
Hati tuan Abi sudah beku dia tidak akan mudah terpengaruh dengan air mata palsu mereka. Adnan yang mulai jengah dengan sandiwara ibunya lebih memilih untuk kembali masuk ke dalam.
“Tunggu.”
Tuan Abi masih ingin memberikan peringatan kepada Adnan untuk tidak mengganggu putrinya lagi di masa depan. Sementara Ana dan Ibunya sudah dibawa oleh polisi dengan tuntutan percobaan pembunuhan berencana.
“Maafin Adnan pa.” ucap Adnan menyesali tindakan cerobohnya yang mengakibatkan Inara celaka.
“Papa memaafkanmu karena kebaikanmu selama ini. Dan papa akan memberikanmu kesempatan. Jalani hukumanmu dengan baik papa menunggumu bebas. Dan ingat jangan berharap lagi pada cinta Inara karena dia adikmu dan kamu sudah papa anggap seperti putra papa.”
Adnan merasa terharu dirinya begitu malu. Bahkan dia tidak sanggup walau hanya untuk memandang wajah papa tirinya itu. Tidak ada yang salah dengan cintanya. Yang salah hanya dia menjatuhkan cintanya pada orang yang tidak tepat.
Adnan mendekat kemudian memeluk papa tirinya. Tuan Abi tidak menolak dan tidak membalas.
“Terima kasih pa.” ucapnya
“Kelak carilah wanita yang bisa menerimamu dan mencintaimu dengan tulus. Lupakan Inara anggaplah dia sebagai adikmu bukan sebagai orang yang kau cintai.” Tuan Abi menepuk pundak Adnan memberikan nasehat dan semangat pada putranya.
“Adnan akan berusaha pa.” ucapnya
“Papa akan menyiapkan pengacara untukmu.”
“Terima kasih pa.” kemudian Adnan berbalik untuk kembali masuk ke dalam.
“Adnan.” Tuan Abi kembali mendekat kearah Adnan. Dia lupa ingin menyampaikan sesuatu.
“Ada apa pa?” tanya Adnan saat langkahnya terhenti dan balik kanan.
“Tapi papa tidak bisa membantu ibumu dan Ana. Mereka harus mempertanggung jawabkan perbuatannya sesuai dengan hukum yang berlaku.” Adnan tidak peduli dengan kedua wanita itu. Karena dia bukanlah putra kandung dari wanita itu. Adnan baru mengetahui itu sebulan yang lalu. Saat ada seorang ibu-ibu berusia 60 tahunan menemui dirinya dan memberitahu siapa ayah dan ibunya.
“Terserah papa Adnan tidak peduli dengan mereka.” jawab Adnan acuh.
Sementara di salah satu rumah sakit swasta di Jakarta keadaan Inara sudah lebih baik dari sebelumnya. Rasa nyeri bekas jahitan sudah mulai berkurang dan lukanya pun sudah sedikit mengering.
Sean selalu menemani Inara. Tidak sedetik pun dia meninggalkan gadisnya. Bahkan Sean menyelesaikan pekerjaannya di rumah sakit hanya untuk menjaga Inara.
Pintu terbuka menampakkan seorang dokter dan perawat yang masuk untuk memeriksa keadaan Inara. Sean yang tadi fokus dengan laptopnya pun mengalihkan pandangan. Dia bangkit kemudian berdiri di samping dokter yang sedang memeriksa Inara.
__ADS_1
“Bagaimana dok?” tanya Sean masih ada rasa khawatir dalam diri lelaki itu terhadap Inara.
“Sejauh ini perkembangannya bagus. Luka jahitannya mulai mengering. Dan besok nona sudah boleh pulang.” baik Inara maupun Sean merasa lega mendengar hasil pemeriksaan dokter.
“Nona ini obatnya jangan lupa diminum.” Perawat meletakkan nampan yang berisi obat , makanan dan minuman diatas nakas samping ranjang pasien.
“Ayo makan setelah itu minum obatnya.” Ucap Sean setelah dokter dan perawat keluar dari ruangan. Sean mengambil mangkuk yang berisi bubur kemudian menyuapi Inara dengan lembut.
“Ayo buka mulutmu.” Inara menggeleng dia begitu tidak suka dengan masakan rumah sakit. Rasanya tidak enak. Terasa hambar di lidah.
“Kau tidak suka bubur?” tanya Sean.
“Tidak.”
“Kau ingin makan yang lain?” Inara mengangguk.
“Kau ingin makan apa, hm?” tanya Sean dengan nada yang begitu lembut.
“Aku ingin soto bogor Dad.” ucap Inara dengan senyum yang dibuat-buat. Namun begitu menggemaskan bagi Sean.
“Apa aku menyusahkanmu Dad?” bisik Inara tepat di daun telinga Sean. Lelaki itu mengurai pelukan kemudian menatap wajah Inara yang sedikit pucat karena kehilangan banyak darah.
“Kenapa berbicara seperti itu.”
“Aku pasti sangat merepotkanmu.” Inara berusaha menahan tangis. Saat ini matanya sudah berkaca-kaca dengan sekali kedip sudah dapat dipastikan bulir bening akan jatuh membasahi pipinya. Namun Inara berusaha sekuat mungkin untuk menahan itu.
Dalam keadaan seperti ini Inara rindu mamanya. Mama yang selalu berada di sampingnya. Mama yang selalu merawatnya baik dalam sakit maupun sehat. Mama yang tidak pernah lelah menjaganya. Mama yang selalu dia repotkan dalam hal apapun.
“Menangislah.” detik itu juga Inara langsung memeluk Sean menumpahkan tangisnya di dalam pelukan lelaki yang sudah menjadi kekasihnya. Saat mengingat kenangan-kenangan bersama mamanya tangis Inara semakin kencang. Sean membelai lembut punggung Inara membiarkan gadisnya menangis di dalam pelukannya. Cukup lama menangis membuat kemeja Sean menjadi basah karenanya.
“Maaf.” ucap Inara.
“Ceritalah kenapa kau menangis?” Sean menangkup kedua pipi Inara kemudian memberikan kecupan singkat pada bibir mungil milik kekasihnya.
“Aku rindu mama.” Sean tersenyum kemudian membenamkan kembali tubuh Inara ke dalam pelukannya.
“Setelah keluar dari sini kita akan berkunjung ke makam mama.” ucap lelaki itu membuat Inara mendongak memandang wajah Sean yang begitu tampan baginya. Kedua mata saling bertemu saling mengunci. Inara mengusap lembut bibir Sean yang juga menjadi candunya. Bibir yang mencuri ciuman pertamanya.
__ADS_1
Ada sebuah getaran dan dorongan aneh saat tangan lembut Inara menyentuh bibirnya. Kemudian Sean memegang tengkuk leher Inara dan terjadilah penyatuan bibir yang berlangsung cukup lama. Keduanya kini saling menikmati pertukaran saliva yang begitu memabukkan.
Ceklek
Devan masuk di waktu yang tidak tepat. Dia masuk saat adegan itu masih berlangsung. Membuat dirinya langsung merindukan Mila. Sean mengusap lembut bibir Inara yang menjadi basah karena ulahnya.
“Ingat tempat bos ini rumah sakit.” Devan meletakkan pesanan Sean di atas meja.
“Pergilah.” usir Sean membuat Devan merasa kesal.
“Bos harus memberiku bonus besar karena membuatku terus lembur.” gerutu Devan.
“Baiklah setelah itu kau boleh menyerahkan surat pengunduran dirimu pada pihak HRD dan kau bisa bergabung dengan perusahaan papamu.” Sean tersenyum setelah mengucapkan itu.
“Malas!! Baiklah baiklah aku akan menghandle pekerjaan selama kau disini. Melihat kalian membuatku merindukan Mila.” Devan keluar dari ruangan saat Sean memberikan suapan pertama untuk Inara.
Setelah menghabiskan makanan kini saatnya Inara untuk meminum obat. Membayangkan rasa obat yang pahit membuat Inara malas untuk meminumnya. Sean mengambil obat berbentuk pil putih kecil dan air minum secara bersamaan.
“Ayo minum obatnya.” Inara menggeleng menutup mulut dengan kedua tangannya menolak untuk meminum obat itu.
“Kenapa?” tanya Sean.
“Pahit.” jawab Inara singkat.
Sean terdiam sejenak sebelum lengkungan bibir itu muncul di wajahnya. Dia tahu bagaimana caranya supaya Inara meminum obat. Lelaki itu berbalik membelakangi tubuh Inara kemudian memasukkan obat itu ke dalam mulutnya dengan sedikit air. Detik berikutnya dia memegang tengkuk Inara menyalurkan obat itu lewat jalur mulut. Mata Inara melebar saat melihat aksi yang dilakukan oleh Sean. Setelah memastikan obat itu ditelan oleh Inara barulah Sean melepas ciumannya.
“Masih ada satu lagi.”
“Tidak, tidak, tidak aku akan meminumnya sendiri.” Inara merebut obat dan gelas minum yang berada di tangan Sean. Apa yang dilakukan Inara membuat Sean terkekeh geli.
“Apa rasanya masih pahit?”
“Tidak.”
“Jika masih terasa pahit dengan senang hati aku akan membantumu seperti tadi.” goda Sean.
“Dasar pria tua mesum.”
__ADS_1