Inara, My Baby Sugar

Inara, My Baby Sugar
Bab 12 season2


__ADS_3

“Aku tidak menyangka kamu penggemar K-POP.” Seira berjalan beriringan setelah mereka selesai melihat konser Blackpink di BSD bersama Soni.


Lelaki itu tersenyum. Sejujurnya dia bukan penyuka K-POP. Tapi dia lebih suka keramaian tepatnya. Melihat langit gelap diatas dengan bintang yang bertaburan membuat Soni menghentikan langkahnya. Pun dengan Seira yang melihat Soni tiba-tiba berhenti.


“Apa kau suka bintang?” tanya Seira yang ikut menatap ke langit.


“Aku tidak suka bintang tapi mungkin tidak lama lagi aku akan menjadi bintang.” Tuturnya dengan sedikit rasa sedih yang tersemat di setiap kata yang Soni ucapkan.


Dahi Seira berkerut dalam. Tidak mengerti dengan maksud perkataan lelaki yang masih memandang bintang di langit.


“Lihat itu.” Tunjuk Seira pada sebuah meteor kecil yang bergerak. Orang biasa menyebut itu bintang jatuh.


“Ada yang bilang jika melihat bintang jatuh maka kita harus ucapkan permintaan. Siapa tahu dikabulkan.” Soni tersenyum melihat wajah ceria Seira. Wajah yang meneduhkan mata baginya.


“Kau percaya itu?”


“Tidak ada salahnya kita coba.” Seira kemudian menutup mata. Mengucapkan kalimat doa dalam hati.


Soni mengikuti apa yang dilakukan Seira. Mendongakkan kepala ke arah langit dengan mata tertutup ”Ya Tuhan berilah aku sedikit waktu lebih lama lagi untuk terus bisa bersamanya.”


“Apa yang kau minta?” Soni memukul lembut kepala Seira yang memang tubuhnya lebih pendek dari dirinya.


“Mau tahu aja.”


“Sudahlah ayo kita kesana. Aku sangat menginginkan makanan itu setiap kali kesini.” tunjuk Seira pada sebuah stand makanan yang sangat dia sukai.


“Kau yakin ingin makan itu.”


“Tentu saja, ayo.” Kedua mata Soni menatap tangan Seira yang menggenggam tangannya. Senyum terus mengembang di wajah Soni sepanjang perjalanan menuju tempat yang dimaksuk Seira.


Sementara di tempat lain


Seorang lelaki terus mendengarkan percakapan antara Soni dan Seira melalui alat penyadap yang dia letakkan di dalam jam tangan milik Seira. Beberapa hari yang lalu Alex memutuskan untuk bersikap biasa saja kepada Seira. Layaknya sebagai adik dan kakak. Meskipun tidak bisa memiliki setidaknya membiarkan Seira bahagia dan melindungi gadis itu dari jarak jauh sudah cukup baginya.


Tok tok tok


“Masuk.” Seorang gadis kecil menyembulkan kepala di balik pinta yang baru saja dia buka sedikit.


“Kak Alex sibuk?” tanya Emily.

__ADS_1


“Masuklah.” Emily membuka pintu dengan lebar satu langkah membuatnya memasuki ruang kerja yang terlihat gelap dan hanya terang di bagian meja kerja saja.


Alex menutup laptop miliknya. Berjalan mencari saklar untuk menyalakan lampu. Cahaya lampu membuat semua ruangan terlihat jelas.


“Aku heran kenapa kakak suka sekali gelap.”


“Karena cahaya kakak pergi bersama orang lain.”


“Cahaya? Pergi bersama orang lain?” Emily yang memang masil kecil belum memahami ucapan kakaknya.


“Apa kakak memiliki kekasih bernama cahaya?” Alex tersenyum kemudian mengacak-acak rambut depan Emily yang dipenuhi dengan poni seperti anak kecil dalam kartun Dora.


“Tidak. Katakan apa yang membuatmu menemui kakak.”


“Emily lapar kak. Mama sudah tidur dan Emily tidak ingin menganggu istirahat mama. Sedangkan kak Bryan pergi bersama teman-temannya. Kak Seira masih nonton konser. Hanya kak Alex yang bisa Emily mintai tolong.”


“Baiklah, ayo biar kakak masak untukmu.” Keduanya pun keluar dari ruang kerja Alex. Setelah sebelumnya mematikan lampu dan menutup pintu.


Alex memakai apron berwarna hitam. Membuat Emily semakin kagum dengan ketampanan kakaknya itu.


“Apa kakak tidak memiliki kekasih?” tanya Emily sebab selama dia tinggal bersama kakaknya ini belum sekali pun Alex membawa seorang gadis masuk ke dalam rumahnya.


“Karena menurutku kakak itu tampan sekali. Pasti banyak gadis yang mengejar-ngejar kakak.” Emily mengambil sebuah jeruk. Kemudian mengupas dan memakannya sambil menunggu Alex memasak untuknya.


“Seperti apa wanita idaman kakak?” sambung Emily.


“Seperti Seira.”


“Apa? Jadi kakak…” belum sempat Emily melanjutkan ucapannya pintu utama berhasil didorong oleh seseorang.


“Siapa yang datang?” Emily bangkit melihat orang yang baru saja masuk ke dalam rumah.


“Emily, kau belum tidur.”


“Aku lapar kak jadi aku meminta kak Alex untuk memasakkan sesuatu.”


“Oh yasudah kalau begitu kakak ke kamar dulu ya.” Seira berjalan melewati Alex yang sibuk di dapur. Keduanya sempat melihat satu sama lain di waktu yang berbeda. Namun tidak ada satu pun diantara mereka yang saling menyapa.


“Seperti ada sesuatu yang aneh.” Gumam Emily yang melihat perilaku kedua kakaknya.

__ADS_1


Keesokan pagi


Semua orang sudah berkumpul di meja makan. Tak terkecuali Seira dan Alex. Mereka duduk berhadapan. Sesekali saling pandang dalam diam. Bryan hanya diam mengamati mereka berdua.


“Sayang apa kau yakin tidak ingin kuliah disini? Universitas disini juga tidak kalah bagus dengan di luar negeri.” Bujuk mama Inara yang tidak ingin berjauhan dengan Seira. Putri sulungnya.


“Ma, bukankah kita sudah membahas hal ini berkali-kali.”


“Iya tapi…” Sean menggenggam tangan Inara memberi isyarat untuk tidak melanjutkan ucapannya.


“Lagipula Seira tinggal di asrama. Seira akan baik-baik saja ma.” tangan Inara digenggam oleh Seira membuat Inara tidak sanggup menahan air mata. Membayangkan putrinya pergi jauh meskipun untuk mengejar Pendidikan.


“Mama tenang saja, Papa akan memindahkan Alex di perusahaan cabang tempat Seira kuliah.”


“Apa?” baik Seira maupun Alex sama-sama terkejut dengan keputusan papanya.


“Dengan begitu Alex akan melindungimu disana seperti saat Alex melindungimu di Jakarta.” keduanya saling pandang.


“Tapi pa…” Seira ingin menolak tetapi papa Sean memberinya pilihan.


“Kau kuliah disana dengan Alex yang menjagamu atau kau melanjutkan pendidikanmu di sini?”Seira tidak menjawab dia lebih memilih untuk pergi dan masuk ke dalam kamarnya.


“Alex akan berbicara dengan Seira pa.” papa Sean mengangguk. Semua orang kembali menikmati sarapan mereka. Setelah itu pergi dengan kegiatan mereka masing-masing.


Di dalam kamar


Klik klik bunyi pintu yang baru saja dikunci dari dalam membuat Seira menoleh ke arah pintu. Alex berjalan mendekat. Seira hanya menatap lelaki yang baru saja masuk ke dalam kamarnya tanpa permisi. Alex kemudian duduk di sisi ranjang.


“Seira sudah besar kak. Seira bisa menjaga diri sendiri.”


“Kakak tidak akan mencampuri urusanmu disana. Terserah kau ingin kuliah atau berkencan dengan pria manapun. Tapi satu selalu pakai jam tangan itu kemanapun kau pergi. Jika dalam keadaan darurat tekanlah tombol di samping. Maka sinyal darurat akan langsung muncul di ponsel kakak.” Seira melihat-lihat jam pemberian kakaknya dan mencari tombol yang di maksud.


“Kakak harus berangkat kerja sekarang.” Alex bangkit. sebelum melangkah Seira lebih dulu berdiri dihadapannya.


“Berbahagialah kak, cari wanita yang bisa membuat kakak bahagia.” Alex memalingknan wajah ke samping membuang senyum.


“Apa kau pikir kakak akan bahagia setelah merusak seorang gadis?”


“Lupakan itu kak, Itu bukan kesalahan kakak. Lagipula Seira baik-baik saja. Hmmmphht.” Belum selesai berbicara Alex sudah membungkam bibir Seira dengan ciuman. Alex tidak suka dengan perkataan Seira untuk melupakan hal yang sudah mereka lakukan. Sampai kapanpun Alex akan tetap mengingatnya.

__ADS_1


__ADS_2