
Bunyi pesan berturut-turut masuk ke ponsel milik Seira. Perbedaan waktu enam jam antara Jakarta dan Paris membuat Seira lebih dulu menjelajah ke alam mimpi. Jika di Jakarta pukul enam sore maka di Paris sudah tengah malam.
Notifikasi pesan masuk yang beruntun membuat tidur Seira dan Lena yang dalam satu kamar menjadi terusik terutama Lena.
“Seira, lihat ponselmu siapa yang mengirimimu pesan begitu banyak. Siapa tahu penting.” Lena berucap dengan mata terpejam sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya hingga ke bagian dada.
“Iya.” Dengan mata yang terpejam Seira meraba-raba mencari ponsel miliknya yang masih terus menerima pesan masuk.
Seira memegang kedua sudut matanya di pangkal hidung. Berusaha menghilangkan kantuk yang begitu berat. Bagaimana tidak dia baru saja tertidur satu jam lalu setelah Alex mengantarnya ke asrama. Entah bagaimana kakaknya mendapat ijin untuk membawanya jalan-jalan hingga malam hari. Padahal peraturan di asrama melarang penghuni asrama keluar pada waktu malam hari.
Seira menggeser layar ponsel dengan ibu jari. Menekan beberapa nomor untuk membuka password ponsel miliknya. Hingga menampilkan sebuah wallpaper pria tampan yang baru saja dia ambil secara diam-diam tadi sore.
Grup WhatsApp keluarga
Tentu saja beranggotakan enam orang. Mereka adalah keluarga besar Sean. Termasuk istri dan anak-anaknya tak terkecuali Alex yang ada di grup itu juga.
“Papa Sean : Seira sayang kak Alex akan kembali ke Indonesia untuk mengurus masalah perusahaan cabang daddy nya yang ada di Indonesia. Tidak masalah kan jika Seira disana sendiri?” tanya papa Sean dalam pesan whatsApps nya.
“Emily : Yeay kak Alex pulang😊.” Adik Seira satu ini begitu bahagia mendengar kakak tampannya akan pulang dan bisa mengantar atau menjemput sekolah dirinya lagi. Anak ini begitu bangga memiliki kakak yang tampan dan pengertian tidak seperti Bryan yang suka menjahilinya.
“Bryan : pasti kak Alex dan kak Seira sedih karena mereka akan berpisah.” tebakan Bryan sepertinya tepat.
“Mama Inara : Sayang bagaimana kalau kamu pulang juga? Kuliah disini sayang?” mama Inara masih berusaha membujuk putri pertamanya untuk masuk Universitas dalam negeri saja.
“Papa Sean : Ma…”
__ADS_1
“Mama Inara : Kasian pa, Seira disana sendiri apa papa tidak khawatir dengan Seira disana?” mama dan papa sedang tidak bersama. Karena papa sedang di Bali untuk urusan bisnis. Jika biasanya mama Inara menemani tapi tidak dengan perjalanan bisnis kali ini. Sebab mama Inara merasa tidak enak badan. Dia terlalu memikirkan Seira yang akan hidup sendiri di Paris.
“Bryan : Kak Seira sudah besar ma dia bisa menentukan pilihan sendiri. Termasuk jodohnya kelak.” semakin hari Bryan semakin bijak saja.
“Mama Inara : 😭😭😭"
“Papa Sean : Emily ke kamar mama, temani mamamu malam ini besok papa baru pulang ke Jakarta. emoji peluk manja.” Papa Sean tahu istrinya butuh pelukan untuk menenangkan hatinya saat ini. Karena Bryan sedang ada acara dengan temannya maka Papa meminta Emily untuk menemani istrinya.
“Emily : iya papa.” Emily keluar dari kamar kemudian berjalan menuju kamar kedua orang tuanya. Sebelum masuk Emily lebih dulu mengetuk pintu. Sebelum akhirnya mama Inara mempersilahkan Emily untuk masuk. Emily menghampiri mama Inara kemudian memberi pelukan hangat agar bisa mengurangi rasa rindunya kepada kak Seira.
“Alex : Mama tidak perlu khawatir, Alex akan menempatkan orang untuk menjaga Seira. Jadi dia akan tetap aman meski Alex tidak bersama dengan Seira.”
“Mama Inara : Berapa lama kamu akan meninggalkan Inara di sana?”
“Bryan : Ma, jangan menambah beban kak Alex. Bryan yakin kak Seira bisa menjaga diri disana. Berilah kepercayaan kepada kak Seira untuk menyelesaikan pendidikannya disana.” Bryan bukan tidak peduli dengan kakaknya namun dia pikir Seira sudah dewasa dan dia yakin kakaknya juga mampu beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Terlebih kak Alex pasti menempatkan seseorang untuk menjaga kak Seira dari jarak dekat.
“Papa Sean : sudahlah ma, jangan memikirkan hal yang berlebihan. Jaga Kesehatan mama. Supaya saat Seira kembali kita bisa berkumpul seperti dulu.”
“Byan : mungkin tidak akan seperti dulu pa?”
“Mama Inara : apa maksudmu Byan?” balas mama Inara dengan hati yang kesal.
“Bryan : Ma kak Seira sudah dewasa dan kak Alex juga tidak menutup kemungkinan mereka berdua akan berkeluarga dalam beberapa tahun ke depan. Dan mama pun akan memiliki cucu kelak. Jangan anggap kak Alex dan kak Seira anak kecil terus. Yang harus mama lindungi terus. Mereka sudah besar ma.”
“Papa Sean : Bryan benar ma. Mereka sudah dewasa. Dan usia Alex sudah pantas untuk menikah.”
__ADS_1
Dada Seira terasa sesak saat membaca masalah menikah. Bagaimana jika mimpinya benar-benar menjadi kenyataan. Alex menikah dengan wanita lain. Apa dia bisa berpura-pura bahagia nantinya?
“Alex : Alex masih belum memikirkan tentang menikah pa, ma. Dan Alex akan menikah dengan wanita yang Alex cintai jika wanita itu tidak mencintai Alex maka Alex tidak akan menikah seumur hidup Alex.”
“Emily : Kak Alex sudah punya kekasih?” tanya Emily penasaran sebab kakaknya tidak pernah sekalipun memperkenalkan seorang wanita kepada keluarga.
“Bryan : tentu saja ada yang kak Alex suka tapi tidak tahu apa si gadis mengetahui hal ini atau tidak.” Jawaban Bryan seolah memberi kode kepada semua orang untuk berpikir siapa gadis yang dimaksud Bryan.
“Papa Sean : Benar itu Alex, apa kau menyukai seseorang?” papa pun penasaran.
Satu menit, lima menit, sepuluh menit kemudian tidak ada yang mengirim pesan dalam grup whatsApps. Alex yang berada di salah satu ruangan melihat profil seseorang yang terlihat online namun tidak membalas satu pun pesan.
Alex tersenyum saat dia melihat Seira mulai mengetik disana. Lelaki itu menanti balasan apa yang akan Seira kirim di grup WhatsApps.
Ting
Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel milik Alex yang sedari tadi tidak lepas dari pandangannya. Ternyata Seira yang mengiriminya pesan. Dengan cepat Alex membuka pesan yang gadis itu kirim.
“Kapan kakak akan kembali ke Jakarta? Kenapa tadi tidak bilang sama Seira?”
Ada rasa bersalah yang menyeruak di hati Alex saat membaca pesan singkat dari Seira. Alex bukan tidak ingin memberi tahu kepulangannya ke Jakarta namun dia tidak sanggup mengatakan hal itu secara langsung. Alex tidak yakin dapat dengan cepat menangani masalah perusahaan daddynya di Jakarta. Sebab dia sudah mempelajari masalah yang terjadi disana. Setidaknya butuh waktu 3 tahun untuk membangunnya kembali.
Selain itu dia juga tidak ingin merusak kebahagian yang mereka lalui hari ini dengan mengatakan hal itu. Walaupun sesaat kebersamaan mereka hari ini akan menjadi kenangan yang indah untuk mereka berdua.
Flasback on
__ADS_1