
Bau masakan menyeruak di setiap sudut ruangan. Inara keluar kamar dengan memakai kemeja Sean yang kebesaran. Membuat tubuh gadis itu terlihat sexy meski tertutup oleh baju yang kebesaran. Sean begitu terpesona saat melihat Inara turun tangga memakai kemejanya. Pikiran liar Sean mulai berfantasi saat melihat tubuh Inara yang terbalut kemeja putih dengan Bra berwarna hitam yang terlihat menerawang. Mata Sean terus menatap Inara tanpa berkedip membuat telur yang dia goreng menjadi gosong.
"Bau apa ini, astaga!?" Sean langsung mematikan kompor saat telur mata sapi yang biasa berwarna kuning sudah berubah menjadi kehitaman.
"Kau masak apa Dad?" tanya Inara yang sudah duduk di meja makan mengambil apel kemudian menggigitnya.
Gigitan bibir Inara pada buah apel yang begitu pelan lagi-lagi membuat fantasi liar Sean menari-nari di otaknya. Inara yang melihat Sean diam dengan teflon di tangannya pun memicingkan mata dan kembali memanggil Sean.
"Dad." Sean masih dengan fantasinya membayangkan bibir Inara yang seolah menjadi candu bagi dirinya.
Inara bangkit menghampiri Sean. Menyentuh lengan Sean dengan lembut membuat lelaki itu tersentak kaget. Sentuhan Inara membuat isi pikiran-pikiran kotor Sean bersih dari otaknya.
"Kenapa aku menjadi berotak mesum." gumam Sean sembari meletakkan teflon diatas tempat cuci piring setelah sebelumnya membuang telur yang gosong ke sampah.
"Kenapa kau memakai bajuku? apa kau sengaja ingin menggodaku?" tanya Sean.
"Apa?" Inara merasa bingung harus menjawab yang mana. Apa Daddy sugarnya tidak ingat sudah merobek bajunya. Terus apa kata dia menggoda? Bagaimana bisa dikatakan menggoda sedangkan dia tidak melakukan apapun.
Sean sungguh frustasi fantasi liar kembali hadir di dalam pikirannya saat melihat Inara duduk di depannya dengan kancing kemeja dua paling atas yang tidak terkancing.
"Kenapa aku seperti ini?" gumam Sean yang merasa aneh dengan dirinya sendiri.
Sudah sering Sean melihat penampilan wanita yang jauh lebih sexy dan lebih terbuka daripada ini. Namun tidak ada reaksi apapun dalam dirinya. Dan sekarang hanya dengan baju yang kebesaran saja mampu membuat otak mesum menguasai pikirannya.
"Apa ini Daddy yang masak?" tanya Inara saat melihat dua nasi goreng yang sudah terhidang diatas meja makan.
"Ehm." jawab Sean sambil mengunyah sesendok nasi goreng yang sudah masuk ke dalam mulutnya
"Terima kasih." Inara pun mulai memakan masakan yang Sean buat.
"Enak." puji Inara saat rasa masakan Sean tidak terlalu buruk.
Mata Sean sesekali menangkap ke arah dada Inara. Tempat dimana dia ingin segera menyesap dan menikmati bagian itu. Perasaan ini sungguh membuat gelisah hati Sean. Dia ingin segera memakan hidangan penutup.
__ADS_1
"Selesaikan makan mu dengan cepat." ucap Sean menatap wajah Inara. Gadis itu pun hanya menganggukan kepala dengan pelan.
Tidak ada percakapan lagi diantara keduanya yang terdengar hanya dentingan sendok dan garpu yang bergesekan dengan piring.
Meminum air putih di gelas hingga tandas Inara pun segera menaruh gelas dan piring bekas makannya ke tempat cucian piring. Baru saja Inara mengambil spon untuk mencuci piring sebuah tangan menghentikan gerakannya.
"Biarkan saja ayo ke kamar." ajak Sean pada Inara.
"Ke kamar untuk apalagi ?" ucap Inara lirih. Gadis yang masih lugu ini tidak paham dengan maksud Sean. Tetapi Inara tetap menuruti perkataan lelaki yang sudah menjadi sugar baby-nya.
Memutar handle mendorong pintu dan seketika tubuh Inara di tarik oleh seseorang. Siapa lagi kalo bukan Sean. Lelaki itu memeluk pinggang Inara dengan begitu erat hingga bidang dada keduanya saling bertemu.
"Kau menggodaku, hm ?" ucap Sean memegang dagu Inara. Nafas Sean yang menyapu wajah Inara membuat tubuh wanita itu menegang.
"Tidak." jawab Inara dengan menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.
"Lalu ini apa?" Sean memegang dua kancing kemeja atas Inara yang terbuka.
"Ini aku ehm, aku tidak tahu kalo belum terkancing." jawab Inara jujur. Dia memang tidak sengaja lupa mengancingkan kancing kemejanya.
Bibir yang sekarang menjadi candu baginya. Inara memejamkan mata saat bibir Sean menempel pada bibirnya. Lelaki itu bermain begitu lembut hingga Inara membalas ciuman Sean. Mendapat balasan dari gadisnya tangan Sean mulai bergerilya masuk ke baju belakang Inara. Melepaskan pengait bra di punggung gadisnya.
Pertukaran saliva diantara keduanya masih berlangsung saat tangan Sean mulai membuka kancing kemeja Inara satu per satu.
Bibir Sean mulai menjelajah leher Inara menciptakan sengatan-sengatan listrik yang membangkitkan hasrat dan gairah. Lenguhan mulai terdengar dari bibir Inara saat menikmati sentuhan Sean yang memabukkan.
Dering ponsel terdengar saat Sean mulai menyesap sesuatu seperti seorang bayi.
"Dad." lenguh Inara.
"Panggil namaku baby." ucap Sean.
"Ponselmu berbunyi dad."
__ADS_1
"Biarkan." ponsel Sean kembali berdering dan ini cukup lama. Sean tidak peduli dia masih setia menikmati apa yang seharusnya dia nikmati.
Inara merasa terganggu dengan dering ponsel Sean yang tidak mau berhenti. Gadis itu memundurkan tubuhnya meminta lelaki itu untuk mengangkat panggilan telepon lebih dulu.
"Nada dering ponselmu mengganggu angkatlah dulu siapa tahu itu penting." Sean mengerang frustasi dia mengusap wajahnya dengan kasar.
Mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja samping tempat tidur Sean mengusap layar ponsel dengan ibu jarinya. Melihat siapa yang sudah mengganggu kegiatan panasnya hari ini.
"Sora." Inara mendengar Sean menyebut nama seorang wanita.
Inara menutup mulutnya saat teringat dengan wanita yang sedang hamil muda yang dia lihat tadi siang. Kemudian gadis itu membenahi bajunya mendekat ke arah Sean. Berusaha mencuri dengar apa yang dibicarakan oleh mereka.
"Baiklah, iya-iya aku akan mencarinya. Iya bawel." Sean menutup ponselnya dengan kesal. Bagaimana bisa sang kakak memintanya mencarikan mangga muda malam-malam begini.
"Kenapa?" tanya Inara saat melihat raut wajah Sean yang berubah kesal.
"Aku harus mencari mangga muda, dimana aku harus mencarinya hari sudah mulai gelap. Dia memintaku memetiknya dari pohon langsung dan harus masih ada getahnya. Aneh sekali wanita hamil." keluh Sean dengan permintaan Sora yang dia pikir aneh.
"Itu namanya ngidam." Sean menatap Inara lekat-lekat.
"Apa semua wanita hamil selalu seperti itu permintaannya?" tanya Sean.
"Tidak semua tapi setahuku permintaan yang kau sebut aneh itu namanya ngidam dan harus terpenuhi jika tidak nanti bayinya akan ileran. Itu kata orang-orang, aku sendiri tidak tahu karena aku belum pernah hamil." jelas Inara.
"Kalo begitu kenapa tidak kamu coba saja?"
"Apanya yang dicoba?" tanya Inara yang merasa tidak paham dengan maksud pertanyaan Sean.
"Hamil."
"Uhuk-uhuk." Inara tersedak ludahnya sendiri saat mendengar kata hamil keluar dari mulut Sean.
"Mana mungkin aku mau sedangkan dia sudah beristri."
__ADS_1
*****teman-teman semangatin aku yah dengan komen dan like kalian. Supaya bisa update rutin tiap hari๐๐โฅ๏ธ*****