
“Kenapa Sean tidak mengejarku? Kenapa dia malah memilih mereka?” kedua pertanyaan ini berputar-putar di otak Inara membuat kepalanya terasa pusing. Matanya mulai memerah karena menahan tangis.
“Ternyata Sean lebih mementingkan wanita itu dan anaknya daripada diriku.” Inara memejamkan kedua matanya membuat buliran air mata yang sempat dia tahan tiba-tiba lolos begitu saja dari tempatnya. Dada Inara terasa sesak membuat nafasnya tercekat menahan rasa sakit yang teramat saat seorang anak kecil berusia empat tahun memanggil suaminya dengan sebutan Papa.
Saat Inara ingin menepuk pundak wanita itu tiba-tiba seorang bocah kecil berlari ke arah mereka berteriak memanggil mommynya.
“Mommy.” anak itu langsung memeluk kaki ibunya.
“Sayang, kenapa keluar dari mobil.” tanya wanita itu kemudian berjongkok menyetarakan tubuhnya dengan tubuh anak itu.
“Aku mau ikut mommy. Aku bosan di dalam mobil mom.” ucap anak itu dengan begitu lancar.
“Mom, apa itu daddy?” bisiknya setelah melihat Sean berdiri disamping mereka. Wanita itu mengangguk dan mengedipkan sebelah matanya.
“Daddy.” teriak anak itu membuat kedua bola mata Sean dan Inara membulat sempurna merasa tidak percaya dengan apa yang mereka dengar.
Deg
Jantung Inara berdetak lebih cepat pun dengan dadanya yang mulai naik turun dengan ritme yang tidak teratur. Pandangan mata Inara tidak lepas dari anak kecil yang sedang memeluk kaki suaminya. Anak yang memanggil Sean dengan sebutan daddy.
Inara merasa kacau kemudian memundurkan kakinya selangkah ke belakang. Tubuhnya mulai melemas pun dengan kakinya yang bergetar. Hatinya begitu sakit seperti ditusuk oleh ribuan jarum yang sudah berkarat.
“Itu anak Sean. Sean memiliki anak. Anak itu anak Sean.” kalimat itu berulang kali berputar-putar di pikiran Inara. Tatapannya terus memandang anak itu yang sedang memeluk kaki suaminya. Mulut Inara terasa terkunci tidak ada satu kata pun yang lolos dari bibirnya. Tenggorokannya terasa tercekat seperti ada sesuatu yang begitu berat untuk dia keluarkan.
“Aku bukan daddy mu.” Sean melepas tangan anak itu dari kakinya membuat kedua mata anak itu berkaca-kaca. Sean tidak tega melakukan ini namun dia harus karena tidak ingin membuat Inara salah paham.
Bug
Paper bag yang berisi kotak makan terjatuh saat Inara berlari keluar dari perusahaan. Rasanya dia begitu tidak tahan melihat kenyataan itu. Meskipun belum tentu kebenarannya namun hal itu mampu membuat hati Inara hancur.
“Inara.” teriak Sean ingin mengejar istrinya namun pelukan erat bocah kecil itu menghalangi langkahnya.
“Daddy jangan tinggalkan aku. Hu hu hu.” Anak kecil itu menangis tersedu sambil memegang kaki Sean.
“Ach.” kesal Sean yang tidak bisa mengejar istrinya.
“Dad, jangan tinggalkan kami lagi.” ucap bocah kecil itu yang sudah berderai air mata di pipinya yang chubby. Sean menghela nafas dengan kasar melihat Sandra mantan kekasihnya hanya berdiri diam di tempat tanpa ingin menenangkan anaknya yang sedang menangis.
__ADS_1
“Sandra.” panggil Sean dengan menahan emosi.
“Iya.” jawab wanita itu dengan santai.
“Tolong jauhkan anak ini dariku.” pinta Sean karena dia ingin mengejar Inara dengan segera sebelum istrinya itu pergi terlalu jauh. Dan melakukan hal yang tidak dia inginkan kedepannya.
“Tidak, aku tidak mau. Aku mau bersama daddy.” rengek anak kecil itu tanpa ingin melepaskan pelukan tangannya di kaki Sean. Dalam hati, Sandra merasa senang karena anaknya ternyata bisa diandalkan dalam situasi seperti sekarang ini.
Sean mengambil ponsel dari dalam saku kemudian menelepon Devan untuk segera datang ke lobby. Tanpa menunggu waktu lama Devan pun segera datang. Bola mata lelaki itu membesar saat melihat mantan kekasih bosnya berada di sana.
“Sandra, sejak kapan dia berada di Jakarta.” batin Devan.
“Bos.”
“Devan tolong kamu ambil alih anak ini aku harus segera mengejar Inara. Dia pasti salah paham dengan semua ini.” Sean menggendong bocah itu dan memberikannya kepada Devan sebelum dia berlari keluar meninggalkan mereka. Sandra yang melihat itu merasa sangat kesal.
“Aku akan mengambil hatimu kembali Sean. Kamu milikku.” tekatnya dalam hati.
“Jangan coba-coba mengganggu hubungan mereka jika kau ingin semua baik-baik saja.” ucapan Daven seperti sebuah peringatan di telinga Sandra. Sandra tersenyum sinis saat mendengar ancaman keluar dari mulut Devan.
“Aku tidak mengancam. Aku hanya memperingatkan untuk tidak mengganggu Sean lagi.”
“Aku tidak mengganggunya.”
“Lalu dengan kamu datang bersama anak ini. Dan berkata bahwa Sean adalah daddynya apakah itu tidak mengganggu.” ucap Devan yang masih menggendong anak Sandra.
“Alex ayo pulang.” merasa di panggil mommynya anak kecil yang bernama Alex itu pun turun dari gendongan Devan dan menghampiri ibunya.
“Beritahu anak itu Sean bukan daddynya.” ucap Devan saat Sandra sudah berbalik untuk keluar perusahaan.
“Anak ini memang anak Sean.” ucap Sandra dengan lantang dan penuh percaya diri.
“Benarkah? Apa kau bisa membuktikannya?” tantang Devan kepada mantan kekasih Sean yang membuat sahabatnya terpuruk dengan kepergian wanita itu yang meninggalkan Sean tanpa pamit dan kabar. Dan sekarang tiba-tiba datang dengan seorang anak kecil yang dia akui sebagai anak dari Sean.
Wanita itu tidak takut melainkan merasa tertantang untuk merebut kembali Sean. Lelaki yang dulu menjadi ATM berjalan dirinya. Lelaki yang memenuhi semua kebutuhan dirinya. Sandra tersenyum sinis sebelum akhirnya menggandeng tangan anaknya untuk keluar dari perusahaan Sean.
“Aku yakin kau masih mencintaiku Sean.”
__ADS_1
Inara berlari keluar dari perusahaan tanpa melihat ke arah mana kakinya melangkah. Sehingga sekarang gadis itu merasa bingung dengan tempatnya berpijak sekarang. Inara tidak terlalu mengenal daerah perusahaan Sean. Ini pertama kali dirinya memasuki kawasan perusahaan suaminya.
“Dimana aku?” Inara melihat sekeliling ternyata dirinya sedang berada di sebuah taman. Terlihat beberapa area bermain anak-anak dan beberapa pedagang yang berjualan.
Inara memilih duduk di sebuah kursi panjang taman yang berada di bawah pohon besar yang rindang dengan daun-daunnya yang lebat. Menghirup udara sekitar menaikkan kepala memejamkan mata menghadap langit siang yang begitu cerah namun tidak secerah hatinya yang sedang mendung. Rasanya dia belum siap untuk kehilangan Sean.
“Jangan menangis Inara, jangan menangis.” Inara berusaha menyemangati dirinya namun sekuat apapun dia berusaha air mata tetap saja keluar dari mata indahnya. Mata yang berwarna hitam kini sudah memerah dan terlihat sedikit sembab.
Sambil menunduk Inara terus menghapus air matanya yang tidak mau berhenti mengalir melewati pipinya. Tangannya secara bergantian menghapus tetesan yang membasahi pipi kiri dan kanan.
“Ini.” seorang pria memberikan sebuah sapu tangan untuk Inara. Gadis itu langsung mengambil dan menggunakan benda itu untuk menghapus ingus yang keluar dari hidungnya karena menangis.Tanpa melihat siapa yang memberikan benda itu.
“Terima kasih.”
“Itu tidak gratis nona.” Inara langsung menatap wajah pria yang sudah duduk di sampingnya. Kemudian mengeluarkan dompet yang sebelumnya dia simpan di dalam tas selempangnya. Mengambil beberapa lembar uang serratus ribuan untuk dia berikan kepada pria yang juga menatap dirinya.
“Apa ini cukup ?” tanya Inara sambil menyodorkan uang tersebut.
“Saya bukan lelaki miskin yang kekurangan uang nona.” tolak pria itu saat Inara memberinya uang.
“Lalu?”
“Mana ponselmu ?” pinta pria itu dengan tangan menengadah meminta sesuatu.
Inara pun mengambil benda pipih tersebut. Namun sebelum memberikan kepada pria itu terlebih dahulu dia melihat beberapa panggilan tidak terjawab dari suaminya dan beberapa pesan yang masuk memenuhi layar ponselnya. Saat ingin membuka pesan pria itu dengan cepat merebut ponsel Inara kemudian menekan beberapa angka dan melakukan miscall ke ponsel miliknya. Sebelum mengembalikan sesaat pria itu melihat wallpaper Inara yang memperlihatkan foto dirinya dengan Sean. Pria itu tersenyum saat mengembalikan ponsel milik Inara.
“Apa kau menangis karena pria yang ada di ponselmu?”
“Apa?”
“Jangan khawatir aku akan membantumu.”
“Membantu? Apa maksudmu?” tanya Inara saat melihat pria itu bangkit dan berjalan menjauh meninggalkan dirinya.
“Itu nomerku jangan lupa di save. Aku akan memberitahu caranya nanti. Sekarang aku harus pergi.” Pria itu melambaikan tangan tanpa melihat Inara. Gadis itu mengangkat kedua bahunya kemudian memasukkan ponsel miliknya ke dalam tas kembali. Namun sebelum itu terlebih dahulu dia melihat pesan dari Sean dan melihat pesan dari nomor pria tadi.
“Setelah membaca pesannya non aktifkan ponselmu dan datanglah ke rumah sakit Jakarta Internasional. Temui aku disana.”
__ADS_1