Inara, My Baby Sugar

Inara, My Baby Sugar
Sungguh Perkasa


__ADS_3

Inara dan Sean sudah berada di sebuah kamar hotel. Setelah makan malam Sean membawa Inara untuk menginap di hotel mewah yang letaknya tidak jauh dari restoran. Rasanya Sean sudah tidak sabar untuk menikmati hidangan penutup yang begitu gurih dan creamy. Santapan yang selalu membuat dirinya bersemangat dan tidak pernah merasa puas. Selalu ingin lagi dan lagi jika itu berhubungan dengan istrinya.


“Dad, apa tidak sebaiknya kita pulang saja.” tanya Inara saat mereka berada di depan resepsionis hotel.


“Tidak, aku sudah tidak bisa menahannya lagi.” bisik Sean.


“Dad kau ini.”


“Sudahlah ayo.” Sean menggenggam tangan Inara mengajak istrinya untuk masuk ke sebuah kamar yang sudah dia pesan sebelumnya.


Handle pintu terputar dan Sean sedikit mendorong pintu itu agar terbuka. Dia mempersilahkan istrinya untuk masuk terlebih dahulu. Setelah itu mencari saklar dan menyalakan lampu kamar. Inara menutup mulut dengan kedua tangannya saat melihat kamar yang akan dia tempati seperti kamar pengantin baru. Di atas lantai dan ranjang bertabur begitu banyak kelopak mawar merah dan di tengah ranjang kelopak itu membentuk gambar hati.


“Apa kau suka?” Sean memeluk pinggang Inara dari arah belakang kemudian menempatkan kepalanya diatas bahu Istrinya.


“Suka, sangat suka.”


“Ayo kita buat bayi yang lucu seperti Langit.” detik berikutnya Sean membalik perlahan tubuh istrinya. Pandangannya kini tertuju pada bibir Inara yang menjadi candunya. Kemudian membenamkan ciuman disana dan menuntun tubuh Inara menuju ranjang mereka. Dan seperti malam-malam sebelumnya penyatuan tubuh yang menguras begitu banyak tenaga mereka lakukan berkali-kali. ******* yang keluar dari bibir keduanya menjadi penyemangat dalam mencari kenikmatan-kenikmatan yang memabukkan bagi keduanya.


Percintaan panas di dalam kamar hotel mereka lalui sepanjang malam. Hingga kini Inara terlelap setelah mencapai ******* terakhirnya bersama dengan Sean.


“Semoga kalian cepat tumbuh di dalam sini.” doa Sean membelai lembut perut Inara yang masih terlihat rata. Sebelum akhirnya Sean merebahkan tubuhnya disamping Inara. Membawa istrinya ke dalam dekapannya dan memberikan kecupan cukup lama di kening istrinya. Sebelum akhirnya ikut terlelap dengan posisi saling berpelukan.


****


Keesokan harinya


Sean sudah berada di perusahaan sebab ada rapat yang harus dia hadiri pagi ini. Meninggalkan Inara yang masih terlelap di bawah selimut.


Matahari yang mulai naik dari peraduannya mulai memancarkan sinarnya ke sebagian belahan bumi. Cahayanya yang masuk menerpa wajah Inara membuat wanita itu mulai terusik. Dia merentangkan kedua tangan menggeliat ke kanan dan ke kiri. Di rabanya sisi sebelah ranjang ternyata kosong dan sudah dingin. Itu artinya Sean sudah pergi cukup lama.

__ADS_1


Inara membuka mata kemudian menyandarkan tubuhnya pada sandaran ranjang. Dia mengambil ponsel yang berada di meja sisi ranjang. Dibukanya beberapa pesan yang sebelumnya sudah Sean kirim sebelum dirinya rapat.


“Selamat pagi my lovely wife.”


“Maaf ya aku pergi tanpa membangunkanmu.”


“Kau begitu lelah jadi aku tidak tega mengusik tidurmu. Aku sudah ijinkan kau di kampus jadi tidak perlu masuk kuliah hari ini.”


“Pakaianmu ada di dalam paper bag di atas meja dekat sofa. Jangan pakai pakaian yang semalam karena sudah rusak olehku.” Inara membayangkan betapa ganasnya Sean semalam hingga pakaian yang dia pakai sudah koyak dan tidak layak untuk dia pakai.


Inara menyibak selimut kemudian masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Di depan cermin dia melihat tubuhnya yang penuh dengan tanda merah yang ditinggalkan oleh Sean untuknya.


“Kau sungguh perkasa Dad.” Inara tersenyum membayangkan wajah Sean yang begitu hebat jika berada diatas ranjang.


Checkout dari hotel Inara memutuskan untuk pulang ke apartemen. Dia ingin memasak makan siang untuk suaminya. Dia juga berencana pergi ke kantor Sean untuk mengantar makan siang suaminya. Sekaligus mengunjungi perusahaan Sean untuk pertama kalinya.


“Akhirnya selesai juga.” selama hampir dua jam Inara berkutat dengan kompor dan peralatan masak lainnya.


Terlebih dahulu Inara membersihkan diri setelah selesai memasak. Kini Inara sudah berada di sebuah gedung dimana perusahaan Sean berada.


Pintu lobby terbuka dimana ada seorang security yang berdiri disana. Karena baru pertama kali melihat Inara maka security tersebut memberikan beberapa pertanyaan untuk Inara yang terlihat membawa kotak makan dalam sebuah paper bag yang berisi makan siang untuk Sean.


“Selamat siang nona maaf perusahaan kami memiliki peraturan. Pengantar makanan online tidak boleh masuk. Atas nama siapa biar kami yang mengantarnya. Silahkan letakkan disini dan anda boleh pergi.”


“Apa penampilanku seperti pengantar makanan online?” batin Inara melihat penampilannya sendiri.


“Aku bukan pengantar makanan online. Aku ingin bertemu dengan CEO perusahaan ini.” Jelas Inara akan maksud kedatangannya.


“Maaf nona CEO Sean sedang rapat. Memangnya siapa nona ingin menemui CEO kami? Apa nona sudah memiliki janji dengan CEO kami?” tanya security yang terlihat tegas melaksanakan kewajibannya.

__ADS_1


“Inara.” Panggil Sean yang baru saja keluar dari lift bersama dengan Devan dan rekan bisnis lainnya.


“Devan kau antar mereka keluar.” bisik Sean pada asistennya, Devan pun mengerti.


“CEO Sean, dia ingin bertemu dengan Anda. Apakah anda mengenalnya?” tanya security dengan sopan setelah sebelumnya membungkukkan badan sebagai rasa hormat bawahan pada atasannya.


“Dia adalah istriku.” Ucapan Sean membuat security sedikit terkejut karena yang dia tahu selama ini CEO mereka masih lajang dan belum menikah.


“Maafkan saya CEO Sean saya tidak mengetahuinya.”


“Tidak apa-apa lain kali biarkan istri saya langsung masuk.” ucap Sean yang terdengar seperti sebuah perintah.


“Baik CEO Sean.”


“Kembalilah bertugas.” perintah Sean membuat security meninggalkan mereka berdua.


“Apa yang kau bawa?” tanya Sean saat melihat sesuatu di tangan Inara.


“Ini makan siang untukmu Dad aku memasaknya tadi dan masih hangat.”


“Tapi hari ini aku akan sangat sibuk dan mungkin tidak ada waktu untuk berduaan denganmu. Aku masih ada meeting lagi setelah ini.” ucap Sean yang merasa tidak enak jika harus mengabaikan istrinya karena pekerjaan terlebih ini pertama kali Inara datang ke perusahaannya.


“Tidak apa-apa aku akan menunggumu sampai selesai meeting.” Inara tidak ingin kedatangan dirinya membuat pekerjaan Sean menjadi terganggu oleh karenanya dia akan menunggu Sean hingga selesai meeting.


“Baiklah ayo.”


“Kau duluan aku akan mengikutimu dari belakang.” ucap Inara saat Sean ingin menggenggam tangannya.


“Sean.” teriak seorang wanita cantik yang langsung berlari dan berhambur memeluk tubuh Sean. Mata Inara membulat disaat suaminya dipeluk oleh wanita lain. Sean tidak membalas pelukan wanita itu kedua matanya tertuju pada Inara yang masih berdiri mematung di hadapannya. Dada Inara begitu sesak saat menyaksikan lelaki yang dia cintai dipeluk oleh wanita lain di depan matanya. Tangannya mulai mengepal meremas paper bag yang berada di genggamannya.

__ADS_1


“Sean apa kau terkejut?” tanya wanita cantik itu. Sean tidak menjawab dia masih memandang Inara yang juga memandang dirinya dengan sejuta pertanyaan yang terpancar di kedua mata istrinya.


“Sean aku merindukanmu.” wanita itu memeluk kembali Sean dan menyandarkan kepalanya di dada lelaki itu. Membuat mata Inara memanas. Rasanya dia sudah tidak tahan dengan ini. Perlahan dia mulai melangkahkan kaki mendekati wanita itu. Kemudian menepuk pundak wanita yang telah memeluk suaminya. Dan…


__ADS_2