
Waktu terus berjalan dengan bumi yang berputar masih pada porosnya menyebabkan siang berganti dengan malam. Sang Surya juga sudah kembali ke peraduannya berganti dengan sang rembulan yang belum sempurna bentuknya. Cahaya lampu mulai menerangi indahnya malam. Tidak tertinggal bintang-bintang kecil yang ikut menghiasi langit malam yang syahdu.
Inara perlahan membuka mata saat merasakan sesuatu yang berat berada diatas perutnya. Dia pun menyibak selimut dengan kelopak mata yang masih menyatu. Tubuhnya terasa lelah seperti habis melakukan olah raga yang begitu berat.
Matanya tiba-tiba membulat dengan sempurna saat kelopak mata berhasil dia pisahkan. Detik berikutnya Inara pun berteriak sekencang mungkin saat melihat tubuhnya diatas ranjang.
"Aaaaa."
"Why baby?" tanya Sean yang begitu terkejut saat mendengar teriakan istrinya.
"Sean."
"Iya ini aku kenapa berteriak begitu kencang membuat panik saja." ucap Sean merebahkan kembali dirinya sambil memeluk pinggul Inara yang masih berusaha mencerna keadaan.
"Bagaimana bisa?" lirihnya dalam hati.
"Alex." Inara menyebut nama anak kecil yang beberapa jam lalu tidur bersama dirinya.
"Dad, dimana Alex kamu tidak mengusirnya kan?" tanya Inara menggoyangkan tubuh Sean membangunkan suaminya yang masih tertidur..
"Dad." Inara terus menggoyangkan tubuh suaminya hingga sesuatu yang tadinya tertidur menjadi bangun meminta haknya kembali.
"Baby, kau harus bertanggungjawab." ucap Sean menatap istrinya dengan penuh gai*rah yang mulai menguasai dirinya.
"Memang apa yang sudah aku lakukan?" tanya Inara memicingkan mata tidak mengerti dengan maksud Sean.
Bukannya menjawab Sean menuntun tangan Inara untuk menyentuh sesuatu. Membuat mata Inara melebar dengan apa yang baru saja dipegangnya.
"Jadi semalam itu bukan mimpi?" lirih Inara yang terdengar di daun telinga Sean.
"Kau bermimpi kita bercinta saat kau tidur?" Inara mengangguk menjawab pertanyaan suaminya.
"Hahahaa." tawa Sean pecah saat apa yang dia lakukan pada istrinya dikira hanyalah sebuah mimpi.
"Apa mimpi itu begitu nikmat hingga kau mende*sah begitu hebat?" bisik Sean setelah menyibak rambut Inara ke belakang daun telinga.
Blush
Pipi Inara langsung bersemu merah merasa malu saat mendengar bisikan Sean yang begitu menggelitik gendang telinganya.
__ADS_1
"Ayo kita ulangi."
"Tidak mau ." tolak Inara berusaha untuk turun dari ranjang. Namun gerakannya kalah cepat dengan pergerakan Sean yang kini sudah menindih dan mengunci pergerakan istrinya.
"Aku tidak akan mau bekerja sama." Inara kemudian berpaling ke arah jendela setelah mengatakan itu.
Sean tersenyum melihat tingkah istrinya. Kemudian dia mulai menikmati hidangan yang sudah terpampang jelas dan nyata dihadapannya. Inara yang semula tidak mau bekerja sama akhirnya menikmati dan membalas perlakuan Sean yang begitu memabukkan dirinya.
Hingga kini berbalik posisi Inara mulai memimpin permainan panas mereka.
"Lakukan yang kau mau baby, aku milikmu." ucap Sean memejamkan mata menikmati setiap sentuhan tangan dan bibir lembut istrinya.
Nyanyian merdu yang saling bersahut-sahutan
mengiringi pergerakan mereka hingga sampai sesuatu yang harusnya keluar mereka keluarkan secara bersamaan.
Nafas keduanya masih terengah-engah setelah kegiatan yang menguras tenaga baru saja mereka lakukan.
"You are the best baby." ucap Sean yang terus menghujani pucuk kepala Inara dengan kecupan.
"Aunty, aunty." bunyi pintu terketuk setelah Alex mengetuknya beberapa kali.
"Alex, bagaimana ini?" Inara nampak panik tidak mungkin dia membuka pintu dengan tubuh yang seperti sekarang.
Sementara Sean segera memakai celananya sebelum bocah itu mengetuk pintu lebih keras lagi.
Ceklek pintu terbuka.
Alex mengerutkan kening mendapati Sean yang membuka pintu kamar.
"Apa?" tanya Sean dengan ketidak ramahannya dengan seorang anak kecil. Menyandarkan tubuhnya pada pintu dengan tangan yang dia masukkan ke dalam kantong celana.
"Dimana aunty?" tanya Alex berlalu melewati Sean dan masuk begitu saja ke dalam kamar.
"Ish anak ini."
"Aunty, aunty." panggil Alex berkali-kali.
"Dia sedang mandi apa kau tidak dengar bunyi gemericik air di dalam kamar mandi?"
__ADS_1
Alex melihat sekeliling tempat tidur yang begitu berantakan. Sean yang menyadari arah pandang anak itu segera memungut selimut dan baju-baju mereka yang tergeletak sembarang diatas lantai kamar.
"Apa yang terjadi?" tanya anak itu pada Sean.
"Tidak ada." Alex menelisik ke dalam bola mata Sean untuk mencari kejujuran di sana.
"Sudahlah, ada apa kau mencari istriku?" Sean yang ditatap aneh oleh Alex merasa jengah hingga dia harus melemparkan pertanyaan untuk mengalihkan tatapan penuh arti dari anak yang kini berdiri dihadapannya dengan tinggi sebatas perutnya.
Kini suara perut dari Alex yang terdengar jelas di indera pendengaran Sean.
"Hehe, aku lapar uncle." ucap Alex sambil memegangi perutnya yang sudah terasa sangat lapar dengan senyum tiga jari di wajah anak itu.
Sean membuang nafas kasar kemudian meletakkan baju kotor yang sempat dia pegang ke atas ranjang. Memegang bahu anak itu mengajaknya balik kanan untuk segera keluar kamar.
"Baiklah ayo keluar aku akan memasak untuk kalian."
Mendengar ucapan Sean mata Alex menjadi berbinar-binar. Seumur hidupnya dia tidak pernah makan masakan rumahan. Terlebih saat ada seseorang yang mau memasakkan untuk dirinya.
"Duduklah." Sean menggeser salah satu kursi yang berada di meja makan dekat dengan dapur. Mempersilahkan anak itu untuk duduk.
"Kau ingin makan apa?" tanya Sean sambil memakai apron berwarna putih ditubuhnya.
Alex langsung menangis saat mendengar pertanyaan dari Sean. Dia begitu bahagia ada seorang lelaki dewasa yang seumuran dengan ayahnya begitu memperhatikan dirinya.
"Kenapa kau menangis?" Sean menyetarakan dirinya dengan Alex. Dia menghapus air mata yang mengalir di pipi anak itu dengan ibu jarinya.
"Uncle, hiks hiks." Alex berhambur memeluk Sean dengan begitu erat. Sean membelai punggung Alex membuat anak itu semakin sesenggukan.
Beberapa menit kemudian Inara keluar dari kamar saat Alex mengurai pelukannya dengan Sean.
"Semua akan baik-baik saja, jadi laki-laki harus kuat." nasehat Sean untuk Alex yang terlihat memiliki beban di usianya yang masih begitu kecil. Namun Sean tidak akan bertanya apa itu.
"Alex, Sayang apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Inara mendudukkan dirinya di samping anak itu setelah mengambil segelas air dingin dari dalam lemari pendingin.
"Aunty ,uncle akan masak untuk kita,ye ye ye." teriak anak itu bahagia.
Sean dan Inara saling pandang kemudian saling melempar senyuman. Inara mengacak-acak rambut Alex dan menghampiri Sean yang sedang membuat pasta.
"Dad." Inara melingkarkan tangannya di perut Sean.
__ADS_1
"Ada Alex tunggulah di sana. Jika masih kurang nanti malam kita lakukan lagi. Dengan senang hati aku akan melayani ratuku." bisik Sean kemudian mencium pipi Inara.
"Dasar mesum."