
Seminggu menemani papanya di rumah sakit membuat makan dan tidur Inara menjadi tidak teratur. Ditambah lagi jadwal kuliah yang padat membuatnya harus bolak-balik kampus rumah sakit untuk menjaga papanya. Ana maupun ibunya memang datang ke rumah sakit namun tidak pernah lama. Mereka hanya sekedar ingin tahu bagaimana perkembangan kesehatan lelaki tua itu. Sean tidak pernah menemani Inara karena pekerjaan yang terlalu sibuk.
Siang ini tuan Abi sudah diperbolehkan pulang. Kemarin dokter sudah menyampaikan hasil tes laboratorium kepada Inara. Gadis itu begitu terkejut saat mengetahui di setiap aliran darah papanya mengandung racun dan sudah lama mengendap di bagian ginjal. Dan jika dibiarkan terus menerus maka alat vital yang berfungsi untuk menyaring racun dalam tubuh itu akan rusak. Tentunya dapat mengganggu aktifitas tuan Abi kedepannya.
Semalaman Inara berfikir bagaimana bisa tubuh papanya mengandung racun sedangkan makanan yang papa makan selalu sehat. Setiap pagi Inara juga selalu melihat papanya pergi jogging. Inara pun mencurigai mereka dan mulai melakukan penyelidikan dengan memasang cctv yang tersembunyi di bagian dapur. Dia ingin tahu bahan apa saja yang dimasak oleh bibi maupun orang lain yang berada di dalam rumah.
Di kampus kepala Inara terasa pusing dia ingin pergi ke klinik yang berada di kampus. Dia bangkit namun rasa pusing yang mendera begitu hebat matanya mulai berkunang-kunang dan tidak lama tubuhnya terkulai lemas matanya pun mulai menggelap. Seorang lelaki menggendong tubuh Inara. Membawanya ke ruang kesehatan di sana.
“Dia hanya kelelahan perutnya juga kosong itulah yang membuat gula darahnya menurun dan pingsan.” ucap dokter setelah selesai memeriksa keadaan Inara.
“Setelah dia sadar beri dia makan dan vitamin ini padanya.” dokter memberikan sejumlah vitamin untuk mempercepat kesembuhan Inara.
“Terima kasih Dok.” jawab Nail.
Dokter pergi meninggalkan ruangan dan tinggalah mereka berdua. Nail Anderson adalah lelaki yang satu fakultas dengan Inara. Seorang pria blesteran antara Indonesia dan Perancis. Tubuh tinggi, wajah tampan dan anak orang kaya. Nail putra bungsu keluarga Anderson pemilik rumah sakit terbesar di Indonesia yang memiliki cabang di Singapura dan Perancis. Nail baru masuk kuliah hari ini. Dia baru tiba dari Perancis kemarin lusa.
Inara mulai menggerakkan jari tangannya. Perlahan matanya mulai terbuka namun rasa pusing masih dia rasakan.
“Aduh.” Sebelah tangan Inara memegang pelipis kepalanya. Memijat dengan perlahan untuk mengurangi rasa pusing. Dia melihat langit-langit ruangan yang begitu asing.
“Dimana aku?” lirih Inara karena tubuhnya yang lemah.
“Kau di ruang kesehatan. Minumlah.” Nail memberikan segelas air untuk Inara.
“Terima kasih.” ucap Inara setelah minum.
“Apa kau yang membawaku kemari?” tanya Inara. Nail pun mengangguk sebagai jawaban.
Inara bangkit dia mengambil tas yang sebelumnya Nail letakkan diatas meja. Gadis itu ingin pergi mencari buku untuk menyelesaikan tugasnya. Dia ingin lulus lebih cepat. Karena itu dia harus berjuang lebih keras lagi. Nail memegang tangan Inara menghentikan gerakan gadis itu. Inara melihat tangan Nail yang menggenggam tangannya pun Nail yang melihat kearah yang sama.
__ADS_1
“Maaf.” Ucap Nail yang merasa tidak sopan dan segera melepaskan tangan Inara.
“Kau mau kemana?” tanya Nail.
“Aku harus membeli beberapa buku sebelum tokonya tutup.” jawab Inara.
“Dokter kata kau harus makan terlebih dahulu supaya memiliki tenaga dan ini vitamin yang dokter berikan untukmu.” Nail memberikan vitamin itu kepada Inara.
“Ayo aku akan mentraktirmu makan.” Nail menarik tangan Inara mengajaknya pergi ke café terdekat. Inara tidak menolak sesungguhnya dia memang sangat lapar.
“Kau ingin pesan apa?” tanya Nail pada Inara yang sudah duduk di sebuah café di seberang kampus mereka. Inara membolak balik daftar menu yang tadi diberikan oleh pelayan café.
“Kau yang traktir?” Inara menatap Nail dengan penuh harap. Lelaki itu tersenyum mendengar ucapan Inara.
“Iya, pesanlah apa yang kau suka.”
Inara makan dengan begitu lahap. Nail yang melihat Inara makan merasa ikut kenyang. Nail tidak menyangka tubuh kecil itu mampu menghabiskan makanan sebegitu banyak. Inara bersendawa saat suapan terakhir berhasil masuk ke dalam perutnya.
“Oops, sorry.” Nail kembali tersenyum melihat tingkah Inara yang apa adanya. Setiap wanita yang makan dengan dirinya pasti selalu menjaga sikap agar terlihat anggun dan terlihat cantik. Namun Inara berbeda gadis itu sama sekali cuek dengan hal itu.
“Kau seperti belum makan selama seminggu.” cibir Nail dengan senyum manisnya.
“Kau benar karena papa masuk rumah sakit makanku jadi tidak teratur harus bolak-balik rumah sakit dan kampus karena jadwal kuliah yang padat .” keluh Inara.
“Terima kasih atas traktirannya lain kali aku akan mentraktirmu balik.” sambung Inara.
“Mana ponselmu?” pinta Nail dengan tangan menengadah meminta benda pipih pada gadis yang duduk di hadapannya.
“Ponsel?”
__ADS_1
“Iya, bagaimana aku bisa menagih janjimu jika aku belum memiliki nomer ponselmu?” Inara memberikan ponselnya dengan sukarela tidak ada salahnya jika hanya berbagi nomer ponsel saja.
“Kau mau kemana sekarang?” tanya Nail.
“Astaga aku harus pergi sekarang sebelum toko bukunya tutup.” Inara melihat jam di layar ponsel. Dia bangkit namun sebuah tangan memegang pergelangan tangannya.
“Biar aku antar.”
***********************
Seminggu tidak bertemu dengan Inara membuat Sean menahan rindu pada gadisnya. Tiga hari yang lalu dia harus pergi ke bali untuk meninjau pembangunan resortnya yang baru. Dia juga harus menggantikan kakak iparnya yang masih berada di luar negeri untuk meeting dengan klien di Singapura.
Dan hari ini dia kembali ke tanah air namun pekerjaan di kantor masih harus dia selesaikan terlebih dahulu. Sean terus melihat foto Inara yang dia jadikan wallpaper di ponselnya. Sebagai doktrin untuk menyemangati dirinya dalam bekerja. Bayang-bayang dirinya menyentuh tubuh Inara selalu terbayang setiap malam dalam pikirannya. Tubuh Inara bagaikan candu baginya.
Sean berhasil menyelesaikan pekerjaan lebih awal. Dia ingin segera pergi ke kampus Inara. Dia ingin memberi kejutan pada baby sugarnya itu. Saat bangkit dari kursi sebuah pesan masuk ke ponsel miliknya. Memperlihatkan sebuah foto yang mampu membuat ekspresi Sean berubah.
Lelaki itu kembali duduk meremas ponsel yang berada di dalam genggamannya. Kemudian memutuskan untuk pulang kembali ke apartemen miliknya. Di dalam apartemen Sean sudah menghabiskan sebotol wine yang menjadi koleksinya. Tubuhnya terbakar, rasa marah menyelimuti hatinya.
Inara masuk ke dalam apartemen Sean setelah sebelumnya lelaki itu mengiriminya pesan untuk datang ke apartemennya. Inara senang akhirnya dia bisa bertemu dengan orang yang sudah dia rindukan selama seminggu ini.
“Dad.” Inara terpekik saat Sean menariknya dengan paksa dan menghempaskannya diatas ranjang. Kemudian menindih tubuh kecilnya. Aroma alkohol menyeruak di indera penciuman Inara.
“Dad, kau minum?” tanya Inara menatap wajah yang dia rindukan beberapa malam ini.
Sean tidak menjawab dia membenamkan bibirnya pada bibir Inara. Mencium gadisnya dengan paksa menikmati dengan kasar bibir berwarna merah muda yang sudah menjadi candunya. Nafas Sean memburu saat melepas pagutan bibir mereka. Manik hitam milik Sean begitu berbeda. Manik yang biasa terlihat lembut kini berubah menjadi tajam.
“Dad.” Inara memegang lengan Sean berharap lelaki itu sadar dengan apa yang dia lakukan. Mendapat sentuhan Inara, Sean semakin meradang tangannya dengan kasar merobek baju Inara. Dan….
****Dan lanjut next bab ya teman-teman mungkin akan sedikit panas. Jangan lupa tinggalkan like dan komen kalian ya😊***
__ADS_1