulillah dapat surban dari pak ustadz"
" Apaan sih mas hehe , ini tanda terimakasih saya atas apa yang sudah mas berikan ke saya , meskipun ini benar-benar gak ada apa-apanya dibandingkan kebaikan mas pada saya "
" Sudah sudah... itu rahasia kita aja oke ! nanti kalau pak Joko tau , bisa-bisa dia juga minta jatah hahaha " ucap Rio melirik pak Joko yang sudah siap untuk menyetir
" Gitu ya mas , iya iya saya tau , sekali lagi makasih ya mas " Yuda melirihkan suaranya dengan sedikit membisik
Perut Rio dibuat geli dengan sikap Yuda , sungguh begitu polosnya Yuda hingga ia selalu bersikap sedikit norak tapi lucu
Rio pun akhirnya pamit sebelum perutnya di buat makin kaku karena tingkah Yuda dengan kepolosannya , kini ia sadar kenapa papanya selalu membandingkannya dengan Yuda , karena memamg Yuda yang memang tulus apa adanya dan selalu bersikap jujur serta sikapnya yang begitu lugu ,pastinya membuat siapa saja yang mengenalnya akan sangat mengaguminya
Mobil Rio mulai melaju dan meninggalkan Yuda di depan rumah sakit sendirian, sedangkan Yuda masih menunggu pak Udin untuk menjemputnya ,
Air mata Yuda tiba-tiba menetes , saat ia melihat mobil ambulance yang standby di depan ruang UGD , hal itu mengingatkannya pada kejadian beberapa hari yang lalu, kejadian dimana ia harus menguatkan diri melihat kekasihnya lemah tak berdaya didalam ruangan sana dan akhirnya ia harus naik ambulance karena Via yang harus dirujuk ke rumah sakit Surabaya
" Via , apakah kamu sudah bahagia disana? aku sangat mencintaimu, aku benar-benar merindukanmu Via " gumam Yuda di tengah-tengah Isak tangisnya
Mobil pak Udin sudah sampai di depan Pintu masuk , karena itu permintaan Yuda untuk tak perlu masuk kerumah sakit karena Yuda bilang akan menunggunya di depan gerbang pintu masuk
Yuda membuyarkan lamunannya saat hpnya berdering dan tertulis nama Pak Udin disana !
__ADS_1
" Ya Allah... ini pasti pak Udin udah nyampek depan gerbang " Ucap Yuda berlari kearah depan gerbang
Yuda menghampiri pak Udin dan meminta maaf karena harus menunggunya , Yuda menjelaskan bahwa ia lupa kalau harus ke gerbang depan
Pak Udin tak mempersoalkan hal itu sama sekali, karena pak Udin tau jelas bagaimana perasaan Yuda saat berada dirumah sakit ini , tanpa Yuda menjelaskan pun, pak Udin sudah melihat kesedihan dari tatapan matanya
...****************...
Pagi yang sangat berat bagi Lutfi , karena ia sangat merindukan istrinya , Aulia tak menghubunginya walau hanya sebatas pesan saja
Lutfi tak ada semangat untuk bekerja , ia merasa hubungannya dengan Aulia makin tak terkontrol ditambah lagi kehadiran putra kecilnya yang wajahnya selalu terngiang di kepala Lutfi
Lutfi ingin membawa Wawan datang kerumahnya tapi bagaimana dengan mama papanya ! apakah mereka akan mau menerima Wawan sebagai cucu mereka , dan bagaimana jika Aulia tak mau menerimanya lagi jika tau kalau ia sudah memiliki seorang putra
Drrrtt...!!
( Kamu sibuk apa gak nak ? Bapak mau bicara sama kamu ? )
Sebuah pesan yang membuat jantung Lutfi berdebar kencang, ia tak tau harus menjawab apa! karena ia merasa takut dengan apa yang akan di bicarakan oleh ayah mertuanya
( Kamu datang ke panti siang ini ya! Ayah tunggu ! ayah mau membicarakan soal Aulia nak )
Bahkan Lutfi belum membalas pesan ayah mertuanya tapi ayahnya sudah mengirim pesan lagi perihal kenapa Lutfi harus datang ke panti
Dengan tangan bergetar , ia membalas pesan ayahnya , ia menghapusnya beberapa kali karena takut salah dengan jawabannya , dan akhirnya ia membalas dengan singkat , padat dan jelas
( Lutfi gak sibuk Yah! nanti habis sholat Dzuhur Lutfi datang ke panti Yah )
( Baiklah, ayah tunggu ya nak )
__ADS_1
( Iya ayah )
Lutfi menutup matanya., ia mencoba menenangkan diri dan memikirkan jawaban apa yang harus ia siapkan untuk menghadapi ayah mertuanya
Jujur dalam lubuk hatinya yang paling dalam , ia masih sangat mencintai Anggi apalagi saat ini mereka sudah memiliki seorang putra kecil , namun kini ia sudah menikah dan bahkan mulai mencintai istrinya ,
Ditambah lagi, Lutfi merasa tak tenang membiarkan anaknya tinggal dengan mama Rosi, sudah jelas yang difikirkan mama Rosi hanya uang dan kesenangan saja , ia juga kasian pada Anggi yang harus berjuang sendirian disana
"Baiklah, mulai sekarang Aku harus memperbaiki hubungan ku dengan istriku dan aku juga harus bisa membagi waktuku dengan anakku "
Tanpa berfikir panjang lagi , Mobil Lutfi berjalan menuju panti , bahkan saat ini masih pukul 7 pagi, bukan waktu yang sudah ditentukan tadi , ia sudah tak sabar ingin segera bertemu dengan istrinya
Setibanya di panti , Ayah Sulaiman dan Ibu Sarah masih belum kembali dari acara hajatan tetangganya , karena memang perjanjiannya tadi habis sholat Dzuhur jadi pak Sulaiman pergi ke acara hajatan tetangganya
Kedatangan Lutfi membuat Aulia takut , ia sangat ketakutan hingga berlari ke kamar Lila tanpa menyapa Lutfi atau bahkan bersalaman dengannya
Lutfi yang melihat istrinya lari terbirit-birit membuatnya sangat sedih, mengapa Aulia sebegitu takutnya kepadanya , seolah melihat sosok hantu yang begitu seram
" Maaf sayang, jangan takut , aku janji gak akan mengulang kesalahanku lagi, aku gak akan pernah memukulmu sayang, kejadian kemarin hanya karena gerakan reflek aja karena emosiku yang tak terkontrol sayang, aku benar-benar tak bermaksud untuk menyakitimu sayang " Lirih Lutfi saat melihat Aulia berlari kencang meninggalnya yang sedang duduk di teras rumah pak Sulaiman
" Assalamualaikum, nak Lutfi " sapa Ayah Sulaiman
" Waalaikumsalam , Ayah dan ibu darimana? kok pake baju resmi gitu ? " tanya Lutfi
" Dari kondangan acara nikahan tetangga nak , yaudah masuk dulu yuk ! " ajak ayah Sulaiman
Akhirnya Ayah Sulaiman dan Lutfi duduk di ruang tamu rumahnya , sedangkan ibu Sarah menyuguhkan beberapa cemilan dan teh hangat untuk Lutfi dan Suaminya
Ibu Sarah sejak tadi hanya diam,.ia masih tak terima dengan sikap Lutfi yang kasar , ia takut Aulia akan menjadi korban kekerasan dari Lutfi
__ADS_1